
🧞♂️
Ketika aku berusaha membungkus kadoku yang akan dikirim nanti sebagus mungkin,Om jin menggacaukan usahaku dengan kekuatan gaibnya dan membuat kado itu terbungkus sendiri dengan cantiknya.
Usahaku membungkus kado tadi memang tidak bisa dibandingkan dengan hasil yang Om jin buat,tapi aku membungkusnya dengan sepenuh hatiku-menggunakam perasaan,tidak seperti Om jin yang menggunakan kekuatannya dengan asal-asal jadi.
Isi dari kado itu sendiri pun hanya dua macam saja yang utama-sisanya hanya barang barang kecil yang tidak terlalu mengesankan,pertama adalah miniatur wayang berukuran sedang dengan ukiran nama sahabat penaku di bawahnya dan sweater berwarna mint itu.
Kuharap dia suka dengan kadoku yang murahan itu.
Rasanya aku menyedihkan sekali tidak bisa sepenuhnya membalas kebaikan dia,padahal dia memberiku banyak hadiah bagus sekaligus.
"Om jin....." Aku merengek sambil membanting-bantingkan tongsisku ke dinding untuk melampiaskan rasa kesal.Membuat kerusakan.
Tadinya aku ingin keluar untuk mengantar kado ini ke pengiriman barang,tapi aku malu jika harus keluar sekarang karena sindiran Bapak kost resek itu semalam.Apalagi bertemu dengan Rizal yang super menyebalkan.
Aku merindukan Ibu kost kami yang dulu,dia murah hati,sabar,dan pengertian sekali terhadap anak sekolahan sepertiku.
"Apa?Kamu mau meminta agar Ibu kost kamu bangkit kembali dari kubur?" Katanya.
Aku merinding,mendengar kata 'bangkit dari kubur',seperti judul dari film horor saja.
"Bukan itu..." Kataku.
"Mau dibelikan jajanan?Atau kamu mau pergi ke mall lagi?Semalam juga kamu lama karena makan di food court dulu"
Sindiran lagi!Kenapa sepertinya setiap orang senang menyindirku.Padahal aku ini gadis yang tidak banyak bicara dan jarang menjelekkan orang lain!Kenapa aku dibalas seperti ini...
Saat Om jin sudah pergi untuk mengantar paketku dengan menyamar menjadi manusia-tentu saja,aku mencoba menghubungi Sera lewat bibi,tapi sebelum aku memencet panggil di layar hp,ada nomor lain yang meneleponku.
Kak Iza!
Mau apa dia?
"Halo,Nala..." sapanya.
"Halo kak,tumben jam segini nelepon.Ada apa ya kak?" Tanyaku langsung pada tujuan kak Iza meneleponku.
"Kamu bisa keluar kamar kost kamu sekarang ngak?" Tanyanya terdengar misterius di telingaku.
"Hah?!Emangnya kenapa kak?" Aku jadi penasaran.
"Aku ada di luar gerbang kostan kamu sekarang"
Aku terlonjak dari dudukku dan kembali bertanya untuk memastikan tidak salah dengar,"Beneran kak?"
Ya ampun!apa yang sebenarnya kak Iza inginkan dariku sampai datang segala ke kostan,bisa-bisa bapak kost tambah resek lagi terhadapku jika melihat aku ketemuan dengan laki-laki di kostan ini.
"Nala,kamu bisa keluar sebentar untuk menemui ku kan?Sebenarnya aku cuma mau pinjam buku novel yang kamu ceritakan padaku tempo hari lalu di telepon"
Aku menghela nafas,jadi itu ternyata tujuannya datang menemuiku kemari.Seperti keinginan kak Iza,aku membawa buku novel fantasi tebal yang dimaksud dan keluar dari kamarku untuk menemui kak Iza,tak disangka aku keluar kamar bersamaan dengan Rizal yang juga keluar dari kamarnya.
Kami saling tatap dengan canggung selama beberapa saat,tapi kemudian aku mengakhiri itu dengan melangkah pergi duluan-meninggalkannya yang masih terbengong di ambang pintu.
Ah-padahal hari ini aku tidak berniat keluar kamar karena malu dengan penghuni kost lain terutama bapak kost dan Rizal,Tapi apa boleh buat,tidak mungkin aku menolak permintaan kak Iza yang sudah menungguku di luar gerbang kostan.Itu tidak sopan namanya.Lagipula aku tidak mau disebut gadis sombong oleh kak Iza jika tidak keluar menemuinya.
"Hai kak,ini novelnya" Aku membuka gerbang besi yang berat itu dan menemui kak Iza yang tetap berada di luar sembari menyerahkan buku novel di tanganku kepadanya.
Dia mengambil novel itu,"Terimakasih Nala..."
Setelah itu hening,tapi aku tetap memberinya senyuman sopan.
"Eumm,maaf kak bukannya aku ngak sopan karena ngak ngajak kakak ke dalam dulu tapi di kostan ku ngak dibolehin nerima tamu lawan jenis untuk masuk ke dalam..." Kataku menjelaskan dengan jujur.
Kak Iza tersenyum menanggapiku,"Tidak papa,asal kamu menerima ku menjadi temanmu itu sudah cukup"
Aku mematung mendengar kalimat kak Iza,"Tentu saja aku menerima pertemanan kakak" Kataku,agak grogi karena kak Iza tiba-tiba membahas tentang hubungan diantara kami.
"Sekali lagi terimakasih bukunya ya Nal,nanti kita ketemuan di kafe dekat kostanmu setelah aku selesai membaca novel ini untuk mengembalikannya padamu.Aku akan menghubungimu lagi nanti..."
Aku mengangguk,kak Iza pergi membawa novel itu bersamanya dan masuk kedalam mobil yang baru kusadari terparkir di dekatnya.Wah,mobil kak Iza boleh juga,batinku.
Kak Iza melambai kepadaku dari dalam mobil yang ku kenali adalah bmw dengan warna hitam mengilap,seperti baru di cat ulang.
Aku balas melambaikan tangan dan tetap berdiri di sana sampai mobil kak Iza sudah berjalan jauh.
Aku kembali ke dalam kamar ku walaupun tadi saat masuk aku lagi-lagi berpapasan dengan Rizal yang sepertinya menontonku menemui kak Iza di gerbang tadi.Entah apa yang akan dia pikirkan tentangku.Saat di kamar aku kembali berusaha menelpon Sera,Sembilan panggilanku tidak dijawab,lalu pada panggilan kesepuluh baru suara bibi menyahutku.
"Bi,kasihin hpnya ke Sera dong.Nala mau ngomong..." Kataku,tanpa menanyakan alasan mengapa bibi baru menjawab panggilanku yang kesepuluh.
Bibi mengiyakan,setelahnya aku mendengar suara Sera yang terdengar kecil dan lembut sekali.
"Kamu baik-baik saja di sana?" Tanyaku.
"Iya,Kakek sudah tidak membicarakan soal 'warisan' itu lagi dan soal indra keenam Sera.Sera rasa itu karena Kakeknya kak Nala tempo hari lalu yang berbicara berdua dengan Kakek sampai mereka berdua menangis dan kepergok Sera di dekat gudang.Tidak tau apa yang sebenarnya mereka bicarakan ..." Cerita Sera.
"Jadi begitu?Syukurlah!Tapi kamu sudah tidak terlalu terganggu lagi dengan setan-setan di sekitarmu yang menggila?" Tanyaku masih menyimpan kekhawatiran.
"Mereka sudah tidak menggila semenjak gerhana yang terjadi pada hari itu.Mereka hanya menggila disaat-saat khusus saja.Kakak jangan mengkhawatirkan Sera lagi." Sera menjawab dengan santai.
Mengetahui keadaan Sera baik-baik saja di sana,tentu aku merasa lega,tapi tidak ada sedikitpun perasaan bahagia pada diriku.Apa karena misi yang sudah kami jalankan berhenti di tengah jalan dan tidak ada hasil akhir yang sesuai dengan ekspektasi kami?
"Kalau ada apa-apa,langsung kabari kakak saja ya?Jangan sungkan-sungkan.Btw apa kak Astri sudah menghubungi kamu lagi?Soalnya katanya dia sakit"
"Iya,tadi pagi dia menelepon Sera dan bilang kalau dia sedikit sakit karena kelelahan karena perjalanan malam dan aku bisa menjadi obatnya...konyol sekali,Sera kan tidak bisa ditelan seperti pil!"
Nada suara Sera terdengar kesal,aku tertawa,"Bukan berarti kamu akan ditelah oleh kak Astri,Sera.Itu hanya semacam analoginya Astri saja..."
"Oh begitu,Sera kira kak Astri kanibal!"
Aku tertawa dengan candaan Sera,setelah berbasa-basi sedikit lagi kami mengakhiri panggilan.
Ada yang mengetuk pintu kamarku,aku memasukkan hp ke saku dan membuka pintu,wajah konyol Rizal terpampang di sana dengan senyuman jahilnya.
Apa lagi sekarang?Mau mengejekku lagi?
"Apa?" Kataku.
"Itu...kamu baik-baik saja?Seharian ini kamu tidak keluar kamar,tadi kamu keluar hanya sebentar untuk menemui seseorang.Takutnya kamu sakit..." Tanyanya sambil menggaruk pelipisnya.
"Tidak,aku tidak sakit" Jawabku.
Aku menatapnya lagi dengan pandangan apa ada yang mau kau tanyakan lagi?Kalau tidak aku akan menutup pintu.
"Itu..."
"Apa?" Aku berkata dengan tidak sabar.
Langsung to the point saja apa susahnya sih?!
Kulihat kaki Rizal yang tidak mau diam,aku mengangguk saja dengan perkataannya.
"Kamu masih marah?" Tanyanya.
"Tidak.Apa mereka baik-baik saja?Tidak ada tulang yang patah,kan?" Aku bertanya setengah bercanda.
Rizal terkejut,hal itu tergambar jelas dari posturnya yang langsung kaku.
"Kamu tau mereka jatuh?" Tanyanya.
"Iya,kamu juga ikut jatuh kan?Aku sempat melihatnya sebelum berjalan terlalu jauh...Apa kamu juga baik-baik saja?"
Rizal mengagguk,"Kami baik-baik saja..."
"Baguslah..." Balasku.
Suasana langsung hening,aku masih memberikan tatapan yang sama padanya karena Rizal masih belum beranjak dari tempatnya.
BRUKKK!
BRUKKKKK!
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam kamar.Aku langsung masuk kembali dan melihat ke dalam kamarku yang sudah berantakan.Pakaian dalam lemariku berhamburan keluar dan bersepahan di lantai.
Om jin berdiri di sana dengan pandangan yang tidak bisa kumengerti.
"Nal,ada apa?" Rizal berlari menyusulku masuk ke dalam kamar.
Pintu yang ada di belakangku menjeblag tertutup sebelum Rizal bisa masuk,kutatap tersangka utama kekacauan ini,Om jin!
Apa sih maunya?!Kenapa dia membuat kamarku yang sudah berantakan tambah berantakan?!
Dan kenapa juga dia menutup pintu dengan cara seperti itu dan membuat Rizal tidak bisa masuk ke kamarku?Ganas sekali.
Rizal ribut di luar,aku mencoba untuk membuka pintu,tapi pintu itu seperti sudah terkunci.
"Om jin!"
"Berduaan dengan laki-laki lain saat aku tidak ada?" Tanyanya retoris.
Aku diam,kenapa kata-kata Om jin terdengar aneh dan berbahaya?
"Dia hanya Rizal!"
Balasku tidak terima,kenapa aku merasa seperti orang yang tertuduh sekarang?Aku kan tidak melakukan kejahatan apapun!
"Tapi dia tetap seorang laki-laki dan kostan sekarang sedang sepi...Kamu juga hanya sendirian." Katanya lagi.
"Iya memang,tapi kan kami hanya teman.Kenapa Om jin sampai marah seperti ini?Aku sudah lama mengenalnya daripada Om jin!"
Kali ini Om jin tidak menjawab dan memilih diam.Rizal masih membuat keributan di luar-menggedor gedor pintu.Aku mencoba untuk kembali membuka pintu dan kali ini pintu itu bisa terbuka kembali dengan mudahnya.
"Kenapa?Ada apa di dalam?Kenapa pintunya bisa ketutup sendiri?Kamu ngak kenapa-napa kan?" Rizal langsung memberondongiku dengan banyak pertanyaan sekaligus.
"Tidak ada apa-apa,hanya saja pakaianku berhamburan keluar karena lemarinya sudah kepenuhan.Itu sudah biasa terjadi padaku,hahaha...." Jelasku dengan karangan yang luar biasa cepat kurangkai.
"Dan soal pintunya,kenapa bisa tertutup sendiri?" Tanyanya lagi.
"Itu..." Aku mencari-cari alasan untuk yang satu itu dalam kepalaku.
Tidak sengaja kulihat pot tanaman yang terbuat dari tanah liat di samping pintu kamar teh Santi yang sudah retak-rusak.Sebuah ide langsung tergambar dalam kepalaku.
"Pintunya rusak,sudah lama kan pintunya tidak diganti semenjak penghuni pertama..."
"Masa?Pintu kamarku baik-baik saja,yang lainnya juga walaupun tidak diganti...apa kamu membawa seseorang ke dalam?"
Aku menelan ludah dengan tidak nyaman,RIZALLL!Dasar menyebalkan!Kamu mau dihajar oleh jin yang sedang ngamuk di dalam kamarku,huh?!
"Mana ada lah,kamu gila ya!" Kataku membantah.
Mata Rizal menelisik kedalam kamarku,aku tentu tidak tenang dengan tingkahnya itu.
"Mau coba periksa?"
Sekalian begini sajalah,bodo amat dengan keselamatannya dan omongan penghuni kost yang lain karena aku membiarkan Rizal masuk ke kamarku.
Aku menyingkir dari depan pintu dan memberi jalan Rizal untuk dapat masuk.Dia masuk dengan hati-hati,padahal tidak ada ranjau di lantai kamarku,kenapa langkahmu sepelan itu sih?
Rizal melihat kesekeliling kamar dan pandangan matanya berhenti saat melihat atas lemariku.
Wajahku langsung kebas dan nafasku tercekat,apa dia melihat Om jin yang sedang duduk di atas lemari sana?
"Riz-kamu..."
"Kamu rajin bersih-bersih juga ternyata,atas lemari kamu ngak ada debunya sama-sekali.Oh iya,kamu mau kubantu ngeberesin baju?"
Aku membuang nafas lega,kusentuh pipiku yang tadinya kebas dan tersenyum canggung.
"Tidak usah.Aku bisa sendiri..." Tolakku.
"Aku...aku minta maaf sudah menuduhmu yang bukan-bukan.Aku akan complain soal pintu kamar kamu ke Bapak kost biar diganti."
"Tidak masalah kok,makasih ya..." Kataku.
Aku mengantar Rizal sampai pintu,saat aku menutup pintu dan menyandarkan punggung kesana,kulihat Om jin yang masih terdiam di atas lemari.
Akhir-akhir ini sikap Om jin bertambah buruk,apa ini akan jadi seperti yang Kakek katakan tempo hari?
Tidak sengaja aku menatap Om jin dengan ngeri disertai kesedihan yang mendalam di hatiku .
Om jin,apa kamu benar-benar akan berubah?Padahal aku lebih suka Om jin yang dulu,tidak mengabulkan semua permintaanku,tapi tetap tidak berbuat buruk sedikitpun dan bahkan suka menasehatiku.
Sekarang Om jin berbeda,kadang aku merasa Om jin seperti menghasutku dan sulit sekali bagiku untuk membedakan hasutannya atau masukkannya...
Apa semua ini karena aku sudah punya perasaan yang spesial terhadapnya?Begitupun Om jin yang masih berbuat baik padaku tapi tidak pada orang lain karena dia juga sama sepertiku,memiliki perasaan spesial antara satu sama lain di antara kami?
Hal ini sangat membuatku bingung.Apa yang harus kulakukan?
👻
**Perasaan spesial macam apakah itu?Ada yang merasakan hal yang sama seperti Nala?Silahkan komen di bawah ini!
*See you on next chapter!
by-by👋***