
π§ββοΈ
"Jangan libatkan cucu kami,dia sama sekali tidak bersalah.Kamilah yang seharusnya kamu hadapi,bukan cucu kami.Lepaskan dia..." Kakekku memohon pada Om jin walaupun dia tidak bisa melihatnya dan hanya bisa merasakan emosi Om jin yang tengah meledak-ledak di udara ruangan ini.
panas.
Baru pertama kali ini aku melihat Om jin semarah itu,apalagi ekspresi di wajahnya jadi sangat menyeramkan dengan matanya yang hanya kelihatan putihnya saja dan rambut yang berkibar serta urat-urat yang menonjol keluar.
Aku memegang ujung baju Kakek dan hampir menangis sambil mengompol di belakangnya saking takutnya melihat penampilan Om jin yang sekarang.Aku jadi merasa tidak pernah mengenalnya sebelumnya.
'Om jin,jangan marah...' Aku berucap lewat pikiran dengan takut-takut.
Aku tahu ucapanku pada Om jin terdengar terlalu memihak pada kedua Kakekku dan mengabaikan perasaan Om jin selama ini,tapi aku tetap mengatakannya karena tidak ingin melihat kemarahan Om jin lagi.Ini...benar-benar menyeramkan!
Hawa yang ada di kamarku tiba-tiba berubah secara drastis,barang-barangku bergoyang-goyang seperti sedang terjadi gempa bumi,dan ketukan di pintu ku terdengar dan lama-kelamaan semakin menjadi lalu berhenti di saat hawa dan keadaan di kamar ini kembali normal seperti semula,tapi Om jin sudah tidak ada di atas lemarinya,begitu juga Kedua Kakekku.
atmosfer di kamarku menjadi dingin.
"Kakek!" Aku berseru bingung melihat sekeliling kamarku.
"Om jin?!"
Mereka menghilang hanya dengan sekedipan mata.Kemana mereka?!
Udara yang mengalir di tenggorokanku seakan ditarik kembali keluar,sesak sekali.Aku memegangi tenggorokanku dan tanganku turun ke dada saat merasakan sesak di sana,aku terduduk di lantai dan pintu kamarku tiba-tiba di buka oleh Rizal yang berkeringat di sekitar wajah dan lehernya.Apa hawa menyeramkan tadi sampai keluar?
"Apa kamu merasakan hal yang sama denganku?" Katanya dengan wajah yang pucat pasi dan telapak tangannya yang memutih,seperti tidak ada lagi darah yang mengalir di sana.
Aku mendongak dengan lemas sambil masih memegangi dada dan mencoba kembali bernafas normal.
"Kemana kedua Kakekmu,Nala?!" Serunya saat menyadari aku hanya sendirian di kamarku.
Aku menunduk dan menutup mata,meratapi kehilangan ketiga makhluk itu secara tiba-tiba dan meratapi keleletan otak Rizal yang baru menyadari hal yang paling aneh terjadi di kamarku.
"Kakek kamu kemana Nal?!" Serunya lagi dengan ekspresi waspada dan mata yang melotot terbuka lebar.
Aku menggeleng,sesaat kemudian mengeluarkan suara dari mulut seperti orang bengek dan membuat Rizal hampir lari kalang kabut karena kaget mendengarnya.Bukan hanya dia,aku yang mengalaminya sekalipun kaget dengan kondisiku.
Rizal membantuku minum dan memberikan inhaller yang dia keluarkan dari saku celananya.Sesudah memakai inhaller itu pernafasanku mulai kembali normal,tapi dadaku masih terasa sedikit sesak.
Kami diam selama beberapa menit karena pikiran masing-masing yang masih kacau.
Suara kicauan burung tiba-tiba terdengar dan membuat kami berdua tersentak bersamaan,aku mengelus-ngelus dadaku saat Rizal mengeluarkan hp-nya dari saku celananya dan menekan sesuatu yang ditampilkan di layarnya.
"Maaf,ini nada dering teleponku..." Katanya,mengaku.
Aku menggeleng,tidak ada yang salah di sini,tidak ada...
Tidak ada yang salah di sini,tidak ada yang salah di sini...aku menggumamkan hal itu di hatiku beberapa kali sebelum kemudian meminum air lagi-berusaha menenangkan diri.
"Nal,kamu mau cerita padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Rizal sambil menatapku dengan keyakinan yang seperti melekat jelas di bola matanya.
Aku tidak akan terpedaya,batinku.
Aku kembali menggeleng,menolak Rizal sambil balas memandangnya ragu.Ini terlalu pelik untuk orang yang tidak suka membaca novel fantasi sepertimu,batinku.
Rizal tidak memaksaku untuk bercerita,dia tersenyum maklum dan duduk di lantai bersamaku.
Aku memikirkan kemana Om jin membawa kedua Kakekku pergi,aku sungguh takut Om jin akan menyakiti mereka disaat amarahnya seperti tadi.Ditambah kedua Kakekku malah akan mengurung Om jin lagi tadi,membuat Om jin semakin kelihatan jahat dan tidak punya sisi kebaikan.Tapi di sisi lain kakekku juga datang dengan niat untuk mengurung Om jin lagi-sama sama tidak baik.
Aku mengepalkan tangan sampai kuku-kuku ku menusuk telapak tangan dan menimbulkan rasa sakit dan perih,aku menangis.Kenapa aku menyebut kalau Om jin jahat barusan?!
Kenapa aku sampai berpikiran kalau Om jin itu jahat?
Aku meringis dan menyembunyikan wajahku di antara kedua lutut,saat kurasakan ada darah yang mengalir keluar dari telapak tanganku,aku juga menyembunyikannya di balik pakaianku karena Rizal masih ada di sini-aku tidak mau merepotkannya lagi untuk mengurus luka yang kubuat sendiri.
Kakek,bagaimana nasib kalian berdua sekarang di tangan Om jin yang sedang marah besar?Aku yang selama ini terus berada di dekatnya saja tidak berani menenangkannya secara langsung,apalagi kalian yang sebenarnya Om jin benci?
Walau aku sudah tahu kedua Kakekku mempunyai kemampuan spiritual yang memadai dan bisa digunakan untuk bertahan dan menghalau setan,tapi apa kemampuan keduanya cukup untuk menghadapi seorang jin gila!?
"Anj*ng!" Aku berkata kasar dengan nada kecil.
"Kamu merasa sesak lagi?" Tanya Rizal sambil mengguncangkan pundakkku dengan pelan.
"Tidak" Jawabku.
"kalau begitu jangan menyembunyikan wajahmu begitu,itu malah akan membuatmu kesulitan bernafas" Kata Rizal memberitahu.
Aku menaruh inhaller di tangan Rizal dengan secepat kilat dan mengucapkan terimakasih padanya sebelum mengatakan kalau dia bisa pergi ke kamarnya sendiri dan membiarkan aku untuk beristirahat di sini sendirian.
Dia menatapku seolah ragu dan kasihan meninggalkanku sendiri,aku tersenyum padanya dan mengatakan kalau aku baik-baik saja dan semuanya memang baik-baik saja dalam bahasa Inggris demi meyakinkannya.
"i'm all right,Rizal"
Beberapa menit aku meyakinkannya dan Rizal akhirnya mau keluar dari kamarku dengan syarat kalau dia akan selalu terjaga di kamarnya dan aku bisa meminta bantuannnya jika aku butuh sesuatu tanpa harus sungkan.
"Terimakasih" Ucapku.
Sebelum keluar,Rizal menaruh sesuatu di telapak tanganku.Aku kaget karena sentuhan mendadak itu,khawatir Rizal akan menyadari tanganku yang terluka dan tidak jadi meninggalkanku sendiri di sini.
Aku sekali lagi mengucapkan terimakasih padanya saat menyadari kalau Rizal tidak sadar kalau telapak tanganku terluka dan darahnya sedikit mengenai tangan Rizal.
Aku membuka telapak tanganku dan melihat apa yang Rizal berikan,ternyata inhallernya...mungkin dia khawatir aku akan mengalami sesak nafas lagi seperti tadi sampai memberikan inhallernya padaku.
Kututup pintu itu dengan pelan dan menguncinya dari dalam,aku pergi ke kamar mandi dan membasuh tangan dan wajahku tanpa niat untuk membalut lukanya.
Kulihat pantulan wajahku di cermin,begitu menyedihkan dan nampak sekali sedang ketakutan sekaligus shock.Jadi tadi Rizal seperti tidak tega meninggalkanku sendirian karena ini...
Pantas saja sikap Rizal tiba-tiba baik dan lembut begitu padaku.Tapi jika Om jin yang melihat wajahku seperti ini tadi,lalu kenapa dia tidak mengalah dan menghentikan amarahnya terhadap kedua Kakekku dan malah membawa mereka entah kemana,sengaja membuatku kaget dan khawatir setengah mati.
Apa Om jin masih sama seperti dulu?
Aku menekan kepalaku dengan kencang,masalah Sera dan kasus paman belum selesai dan kini sudah ada hal penting lain yang harus ikut memenuhi otakku yang hampir buntu mencari jalan keluar dan penyelesainnya.
π»
***Hey readers!
Enjoy this chapter and don't forget to πand comment,oke?
by-by!π***