
🧞♂️
"dia sudah tidak ada" kata Andre di dalam layar.
Astri dan aku menyudahi doa kami dan saling mengatur nafas karena adrenalin kami sama-sama terpacu dengan alasan yang berlawanan.Mereka berusaha untuk mengusir Om jin dan aku takut Om jin ketahuan.
"apa dia berbahaya?Soalnya dia ada di kamar Nala dan aku juga ada di sini..." kata Astri cemas.
"tentu saja,jenis makhluk halus yang seperti itu seharusnya tidak berada di dalam rumah kecuali dia di pelihara atau di panggil,karena levelnya lebih tinggi lagi dan hanya sebagian indigo saja yang dapat melihatnya" Jelas Andre dengan wajah serius.
"Nala,apa kamu tau sesuatu soal makhluk itu?" tanya Andre yang sekarang beralih padaku.
Seketika jantungku memompa lebih keras dan cepat,adrenalinku kembali berpacu,dan keringat dingin mengaliri pelipisku.Kenapa Andre haruslah seorang indigo?Bagaimana kalau Astri jadi tahu soal hubungan Om jin denganku selama ini?
"aku bahkan tidak mengerti apa yang kalian bicarakan!" kataku,mencoba semeyakinkan mungkin .
Astri menatapku dengan mata yang berkaca-kaca sedih dan aku menatapnya dengan ekspresi takut,kenapa dia tiba-tiba berekspresi begitu?
"Nala,sudah.." kata Astri.
"Andre,Nala juga jarang berada di tempat ini.Dia ngekost di Bandung dan baru beberapa hari di rumahnya,kamar ini memang jarang ditempati..." jelas Astri pada Andre-tanpa sadar telah membantuku.
Aku menghela nafas,mereka berdua melirikku secara bersamaan."apa?Aku berpikir agar bisa segera kembali ke kost ku yang sempit saja daripada di kamar ini yang berpenghuni" alibiku.
"aku kan baru datang menginap,masa udah mau balik lagi?" protes Astri.
"tenanglah,lagipula dia sudah tidak ada di sana sekarang.Kalian bisa tidur dengan nyenyak sekarang.Aku akan mencari sesuatu dulu demi mengatasi jin itu,sementara kalian bisa matikan hp nya dan besok hubungi lagi aku.Atau kalau ada kondisi darurat langsung hubungi aku tanpa sungkan-sungkan"
Kami berdua mengiyakan,Astri dengan sedih berpamitan pada Andre dan aku hanya berpamitan dengan sopan.Untung saja dia segera menutup telpon,kalau dia terus bisa memantau kami,apa jadinya Om jin yang harus selalu menghilang?
Setelahnya kami berdua tidur dengan tenang,tapi saat tengah tidur aku dapat meresakan kasur yang sedikit berguncang karena isakan Astri yang tengah menangis dengan posisi membelakangiku.Pasti dia menangis karena sedih berpisah jauh dari Andre,jadi aku tidak menganggunya dan kembali mencoba tidur.
Sebelum itu aku melihat ke atas lemari tempat biasa Om jin berada,tapi dia tidak ada di sana.Aku kemudian memanggilnya lewat pikiran,tapi dia tidak kunjung datang atau setidaknya menjawab panggilanku.
Kenapa dia pergi begitu lama?Kemana lagi perginya dia?Apa dia pergi untuk makan atau menemui makhluk sebangsanya?Apa ada jenis perempuan sebangsanya?Apa dia menemuinya?!
Tiba-tiba pikiran negatif itu masuk ke kepalaku dan membuatku sulit untuk kembali memejamkan mata dan ikut begadang seperti Astri yang masih menangis sambil terisak kecil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku dan Astri pergi ke rumah Sera pagi-pagi sekali sesudah sarapan,dapat terlihat jelas wajahku dan Astri yang kurang tidur dan menimbulkan kantung mata gelap yang terlihat jelas.
Buket bunga di pelukanku menjadi seperti atribut pemakaman bagi kami berdua yang berjalan dengan lesu dan seperti tanpa tujuan kecuali pergi ke kuburan dan masuk ke lubang kubur milik masing-masing,terlalu lelah dengan kehidupan.
"kak,kak Nala!mau kemana bawa buket bunga?" ada seseorang yang memanggilku dari seberang jalan dan itu adalah Sinta.
Aku melihatnya sambil menggoyangkan buket bunga di tanganku seperti sedang pamer padanya dan membuatnya berlari menghampiriku dan Astri yang hanya melihatnya sekilas lalu kembali menengok ke depan,melanjutkan perjalanan.
"buket bunga dari siapa kak?Eh-kok bunganya udah layu sih?" tanya Sinta saat sudah berada di dekatku.
"Sengaja" balasku.
"Huh!?kakak lagi patah hati,ya?"
Aku langsung memukulnya dengan buket bunga di tanganku sampai dia mengaduh lalu pergi begitu saja sambil mengomel.
Saat sampai di rumah Sera,di sana ada Bibi yang sedang membersihkan halaman rumahnya dengan Sera yang sedang makan pisang goreng di teras depan bersama Kakeknya yang sedang menyesap rokok.
Belum juga sampai di sana aku sudah terbatuk dan menutupi hidung beserta mulutku dengan buket bunga yang bentuknya sudah tidak kupedulikan lagi terlihat seperti apa.
"Bunga itu!" Sera langsung meloncat dari tempatnya duduk dan berlari ke arahku lalu merampas buket bunga di tanganku dan mengacungkan bunga itu ke atas seperti sedang mengacungkan obor di hutan untuk mengusir para hewan buas.
Aku,Astri,Kakek,dan bibi menatap bocah itu dengan pandangan jengah atas sikapnya yang terlalu berlebihan.By the way,apa hantu-hantu itu benar-benar akan langsung kabur jika ada bunga itu di sekitarnya?
Sera tertawa senang sambil memeluk buket bunga yang sudah hancur bentuknya lalu menaruh bunga itu di vas bunga di kamarnya dan menyisakan satu untuk selalu dia bawa di sakunya.
Sepertinya di kamar Sera sendiri pun ada hantunya,aku sungguh tidak bisa membayangkan kalau aku yang ada di posisi Sera.Mungkin aku akan menusuk mataku sendiri dan memilih buta daripada melihat makhluk macam hantu.
Aku dan Astri ikut memakan pisang goreng di teras rumah sambil memperhatikan bibi yang sedang mengelap keringatnya yang mengucur setelah menyapu halaman sampai bersih tanpa ada niatan untuk saling bertegur sapa atau melakukan hal lainnya.
Tapi Kakek yang memang sudah dewasa dan berpengalaman menyapa Astri dan bertanya beberapa soal dirinya pada Astri demi basa-basi semata begitu pun bibi.Lalu kami ditinggalkan bertiga oleh Kakek dan bibi yang sedang sibuk melakukan pekerjaannya masing-masing.
"Sera,kamu senang lan dengan bunga itu?" kataku.
"I...ya..." jawabnya dengan nada yang terdengar ganjil lalu melirik Astri yang sedang melamun.
"Tri,woi!" aku menepuk bahu Astri sampai dia tersadar dari lamunannya dan menatap Sera yang daritadi sudah menatapnya.
Sera menatap Astri dengan pandangan serius lalu beralih memainkan bunga di dalam vas dan tertunduk lesu.
"Kalau begitu kakak setuju untuk membantuku?" tanya Sera tiba-tiba.
Aku memperhatikan percakapan di antara mereka berdua dengan bingung,karena sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan itu.
"Kalian ini sebenarnya kenapa sih?Kok jadi pada pendiam.Kamu juga Sera,tadi senang sekali tapi sekarang lesu lagi" kataku.
Mereka berdua masih diam dan kembali kedalam pikiran mereka masing-masing.Aku dibiarkan mengoceh sendirian.
Aku memakan pisang goreng itu dengan rakus demi menyalurkan emosi dan menyuruput kopi Kakek yang masih sisa setengahnya lalu sedetik kemudian memuntahkannya karena rasanya pahit dan aku juga tidak sengaja menelan dedaknya.
Lalu aku pun terbatuk-batuk karena tersedak lalu memukul-mukul lantai karena kesal.
"Ser-Sera,bawain minum-cepet!" kataku.
Sera pergi mengguluyur sambil membawa vas bunganya untuk mengambilkanku minum.
Seharusnya aku tidak menyalurkan emosiku pada makanan...jadilah aku tergeletak di lantai dengan tenggorokan yang sakit.Astri ataupun Sera tidak sekalipun menanyakan keadaanku,mereka hanya saling lirik dengan cara yang sangat mencurigakan-tidak sadar kalau aku memperhatikan.
Mendadak bayangan Om jin yang sudah lama tidak muncul di dekatku melintas di pikiranku.Aku langsung terbangun dan memanggilnya supaya datang.
"Aww!" Sera mengaduh,lalu aku dan Astri menengoknya berbarengan dan melihat jika jari Sera tertusuk duri yang tersisa pada tangkai bunga mawar itu.
lalu kemudian ingat kalau Om jin merasa tidak nyaman jika berada di dekat bunga aneh itu.
"Dasar penjual lalai!kenapa durinya masing ada?" Astri mengomel lalu mencabut duri itu dari batang mawar yang dipegang Sera.
Dia mengelap darah yang keluar dari jari Sera dengan ujung bajunya.Aku yang melihatnya serasa ingin menangis haru,karena bisa punya teman yang begitu sayang pada sepupu kecilku yang aneh itu.
"bu-bunganya!" jerit Sera.
Aku melihat bunga yang tertetesi darah Sera bergerak aneh.Aku baru akan meraih Sera untuk menjauhkannya,tapi Astri keburu melakukannya dan berdiri menjauh sambil menggendong Sera.
Aku masih melihat bunga itu dari dekat dan meperhatikannya yang terus bergerak dengan anehnya.Seharusnya bunga tidak bergerak seperti ini kan?
"Nala!"
"Kakak!"
Astri dan Sera memperingatkanku agar menjauh dari bunga itu,tapi aku tidak mengacuhkan mereka dan menyentuh bunga yang terus bergerak itu dengan ujung jari telunjukku.
Bunga itu langsung berhenti bergerak,tapi bunganya jadi berubah aneh.Auranya bisa terasa oleh orang yang indranya tidak peka sepertiku bahkan...
Sera menjerit di gendongan Astri dan berteriak padaku,"kenapa ada lagi yang mendekat!"
Astri tidak sengaja menjatuhkan Sera karena bobot dari anak itu yang tiba-tiba bergerak dan Astri yang tidak siap dengan semua itu ikut terjatuh.
"Sera,kamu ngak papa?" tanya Astri dan membantu Sera berdiri.
Siku Astri terluka dan berdarah,sedangkan lutut dan siku Sera juga lecet-lecet.Astri mengabaikan lukanya sendiri dan meniup-niup luka Sera.
Sera menangis,tapi aku tahu kalau dia menangis bukan karena lukanya,namun hantu-hantu yang kembali bermunculan.
Tapi aku merasa janggal karena Sera sudah terbiasa melihat hantu,tapi kenapa sekarang dia jadi sangat takut dan panik begitu ketika para hantu kembali mendekatinya?
Apa karena bunga itu yang berubah aneh?Apa fungsi penangkalnya juga jadi berubah?Atau fungsinya jadi terbalik?
Aku langsung mengambil setangkai bunga yang berubah itu dan merusaknya lalu menggilasnya di bawah kakiku sampai bunga itu berubah menjadi seperti selai.
Tapi Sera masih menjerit ketakutan,karena itu bibi dan Kakek keluar dari rumah dan menghampiri tiga anak manusia yang entah sedang melakukan apa dan karena apa.
"ada apa Sera?Kenapa nangis?Nala juga kenapa bunganya digilas begitu!?" bibi ikutan menjerit.
Sedangkan Kakek yang juga bisa melihat apa yang Sera lihat dan langsung mengerti keadaan segera membaca doa yang entah artinya apa.
Aku meneriakkan nama Om jin di dalam hatiku saking frustasinya dengan situasi yang sedang terjadi.Dia langsung datang dan melindungiku.
'Om jin,bukan aku yang sekarang harus diselamatkan!tapi Sera,dan juga bantu Kakek mengusir para setan itu!' kataku.
Om jin melepaskan pelukannya dariku dan berbalik menatap ke arah Sera dan Astri.Sera berhenti menangis dan Kakek berhenti berdoa,mereka menatap ngeri ke arahku,lebih tepatnya mereka menatap Om jin yang menghalangi tubuhku sementara aku masih fokus menggilas bunga sialan itu.
👻
Enjoy this chapter and don't forget to give me a like👍 and coment💬!