
🧞♂️
Listrik baru hidup kembali saat shubuh dan aku bangun tepat saat adzan berkumandang.Saat bersiap-siap untuk shalat shubuh dan pergi ke kamar mandi,aku lihat jendela kamarku yang mengarah tepat ke pohon sirsak terbuka.
Aku menutup jendela itu,ku ingat semalam sebelum mati lampu aku sudah menutup jendela itu.Aku melihat ke atas lemari dan Om jin tidak ada di sana.Apa Om jin yang membukanya?
Sesudah salam,aku ingat usulan Om jin kalau aku sebaiknya hari ini pulang dan minta maaf pada Mamy.Apa aku harus melakukannya?Sampai di rumah pun,aku pasti akan dimarahi habis-habisan.
Akhirnya aku memutuskan untuk berencana pulang ke rumah nenek saja,itu adalah tempat yang paling aman dan damai di mana tidak ada orang yang akan memarahiku.Kalau sampai Mamy tahu aku ada di rumah nenek dan menyusul pun,aku akan langsung kabur lagi saja.
"Apa yang kau rencanakan?Jangan bertindak gegabah.Kamu kan sudah berjanji"Ucapan itu terdengar bersamaan dengan hawa dingin yang menerpa wajahku.Wajahku terasa hampir membeku.
"Om jin dari mana sih?Masih gelap sudah keluyuran dan ninggalin aku sendirian!"Aku menggerutu dan membereskan alat shalatku.
"Hahaha...gelap ataupun terang tidak berpengaruh padaku!"Om jin menjawab dengan wajah tak berdosa yang kelihatan sangat menggemaskan dan aku ingin sekali menggigit pipinya yang terlihat pink kemerahan mirip buah peach.
"Nal,sudah bangun belum?"Suara Rizal terdengar dan kemudian suara ketukan pintu mengikuti.
Kubuka pintu itu sedikit dan hanya menjulurkan kepalaku keluar."Ada apa sih?"Ganggu aja orang lagi ngobrol juga!Batinku.
"Ibu kost dartingnya kumat,kamu kan cewek,pasti bakal kepake"Ucap Rizal sambil membenarkan sarungnya yang longgar dan mengajakku ke rumah ibu kost.
"Sebentar..."Kataku untuk memberitahu Om jin terlebih dahulu lalu mengunci pintu kamarku dan mengikuti Rizal dari belakang.
Udara dingin dini hari sangat segar ketika dihirup,suasana shubuh adalah saat paling damai dan tentram.Aku berpikir bagaimana darah tinggi ibu kost bisa kambuh di saat-saat damai seperti ini.
"Sebenarnya kenapa ibu kost tiba-tiba kambuh darah tingginya?"Tanyaku pada Rizal yang mulai menghidupkan senter hpnya walau di luar sini masih ada cahaya dari lampu yang sengaja dipasang di luar,mirip lampu taman dan lampu ini merupakan hasil patungan dari para penghuni kost.
"Kata dokternya sih mengonsumsi makanan yang mengakibatkan darah yang naik secara drastis"Jawab Rizal.
Rizal membuka sandalnya saat sampai di teras rumah ibu kost,begitupun aku.
"Memang benar kata dokter itu,soalnya kemarin aku melihat ibu kost memakan banyak sate dan lalapan daun singkong.Apa itu benar penyebab darah tinggi bisa kambuh?"Kataku.
"Mungkin saja"Jawab Rizal singkat.
Dalam hati aku ingin menonjok orang ini dan mengarunginya lalu memasukkannya ke dalam sumur tua yang ada di belakang kantor kepala sekolah.
Sampai di ruang tamu,kami sudah melihat pemandangan yang menyesakkan.Aku terlambat datang ke sini,begitupun Rizal yang berdiri mematung.Ibu kost kami yang baik hati telah tutup usia.
Seorang wanita muda berjas putih berkata,"kelihatannya ibu ini sebenarnya mengalami komplikasi.Bukan hanya darah tinggi yang dideritanya,tapi juga penyakit jantung dan lainnya.Pola makannya juga menyebabkan penyakitnya kambuh.Saya mohon maaf dan permisi..."
"Istri saya dok...tidak mungkin meninggal,dia sangat baik!"suami ibu kost kelihatan sangat terpukul dan mulai menyalahkan dokter muda itu.
Dokter itu kelihatan biasa saja,tapi dia meminta maaf dan segera berlalu pergi dari sini setelah diberi bayaran oleh salah satu anak ibu kost yang paling tua dan yang kelihatan paling tabah diantara orang-orang yang menangis di sini.
Orang yang baik kenapa selalu cepat mati?Rasa-rasanya mereka tidak sudi terusan-terusan berada di dunia yang penuh dengan orang-orang jahat dan munafik yang hanya memanfaatkan kebaikan mereka.
Air mata orang-orang yang berkerumun di sini bercucuran,termasuk aku.Aku diminta oleh salah satu anak ibu kost untuk membangunkan semua penghuni kost yang masih belum tahu perihal hal ini.Rasanya hari ini pun aku tidak bisa pulang.Maaf My...
"Hari ini mungkin kamu tidak diberi kesempatan,tapi bukankah mulai besok kamu mulai bebas?Pembagian raportnya jugakan hari jum'at.Masih ada banyak waktu untuk pulang"Om mencoba menasehatiku yang merasa hari ini adalah hari kemalangan.
Aku berganti baju yang tadinya serba hitam setelah pulang memakamkan ibu kost.Saat pemakaman tadi,orang-orang sekampung datang dan ikut mengiringi keranda mayat sampai akhir penguburan.Sudah berapa banyak aku melihat kematian dan raut sedih seseorang?Walau aku bukan orang termalang di dunia,tapi kurasa hari ini nasibku malang sekali.Bak jatuh tertimpa tangga.
Om jin masuk kedalam botol parfum di atas nakasku setelah sebelumnya memberitahuku.Aku melihat diriku sendiri di cermin,aku lalu menepuk jidatku yang otaknya sering lupa bahwa jin pun punya jenis kelamin.Aku merasa malu sekali sampai rona di wajahku menggelayar sampai ke telinga dan leher.
ya ampun!Pantas saja Om jin pamit masuk kedalam botol parfumnya secara tiba tiba...kenapa aku baru menyadarinya sih?!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selasa nanti,aku akan pulang dan berencana naik bus.Tapi aku takut akan membuat diriku sendiri malu dan sakit jika akan mabuk perjalan nanti.Jadi,aku bertanya pada Om jin apakah dia bisa membantuku agar aku tidak muntah saat naik bus nanti.
"Om jin akan ikut denganku pulang kan?"Harapku padanya.
Om mengangguk dan berjalan melayang di sebelahku.
"Om jin tahu?Om jin itu mirip pamanku.Dulu dia juga sering mengantarku ke sekolah juga walaupun dengan naik motor sih..."Ceritaku padanya untuk mengisi perjalanan berjalan kaki ke sekolah.
"Apa kamu mau kuantar naik motor?"Tanya Om jin membuatku mengerutkan dahi.
"Emang Om jin bisa naik motor?"Tanyaku.
"Tidak,tapi aku bisa memanipulasinya supaya kamu merasa sedang melakukan itu"Jawab Om jin.
"Tidak usah,aku cuma ingin cerita saja sama Om jin kok,bukan buat Om jin niru pamanku"Kataku menolak usulan Om jin.
Om jin ini,main pakai ilmu gaib sembarangan saja,batinku jengah.Bagaimana kalau tiba tiba ada paranormal yang tidak sengaja lewat dan melihatnya?
"Omong-omong,apa bangsa Om jin juga pake alat transportasi?"Tanyaku.
Kulihat wajah Om jin menahan senyum mendengar pertanyaanku.Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?
"Kami tidak membutuhkan hal-hal seperti itu,kamu pasti sudah sadarkan kalau gerakanku bisa jadi sangat cepat sekali?"
Aku mengangguk paham."Secepat cahaya ya,Om jin?"
Om jin tertawa,tapi pandangannya tetap lurus kedepan.
"Oh..roket kalah dong cepetnya,hahaha..."Aku ikut tertawa bersamanya dan melupakan rasa bimbangku akan banyak hal yang membuatku gundah untuk sejenak saja,dan menghayati momen menyenangkan ini bersama Om jin.Rasanya seperti bicara dengan kakak...andai aku punya kakak.
"Nal,tadi kudengar anak-anak lagi pada ngomongin kamu ketawa sendiri di jalan"Nadia,pendengar gosip paling baik di jurusan Ips datang ke kelas ku dan mengatakan hal itu.
"Aku kan sedang mendengar lawakan lewat earphone.Mereka saja kurang memperhatikan dan terlalu berlebihan.Mereka juga bukannya sering ketawa-ketiwi sendiri sambil liat layar hp,sendirian lagi!ih seremm..."
Itulah balasanku dari berita yang disampaikan Nadia.
Om jin dengan raut bersalah sadar karena saat tertawa bersama dia aku dikira gila oleh orang lain yang melihatku.Alhasil dia diam di bangku yang bersebelahan dengan bangkuku,terlihat seperti anak kecil yang disuruh ibunya merenungi kesalahnnya dan dihukum tidak boleh jajan selama seminggu.
Menggemaskan!
Aku ingin tertawa saat melihatnya begitu,tapi aku menahan tawa dengan menggigit pipi bagian dalam ku agar tidak dikira gila lagi karena terlihat tertawa sendiri.
"Dasar rempong,pasti geng cewek yang pergi kemana-mana selalu berenam itu kan?"Astri menyerobot mengambil kursi dan duduk di depanku dan Nadia.
"Mereka itu parah sekali...kulihat kemarin mereka pergi ke mall cuma buat foto-foto dan jalan-jalan aja.Mereka juga mencoba pakaian disetiap toko,lalu di foto,tapi...."Astri menjeda perkataannya membuat kami penasaran.
"Tapi mereka TIDAK MEMBELINYA!"lanjut Astri.
Tawa kami meledak,bukan hanya kami bertiga,melainkan teman sekelas lain yang dapat mendengar pembicaraan kami dan satu makhluk halus.
"Astagfirullah"
"Malu-maluin!"
"Ngak nyangka deh,mereka ternyata pura-pura kaya!"
"Buset dah hahahahahaha...."
Yang terakhir itu Boby,yang suaranya paling keras dan besar di kelas kami,begitupun badannya.Suara tawanya dapat terdengar sampai ke ruang guru yang dipisahkan oleh lapangan upacara dari kelas kami karena saking keras dan besarnya suara tawa dia.
Sepulang sekolah sesuai rencana kami sekelas dan wali kelas yang telah disetujui untuk menjenguk teman kami yang sedang dirawat di rumah sakit,aku,Astri,Revan,dan ketua kelas kami Tyas akan pergi ke rumah sakit sebagai perwakilan kelas dengan tujuan menjenguknya.
Kami berempat naik angkot sebagai pilihan transportasi menuju ke sana dan kali ini Om jin tidak mengikutiku.Saat sampai di rumah sakit tujuan kami langsung bertanya pada resepsionis di mana ruang rawat inap tempat teman kami dirawat dan diarahkan oleh seorang perawat yang kebetulan akan melewati ruangan itu.
Revan dan Tyas sudah masuk ke dalam ruangan teman kami itu,tapi saat akan ikut masuk aku teringat kalau rumah sakit ini adalah rumah sakit di mana paman ku dilarikan setelah kecelakaan yang menewaskannya itu.Hatiku langsung mencelos dan pikiranku tidak bisa fokus.
Astri yang menyadari sikap anehku menegur,air mata menetes tanpa ku mau dan aku kemudian menceritakan alasan sikap anehku pada Astri yang langsung berempati dan tidak jadi masuk menjenguk teman kami.
Tyas keluar menghampiri kami berdua yang tidak ikut masuk,setelah mendengar penjelasan Astri dia memberi pengertian padaku dan kembali masuk.
"Ayo kita keluar dulu,kamu kayak orang bengek di dalam rumah sakit ini terus"kata Astri.
Aku menggeleng menolaknya,kembali teringat suatu hal.Kalau tidak salah seorang pelayat berbisik kalau kecelakaan paman itu tidak alami tabrakan,tapi paman yang sengaja ditabrak.
Tanpa disuruh kaki ku langsung berlari menuju meja resepsionis diikuti Astri yang cemas terhadapku.Sampai di sana aku membombardir petugas resepsionis dengan banyak pertanyaan.
"Tenang dulu dek,biar saya cari dulu datanya"katanya,kewalahan denganku.
Selama beberapa saat aku menunggu dengan tidak sabar di temani Astri yang terus mengelus pundakku berusaha membuatku mendapatkan ketenangan.
"Memang benar bahwa paman adek ditabrak menurut saksi mata yang ikut mengantarkan dia ke sini dan dilihat dari lukanya juga begitu.Oh,ada satu hal lagi yang mungkin adek perlu tahu,sehari setelah paman adek ditangani di rumah sakit ini dan dibawa pulang keluarga setelah dinyatakan meninggal,ada seorang pria dengan tubuh tinggi kurus dan rambutnya yang terlihat sangat hitam datang menanyakan kebenaran mengenai kematian paman adek.Dia juga kakinya terluka dan memakai alat bantu jalan,terlihat mencurigakan..."kata petugas itu memberi tahu.
Aku diam mencerna informasi itu,jadi benar kalau paman ditabrak orang?Tapi siapa dan kenapa?
Petugas resepsionis itu kembali berkata,"Kalau adek mau tau lebih lanjut,tanya saja polisi yang menangani kasusnya.Saya juga masih menyimpan nomor telpon dari saksi mata yang ikut mengantarkannya itu kalau adek perlu"
Aku menerima nomor telpon si saksi mata dari petugas resepsionis dan berterimakasih padanya.Ditemani Astri,aku menenangkan diri sebentar di kursi tunggu lalu izin pulang duluan kepada teman sekelas kami.Sekarang aku dengan ditemani Astri sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi untuk menanyakan soal kasus kecelakaan motor pamanku.
Kami sampai di kantor polisi masih dengan seragam sekolah dan menjadi pusat perhatian,walau begitu aku tidak peduli dan fokus pada tujuanku datang ke sini.Keterangan yang diberikan polisi hampir sama dengan info dari petugas resepsionis,kecuali soal orang yang menanyakan kebenaran tentang kematian paman.
Polisi mengatakan kalau penabraknya tidak dapat terindetifikasi karena cctv yang tidak bekerja dengan baik di jalan tempat kejadian perkara.Saksi mata juga tidak bisa memastikan dengan jelas melihatnya karena keadaan gelap.Keluarga sudah diberitahu soal hal itu dan mereka bilang sudah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi saat kecelakaan itu.Pelakunya pun tidak lagi dicari dan kasusnya sudah ditutup.
Keluarga sudah mengikhlaskan?Jadi mereka sudah tahu soal sebab kematian paman,tapi kenapa mereka tidak memberitahuku?Baiklah kalau begitu,aku juga tidak akan membahas hal ini dengan mereka jika mereka tidak ingin aku tahu.Biar aku mencari tahu sendiri soal si pelaku itu!
Tidak papa,aku tidak papa...yang penting aku sudah tahu mengenai ciri ciri kendaraan si penabrak itu,mobil bmw berwarna hitam.Om jin akan membantuku nanti saat aku sampai di kostan...
"Tidak"kata Om jin.
hati ku patah.
"Kenapa?Apa Om jin tidak mau membantuku?Kali ini aku benar benar serius!"
"Bukan karena aku tidak mau,tapi tenagaku belum sepenuhnya kembali seperti dulu.Aku sudah terlalu lama dikurung.Maafkan aku Nala..."
Aku pun kecewa...
👻
❤Chapter ini baru saya revisi puebinya,semoga ini bisa meningkatkan kenyamanan membaca kalian!
see you in next chapter and don't forget to give me a like👍 and coment💬!
👋👋by-by**!