
🧞♂️
"Nal,sebelum tidur lebih baik kita main kembang api dulu,yuk!" Ajak Astri sambil menggoyang-goyangkan kresek hitam yang tadi dicurigai di depan wajahku.
Aku mengalihkan fokusku padanya dan menyetujuinya lalu pergi ke luar rumah dan menyalakan kembang api di halaman depan.
Para anak tetangga keluar dari rumahnya dan menontoni aku dan Astri yang asik sendiri menyalakan kembang api dan merekamnya lalu berselfie ria berdua.
Om jin melihatku di teras rumah masih dengan ekspresi seperti kelihatan memikirkan sesuatu lalu mendongak ke atas untuk melihat langit di atasnya yang dihiasi oleh kembang api yang aku dan Astri nyalakan-berhasil membuat meriah suasana di desa.
Aku menanyakan ada apa dengannya saat ini,tapi Om jin tidak menjawab pertanyaanku dan mengalihkan pembicaraan pada hal lain.
"Apa saat aku pergi tadi ada seseorang yang menemuimu?Apa kamu tidak mau menceritakan itu padaku?" kata Om jin.
DEG
Seketika aku langsung terdiam di tempatku berdiri dengan tangan yang sedang memegang kembang api yang masih memuntahkan api yang indah ke langit dan menimbulkan suara yang memekakkan telinga.
"Yeeeee,terus!1,2,3,4,5,6,7,8...." Astri dan para anak tetangga asik menghitung jumlah kembang api yang dikeluarkan dan meletup di langit-melukisnya.
'A-apa?Kok Om jin bisa tahu sih...' aku berkata gugup dan menatapnya dengan wajah yang sudah pucat pasi.
"Aku bisa tahu hanya dari merasakan emosimu yang tidak stabil.Apa orang itu menyebalkan?" Tanyanya lagi yang tambah membuatku panik.
Kalau aku menceritakan Rizal yang datang ke mari demi urusan tidak penting dan tidak jauh dari urusan sekolah dan lainnya pasti tidak masalah untuk ku ceritakan pada siapapun juga,tapi jika aku hanya menceritakan setengah kebenarannya saja pada Om jin,aku pasti akan langsung ketahuan.
Si Rizal itu juga kenapa bilang kalau dia datang kemari demi aku dan juga malah menembak ku secara mendadak,sih?!aku bahkan tidak mau mengingat kejadian itu lagi,bagaimana harus ku ceritakan semua itu pada orang lain terutama pada Om jin.
'I-itu tidak penting...hahaha.Biasalah aku kan suka marah sama siapa-siapa juga' alibiku dan kembali menyalakan kembang api yang masih tersisa kemudian meminta Astri yang memeganginya,tapi Astri tidak mau dan malah menjerit mengatakan takut dan lainnya sampai ditertawakan oleh anak-anak tetangga yang sedang menonton.
"Sudah,sudah!aku mau tidur dulu!" kata Astri lalu masuk ke dalam rumah dengan berlari karena merasa malu ditertawakan oleh anak-anak.
Kenapa ada orang yang suka dengan kembang api tapi takut untuk menyalakannya sendiri?Anak kecil saja mau memegangnya sendiri...
Aku pun ikut masuk ke rumah dan mendadahi para anak tetangga juga menyuruh mereka agar langsung pulang ke rumah masing-masing dan melarangnya agar tidak kelayapan setelah melihat kembang api di langit sudah memudar.
"Cepat pulang,entar digondol jin terus disembuyiin di pohon pisang lagi..." kataku menakut-nakuti.
Mereka langsung berlarian ke rumah mereka dan aku tertawa.
"Ehemm..."
Aku langsung teringat sesuatu dan menatap Om jin dengan wajah yang memelas dan meminta maaf.
"aku hanya bercanda dan hanya mau menakuti mereka supaya mereka pulang ke rumah dan tidak kelayapan karena ini sudah malam.Om jin jangan tersinggung ya..." kataku.
"Mm...tapi ceritakan padaku dulu siapa yang menemuimu tadi siang?"
Soal itu lagi!
Aku langsung masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut dan mengunci pintu depan walau aku tahu hal itu tidak mempan untuk mencegah Om jin ikut masuk.Saat aku berbalik,Om jin sudah ada di sana dan menanyakan hal yang sama berulang kali.
'Om jin tidak perlu tau,itu tidak penting sama sekali' kataku dan menyingkirkan dia dari jalanku.
"Tidak penting,tapi kamu tutup-tutupi dariku?" katanya,memancingku.
Aku langsung menghentikan langkahku dan kembali berbalik padanya lalu berkata,"itu karena kamu yang sering menghilang,jangan salahkan aku kalo ada orang lain yang datang menemuiku,mengisi kekosongan yang Om jin buat sendiri!"
Om jin lah yang sekarang diam,akhirnya dia berhasil kubungkam juga.Aku berjalan ke kamarku dan melihat Astri yang asik memainkan hp di atas kasur sambil selonjoran.
Aku duduk dengan kasar di sebelahnya sampai kasur bergoyang keras dan Astri yang tidak siap dengan itu menjatuhkan hp yang dipegangnya dan hp itu pun terjatuh tepat di pangkuanku.
Tidak sengaja aku melihat chat-an Astri di hp itu dan melihat nama Andre dengan emot love merah menyala.Aku melotot dan langsung mengambilnya lalu membacanya,penasaran.
"Nala!kamu ngak sopan ih,kembalikan!" kata Astri dan mencoba merebut hp nya dariku.
Aku terus membacanya tanpa menghiraukan Astri dan bisa mengambil kesimpulan bahwa mereka sudah kembali berhubungan dari beberapa hari yang lalu.
"Nih!" aku mengembalikan hp Astri padanya setelah puas membaca semua percakapan mereka.
Nampak wajah Astri yang seperti akan menerkamku,"kamu!kamu malah sudah tau!ah sudahlah..." katanya dengan emosi yang campur aduk.
"ya sudahlah,lagipula aku akan mendukung hubungan kalian kok kalo kalian benar-benar saling mencintai" kataku.
Astri menatapku dengan kaget dan langsung memegang kedua tangannku dengan erat,"beneran?!" tanyanya dengan wajah tegang sekaligus penuh hatap.
"Iya beneran,kalian berdua emang cocok dan keliatan ngak bisa dipisahkan.Aku juga bisa merasakan kalo kamu mulai ngak terlalu centil lagi di depan cowok-cowok di sekolah" kataku dengan jujur.
"Nala...makasih!kamulah sahabat terbaikku..." kata Astri dengan nada yang membuatku tersenyum geli.
Sepanjang malam Astri menceritakan soal Andre padaku dan curhat kalau perasaanya pada Andre masih seperti dulu dan Andre juga merasa begitu.Dia lalu menceritakan masa kecil mereka dan kelucuan Andre.
"tapi,di balik kepintarannya ada satu yang kami sekeluarga sayangkan dari dia...dia bisa melihat 'itu'"
"Itu?Itu apa maksud kamu?" tanyaku penasaran.
"Setan,dia semacam punya indra keenam.Dia sebenarnya sulit untuk bergaul dan beradaptasi di tempat baru dengan waktu yang singkat.Temannya pun hanya beberapa orang saja..." jelas Astri.
Aku hampir terkena henti jantung dadakan di usia muda dan langsung bangun dari tidurku lalu menatap Astri dengan tegas,"kamu serius?!" kataku.
Astri pun ikut bangun seperti ku dan balik menatapku,"serius,dia beneran punya yang kayak begituan" jawab Astri.
"Tri,terus dia gimana di sana?" tanyaku.
"ya dia udah ngak gimana-gimana lagi sekarang karena udah biasa kata dianya juga.Tapi waktu SD dia sama sekali tidak punya teman dan pendiam sekali,hanya aku yang dekat dengannya dari dia SD sampai dia SMP dan ya-sekarang juga sih sebenarnya..."
"terus kamu gimana sama dia?Kamu ngak ngerasa 'gimana gitu'...soal indra keenam yang dia punya?" tanyaku dengan ragu.
Aku benar-benar tidak bisa membayangkan Astri yang punya sifat dan kelakuan seperti itu bisa bersikap toleran terhadap orang yang punya indra keenam bahkan sampai berhubungan dekat dengannya.
"aku mengerti dia dan tidak mempertanyakan apapun padanya soal itu kecuali dia sendiri yang ingin membicarakannya denganku,sesimpel itu." kata Astri.
"Sungguhan sesimpel itu?" tanyaku,masih tidak percaya.
Astri mengangguk,"dia penurut seperti Sera,tapi Sera kelihatan tidak punya kemampuan itu karena selalu bersikap tenang di manapun dia berada.Padahal,kata Andre kalau di tempat manapun itu selalu ada setannya,terutama tempat-tempat yang kotor..."
Aku bingung harus menanggapinya seperti apa,apa harus kukatakan pada Astri kalau Sera juga punya kemampuan yang sama dengan Andre atau tidak.Aku takut Sera akan tidak suka dan semakin menjauhiku.
"ngomong-ngomong sebenarnya Sera menceritakan sesuatu padaku tentang kamu dan...eumm" Astri mengulum bibirnya sambil memegang erat hp di genggamannya.
"Sera cerita apa soal aku padamu?" tuntutku.
"Dia cerita kalo kamu merindukanku dan butuh teman bicara!" Astri langsung memelukku sambil tertawa.
"kok kamu tegang gitu sih!"
"Btw Tri,kok aku jadi pengen liat muka Andre ya,dia kan udah lama tinggal di luar negeri,siapa tau udah jadi mirip bule hahaha.. "
Astri menepuk pahaku tanda cemburu,"tidak boleh,entar kamu suka repot lagi!" katanya.
"Impossible boat mobile!" kataku asal.Lagipula aku tidak akan menyukai laki-laki lain selama aku sedang mencintai seseorang di hatiku.
Astri tertawa dan mengutak-atik hp nya lalu menaruh hp nya di nakas dan kami berdua duduk di lantai menatap layar hp Astri yang menampilkan bahwa Astri sudah menghubungi kontak Andre dan mem video call nya.
"Gila,kita kan cuma pake baju tidur!" kataku karena merasa tidak siap.
"Nala,kam-"
Aku menengok kebelakang dan melihat Om jin yang baru saja masuk ke kamar dengan menembus pintu kamarku.Aku sudah terbiasa dengan pemandangan aneh itu dan masih menatapnya tanda menunggu kata-kata yang akan dikeluarkan dari mulutnya.
"Bisa kamu singkirkan bunganya dari kamar ini,aku benar-benar tidak menyukainya walau bunga itu terlihat indah,tapi sepertinya bunga ini punya penangkal untuk makhluk sepertiku"
'Apa?!beneran?Pantas saja Sera menyukainya dan merasa tenang saat dulu kubelikan bunga itu!' aku langsung berdiri dari dudukku dan mengambil bunga itu lalu menaruhnya di ruang tamu.
Astri merasa heran dengan tingkahku dan menanyakan mau dikemana-kan buket bunga itu.Aku mengabaikannya dan kembali lagi setelah selesai dan melihat Om jin yang sudah duduk dengan tenang di atas lemari kemudian mengucapkan terimakasih padaku.
'Kenapa Om jin tidak bilang dari awal?' tanyaku sambil melewatinya dan kembali duduk di sebelah Astri.
"Aku takut kamu tersinggung dan mengganggumu yang sedang bersenang-senang,tapi bunga itu tidak terlalu berpengaruh padaku.Jika makhluk yang lebih rendah dariku berada di dekatnya,pasti makhluk itu akan langsung lari kocar-kacir"
'Jadi bunga ini semacam penangkal makhluk halus?' tanyaku.
"Iya,pantas saja bunganya kamu bilang aneh" jawab Om jin.
'Pantas saja Sera menyukainya' balasku sambil tersenyum.
"Hai,And!" Astri di sebelahku menyapa dengan antusias.
Aku yang baru sadar kalau panggilan vidionya sudah tersambung tertangkap basah sedang menengok kebelakang sambil tersenyum.
"Nal,kamu kenapa?" tanya Astri.
"Ah tidak,btw kenalin aku dong" kataku pada Astri dengan sungkan.
Aku memperhatikan wajah Andre yang putih bersih dan dia sedang memakai pakaian santai sambil duduk di kursi yang dibelakangnya terlihat jendela besar yang menampilkan keramaian di jalanan dan gedung-gedung pencakar langit yang gemerlapan.Wah,jadi dia tinggal di apartmen mewah...
Astri memperkenalkan aku pada Andre,tapi sedetik kemudian dapat kulihat walau Andre sedang tersenyum,tapi pandangan matanya yang ganjil melihat kebelakang kami dengan ngeri.Dia sama sekali tidak memperhatikan kami dan fokus pada hal lain di kamar ini.
Aku menampilkan wajah terkejut saat ingat kalau Om jin juga baru saja ikut melihat Andre di belakang kami karena mengetahui aku yang berpikir kalau penampilan Andre itu bagus sekali.Dan Andre itu punya Indra keenam seperti Sera!
GAWAT!
"Ai,dan teman kamu itu emm-Nala!...berdoalah!" kata Andre tiba-tiba.
"Ada?" Tanya Astri membuatku hampir gila di tempatku duduk.
"Ada apa,dia melihat apa?" tanyaku tidak sabar pada Astri.
"berdoa dulu saja,kamu kan sudah tau dia bisa melihat..." Astri berdoa duluan dan di layar pun dapat kulihat Andre yang juga ikut berdoa.
Aku melongo di tempatku,Om jin yang berada di belakang kami memintaku untuk tidak panik dan agar tidak memperlihatkannya di depan mereka berdua,lalu Om jin menghilang entah kemana dari belakangku dan Astri.
Aku pun pura-pura ikut berdoa dan memejamkan mata,ini gila!bagaimana kalau Andre menceritakan apa yang dilihatnya pada Astri?Apa dia tahu kalau Om jin ada di belakang kami karena terikat dengan seseorang,maksudku dengan aku?Apa setelah tahu ini Astri akan takut dan menjauhi aku seperti juga Sera?!
Kenapa lama kelamaan orang-orang tersayang di sekitarku mulai menjauhiku karena takut dengan Om jin?
👻
Enjoy this chapter and don't forget to give me a like👍 and coment💬!