Om Jin!

Om Jin!
om jin!22(versi revisi)



🧞‍♂️


Aku kembali membuka mataku,tidak ada kilasan balik seperti yang kuduga.Tapi aku merasa kelapaku pusing sekali dan pandangan mataku sempat mengabur.


Aku terhuyung,om jin menahan tubuhku dan kakek menggelengkan kepalanya kecewa sesudah melepaskan kembali tangannya dari puncak kepalaku.


"Kamu tidak bisa melakukannya,kamu tidak punya kemampuan itu" kakek berkata.


Aku melihatnya dengan bingung,maksudnya aku tidak bisa melihat kilasan balik seperti yang kuduga karena aku tidak punya kemampuan untuk itu?Ah sial! lalu bagaimana ini...apa Sera bisa melakukannya?Tapi dia masih terlalu kecil untuk menahan bebannya.Aku saja merasa lemas dan pusing setelah gagal melakukannya.Apalagi jika berhasil,kurasa aku akan pingsan dan Sera tidak boleh sampai celaka karena semua ini.


'Om jin...bagaimana ini?Apa hanya Sera yang benar-benar bisa kita andalkan untuk bisa mengetahui hal itu?' tanyaku lewat pikiran pada om jin yang diam menahan tubuhku agar tetap tegak.


"Kalau hanya dia yang bisa,maka kita terpaksa harus membebankan ini pada Sera" om jin menjawab dengan tegas.


Jawabannya itu membuat hatiku ikut lemas karena harus membuat anak sekecil Sera merasakan hal seperti itu nantinya.Aku benar-benar tidak tega,tapi mau bagaimana lagi karena ini juga kami lakukan demi diri Sera sendiri.


"Kek,apa tidak ada cara lain supaya aku bisa mengetahuinya?" kataku pada kakek karena aku benar-benar tidak mau membuat Sera menerima efek kesakitannya nanti.


"Ada,tapi apa kamu kuat harus berpuasa selama tujuh hari tujuh malam tanpa berhenti?"


Aku...puasa selama tujuh hari tujuh malam?Apa aku sanggup...


"Itu akan jadi terlalu lama,beberapa hari lagi juga kamu harus kembali ke Bandung.Biarkan Sera saja yang melakukannya,aku yakin bocah itu mampu menahan bebannya" kata om jin.


"Kek,kalo Sera bisa melakukannya kakek tolong lakuin itu ke Sera ya..." kataku pada kakek.


Kakek turun dari saung dan kembali mencangkul tanah.


"Sera masih kecil...apa dia bisa menahannya?" kata kakek.


Tunggu,jadi kakek sudah tahu kalau Sera itu punya kemampuan itu?Apa itu juga berarti dia punya pikiran yang sama dengan kakeknya Sera untuk membuat Sera menjadi pewaris selanjutnya?


"Dia sudah berpengalaman kek..." jawabku.Walaupun dia masih kecil,terusku dalam hati.


Kelihatannya aku benar-benar tidak berguna dalam hal seperti ini.Sera maafkan kakak ya...


"Sera!" panggilku kemudian.


Sera berjalan ke arahku sambil dituntun oleh Astri yang terlihat memaksa untuk bisa menuntun Sera.Ya ampun,padahal Sera kan sudah tidak pantas untuk dituntun seperti itu...


"Kak..." kata Sera.


Aku melihat air muka Sera yang kelihatannya menderita dengan sikap Astri terhadapnya.


"Kamu ngobrol sama kakek dulu ya,Kak Astri biar sama kakak dulu aja buat ngambil jambu di pohon yang ada di sebelah situ" kataku sambil menunjuk dengan jariku.


Sera memandangku bingung,aku tahu dia tidak akan bisa langsung mengerti maksud tersembunyi dari kalimat ku.Aku membisikinya dan dia mengangguk tanda dia sanggup melakukannya.


"Kamu yakin?" tanya ku dengan nada bersalah.


Sera kembali mengangguk yakin.Aku merasakan bulu kudukku merinding entah karena melihat sebuah keyakinan besar di mata anak kecil itu atau tubuhku yang berangsur-angsur kembali normal.


"Ya sudah,kakak mau ke sebelah sana dulu ya" kataku.


Aku mengajak Astri bersama ku,dengan bersungut-sungut tak terima karena dipisahkan dari Sera olehku Astri merabut semua daun tanamam yang dilewatinya.


"Tri,itu cengkihnya keambil...nanti yang punya marah lho!" kataku melihat genggaman tangan Astri.


"Bodo amat,ngak ada juga tuh empunya di sini" balas Astri.


Aku rasa alisku berkedut sendiri,dia benar-benar barbar.


Aku kembali menengok ke belakang dan melihat Sera yang sedang menutup matanya dan tangan kakek di puncak kepalanya dengan om jin di belakang Sera,menjaganya.Aku meminta om jin agar tetap bersama Sera dan menjaganya,takut-takut sesuatu terjadi pada Sera nantinya.


Aku mencekal lengan Astri dan menariknya agar berjalan lebih cepat sekaligus mencegahnya ikut menengok ke belakang sepertiku.


"Ada apa sih Nal?Pelan-pelan aja kali jalannya..."


Astri memprotes dan aku mengabaikannya.Pohon jambu itu sudah kelihatan,buahnya banyak dan pohonnya tidak terlalu tinggi juga punya banyak cabang sedang sehingga memudahkan untuk dipanjat oleh orang yang tidak terlalu berpengalaman sepertiku.


Aku melepaskan lengan Astri dan langsung memanjat naik,untung saja aku ini dulu suka nakal dan mengambil buah orang sembarangan di kebun milik orang lain.


Ternyata pengalamanku dulu berguna juga.Ku lihat Astri terpana menatap ke arahku.


"Nal,ngak nyangka aku...kamu bisa barbar juga ternyata.Aku kira kamu cewek feminim!" Astri berseru-seru di bawah pohon.


Kelihatannya Astri sudah melupakan konflik kecil kami tadi,syukurlah...


Banyak semut hitam yang menghuni pohon ini dan aku merasa gatal sekaligus perih di mataku.Kalau bukan demi memberi Sera waktu,aku tidak mungkin mau memanjat pohon penuh jebakan ini.


Ku petik jambu-jambu yang ukurannya besar dan sudah matang lalu meminta Astri bersiap untuk menangkapnya dari bawah.


"Tri,tangkap!" kataku.


Melihat respon Astri yang seperti itu aku merasa seperti melihat diriku sendiri sewaktu kecil dulu.Waktu itu kakak sepupu ku yang memanjat dan aku yang menunggu di bawah untuk menagkap buah-buah yang akan dia jatuhkan nanti.


"Tangkap!" seruku sambil menjatuhkan buah itu tak kalah terdengar antusias darinya,dalam sekejap bisa melupakan kekhawatiranku mengenai keadaan Sera di sana.


Sudah ada sekitar belasan jambu yang kami dapatkan.Kami rasa itu cukup dan baju Astri yang dijadikan wadah jambu itu sudah kelebihan muatan sampai membuat pusar Astri hampir kelihatan.Dia kekanakkan sekali...tapi darimana dia bisa mengetahui trik anak kampung seperti itu?Dia kan dari kecil tinggal di kota dan kalau mau buah langsung beli bukannya pergi ke kebun dan mengambilnya sendiri.


"Tri,dapet inspirasi dari mana baju digituin?" tanyaku sambil mencari batang yang cukup kuat untuk kududuki.


"Lah,bukannya pas camping waktu itu kamu juga begini ya pas kita jelajah di kebun terus ngak sengaja nemu pohon buah?" katanya.


Aku terdiam,ternyata akulah yang menginspirasi Astri.


"Oh" kataku menutup bahasan.


Tak ada batang yang cukup nyaman untuk kududuki,apalagi makin banyak semut yang mengerubungiku.Aku pun turun dari pohon itu dan memergoki Astri yang sudah menghabiskan 1 buah jambu yang paling bagus seorang diri.


Ku pelototi dia,Astri tersenyum dan berkata."Ternyata makan buah ngak dicuci dulu juga enak yah?"


Apa yang dia katakan?!apa dia sedang main-main padaku atau memang tidak sadar atas perbuatannya.


"Jambu ku.." kataku.


"Oh jambu,nih!" Astri memberikan semua jambu dalam kandungan bajunya padaku.Aku yang tidak siap menarik ujung bawah bajuku dan memuat jambu-jambu itu.


Dengan berat hati aku kembali ke saung dengan mengandung jambu dan membuat baju dalamku terlihat.Untung saja ini kebun,bukan mall.


Astri berjalan di depanku,tapi dia suka berhenti tiba-tiba karena tidak hapal jalan kembali ke saung.Haha...dasar anak kota!


"Belok kiri,yang ada pohon cengkihnya" kataku.


Astri kembali berjalan sesuai arahanku sambil memakan jambu.Sedangkan aku harus memegangi bajuku dengan kedua tangan agar jambunya tidak berjatuhan dan membuatku tidak bisa ikut menikmati jambu yang baru kupetik dari pohonnya.


Astri kembali berhenti berjalan,aku yang sudah jengkel pun berkata dengan kesal padanya."Ada apa lagi sih Tri?!"


Astri tidak menjawab,aku mencari celah agar bisa melihat apa yang Astri lihat di depan.Sera sedang duduk bersila sambil menutup matanya di sana dengan tangan kakek yang masih ada di puncak kepalanya dan om jin yang berada di belakangnya.


Oh tidak,mereka belum selesai ternyata!aku terlalu ceroboh sampai tidak memperhitungkannya.


"Wah,Sera hebat banget aktingnya..." kataku dan melangkah melewati Astri yang masih terdiam.


"Akting?Terus kakek kamu ngapain?" tanya Astri dengan nada heran.


"Ya bantuin Sera aktinglah,Kakek ku baikkan?" kataku berbohong.


Betapa ahlinya aku dalam hal ini....


"Sera bisa akting juga ternyata!udah imut,pinter akting lagi,hebatt!" Astri berseru girang macam seorang guru yang bangga pada muridnya yang berbakat.


Aku mengangguk,"hebat kan dia?Aku lho yang ngajarin" kataku setengah bercanda.


"Oh pantes,kamu kan emang jago akting.Pura-pura belum ngerjain pr eh pas sama guru disuruh dikumpulkan kamu ngumpulin pr kamu duluan!" balas Astri tak terduga.


Aku tertawa,aku kan melakukannya demi menghapuskan tradisi mencontek di dunia pendidikan Indonesia.


"Jangan ketawa,ngak lucu kayak Sera juga..."Astri berkata ketus mendengar aku yang tertawa.


Apa Sera sudah menjadi pusat revolusinya sampai Astri mulai membanding-bandingkannya dengan orang lain dan menganggap orang lain lebih rendah daripada Sera?


Memikirkannya lebih jauh,aku mulai khawatir Astri akan jadi tante girang,si monster bagi anak kecil seperti Sera.


Aku sengaja mengajak Astri duduk agak jauh dari saung sambil memakan jambu dengan alasan agar tidak mengganggu latihan akting Sera.Aku sebenarnya tidak percaya bahwa Astri bisa dibodohi semudah itu olehku,tapi jika dilihat dari kepatuhan Astri sekarang...sepertinya kepala Astri tertimpa jambu yang kujatuhkan tadi sampai membuatnya begitu.


"Eh Nal,nanti ajak Sera nginep ya.Biar aku bisa jadi pelatih akting Sera..." kata Astri di sela-sela kegiatan mengunyahnya.


Aku meliriknya,dia sedang memakan jambu ke-4nya sekarang,apa nanti Astri tidak akan sakit perut sehabis memakan terlalu banyak jambu?


Aku mengangguk sebagai balasan perkatannya,"ya-ya...nanti ku ajak dia"


Kasihan sekali Sera harus menjadi barbie nya Astri nanti...sejujurnya dari awalpun aku sudah merasa kasihan padanya.


Ku pandang mereka dari sini sambil mencerna jambu perlahan dan merenung seraya menunggu mereka sampai selesai.


Aku penasaran kenapa menonton kilasan balik itu bisa begitu lama?Apa Sera baik-baik saja di sana.Kalau beberapa menit lagi mereka masih belum selesai aku akan langsung menghentikannya.


👻


APA YANG TERJADI DENGAN SERA?


TUNGGU CHAPTER SELANJUTNYA YA!:)