
🧞♂️
Pagi-pagi sekali aku bangun diiringi dengan deringan telepon yang sedari tadi memanggilku.Aku melihat nama kak Iza yang telah ku ganti dengan nama pembunuh meneleponku.
"Morning,Nala" sapanya dari seberang sana.
Aku bergidik,"pa-pagi juga kak"
Om jin yang mendengar percakapanku di telepon ikut menyimak dari tempatnya berada.
"Hari ini kakak senggang nih,kalau kamu juga lagi senggang gimana kalo kita ke universitas kakak-kayak yang kamu mau waktu kita ngobrol di kafe itu"
Aku langsung bangun dari tempat tidurku,inilah saatnya! batinku.
"Iya kak,Nala senggang kok" Jawabku.
"Bagus,kalau begitu sebentar lagi kakak jemput kamu ke kostan,ya?" tawarnya,membuatku gelisah karena aku masih belum mandi atau melakukan kegiatan bersih-beraih apapun setelah bangun tidur barusan kecuali mengangkat telepon darinya.
Tapi aku tetap mengiyakan karena tidak mau kehilangan kesempatan,"kalau kakak ngak repot,ya ngak papa"
"tidak sama-sekali,okey see you later!"
Kemudian aku menutup sambungan telepon tanpa membalas kak Iza dan segera berlari ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi aku bingung dengan pakaian yang harus ku pakai untuk bertemu dengan kak Iza nanti,pokoknya pakaian itu harus bisa menarik perhatian kak Iza agar dia semakin mau jujur padaku dan tidak membuatnya curiga jika aku terus mengintrogasinya nanti.
Akhirnya aku meminta bantuan Om jin karena semua pakaianku yang bagus-bagus ada di rumah Mamy,niatku di sini untuk belajar,bukan untuk pacaran-itulah sebabnya selain seragam sekolah,baju panjang,baju tidur,baju yang simple,berbagai jenis rok panjang,dan pakaian berwarna gelap-kesukaanku,aku tidak punya baju yang cocok untuk menarik perhatian lawan jenis.
Dengan bantuan Om jin,kini aku memakai drees yang panjangnya hanya sampai paha.Aku melihat pantulan diriku yang memakai dress itu di cermin,aku hampir tidak mengenali diriku sekarang!
Di belakang ku Om jin berdehem dan terus memalingkan wajah jika aku menatapnya.Tanpa menghiraukan sikap tak biasa Om jin,aku segera menata rambutku yang panjang tergerai dan membawa tas selempang yang cocok dengan dress yang ku pakai.
Toktoktok!
Aku membuka pintu kamar bersamaan dengan hilangnya suara ketukan di pintu kamarku.Siapa yang pagi-pagi begini sudah mengetuk pintu orang lain?
Saat keluar kulihat Rizal lah yang ternyata mengetuk pintu kamarku,tapi ada ekspresi tak biasa di wajahnya-dia terkejut atau lebih tepatnya terpesona melihat penampilanku.
"eheemm..ehemmm!" Om jin berdehem dari belakang tubuhku.
"Ada apa?" tanyaku pada Rizal yang masih terpana terhadapku.
"ehem,itu...ada yang datang mencarimu"
"Siapa?" aku mengangkat alis.
Baru ku sadari di belakang Rizal ada sesosok yang ku kenal,dia melongokkam kepalanya untuk melihatku dengan jelas lalu menyingkir dari belakang punggung Rizal untuk menghampiriku.
Kak Iza!-si pembunuh itu...
"Wah,Nala! kamu cantik sekali hari ini dengan penampilanmu yang berbeda dari sebelumnya.Ada apa dengan perubahan ini?Apa itu karena kamu akan pergi bersamaku?" Kak Iza berkata dengan penuh percaya diri.
Aku pura-pura tersenyum malu,dan mengangguk.
Om jin sudah pindah posisi dan pasang badan di depanku untuk menghalau jika kak Iza mendekatiku lebih jauh lagi.
"Tuh,kan adik!" Kak Iza menepuk pundak Rizal dan berhasil menyadarkannya.
"kamu tidak perlu cemas karena kami sudah saling suka! percayakan saja temanmu padaku dan jangan ikut campur lagi mulai dari sekarang!"
Kami berdua pun-maksudku bertiga dengan Om jin pergi meninggalkan Rizal yang mematung di tempatnya berdiri.Aku seperti tahu bagaimana perasaan Rizal saat ini,tentu saja karena kami sama-sama berinteraksi dengan pembunuh tanpa nurani!
Pantas saja Rizal lebih memilih tinggal di kostan sempit ini dan menjauh dari keluarganya,itu pasti karena dia takut dengan tabiat asli kakaknya yang sudah dia ketahui.
Lagi-lagi di dalam mobil kak Iza memakaiakan seat belt ku dan membenarkan anak rambutku yang sebenarnya sama sekali tidak berantakan dan tentu saja hal itu membuat Om jin geram.
Sepanjang perjalanan kak Iza terus mengoceh mengenai mengenai berbagai hal padaku.Aku hanya diam menyimak cerita si pembunuh itu sampai kerongkongannya kering sendiri dan berhenti bicara.
Kakiku yang sudah gemetaran semenjak berdekatan dengan kak Iza ku pegangi dengan tangan-menahannya agar tidak ketahuan oleh kak Iza yang ku khawatirkan akan mencurigai sikap ganjilku.
Yang ku inginkan sekarang adalah perasaan kak Iza akan semakin dalam terhadapku...
Sampai di universitasnya,kak Iza membukakan pintu mobil untukku dan menawarkan tangannya untuk membantuku keluar.Namun aku menolak dan turun sendiri tanpa bantuannya.
Sudah cukup banyak kontak fisikku dengan si pembunuh itu,cukup kali ini saja aku pura-pura tidak melihat tangannya yang terulur untuk membantuku.
Lagi pula aku tidak mau membuat Om jin lebih cemburu lagi dari ini,aku takut jika Om jin sudah tidak bisa mengontrol emosinya dia malah akan mengacaukan rencana yang sudah ku buat jauh-jauh hari untuk membongkar kejahatan kak Iza.
Kak Iza dan aku mengitari setiap jengkal dari universitas sambil saling tersenyum dan sesekali kak Iza yang membenarkan rambut dan membantuku berjalan menaiki tangga dengan menggandeng tanganku.
Mau tak mau Om jin yang sudah sangat geram terhadap kak Iza harus tetap menahan emosinya,setidaknya sampai kami kembali ke kostan.
Akhirnya saat jam makan siang tiba aku di bawa kak Iza ke tempat favoritnya di universitas ini-di bawah pohon rindang dekat dengan gerbang yang menyediakan tempat duduk.Aku menjadi lirikan cukup banyak orang di sana karena penampilanku atau entah karena keberadaanku di universitas ini.
"Om jin,apa Om jin masih bisa tahan?" tanyaku saat kak Iza pergi ke kantin untuk membeli makanan.
"Masih jika kamu segera berhasil membongkar kejahatan orang itu! atau biarkan aku membereskannya sekalian"
"jangan dulu!" kataku,kemudian terdiam saat melihat kak Iza sedang berlari ke arah kami.
Kak Iza kembali ke tempatku berada setelah membeli beberapa potong roti dan air mineral untuk mengganjal perut.Sambil makanpun dia masih menceritakan banyak hal padaku mengenai universitasnya ini-terutama mengenai tempat favoritnya.
"Kak Iza sudah banyak bercerita,bagaimana kalau sekarang biarkan aku yang bicara?" kataku sesaat setelah kak Iza selesai memakan rotinya.
Om jin mengangguk menyetujuiku,"segera selesaikan ini semua,Nala.Dan setelahnya pria ini menjadi urusanku"
Aku tersenyum sebelum melancarkan aksiku dan alat perekam suara yang tersembunyi di dalam tas selempang sudah ku tekan.
"Benar juga,jadi apa yang ingin kamu katakan?" Kak Iza kemudian menopang dagu dan tersenyum sambil melihat wajahku.
Aku balik tersenyum padanya,senyuman yang akan membawa malapetaka untuknya.
"Apa kakak tahu bahwa pada tanggal 18 agustus aku kehilangan pamanku?Dia...ditabrak oleh seseorang"
Senyuman kak Iza menghilang,tapi dia tetap mempertahankan air mukanya yang terlihat masih tenang.
"Katanya ada yang sengaja menabraknya sampai dia meninggal...tapi payahnya aku tidak tahu apa-apa mengenai si penabrak itu... "
Setetes air mata jatuh ke tangan kak Iza yang yang ada tepat di bawah wajahku.Ku lihat sekilas tangannya gemetar.
Aku menutup mulut,menyeringai melihat reaksinya terhadap kesedihan yang sengaja ku tampilkan.
Hiks...hiks...
Om jin ikut tersenyum melihat aktingku yang tampak sangat nyata.
"Nala..." kak Iza membuka mulutnya lalu kembali bungkam.
"Kakak tahu?17 agustus tahun lalu adalah hari ulang tahunku yang keenam belas dan sekarang setahun sudah berlalu...aku sangat menyayangi pamanku.Dia mati muda...sia-sia."
Bibir kak Iza bergetar,dia mengigitnya dan mulai duduk dengan tegak,tak lagi menopang dagu sambil memperhatikan wajahku dengan tampang main-main.Tubuhnya mulai memperlihatkan reaksi tidak tenang,akhirnya perasaan itu muncul pada diri si pembunuh.
"Kecelakaan itu terjadi setelah dia mengantarku kembali ke kostan.Jika bukan karena dia mengantarkanku pada malam itu,dia pasti...dia pasti masih hidup sampai sekarang!"
"Nala,berhentilah.Aku tidak tega melihatmu seperti ini..." Ucap kak Iza dengan nada cemas-penuh kekhawatiran.
"Teruskan,Nala.Kau hampir berhasil!" Seru Om jin.
"Aku lah yang sebenarnya membunuh pamanku sendiri,aku lah pembunuhnya!" Jeritku sambil berdiri dan memegang kepala seperti orang yang mendadak dilanda depresi.
Kak Iza ikut berdiri dan berusaha menggapai tangaku yang sudah mulai menjabakki rambutku sendiri.
"Kubilang hentikan!" Ucap kak Iza.
"Eee..aku sedikit setuju dengannya sekarang,Nala.Setidaknya pelankan sedikit tanganmu itu..." Om jin menambahkan.
Aku sekarang menjerit-jerit histeris,membuat beberapa pasang mata yang ada di sekitar kami mulai memperhatikanku dan kak Iza.
"Lebih baik aku mati saja! Aku sudah menjadi penyebab meninggalnya pamanku sendiri!"
kemudian aku berlari menuju jalanan,menghadang kendaraan yang akan lewat.
Om jin ada di sisiku,sudah siap siaga untuk membawaku berteleportasi kapan saja jika ada kendaraan yang benar-benar akan menabrakku.
Kak Iza berlari,berusaha memelukku dan membawaku keluar dari jalan.Aku menepis tangannya yang berusaha memelukku.
Aku sudah muak disentuh oleh seorang pembunuh!
Di sebelahku Om jin mendengus melihat usaha kak Iza yang sia-sia dan aktingku yang totalitas.
"Nala,ini bukanlah salahmu! Kamu bukan pembunuh pamanmu sendiri!" Kak Iza berucap,berusaha membujukku dengan kata-kata.
Aku mulai tidak banyak mengeluarkan suara,kalimat bujukan itulah sedari tadi ingin ku dengar dari mulut kak Iza.Mau bagaimana pun sebuah noda di sembunyikan,noda itu pada akhirnya akan tetap terlihat.Sudah saatnya kejahatanmu dibeberkan!
Aku meronta-ronta,sebuah mobil yang melaju kencang mengarah tepat pada posisi kami berada,hal itu membuat kak Iza semakin panik dan membuatku senang karena mobil itu akan membantuku mempercepat pengakuan dari kak Iza.
"Hentikan,Nala! Akulah yang membunuh pamanmu itu. Aku tidak tahu kalau pria itu adalah pamanmu,sumpah! Kalau aku tahu mungkin aku tidak akan pernah membunuhnya pada malam itu!"
Akhirnya...
Aku berhenti meronta,Om jin tersenyum penuh kemenangan,tapi sebelumnya dia sudah membelokkan arah laju mobil yang akan menabrak kami.
Aku memencet alat perekam yang ada di dalam tas selempangku untuk menghentikan perekaman dan langsung membuka hp ku di depan kak Iza,men share rekaman itu ke nomor salah seorang polisi yang sebelumnya sudah kupersiapkan.
Kak Iza melongo melihat apa yang tengah ku lakukan.
"Ada apa ini,Nala?" Tanyanya dengan linlung.
Aku tersenyum dengan air mata yang masih bercucuran dan rambut acak-acakan.
Kuperdengarkan kembali rekaman itu,membuat kak Iza juga dapat mendengar dengan jelas isi rekamannya dari awal sampai akhir.Dia diam mematung,terlihat sangat terkejut.
"Aaaarrggghhggg!"
Sedetik kemudian dia berteriak.
"Bagaimana bisa kau menipuku dengan mudah?" Ucapnya.
"Karena cinta?" Tanyaku balik.
"Kau!"
"Kau benar,karena cinta juga lah aku membunuh pamanmu!" Serunya,tak lagi memedulikan keaadaan sekitar.
"Bagaimana kalau karena cinta itu jugalah aku membunuhmu,Nala ku sayang?" Ucap kak Iza.
Aku mundur satu langkah,Om jin pasang badan di depanku jika sewaktu-waktu kak Iza menyerang.
Aku pun segera memencet nomor polisi untuk meminta bantuan yang nyata-bantuan yang akan terlihat orang lain,sekaligus meneleponnya untuk segera menangkap kak Iza atas kejahatan yang telah dia lakukan,dengan bukti yang sudah ada dalam genggaman.
Segeralah berakhir,pembunuh! Aku sudah muak harus melihat wajah mu yang berkedok ramah.
"Jangan,Nala..." Om jin melarang.
"Mana mungkin aku masih akan percaya pada orang yang membunuh pamanku!" Jeritku.
Tiddd tidddd!
Sebuah motor melintas dekat sekali denganku,aku hampir terserempet jika pengendara motor itu tidak segera sedikit berbelok.
"Sebaiknya kita menyingkir dulu dari jalanan" kata Om jin.
Aku mengangguk karena sudah semakin banyak pengendara yang terganggu dengan keberadaan kami di tengah jalan dan ramai orang yang berkerumun menonton kami dari trotoar.
Tapi tanpa kami duga,kak Iza mendadak menembus tubuh Om jin yang membentengiku.Dia merangsek memelukku paksa dan menarik tubuhku bersamanya menuju sebuah mini van yang melaju kencang ke arah kami,dengan mobil polisi yang ada di belakang mobil itu.
"Matilah bersamaku karena cinta,Nala" ucap kak Iza.
Orang-orang yang awalnya hanya menontoni kami mulai berteriak histeris saat kak Iza melakukan aksi percobaan bunuh dirinya dengan membawaku sekaligus.
Mobil polisi meraungkan sirenenya untuk membuat kak Iza takut,tapi Om jin bereaksi lebih cepat dari mereka berdua,dia membalikkan keadaan dengan menarikku dari pelukan kak Iza,membuat Om jin lah yang sekarang memelukku dan membawaku mundur secara teratur,seakan aku sendirilah yang berhasil membebaskan diri dari cengkraman maut si pembunuh.
Tubuh kak Iza keburu ditabrak mini van itu,bunyi brakkkkk yang memekakkan telinga dan membuat buntu pikiran membuatku mematung melihat saat tubuh kak Iza sempat melayang lalu terjatuh ke atas aspal dengan keras.
Mini van itu berhenti beberapa meter dari tubuh kak Iza,pengemudinya segera keluar dan ikut menontoni tubuh kak Iza yang sudah mengeluarkan banyak darah.Aspal hitam berubah merah...
Mobil polisi ikut berhenti lalu petugas polisi segera mendekati tubuh kak Iza,aku masih mematung di tempatku,tidak percaya dengan apa yang telah mata ku lihat.
Aku memang ingin kak Iza-si pembunuh itu mendapat ganjaran atas kejahatannya,tapi tidak dengan cara seperti ini,aku tidak pernah menginginkan kematiannya,yang aku mau hanyalah dia mengakui dosanya,lalu mendapatkan hukuman,dan setelahnya berharap dia akan berubah...
Tidak,bukan kematian lah yang mau aku lihat hari ini!
Om jin memelukku,berupaya membawaku kembali kekenyataan.Aku langsung jatuh berlutut,seorang polwan yang ikut dengan rombongan polisi tadi menghampiriku.
"Adek tidak bisa dinyatakan bersalah,karena dialah yang menabrakkan dirinya sendiri ke mobil itu,adek malahan adalah korban yang selamat dari percobaan pembunuhannya,jadi adek tidak usah khawatir dan ikut saya ke kantor polisi sebentar untuk memberikan keterangan.Itu saja,kami tidak akan merugikanmu karena kami melihat kejadiannya sendiri"
Aku mengangguk pasrah,Om jin menghela nafas karena aku mau-maunya saja memberikan keterangan.
"Apa adek juga lah yang menelepon tadi?" Tanya polwan itu.
Aku menngangguk lagi,"dia mengancamku..."
"Saya paham,mari saya bantu berdiri"
Sekarang aku ditemani oleh Om jin berada di kantor polisi,aku duduk di kursi yang disediakan untuk menenangkan diri setelah memberikan keterangan,ada beberapa saksi mata kejadian juga yang ikut dimintai keterangan oleh polisi.
Si sopir mini van yang malang pun tidak bisa disalahkan karena kak Iza sendirilah yang menabrakkan diri pada mobilnya.Dan mengenai kak Iza,dia sudah dinyatakan meninggal barusan...dengan cedera berat pada kepala,beberapa tulang yang patah,dan kehabisan banyak darah,dia tidak dapat bertahan saat ambulance datang.
Seorang petugas polisi yang pernah ku lihat sebelumnya,polisi yang nomornya ku miliki itu-polisi yang aku kirimi rekaman pengakuan pembunuhan yang kak Iza lakukan datang menghampiriku.
Om jin menatapnya dengan pandangan menilai.Sedangkan aku hanya dapat mendongak melihatnya sekilas lalu kembali menunduk lesu.
"Ini bukan salahmu,nak.Mungkin ini sudah takdir Tuhan.Rekaman itu sudah ku dengar,kamu cukup cerdik sekaligus ceroboh.Pembunuh itu hampir membunuhmu juga kan tadi?Sayang kasus pamanmu itu sudah tidak bisa dibuka kembali,dan si pembunuh itu juga sudah tidak bisa ditindaklanjuti karena sudah dinyatakan mati"
Aku tidak menjawabnya,aku tetap bungkam dan merasa semuanya jadi sia-sia,rencana yang sudah susah payah ku rancang jauh-jauh hari akhirnya harus berakhir seperti ini.Padahal kematian kak Iza bukanlah salah satu dari rencana yang kubuat.
Itu adalah rencana Tuhan...
Aku di antar pulang oleh taxi online yang polwan baik tadi pesankan untukku,awalnya dia menawarkan dirinya sendiri untuk mengantarkanku pulang tapi aku menolak karena takut penghuni kost yang melihatku pulang diantar mobil polisi akan berpikiran macam-macam.
Saat aku masuk melewati gerbang,ku lihat Rizal yang berlari berlawanan arah denganku,dia keluar dari gerbang seperti di kejar setan-dia sepertinya sudah tahu mengenai kematian kakaknya.Entah nanti dia akan membenciku atau tidak...
"Nala,setelah ini kumohon agar kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri lagi.Pamanmu sudah tidak ada dan begitu juga dengan pembunuhnya...semuanya sudah berlalu dan orang-orang sudah mengetahui kebenarannya" Om jin berusaha menghiburku.
Aku mengangguk,Om jin benar.
Kini,hatiku sudah tidak resah lagi dengan siapa pelaku pembunuhan paman,menjalankan rencana untuk menjebak pelaku itu-membuatnya menerima ganjaran atas kejahatannya,berpura-pura dan telah menipu banyak orang.
Kini masalah itu sudah berakhir.
Beban pikiranku mengenai kematian paman sudah terangkat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hubunganku dengan Om jin berjalan sedikit lebih canggung sejak hari itu-setelah dia membantuku menjebak si pelaku pembunuhan paman.Kalau kami sedang berinteraksi,dia seperti agak menjauhiku dengan sengaja dan dia juga lebih sering masuk ke dalam botol parfumnya.
Aku menahan emosiku karena sikapnya yang berubah terhadapku,tentu saja aku merasa kecewa dan merasa terabaikan.
Tapi aku sadar kalau aku sampai beradu mulut dengan Om jin di sini,aku pasti akan di kirim ke rumah sakit jiwa oleh orang-orang yang tengah lalu lalang.
Hatiku hancur setelah dulu telah terobati oleh kehadiran Om jin dan semua bantuannya.Oleh karena itulah saat kami sudah sampai ke kostan setelah pulang sekolah dan masuk ke kamar,aku langsung mengunci pintu kamar kostku dan memintanya untuk tidak masuk ke dalam botol parfumnya ataupun naik ke atas lemari.
Akan kukatakan perasaanku yang sebenarnya secara langsung kali ini!Dia harus mengingkari janjinya sendiri demi cinta kami.
"Nala,kamu mau mengatakan apa?" Tanya Om jin.
Oh,jadi Om jin memang sudah sadar kalau aku akan mengatakan sesuatu padanya.Sebelum aku berkata-kata,aku menarik nafas terlebih dahulu dan menekan dadaku yang berdegup kencang terus-menerus.
"Aku mencintai Om jin..." Ucapku lugas lalu kembali meneruskannya,"Awalnya aku takut dan kesal dengan Om jin,tapi lama kelamaan aku menghormati Om jin seperti pamanku sendiri...tapi dengan wujud yang seperti itu juga perhatian Om jin terhadapku selama ini...perasaanku pun berubah menjadi cinta"
Jantungku serasa akan meloncat keluar dari tempatnya karena detakannya yang sungguh hebat,dadaku rasanya sesak sekali dan sulit untuk mengeluarkan kata-kata dengan lidahku yang hampir kelu,tapi aku memaksakan kata-kata cinta itu untuk keluar langsung dari mulutku.
"Apa Om jin juga merasakan hal yang sama denganku?" Tanyaku.
Om jin menatapku dengan tatapannya yang kuyu dan berkata,"Tidak,Nala.Ini tidak benar.Ini salah!"
"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya dari lubuk hatiku.Kenapa Om jin malah bicara seperti itu?!" Kataku tidak terima dengan balasannya.
Apa salahnya perasaanku ini?
"Karena ini salah.Kita salah,tidak seharusnya kamu punya perasaan seperti itu padaku" Kata Om jin dengan tangan terkepal dan wajah yang memerah.
"Lalu kenapa Om jin juga mempunyai perasaan yang spesial terhadapku jika tahu itu salah?" Tanyaku.
Urat-urat di tangan dan di leher Om jin terlihat menonjol keluar.Dia terlihat seperti sedang menahan sesuatu...
"Lalu apa maksud Om jin-Om jin tidak punya perasan seperti itu padaku?Om jin tidak mencintaiku?!"
Om jin menggeleng,"Bukan,bukan seperti itu Nala...kita berbeda dan kamu tahu bahwa kita tidak akan memiliki akhir yang bahagia.Aku juga tidak bisa hidup berdampingan denganmu,karena janji itu dan karena kodrat kita...Mengertilah Nala,hubungan kita salah!" Om jin masih mempertahankan argumennya dan perasaanku terasa seperti sedang dilecehkan karenanya.
"Tidak,itu tidak salah!Om jin saja yang terlalu mempersalahkannya!" Kataku.
"Aku mencintai Om jin dan aku juga tahu kalau sebenarnya Om jin juga mencintaiku!Kenapa Om jin tidak mau menerimanya?"
Aku mulai menangis lagi saat mengatakan itu dengan keras tepat di depan wajah Om jin.Aku benar-benar merasa sudah terkhianati olehnya.
"Nala,aku juga sebenarnya tidak ingin ini semua terjadi,tapi Tuhan kamu bisa murka,aku tidak mau kamu celaka,karena aku juga pasti akan mendapatkan balasannya!"
Om jin memegang pipiku yang sudah basah oleh air mata dan mengelapnya dengan jarinya.
"Apa salahnya cinta kita?Aku-aku sudah terbiasa hidup dengan Om jin" Aku berbicara setengah berbisik pada Om jin karena tenggorokanku yang terasa terganjal oleh sesuatu-sulit sekali diajak kompromi.
"Jika sudah begini,mulai sekarang cobalah untuk terbiasa hidup tanpaku lagi,Nala.. kumohon.Kamu pasti bisa menjalaninya "Kata Om jin dengan enteng dan kembali menarik tangannya.
Bagaimana bisa? Aku membatin.
Om jin mengelap air matanya sendiri dengan kasar dan memalingkan wajah ke arah jendela yang terbuka lebar dan menerbangkan gordeng yang melambai-lambai.
Aku memegang tangan Om jin dengan erat,tidak ada kehangatan seperti tangan manusia pada dirinya,tapi aku tidak peduli soal hal itu.Sebab yang kupedulikan hanyalah perasaan di antara kami yang murni.
"Maksud Om jin,aku harus mulai terbiasa hidup sendirian lagi?" Tanyaku.
Om jin terdiam dan tidak menjawab pertanyaanku,aku memeluknya dan Om jin balas memelukku.Kami bisa merasakan perasaan masing-masing tanpa harus diungkapkan oleh kata lewat sebuah pelukan ini...
"Kumohon Nala,lakukanlah itu demi diri kita bersama" Ucap Om jin tepat di samping telingaku.
Aku langsung melerai pelukan kami,Om jin ternyata masih kukuh dengan perkataanya.
Apa dia tidak memahami perasaanku sepenuhnya?Apa dia tidak membaca pikiranku dengan benar?Tidakkah dia pun sudah tahu kalau aku sudah kehilangan orang-orang terdekatku dan kini hanyalah tinggal dia seorang yang berada di sampingku.
Aku sedang berusaha mempertahankan dia,tapi apa yang Om jin lakukan sekarang sangat bertolak belakang dengan dirinya yang dulu,dia yang juga ingin hubungan kami tetap bertahan dan memintaku untuk berjuang bersamanya.
Tapi sekarang?Ahahaha...aku kasihan pada diriku sendiri...
Hatiku rasanya seperti ditusuk-tusuk belati dan rasanya sakit sekali saat Om jin kembali mengatakan hal yang sama berulang kali.
"Maaf,Nala...Aku akan masuk ke dalam botol dulu" Katanya,lalu menghilang begitu saja dan membiarkanku menangis tersedu-sedu di lantai sendirian.
Om jin lebih memilih pergi dan mengabaikanku?
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Tiga hari sudah berlalu dan interaksiku dengan Om jin sedingin es di kutub utara dan sejarang gigi kakek-kakek.
Sejak hari di mana aku merasa sakit hati dengan perbuatan Om jin terhadapku sampai tidak pernah mengajaknya bicara duluan.
Di kostan pun aku hanya sibuk memainkan laptopku,saling berkirim email dengan teman penaku.Di kelas pun aku jadi kurang aktif dan malas bersosialisasi dengan teman-teman yang lain.
Teman sekelasku tidak bereaksi dengan khawatir karena sikapku,kecuali Astri yang diam-diam mencemaskanku walaupun dia sudah jarang berinteraksi denganku sejak malam itu.
Ketidakpedulian itu agak menyakitkan bagiku,tapi yang lebih menyakitkan lagi adalah Om jin tidak pernah sekalipun meminta maaf lagi padaku sejak hari itu dan mengklarifikasi hubungan di antara kami yang sudah tidak jelas arah dan tujuannya.
Mau diakhiri saja atau dilanjutkan?Semuanya menjadi tidak jelas dan terasa semu di hatiku.Mulai dari hubunganku dengan Om jin,sekolahku,temanku,aktivitas harianku,juga keluargaku...
Rasa kecewa ku memang tidak bisa difokuskan untuk ditujukkan pada satu orang saja dan itulah yang membuat kondisiku memburuk selama jangka waktu tiga hari ini.
Jam 4 sore aku tertidur karena tidak tahu lagi mau melakukan apa sendirian.Padahal biasanya sekarang aku pasti sedang berdebat atau diceramahi oleh Om jin.Aku ingin masa-masa itu kembali,tapi mustahil semuanya akan kembali persis seperti dulu.
"Nala,jangan tidur saat sore hari menjelang malam..."
Om jin berdiri di sebelah kasurku dan menyingkap tirai jendela yang kututup,matahari sore yang masih terang langsung menyorotiku.
"Apa sih?!Jangan ganggu aku kalau kamu sedang mengabaikanku!Biarkan aku tidur!" Aku berkata dengan kasar.
"Aku hanya mengingatkanmu,karena jika kamu sudah lulus nanti aku akan pergi sesuai dengan permintaan terakhirmu waktu itu" Kata Om jin.
Perkataanya mengejutkanku,aku langsung bangun dari tempat tidur ku karena diingatkan hal yang sama terus.Kenapa dulu aku tidak memintanya untuk tetap tinggal bersamaku selamanya sih!?
"Kalau Om jin akan meninggalkanku setelah aku lulus,maka aku tidak akan pernah mau lulus!" Ancamku sambil berdiri di atas kasur dan menunjuk wajah Om jin yang kaget mendengar ancamanku.
👻
👊👊👊TRIPLE UPDATE!
DO YOU ENJOY THIS CHAPTER?IF IT'S RIGHT,PLEASE GIVE ME A LIKE👍 AND COMENT💬!
❤SEE YOU IN NEXT CHAPTER!
BYE-BYE!👋👋