Om Jin!

Om Jin!
Om jin!41(versi revisi)



🧞‍♂️


Aku semakin ngeri setelah mendengarnya mengatakan hal itu dan semakin gencar berusaha melepaskan diri darinya.


Aku menggigit tangannya dan bisa kurasakan kalau suhu tubuh Rizal tidak terasa hangat ataupun dingi.Dirinya terasa hampa.Tuh,kan!Rizal benar-benar sakit parah!


"Kamu sedang sakit,jangan bertindak sembarangan padaku dan lepaskan akuuuuu!"


Rizal menggertakkan giginya saat ku gigit tangannya dan tetap mempertahankan tangannya yang menahanku untuk keluar dari ruang tamu.


"Kamu yang sedang sakit,lihatlah kakimu yang kembali berdarah!" Bantahnya.


Aku melihat lantai di bawah kakiku yang sudah kotor oleh darah dan sesaat kemudian rasa sakit dan perih kembali kurasakan pada telapak kakiku yang terluka.Mendengar ringisanku juga yang sudah berhenti memberontak,Rizal menghela nafas lega dan melepaskan tanganku.


Saat itu juga aku berlari keluar tanpa memperdulikan luka di kakiku yang semakin parah dan juga mengabaikan Rizal yang meneriakiku bodoh dan sebagainya.


Saat sampai di halaman depan dan Rizal juga sudah berada di teras rumah,aku melemparinya dengan pot-pot tanaman Mamy demi menghalaunya agar tidak mendekatiku.


"Kamu tidak tau malu!pergi dari rumahku dan kembali lah ke rumah sakit jiwa tempatmu dirawat sebelumnya!" teriakku pada Rizal sambil terus melemparkan pot tanaman.


Rizal terus menghindar dan menggunakan kursi kayu yang terdapat di teras sebagai perisai.Alhasil, lantai teras pun menjadi kotor bahkan lantai yang di pintu depan rumahku pun ikut kotor karena lemparan pot ku yang tidak mengenai sasarannya,yaitu kepala Rizal.


walaupun aku membuat keributan besar di rumahku sendiri yang tepat berada di depan jalan raya kampungku,namun tidak ada seorang pun yang menghampiri kami,karena ada sebuah hajat di salah satu rumah yang berjarak beberapa blok dari sini dan semua warga sini selalu gotong royong dalam segala hal dan tidak berada di rumah mereka sendiri sekarang ini.


Kenapa ini jadi kebetulan sekali?!


"Kamu curang!letakkan kembali kursinya!" jeritku saat melihat kerusakan pada kursinya yang berkali-kali terkena lemparan pot ku.


"Nala,hentikan!dengarkan aku dulu!" kata Rizal dengan nada yang tinggi.


Tanganku yang akan melemparkan pot terhenti di udara karena terkejut mendengar bentakan Rizal.


"Pergiiiiiii!pokoknya kamu harus pergi sekarang juga..." kataku,membalasnya dengan nada yang sama.


Kursi yang Rizal pakai sebagai perisai patah di bagain tengahnya dan membuat kami berdua sama-sama diam karena terkejut akan kerusakan itu.


Tiba-tiba gambaran Mamy yang mengamuk setelah melihat kondisi rumah terbayang di benakku sampai dengan tidak sadar tubuhku merinding.


"Jangan melempar pot lagi!nanti kamu akan repot sendiri karena ini.Aku akan pergi...sekarang juga aku akan pergi dari sini!" kata Rizal sambil mengangkat kedua tangannya.


Aku kemudian kembali ke kenyataan dan perasaan takut akan dimarahi Mamy barusan langsung hilang saat melihat Rizal yang sudah menyerah dan akan pergi.


"Kalau begitu pergilah sekarang!" teriakku.


Rizal berjalan ke halaman depan masih dengan kedua tangan yang ia angkat ke atas-tanda tanpa perlawanan.Aku berpindah tempat ke sisi halaman yang lain sambil mengancamnya dengan memegang pot tanaman lain untuk melemparinya lagi.


"Aku akan pergi,kamu ini memang terlalu setia ya orangnya.." kata Rizal dengan senyuman kecil di wajahnya saat sudah berada di jalan dan mendadahiku dengan tenang dan dia kelihatan senang.


Dia benar-benar sedang sakit,batinku merasa ngeri dan heran melihat sikapnya yang masih ramah padaku padahal sudah kuperlakukan dia selayaknya penjahat.Itu berarti dia sungguhan sakit jiwa!


Ku pandangi dengan bingung dan takut kondisi di sekelilingku yang sudah kacau balau.Halaman yang berantakan,teras rumah yang kotor oleh tanah dan tanaman yang berantakan,juga satu kursi yang patah.


Habis sudah aku jika Mamy melihat semua kekacauan ini,batinku.


Aku tidak bisa membuat alasan apapun untuk ku kakatakan pada Mamy saat dia kembali nanti.Luka di kakiku juga kembali terasa sakit dan perih karena aku berlari dengan cepat dan tanpa alas kaki apapun saat keluar rumah tadi.


Rizal sudah pergi,itulah yang terpenting karena aku merasa tenang saat tidak melihat wajah menyebalkannya di hari-hari liburku.


Pertama-tama aku masuk ke rumah dan mengganti perbanku lagi,lalu membersihkan teras dan membuang pot-pot yang pecah juga tanaman yang telah ku siksa tadi demi menghajar Rizal.


Aku juga menyingkirkan kursi yang sudah rusak dan menyapu halaman sambil melompat-lompat,saat melakukan semua itu tentu saja aku ditemani dengan rasa cenat-cenut pada kaki ku.


Setelah selesai aku duduk di kursi kayu yang terdapat di teras dan melihat jalanan beraspal yang lenggang di depan mataku.Hanya kursi inilah yang selamat dari kekacauan yang ku buat tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari sudah semakin gelap dan Mamy masih belum kembali ke rumah,aku terus duduk di kursi teras dan berpikir keras juga merasa gelisah karena Om jin belum juga kembali.Apa dia benar-benar marah padaku lagi?


Di tengah pikiranku yang kacau,ayam tetanggaku berkokok keras sambil berlari ke tepi jalan saat sebuah mobil yang ku kenali berhenti di depan pagar rumahku dan membunyikan klakson.


Ayam itu hampir mati terlindas jika sang pengemudi tidak segera menghentikan mobilnya.


Dari mobil itu keluar Astri yang membawa buket bunga dan memakai tas punggung yang kelihatan penuh oleh sesuatu lalu di satu tangannya yang lain dia membawa kresek hitam yang mencurigakan-biasanya dia akan memakai paperbag.


Bibi Astri juga keluar dari kursi pengemudi dan menghampiriku sambil membawakan tas Astri yang lain dan tas tangannya sendiri,dia kelihatan sedikit kerepotan.


Aku berdiri menyambut mereka di teras dan menyalami bibi Astri.Aku diam-diam jengah dengan kelakuan Astri yang katanya akan ke sini besok,tapi saat ini juga sudah sampai.


Tanpa sengaja mereka melihat lukaku dan menanyakan apa yang terjadi dan aku menjawab kalau aku tidak sengaja menginjak benda tajam di halaman.


Ku bawa mereka ke dalam rumah,bibi Astri meletakkan tas Astri di sofa di sebelahnya dan menanyakan kabar Mamy padaku.Aku menjawab jujur ke mana perginya Mamy dan mengatakan tidak tahu kapan dia akan kembali.


Alhasil bibi Astri yang tadinya akan berbincang sebentar dengan Mamy ku pun terpaksa harus pergi tanpa menemuinya terlebih dahulu karena takut kemalaman di jalan dan menitipkan salam untuk Mamy padaku.



"Nal,nih bunga yang kamu pesen,ini bunga yang paling seger,sengaja aku nawar sama yang punya tokonya langsung.Btw kok bunganya ngak kecium harumnya?Mana isi toko bunganya,bunganya layu semua lagi.Masih untung ada yang mau beli!" kata Astri sambil menyerahkan buket bunga itu padaku dengan ekspresi heran dan lelah.


Astri lalu membaringkan dirinya di sofa dan menjadikan tasnya sebagai bantal lalu mengeluhkan keanehan-keanehan lain di toko bunga itu.


"Ya jangan salahin aku juga,Tri.Ini juga kan selera Sera.Aku mana suka bunga-bungaan kayak gini.Gak guna!" kataku.


"Bunganya mau kamu kasih ke Sera sekarang atau besok?Kalau sekarang aku mau ikut dan mandi dulu..." kata Astri.


Aku berpikir sebentar dan kemudian tidak sengaja mencium bau badan Astri dan langsung menutup hidung dengan buket bunga itu.


"Sekarang sajalah,mandi gih!" balasku.


Astri langsung bangun dan mengatakan 'pusing' secara spontan karena bangun tiba-tiba lalu berjalan sempoyongan ke kamar mandi.


Bau badan Astri hilang bersama dengan kepergian orangnya dan aku mencoba mencium aroma dari bunga tersebut,tapi hanya ada sedikit aroma yang dapat masuk ke indra penciumanku.Bunga ini sangat aneh,kenapa Sera sangat menyukai bunga sejenis ini?Pertanyaan itu kembali ke pikiranku dan kuperhatikan bunga itu lebih lama dan berharap bisa menemukan alasannya.


Saat aku berbalik,ada suara lembut nan pelan yang memanggil namaku dengan sayang.


"Nala..."


Aku langsung tersenyum dan melihat siapa yang menyuarakan namaku dengan sangat merdu.


"Kamu menungguku?" tanya Om jin.


Aku mengangguk dan memeluk tubuhnya,"dari mana saja Om jin ini?!Aku tadi sudah khawatir kalo Om jin marah lagi padaku"


"Aku mana bisa marah padamu" balasnya.


Aku menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat tanda menguji perkataannya.Om jin malah membalasku dengan senyuman di bibirnya yang sangat menggoda.


Hal itu dengan sukses membuatku salah tingkah dan berbalik memunggunginya saking malunya,senyumannya terlalu indah...


"Nala,berbaliklah kembali.Kamu kenapa malah memunggungiku?" kata Om jin sambil memegang bahuku dan mencoba membuatku kembali menghadapnya.


Aku berbalik dengan pelan dan menyembunyikan wajahku di kedua telapak tangan.Om jin memegang kedua tanganku dan membukanya perlahan sampai wajahku yang tersipu merah kelihatan.


Tanpa sadar aku menutup mata karena merasa sangat malu dan juga tidak berani jika bertatap mata langsung dengan Om jin dalam jarak yang sangat dekat.


Dapat kurasakan wajahnya yang ia dekatkan dengan wajahku dan tangannya yang menggenggam kedua tanganku dengan pelan.


"Nalaaaaaa,bawain handukku plis!" teriak Astri dari kamar mandi.


Aku membuka mataku dalam sekejap dan langsung tersadar dari situasi ini.Ku tatap wajah Om jin yang hanya berjarak setengah jari dari wajahku,Om jin berkedip berkali-kali-berusaha menyadarkan dirinya sendiri dan melepaskan tanganku lalu menyingkir ke sebelahku.


Ku bawakan handuk untuk Astri dan mengambil air dingin dari kulkas untuk menenangkan diriku sendiri dengan Om jin yang mengekoriku.


Astri keluar hanya dengan sehelai handuk yang ia lilitkan di badannya.Aku bilang dia menyusahkanku karena bertingkah seperti anak-anak dan harus di bawakan handuk oleh orang lain.


Di sela omelanku dan Astri yang sudah menggeluyur pergi aku baru sadar kalau Om jin juga melihat tubuh Astri yang hanya ditutupi handuk.Seketika hatiku terasa panas.


"Om jin melihat sesuatu yang menarik?" tanyaku dengan nada datar.


"ti-tidak!" jawabnya dengan gugup dan memalingkan wajah dariku.


"ada apa?Tidak mau menceritakannya padaku?Soalnya Om jin seperti sudah melihat bidadari mandi saja" kataku.


"bidadari?Mana ada" balasnya.


"Benerrrrrrr?" tanyaku.


Om jin mengangguk dengan pasti padaku.


"Jawab bener atau ngak?" kataku lagi.


"Benar,Nala.Percayalah padaku" kata Om jin dengan wajah memohon padaku.


Aku tersenyum,"aku tidak bisa percaya pada seseorang yang sering meninggalkanku tanpa memberitahu dulu"


Om jin mendekatkan diri padaku dan berkata,"itu dulu sebelum aku sudah mematiskan sesuatu.Sekarang aku sudah sangat yakin,jadi kamu juga yakinlah padaku"


Aku mengangguk lalu kemudian teringat kalau aku bisa meminta bantuan Om jin untuk membuat halaman dan teras rumah menjadi seperti semula.kujadikan hal itu sebagai syarat pada Om jin agar aku yakin terhadapnya.


"Tapi halaman dan terasnya tidak kenapa-napa,memangnya apa yang terjadi?" kata Om jin.


Aku refleks berkata"huh?!" dan berjalan ke luar rumah untuk mengeceknya dan ya,kursi yang tadinya patah dan sudah kusingkirkan kembali utuh dan ada di tempatnya seperti semula,lalu pot-pot tanaman dan bunga Mamy kembali berjejer di halaman dengan rapi.


Dengan linglung sekaligus merasa lega dan senang,aku duduk di kursi teras sambil menghembuskan nafas sambil tersenyum lega,satu beban pikiranku sudah teratasi!


"Om jin,apa Om jin yang melakukannya?" tanyaku.


Tidak ada respon dan hanya suara hewan yang mulai terdengar di telingaku.


"Om jin?" aku menengok ke sebelahku dan tidak melihat Om jin di sisiku.


Kemana lagi perginya Om jin ini?Pikirku jengah dan kembali masuk ke dalam rumah,tapi tidak jadi saat kulihat siluet Mamy yang menjinjing sesuatu lalu membuka pagar dan berjalan menghampiriku.


"akhirnya Mamy ku yang super sibuk kembali pulang" kataku menyambutnya dan langsung menyalaminya.


"Kamu ini,temen kamu sudah pulang?Kamu tidak mengusirnya,kan?" kata Mamy.


Aku menggeleng lalu mengambil alih kresek yang ia bawa dan menaruhnya di dapur seperti perintah mamy.


Aku menceritakan kedatangan Astri ke mari yang akan kembali menginap di rumah ini dan bibinya yang menitip salam pada Mamy.Mamy setuju-setuju saja dan merasa tidak keberatan Astri kembali menginap di rumah ini bersamaku.Katanya biar aku tidak malas bangun tidur lagi kalau ada teman.


Astri keluar dari kamar dan langsung menyalami Mamy,kami langsung makan malam bertiga dengan lauk yang di bawa Mamy tadi dari hajatan dan meminta izin pada Mamy untuk pergi ke rumah Sera setelah makan malam.


"Ini sudah malam,kaki kamu luka dan nak Astri juga baru sampe ke sini...jangan!" kata Mamy.


Aku dan Astri saling bertatapan dengan pasrah dan tidak membantah kata-kata Mamy karena itu memang benar lalu kembali melanjutkan makan.


Saat aku dan Astri masuk ke dalam kamarku untuk tidur,kulihat Om jin yang tengah menatap buket bunga untuk Sera dari jarak yang jauh.


'Om jin!' panggilku,tapi dia tidak menyahut.


'Om jin,Om jin liatin apa?'


Om jin tersadar dan memandangku yang tengah menatapnya secara bergantian dengan buket bunga yang ia tatap sampai mengabaikan panggilanku sedari tadi.


"Nala,buket bunga ini..." kata Om jin,tapi tidak jadi ia katakan.


Aku menatapnya dengan pandangan bertanya dan penasaran.Ada apa dengan buket bunganya?Kenapa Om jin menjauhinya?


👻


Enjoy this chapter and don't forget to give me a like👍 and coment💬!