Om Jin!

Om Jin!
om jin!3(versi revisi)



"Hey manusia,benda persegimu itu terus berkedip-kedip dari tadi!"


Baru saja aku menaruh tas di atas kasur,Om jin sudah mengingatkanku tentang notif di hp itu lagi.Aku takut hpku akan hang jika kebanjiran notif dari grup-grup waku yang kebanyakannya unfaedah itu.


"Ini juga mau diliat kok Om jin kiyowo."Ucapku menggodanya.


Tapi eh,tunggu dulu.Bagaimana jika benar hpku nanti hang.Aku harus punya jaminannya dulu.


"Om jin~"Aku mencoba memanggilnya dengan nada seimut mungkin.


Om jin mendelik kaget padaku.Apa?Apa dia malah jadi takut atau ilfeel denganku?Oh tidak,seharusnya aku biasa saja memanggilnya.


"Eh maksudku,Om jin bisa ngak aku minta sat-"


"Tidak boleh!"


Sudah kuduga Om jin akan menolak permintaanku yang bahkan belum kusebutkan.Dasar orang tampan yang kejam!


"Ck,pelit!"


Aku tanpa rasa ragu lagi membuka kunci hpku dan benar saja,ratusan bahkan hampir ribuan notif membanjiri panel notifikasi di layar hpku.Aku menghapus semua notif itu dari panel dan mulai sibuk membuka aplikasi-aplikasi di hpku satu persatu di mulai dari yang paling penting yang sifatnya informatif,yaitu wa dan media sosial lainnya.


Betapa kagetnya aku,saat menghadap ke sebelah kiri,aku dikejutkan dengan Om jin yang tengah berbaring melayang dan ikut membaca pesan-pesanku.Untung wajah Om jin ganteng,jadi wajahnya tidak jadi kutimbuk dengan hp.


"Om jin jangan kepo deh,ini kan urusan manusia,bukan urusan bangsa k-pop eh,maksudku bangsa jin"


"Ya sudah..."Om jin pun kembali ke atas lemari.


"Eh ya tapi,kalau cuma diam di sebelah aku sih ngak apa-apa.Asal Om jin nya ngak ikut liat hpku.Tutup mata aja Om jin,biar aku percaya"Aku memberi Om jin saran,aku tidak tahu sebelumnya jika bangsa jin juga bisa tersinggung karena hal yang sepele.


"Manusia-manusia"Om jin menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tangan yang bersedekap di dada.


"Kau kira aku tidak tahu bahwa kau hanya mencari-cari alasan agar bisa berada lebih dekat dengan wujud manusiaku ini?Aku tidak akan tertipu dengan tipuan semurah itu"Kata Om jin.


Om jin,perkataannya berhasil menembus ulu hatiku.Mencari-cari alasan katanya?Itu benar.Tapi dia tidak perlu selugas itu kan mengatakannya.Aku kan jadi terlihat seperti gadis murahan.


Akhirnya aku menjawab perkataanya."Kalau ngak mau atau ngak suka ya sudah.Aku cuma nawarin aja dan ngak bakal maksa siapapun,kok"


Aku ingin terdengar sinis dan pedas seperti omonganku pada orang lain,tapi aku tidak tahu kenapa aku malah terdengar seperti cewek yang lagi ngambek sama pacarnya saat berkata seperti itu pada Om jin.


Itu terdengar menjijikkan bagi diriku sendiri.Ah,apa yang terjadi dengan kecakapan berbicara pedasku itu.Kemarinkan aku masih bisa berbicara pedas padanya,tapi sekarang pergi kemana kemampuan berbicara pedasku?Padahal itu berguna sekali untuk menyinggung siapapun.


Aku mulai canggung dengannya.Apa karena wajahnya yang terlalu tampan?Jangan sampai terbuai Nala,itu hanya wujud palsu!Ingatku pada diri sendiri.


Dulu aku takut,kesal,dan sekarang canggung padanya,kenapa remaja harus bersikap labil sih?!Om jin juga,aku kira dia akan diam,tapi dia malah berceramah padaku.Yang benar saja,jin menceramahi manusia yang selalu berkata kasar dan suka suudzon.Ternyata benar bahwa dunia sudah mulai gila.


Beginilah isi ceramah Om jin:


"Sebagai anak manusia yang belum dewasa,seharusnya kau tidak boleh seperti ini,walau bagaimanapun kau ini sudah baligh menurut agama,dosamu sudah ditanggung sendiri.Setiap waktu kamu berkata kasar,itu dosa dan berarti dosamu bertambah.Kepada setiap orang,siapapun itu-kamu suka berprasangka dia berniat atau akan berlaku buruk dan memanfaatkanmu saja.Yang benar saja manusia,berapa banyak sudah catatan amal burukmu yang ditulis malaikat Munkar.


Sadarlah manusia,kurangilah kebiasaan burukmu itu sebelum terlalu menumpuk.Jangan suka berkata kasar lagi,kamu itu muslimah.Hapuslah suudzon dari pikiranmu,sesungguhnya itu hanya akan membuatkmu cemas saja dan tidak ada manfaatnya.


Bahkan bangsa jin pun tidaklah sampai seburuk itu pada kaumnya sendiri.Tapi lihatlah para manusia,mereka itu dari masa jahiliyah sampai sekarang tetap saja tidak mengambil pelajaran walaupun tahu dunia ini sebentar lagi akan kiamat".


Aku bungkam sampai Om jin menutup ceramahnya dengan mulai membandingkan bangsanya dan bangsa manusia dan membawa-bawa kiamat kedalamnya.Kurasa,lama-lama berhubungan dengan makhluk beda bangsa akan membuatku gila.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


Mamy datang kesini dengan membawa sebungkus kado yang katanya dari Paman.Kembali membawa kesedihan."Sayang,Pamanmu tidak sempat memberikan ini padamu.Awalnya dia ingin memberimu kejutan dengan memberikannya minggu depan saat kamu kembali pulang"Kata Mamy sambil menggosok matanya yang berair,lalu kembali melanjutkan perkataanya.


"Karena kamu sendiri tahu kalau ini adalah kado pertamanya untuk kamu.Dia pelit sekali dulu,tapi saat dia...dia membeli ini ditemani Mamy.Katanya dia ingin mengganti sweatermu yang sudah bulukan itu...."Mamy tertawa dengan beruraian air mata.


Aku tidak sanggup mendengar dan melihat semua ini.Tapi Mamy masih terus melanjutkan perkataanya.


"Tadinya Pamanmu ingin memberikannya padamu dengan tangannya sendiri minggu depan-sengaja telat,tapi mau dikata apa sekarang Pamanmu sudah tidak ada lagi,tapi rasa kasih sayangnya untuk kamu masih ada di sini..."


"Hiks..."Aku terisak sambil bersandar di kaki ranjang.Sungguh,kisah yang Mamy ceritakan membuatku kembali berduka akan kematian Paman.


"Hiks..."Mamy juga ikut terisak dan memelukku.


Sebenarnya diantara kami yang paling kuat menahan duka adalah Mamy.Aku cuma pandai menyembunyikannya,tapi tidak bisa menahannya sampai seperti yang Mamy lakukan.


Kini kami berdua lemah,tidak ada yang menyembunyikan lagi kesedihannya maupun menahan kesedihannya.Aku dan Mamy saling berangkulan untuk menguatkan kembali diri kami.Paman adalah social genic keluarga kami,kini dia tinggal kenangan saja dan tidak akan ada yang bisa menggantikannya.


Kulihat Om jin yang menatap kami dengan wajah tanpa ekspresi.Susah sekali menebak emosinya,padahal aku ingin tahu bagaimana reaksinya setelah mendengar cerita tentang Paman barusan.Karena biasanya aku kan selalu bersikap angkuh dan berkata pedas,tapi kini aku bukanlah aku seperti biasanya.Cengeng sekali aku yang sekarang ini,kenapa saat kehilangan Paman semuanya terasa lebih sensitif dan mudah membuatku sedih dan menangis.


Dadaku kembali sesak karena kesedihan dan pelukan erat Mamy.Setelah beberapa menit kemudian kami mengakhiri ini.Mamy awalnya ingin menginap di sini,menemaniku dan mungkin juga sekaligus ingin memarahiku karena pergi begitu saja tanpa sepengetahuannya beberapa waktu lalu.


Aku mencoba untuk mencegah Mamy,bukannya aku tidak respect dengan Mamy,hanya saja aku khawatir dengan Om jin yang sejak kedatangan Mamy kesini dia belum bicara sama sekali.


Aku sudah memanggil-manggil Om jin dalam kepalaku,tapi tidak ada sedikitpun respon darinya.Dia tetap seperti tadi,berdiri di dekat lemari dengan wajah datar tanpa ekspresi.Dia mulai terlihat menakutkan sekarang,walaupun wajahnya tetap tampan.Sebenarnya apa yang dia pikirkan sampai mematung seperti itu?


"Mamy lebih baik pulang saja dan temani Nenek di rumahnya.Aku sekarang baik-baik saja.Tugas-tugas dari sekolah akan segera membuatku sibuk dan perlahan akan membuatku melupakan soal Paman.Mamy tidak perlu mengkhawatirkanku lagi"Aku mencoba menolak keinginan Mamy dengan sehalus mungkin,perkataanku soal Nenek juga sebenarnya benar.


Kuharap Mamy mau percaya pada perkataanku dan kembali lagi pulang.


"Tidak,sayang.Mamy akan tetap menginap dan berjanji akan pulang besok pagi.Mamy tahu anak Mamy sudah dewasa sekarang,tapi tetap saja Mamy tidak bisa berhenti mencemaskanmu"Balas Mamy tetap kekeuh dengan keinginannya.


Dengan balasan dari Mamy,maka aku dipastikan sudah gagal menolak Mamy.Apa kalimat yang kukatakan kurang persuasif sampai Mamy sama-sekali tidak terpengaruh?


Kembali kulirik Om jin,sekarang dia sudah berada di atas lemari kembali,tapi dia membelakangiku lagi.


Kenapa dengan Om jin ini,apa dia tidak peduli dengan ku walaupun sudah mengetahui semua hal ini atau dia terlalu terkejut dengan apa yang aku alami sesaat sebelum bertemu dengannya tanpa menunjukkan sedih yang kurasa.Memang seharusnya aku tidak terlalu mengharapkan simpati dari darinya,dia kan jin.


"Papah akan pulang,besok pagi Mamah akan Papah jemput.Nala jangan sedih lagi,ya."Itu Papah,dia tiba-tiba masuk.Aku tidak tahu sedari tadi Papah ada di luar kamarku.


"Iya,jangan begadang saat Mamah tidak ada!"Mamy memperingatkan Papah sebelum membiarkan Papah pergi.


Aku diam saja.kami beda,maksudku Papah dan aku.Dia memanggil istrinya yang berarti Ibuku dengan sebutan Mamah,sedangkan aku memanggilnya Mamy.


Aku tidak ingin mempermasalahkannya,tapi perasaan risih tidak dapat kuhilangkan saat mendengarnya memanggil Mamy begitu.Walaupun sudah 5 tahun lebih dia menjadi Papahku.


Padahal menurutku apa salahnya beda panggilan itu,tapi aku tetap risih dengannya selama 5 tahun penuh.Aku tidak berani mengutarakannya pada siapapun juga.


Itu hanya masalah remeh,jika aku menceritakannya pada orang terdekatku-siapapun itu,kurasa itu tidak akan baik bagi hubunganku dengannya termasuk dengan Mamy di masa depan nanti.


Sekalinya curhat,pasti beritanya langsung menyebar sampai ke sanak keluarga di luar pulau Jawa.Dan Mamy pasti mendiskusikannya denganku setelah mengetahuinya.Nenek juga langsung memberiku khotbah dadakan di meja makan.Gila bukan?Ya,keluargaku memang begitu sejak dulu.Aku juga begitu kok dari kecil karena meniru mereka.


Soal kemampuan berkata pedasku ini juga,aku belajar dari mereka dan para tetanggaku yang semuanya lambe turah Desa.


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


Ibu kost memberi sambutan yang sangat baik pada Mamy.Dia bahkan menawarinya untuk tidur di rumahnya saja agar lebih nyaman.Mamy menolak-tentu saja karena Mamy pastinya ingin menginterogasiku nanti.Alhasil Ibu kost hanya memberikan banyak makanan ringan maupun berat ke kamarku.


Sungguh aku senang dengan makanan ini jika aku sendirian,bukannya aku pelit pada Mamyku sendiri,hanya saja makan adalah salah satu caraku melampiaskan stres dan aku tidak ingin ada siapapun di hadapanku jika sedang melakukan itu.Alasannya ya karena aku khawatir mereka ikut-ikutan ku makan,maksudku bukan kumakan secara harfiah,tapi aku takut orang itu akan menjadi pelampiasan stresku juga.


Mamy dan aku tidur seranjang,dipisahkan oleh guling kesayangnganku.Mamy tidak mengintrogasi ataupun memarahiku sama sekali,keluar dari dugaan.Mungkin dia sudah mengerti bahwa aku tidak suka mengungkap peristiwa tidak mengenakan yang sudah lalu.Atau mungkin sebenarnya dia kelelahan mengurus semua kebutuhan untuk pelaksanaan tahlilan setelah kematian Paman.


Tradisi itu sebenarnya punya banyak manfaat,seperti dengan sibuk mempersiapkan makanan untuk para tamu yang datang maka akan membuat pikiran dan tenaga tersita sehingga mengakibatkan kita bisa dengan segera melupakan kesedihan yang sebelumnya kita rasakan.


Tapi ada juga dampak yang merugikan,yaitu dengan berturut-turut kita membeli bahan makanan yang sangat banyak dengan kebutuhan yang harus dipenuhi selama 1-7 hari,40 hari,dan setahun setelah kematian seseorang,maka biaya yang dibutuhkan pasti akan sangat banyak.


Tentu saja dengan memikirkan hal itu membuatku merasa bersalah karena tidak membantu apapun.Padahal seminggu pun belum setelah kematian Paman,tapi aku sudah mengecewakan keluarga.Aku akan merasa malu jika bertemu dengan Paman nanti setelah aku mati.


"Nala,berdoa terus tidur...Mamy mau tidur duluan"Mamy menguap lalu membelakangiku dan semuanya langsung senyap dan aku bisa mendengar dengan jelas suara"ngingggggggg...."Yang memekakkan telinga.


Ada apa dengan malam ini,kenapa para tetangga tidak berisik seperti biasanya supaya aku tidak sampai mendengar suara sunyi-maksudku merasakan kesunyian ini.Aku lebih baik mendengar suara hewan malam seperti saat di kampung halaman.


Om jin tidak menampakkan dirinya malam ini,dia juga belum berkata apapun padaku.Foto-foto member bts yang tertempel di dinding kamar saja yang dapat ku pandang sebelum tidur malam ini.


Ah,sebenarnya ada 1 hal yang kulupa sebelum terlelap tidur,anggrek bulan milik Ibu kost yang hidup menempel di pohon sirsak yang dapat terlihat jelas dari jendela kamarku.


Anggrek bulan adalah salah-satu bunga favoritku.Di rumah Nenek juga ada anggrek bulan yang hidup menempel di pohon sirsak di halaman rumahnya.


Bunga itu dibawa Paman dari hutan ketika ia masih punya hobi berburu bersama-teman dan anjing perliharaannya.Saat tiba waktu bunga itu untuk mekar,setiap pagi dan sore aku aku selalu mengamatinya.


Aku selalu kagum saat melihat bunga itu,bunga itu putih kecil,tapi dapat memperlihatkan keindahannya yang luar biasa dan dapat menentramkan pikiran orang yang memandangnya.


Tapi pada beberapa hari setelahnya,bunga itu gugur dan berjatuhan ke tanah,sayang sekali bunga seindah itu harus gugur dalam waktu yang singkat.


Aku ingin segera tidur dan bermimpi seperti biasanya,tidak pa pa jika mimpiku kali ini buruk juga asalkan aku segera tidur supaya tidak sampai mendengar suara tangisan Mamy....


Mamy mungkin mengira aku sudah tidur,sehingga dia bisa mengeluarkan kesedihannya lagi,tapi aku belum tidur,bukan karena aku sengaja ingin mendengar suara tangisan Mamy,tapi karena aku tidak tahu mengapa alam bawah sadarku sepertinya tahu Mamy akan menangis saat aku tidur,jadi dia membuatku sulit tidur agar aku bisa tetap mendengarnya.


Menyedihkan dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya,suara tangis Mamy begitu aku benci.


Aku memeluk Mamy dengan susah payah karena gulingku yang menghalangi,Mamy langsung terdiam dan berbalik menghadapku lalu balas memelukku.


Aku menutup mataku pura-pura aku mengingau saat tertidur.Tapi kurasa Mamy tahu aku sedang berakting namun dia berhenti menangis dan diam saja,tetap memelukku sampai aku tertidur.


Walau sudang berbaring dengan nyaman,tapi tetap saja aku belum bisa tidur.Tidak ada jam dinding di kamarku,aku akan melihat hpku jika ingin mengetahui jam.Tapi aku yakin sekarang pasti sudah lebih dari jam 10 malam dan aku masih menutup mata pura-pura tidur.Aku tidak tahu harus melakukan apa agar tidak bosan terus-terusan begini.


Tiba-tiba aku teringat ingin menanyakan sesuatu pada Om jin,tapi selalu kulupakan.


'Om jin-Om jin!'Dalam kepala,aku memanggilnya.


'Om jin?Oh Om jin~'Aku kembali memanggilnya karena dia tidak menjawabku.


Om jin aku kesepian tahu,tega banget sih cuek gitu....batinku kesal.Ingin sekali aku berdecak,tapi mana mungkin aku melakukannya kan aku sedang berakting tidur.Mana ada orang tidur yang bisa berdecak.


"Ada apa denganmu hari ini,manusia?Ibu mu menemanimu tidur!kesepian apanya?"Om jin meresponku.


Yes!


"Om jin ikut begadang sama aku yuk..."Ajakku padanya.


"Tidak,sudah kukatakan sebelumnya padamu,manusia.Aku tidak ingin diganggu saat istirahat!"Kata Om jin.


Oh aku lupa,'Om jin please lah sebentar saja.Aku cuma mau nanya kok pas pertama Om jin keluar dari botol parfum dulu...kenapa aku ngak bisa langsung liat wujud asli Om jin sih?Kan biasanya kalau jinnya sudah dikeluarkan sama manusia,manusianya bakal langsung liat wujud asli jin itu,kok Om jin ngak sih?'


"Kau kira bertemu dengan jin itu hal yang biasa,manusia?"Om jin bertanya balik padaku.Di balik pertanyaan akan ada pertanyaan lainnya.Membuat pusing saja!


Tapi kujawab saja pertanyaanya."Ya ngak biasa juga sih.Malah luar biasa.Biasanya kan cuma indigo saja yang bisa melihat Makhluk gaib sebangsa Om jin walaupun ngak semua indigo bisa sampai melihat jin sih,paling paling setan gentayangan..."


"Jadi begitu cara manusia menyebut manusia lain yang mata batinnya terbuka dan bisa melihat makhluk gaib,indigo ya..."Jika aku sekarang tidak menutup mata,maka kurasa sekarang Om jin sedang mengusap dagunya.Ingin sekali kulihat wujud Seokjin mengusap dagu dihadapanku.


"Sesungguhnya jawaban dari pertanyaanmu itu ada pada pernyataanmu sendiri.Manusia,kau bisa menyimpulkannya?"Om jin bertanya mengujiku.


Ya,aku mengerti.Indigo lah jawabannya.Aku bukan indigo,jadi aku tidak bisa melihat wujud asli Om jin saat pertama kali bertemu dengannya.


"Yup,karena aku bukan indigo kan jawabannya?"Aku ingin tahu bagaimana respon Om jin dengan kecepatan mengambil kesimpulanku ini.


"Benar,kau ini cerdas manusia,namun kau juga pelupa"Kata Om jin.


Bukan hanya pujian yang kudapat darinya,tapi juga ejekan.Om jin ini memang luar biasa menyebalkan!


Keadaan kembali senyap setelah perkataan Om jin terhadapku.Aku tidak merasa tersinggung,aku juga tidak membalas perkataanya.


Aku rasa topik tentang ini sudah selesai dan aku harus segera membuka topik lain dengan cepat agar Om jin menemaniku mengobrol sampai aku merasakan kantuk nanti.


Ayo pikir Nala,pikir!Dapatkan ide,Nala,dapatkan ide!otakku menyemangati otakku.Gila memang,kenapa pikiran bisa sepelik itu?


'Om j-'


"Nala,tidurlah"Suara Om jin terdengar lembut dan membuai.


Akupun langsung tertidur.


Sial!


padahal aku ingin mendengar suara itu lagi,tapi indra-indraku tidur bersama kesadaranku.


👻


Nala sudah tidur....?Berarti chapter ini berakhir.Tunggu kelanjutannya nanti ya,by-by!