Om Jin!

Om Jin!
Om jin!44(versi revisi)



🧞‍♂️


"Nala!"


"KAK NALAAAA!"


Kakek dan Sera meneriakiku.Aku berhenti menggilas bunga di bawah kakiku dan menatap mereka dengan heran.


"Kakak,itu kakak masih..."


Sera berlari memeluk Astri dan dapat kulihat mulutnya komat-kamit di samping telinga Astri.Astri menatapku dengan mata berkaca-kaca.


"Na-kamu!" Kakek yang tadinya akan berseru tiba-tiba berkata pasrah dan menatapku dengan pandangan menyesal.


Ada apa ini?Kenapa sekarang aku yang jadi perhatian semua orang!?Ya...kecuali bibi yang pelanga-pelongo karena sama sekali tidak mengerti dengan peristiwa yang barusan terjadi.


Lalu aku menatap Om jin dengan pandangan bertanya dan hampir akan menangis,karena saking bingungnya harus bereaksi seperti apa.


Om jin langsung berbalik ke arahku dan memelukku lalu aku merasakan sensasi di sapu angin dingin dengan kencang.Aku menutup mataku dan bisa kudengar Sera beserta Kakek yang meneriakkan namaku bersamaan,juga Astri yang sudah meneteskan air matanya dan bibi yang mengusap-usap matanya dengan percuma.


Beberapa detik kemudian aku sudah tidak merasakan sensasi angin itu lagi dan karena masih terkejut,aku memeluk Om jin dengan sangat erat.


"Nala tenanglah,kita sudah sampai di halaman belakang rumahmu.Sekarang bukalah matamu..."


Mendengar suara Om jin yang begitu lembut berhasil menenangkanku dan aku langsung membuka mataku tanpa ragu.


Ternyata benar,setelah mataku terbuka rumput yang terawat beserta tanaman dalam pot-pot hitamlah yang menyambut mataku.


Aku menghembuskan nafas lega dan merasakan kakiku yang telanjang menginjak rumput terawat Mamy yang menimbulkan sensansi sejuk dan geli.


"aku dibawa berteleportasi?" tanyaku dengan wajah tanpa ekspresi dan karena itulah Om jin ragu untuk menjawab pertanyaanku dan hanya memperhatikan wajah datarku.


"i-iya,Nala...apa kamu baik-baik saja?"


Aku menutup mulutku dengan kedua tangan dan meloncat senang sambil meneriakkan kata WOW.Aku bahagia sekali karena bisa merasakan bagaimana rasanya berteleportasi lagi,tapi aku masih merasa menyesal karena malah menutup mataku lagi seperti dulu ketika Om jin menyelamatkanku dari sebuah tabrakan.


Om jin ikut tersenyum mengetahui pikiranku,aku kembali meloncat-loncat bahagia dan tidak sadar kalau Om jin tertawa dengan matanya yang menyerupai bulat sabit.Om jadi terlihat lebih tampan dengan wajah seperti itu.


"Nala!Nala ada apa?!kirain Mamy setan yang ketawi-ketiwi di halaman belakang.Kok kamu sudah pulang?Kenapa lewat halaman belakang?Mana temen kamu,Astri?" Mamy tiba-tiba datang dari pintu dapur.


Aku berhenti meloncat-loncat dan menghampirinya sambil tersenyum tanpa beban.Tapi Mamy menghentikanku untuk masuk ke dapur saat melihat kakiku yang telanjang.


"Kenapa nyeker kayak ayam?Di mana sandal kamu?" tanyanya.


Aku berhenti melangkahkan kakiku dan membuatnya bergantung di ambang pintu,karena itulah aku hampir kehilangan keseimbangan dan hampir terjungkal kedepan kalau saja Om jin tidak menangkap pinggangku dan menahannya.


"Mamy,bolehlah...nanti juga cuci kaki di kamar mandi" kataku memohon padanya.


Mamy mengyingkir dari ambang pintu dan aku langsung melesat masuk walaupun Om jin dan Mamy sama-sama meneriakkan kata hati-hati mengingat sebelah kakiku yang masih belum sembuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hp ku berdering dan aku langsung menerima telepon yang masuk.


"Nala?Halo?"


"Ya,halo?" jawabku.


"Nala ada!" seru sebuah suara di seberang sana.


"Ini siap-"


"Astri lah!suara temen sendiri kok ngak hapal..." jawabnya.


"kok suaranya beda?" kataku.


"Massa?!" kata suara di seberang dan dia juga bicara pada entah siapa di sana dan menanyakan apa hp yang dipakainya rusak.


"Halo,kak Nala?Kakak baik-baik saja,kan?Kakak dibawa kemana oleh jin itu?" suara lain terdengar dari telpon.


Walaupun aku tidak mengenal suara siapa itu,tapi dari apa yang dikatakannya aku yakin bahwa itu Sera.


"Kakak ada di rumah dan baik-baik saja di sini.Bilang sama Astri supaya ikut pulang juga ke rumah Mamy,soalnya Mamy udah nanyain dia terus,karena cuma liat kakak pulang sendirian"


Aku mematikan telpon setelahnya dan berbalik melihat Om jin yang memperhatikanku sambil duduk diam di atas lemari.


"apa?" tanyaku sambil tersenyum.


"kelihatannya kamu suka sekali kubawa bert-emm...apa itu tadi kamu menyebutnya?"


"Te-le-por-tasiiii" kataku.


"Kamu suka sekali kubawa teleportasi,apa kamu mau aku melakukannya lagi?" tanyanya.


Mataku berbinar senang dan mulutku sudah terbuka untuk mengatakan 'iya' pada Om jin,tapi Mamy keburu masuk ke kamarku dan menyuruhku untuk segera membantunya memasak makan siang.


"iyaaaa" kataku dan berjalan ke dapur dengan malas,baru saja aku mau bersenang-senang sudah diganggu oleh ibuku sendiri.


"Om jin,nanti saja lagi ya.Aku mau bantu Mamy dulu kalo ngak dia bisa konser di rumah ini" kataku dan pergi keluar kamar tanpa melihat ekspresi terganggu yang agak berbeda dariku di wajah Om jin.


Om jin menemaniku memasak di dapur dan menjagaku agar tidak salah melangkah dan melukai kakiku lagi.Mamy ada di dalam kamar mandi karena dia merasa sakit perut setelah memakan sambal buatannya sendiri.


Saat akan mencuci tangan ke wastafel dan mulai makan,tidak sengaja aku terpeleset,karena genangan air di dekat wastafel yang keluar dari pipanya yang ternyata mengalami kebocoran.


Aku menjerit,Mamy berteriak menanyakan kenapa aku berteriak dari dalam kamar mandi.


Om jin menangkap tubuhku dengan cepat dan tepat sebelum tubuhku menyentuh lantai di bawah.Rambutku yang awalnya ku gelung ke atas saat memasak tadi jatuh dan tergerai dengan.


Kami berdua saling bersitatap dengan diam dalam pikiran masing-masing.Aku memuji wajah Om jin yang sangat tampan dan sikapnya yang cekatan dan perhatian dalam benakku yang sudah terbius oleh parasnya dari awal.


Dia pria idaman bagi siapapun...


"Nala!kamu kenapa gitu?"


"Kakak!lepaskan kakak!"


Aku mengerjapkan mataku dan Om jin mengedipkan matanya lalu menegakkan tubuhku kembali saat kedua suara itu meneriaki kami.


Astri dan Sera ada di ambang pintu dapur dengan Sera yang mencekal tangan Astri dan sebelah tangannya lagi dia gunakan untuk memeluk vas yang berisikan bunga penangkal itu.


"Ka-kalian sudah kembali.Sera kok ikut?" tanyaku setengah gugup dan berusaha menyembunyikan rona merah di wajahku dengan rambutku yang tergerai akibat dari akan terpeleset tadi .


"Kan kamu yang suruh aku cepet pulang.Sera nganter aku dan katanya dia mau nginep juga" jawab Astri dan menggenggam tangan Sera yang mencekal tangannya.


"Oh be-begitu,ya sudah tidak papa Tapi bunga itu untuk apa kamu bawa juga,Sera?


Aku menggenggam tangan Om jin di sebelahku yang mulai merasa gelisah di tempatnya berdiri akibat dari efek keberadaan bunga yang Sera bawa.


"aku membutuhkannya dan sangat menyukainya,apa salahnya?" tanya Sera dengan wajah seperti orang yang tidak tahu apa-apa soal kegunaan asli bunga itu.


"tapi bunga itu membuat Om-eh pokoknya kalo kamu mau nginep di sini bunganya jangan di bawa-bawa" kataku.


"Nala,kamu ini kenapa sih?Bunga ini juga kan dari kamu,ini cuma bunga..." bela Astri.


Aku bingung harus menjawab apa pada Astri yang tidak tahu apa-apa soal Om jin dan bunga itu,jadi aku hanya mengatakan kembali syarat itu agar Sera bisa tetap di sini dan menginap.


Sera diam,tapi matanya sudah berair dan menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Astri.Kemudian Mamy keluar dari kamar mandi dan terkejut karena sudah ada tiga orang yang menyambutnya ketika keluar.


"Lho,kenapa Astri sama Sera ngak kamu ajak makan juga,Nala?Ayo makan bareng yuk" kata Mamy dan membimbing jalan kami ke meja makan yang sudah penuh oleh makanan dan lauk-pauk lain.


Suasana tegang diantara kami berhasil ditengahi oleh Mamy dan kami dengan diam dan patuh duduk lalu makan bersama tanpa seorangpun lagi yang berani berbicara.


Dalam hening aku menggenggam tangan Om jin di bawah meja dan menatap bunga di pelukan Sera dengan geram dan ingin sekali menyiram bunga itu dengan cairan alkohol.


Aku tetap duduk diam sampai kurasakan tangan Om jin yang gemetar.Sera melihat terus ke arahku dan Om jin,Astri menatap Sera,dan Mamy menatap sambal dengan penuh permusuhan.Sedangkan aku menatap mereka dengan bisu,tapi mataku menggambarkan kemarahan.


'Om jin,Om jin lebih baik pergi dari sini dulu.Aku tidak papa di sini' kataku.


"Nala,aku takut kamu akan terpengaruh oleh mereka,aku sungguh-"


'Om jin,aku tidak tega melihat Om jin seperti ini terus.Aku berjanji tidak akan terpengaruh oleh mereka.Om jin pergilah...' kataku dengan tegas,karena ekspresi di wajah Om jin yang terlihat tegang sekali.


Matanya seakan ingin melarikan diri sendiri dari tubuhnya,bunga itu benar-benar... keterlaluan!


Akhirnya Om jin pun pergi dengan berat hati dan sebelum ia pergi,dia sempat mengecup punggung tanganku dahulu dan membuat Sera yang melihat itu meloncat dari kursinya bersama dengan piring penuh nasinya yang juga ikut berhamburan.


Astri memuntahkan makanannya lagi karena kaget dengan reaksi Sera dan Mamy tersedak suapannya sendiri melihat kekacauan di meja makan yang dibuat Astri dan Sera.Aku menunduk dengan sedih di tempat dudukku tanpa memperdulikan mereka.


"Kakak!"


Sera kembali meneriakiku.Sungguh,sebenarnya diperlakukan seperti itu oleh sepupu kecil kesayanganmu sendiri itu sangat menyedihkan dan menyakiti hati.Tapi mau bagaimana lagi,aku sudah terlanjur jatuh cinta dan Sera sudah terlanjur membenci makhluk halus seperti Om jin.


"Kalian ini uhukk..kenapa sih makan tidak bisa tenang?! Uhuk-uhuk!" Mamy protes sambil menepuk-nepuk dadanya dan terbatuk-batuk.


Astri mengambil lap dan mengelap bekas muntahan makannya dan ceceran makanan Sera.


"Sera,kamu kenapa?" tanya Astri setelah membereskan semua kekacauan.


"Nala,kenapa kamu juga hanya diam saja?" tanya Mamy yang berhenti makan.


Aku diam dan kembali makan dengan lebih cepat dari Mamy,Astri,dan Sera yang sudah tidak punya selera untuk melanjutkan makan.


Pikiranku penuh oleh Om jin,Sera,Astri,Mamy,Rizal,dan bunga sial itu yang mengacaukan segalanya.Aku menyesal sudah memberikan bunga itu pada Sera kalau tahu akan begini jadinya.


Aku memainkan laptop sendirian di kamar,Astri dan Sera menonton TV bersama Mamy di ruang tengah.Entah apa yang telah aku lakukan pada laptop itu sampai tiba-tiba saja laptopnya mati.


Ternyata laptop itu mati karena baterainya sudah habis dan aku sudah berada di depan layarnya lebih dari 6 jam.Waktu begitu cepat berlalu,tapi perasaan manusia tidak bisa berubah secepat itu...


Sebuah cipratan terdengar mengenai jendela kamarku yang sengaja sudah ku tutup dari siang tadi.Aku bangun dan membuka gorden yang menghalanginya.


Ada air berwarna kebiruan di jendela dan air itu membentuk suatu kata,'Nala,jangan khawatirkan aku dan jangan sedih'


Setelah aku selesai membacanya,air yang membentuk kata itu lalu menguap dari jendela-tak bersisa.


Aku tersenyum haru,aku tahu itu adalah pesan dari Om jin yang sekarang entah ada di mana.


'Kenapa tidak menggunakan lipstickku lagi untuk membuat pesan?' tanyaku dalam pikiran dan berharap Om jin masih dapat mendengarnya dimanapun dia berada saat ini.


Suara pintu yang dibuka terdengar,aku menutup kembali gorden dan saat berbalik,Astri dan Sera sudah ada di dalam kamar dengan pandangan yang membuat hatiku sakit saat balik menatap mereka.


Apa hal yang selama ini aku takutkan akan terjadi sekarang?Apa semua harus terjadi secara bersamaan dan langsung meremukkan hatiku di detik yang sama saat sahabat dan saudaraku sendiri menentang hubunganku ini?


Entah kenapa aku berpikir Astri juga akan menjauhiku walaupun mungkin dia tidak tahu apa-apa atau sebenarnya dia sudah tahu mengenai hubunganku dengan Om jin dari Sera atau Andre yang...ah-tapi Andre baru melihat Om jin kemarin malam dan mengira dia hanya jin biasa yang tidak punya hubungan apa-apa dengan kami.


Kalau begitu sudah dapat dipastikan kalau aku tidak bisa menepati kata-kataku pada Om jin kalau aku tidak akan terpengaruh oleh Astri maupun Sera.


_


_


_


SAYA MAU PROMOSI CERITA KARYA BESTIE SAYA YANG JUDULNYA "ALVERO" YANG ADA DI APK SEBELAH.JANGAN LUPA MAMPIR YA!



Enjoy this chapter and don't forget to give me a like👍 and coment💬!


And it's my first crazy up!🥳