Om Jin!

Om Jin!
Om jin!40(versi revisi)



🧞‍♂️


Ingin sekali rasanya aku pura-pura pingsan dan tidak sadar sampai Rizal pergi dari sini,tapi apalah daya aku yang tidak jago akting dan berkali-kali terjebak dalam situasi yang menegangkan,persis seperti situasi yang tengah kuhadapi ini.


Aku hanya diam setelah Rizal menyatakan itu,dan Mamy yang tengah menguping pun masih diam di tempat persembunyiannya yang sudah ketahuan dari awal.


Hati dan kepalaku seperti akan meledak dan oksigen seakan mejauh dariku,membuatku kesulitan bernafas sampai wajahku memerah.Cepat keluarkan aku dari situasi ini sebelum aku mati!jeritku dalam hati sambil mengutuk Rizal yang kurang ajar karena berani bicara sembarangan di depanku langsung.


"Ka-kamu gila,ya!atau kepala kamu kejedot pintu?!" seruku sambil memaksakan diri untuk menatap matanya langsung tanpa tersipu.


"Tidak,aku sehat dan secara sadar aku memang ke sini untuk bertemu denganmu" balas Rizal dengan ringan dan wajah yang terlihat penuh kelembutan dan keseriusan.


Kudengar suara sesuatu berkelotakan dari arah pintu ruang tamu dan melihat Mamy yang memelototiku sambil berjalan pelan membawa baki yang berisi minuman dan camilan.


Aku merasa ngeri dan sangat terintimidasi melihat raut garang yang terang-terangan Mamy tunjukkan padaku di depan orang lain.


Alamat diberi les tatakrama dadakan nanti malam...batinku,dan secara tidak sadar menghela nafas pasrah.


Mamy meletakkan semua isi baki dengan baik di atas meja dan mempersilahkan Rizal untuk memakannya tanpa sungkan lalu beralih padaku dan berkata,"Nala,kamu kenapa kok malah diam saja sama tamu.Ajak ngobrol yang 'baik' dong,Mamy mau pergi bantu tetangga lagi.Inget,tamu adalah raja!"


Penekanan kata 'baik' pada kalimat yang ditujukkan Mamy padaku adalah sebuah ultimatum yang harus kupatuhi kalau tidak ingin ditendang dari kartu keluarga dan daftar orang yang harus ia beri uang jajan bulanan.


"Ahahahahahahah...tentu saja Mamy ku sayang.Nala akan sopan kok dengan Rizal.Iya, kan Rizal?" aku tertawa garing dan melirik Rizal yang menatapku.


"Iya,pasti Nala akan melakukannya tante..." kata Rizal dan membuat Mamy langsung percaya padaku lalu pergi keluar dari ruangan ini dengan langkahnya yang penuh semangat menggebu.


Aku bernafas dengan lega dan menyandarkan tubuhku ke punggung sofa yang empuk sambil menatap Rizal dengan pandangan menelisik.


Rizal masih tersenyum di tempatnya duduk dan meminum jus yang ada di atas meja dengan pelan dan sopan,itu...kenapa dia terlihat elegan?!


Aku merinding melihatnya,Rizal ini kenapa berubah 180° hanya dalam waktu beberapa hari sejak terakhir kami bertemu di kostan?Apa dia sudah salah minum obat atau jiwa yang ada di dalam dirinya adalah jiwa lain yang berasal dari kerajaan antah berantah-apa dia kerasukan sesuatu?


Melihat tatapanku padanya yang terlalu menyelidik dan menampakkan keterkejutan,Rizal menaruh kembali gelas jusnya ke atas meja dengan sangat pelan dan tidak menimbulkan suara sedikitpun lalu menatapku dengan bingung dan menanyakan apa ada sesuatu yang salah pada dirinya.


Aku menggeleng,tapi masih dapat terlihat jelas kalau aku masih menilainya lewat tatapan mataku.Aku membuka mulutku untuk mengucapkan sesuatu,namun tidak jadi kukatakan dan mengatupkannya kembali dan berpikir sejenak apakah aku harus memegang sesuatu yang bisa dijadikan senjata atau tidak sebelum aku menanyakan hal itu pada Rizal.


Aku beranjak dari sofa dan mengambil vas ramping yang berada di samping aquarium lalu duduk kembali dan menatap Rizal dengan tajam.


"Rizal,apa sebenarnya maksud kedatangan kamu ke sini?Kalau cuma mau tebar pesona sebaiknya kamu segera pergi sebelum aku meneriakimu sebagai maling di rumah ini."


"Jangan pura-pura di depan Mamy ku yang tidak tau menahu soal sikap kamu yang sebenarnya"aku dengan lugas mengeluarkan isi pikiranku terhadap rsspon kedatangan Rizal yang mendadak itu.


"Ayo cepat pergi dari sini!tapi sebelum itu aku ingin berterimakasih karena kamu telah mengobati lukaku..."


Ada sebuah keanehan pada wajah Rizal yang malah tersenyum lembut padaku dan suasana yang terasa menghangat di dalam ruang tamu.Aura macam apa ini?Kenapa aku malah merasa familiar dan tidak terganggu merasakannya?


"Woi!kamu denger tidak?!pergi gih!atau perlu ku antar sampai terminal?Mau diongkosin?"


Walau begitu,tetap saja aku merasa sebal melihat muka Rizal yang sudah tidak tengil lagi dan bicara terus terang-seperti diriku sendiri yang biasa ku tampilkan padanya agar aku bisa segera kembali mencari keberadaan Om jin.


"Nala,apa yang kamu pikirkan?Aku ke sini memang untuk kamu dan tidak ada maksud lain.Apa kedatanganku kurang membuatmu nyaman,apa kamu tidak merasa aman hanya berduaan denganku di sini?Kalau begitu lebih baik kita pindah ke kursi yang ada di teras saja kalau itu bisa membuatmu merasa aman dan melepaskan vas di tanganmu itu" balas Rizal dengan sopan yang malah membuatku tambah kesal sampai berdiri dari dudukku dan menunjuk wajahnya dengan vas yang kupegang.


"Kamu jangan sok-sokan sopan dan baik budi begitu!katakan saja apa maksud kedatanganmu ini dan segeralah pergi dari rumahku karena masih ada hal lain yang harus ku urus!"


Nafasku memburu karena sudah tidak sabar untuk menghadapi sikap Rizal yang menurutku terlalu berlebihan padaku dan memegang vas dengan erat kalau sampai-sampai dia mencoba mendekatiku.


Rizal menggeleng dan tiba-tiba melotot lalu menghapiriku.


Aku berteriak histeris,"kamu jangan dekat-dekat!mau kubanting kepalamu sudah sadar kayak biasanya?!"


Dengan tertatih aku menjauh darinya dan sudah bersiap-siap akan melemparkan vas pada kepala Rizal.


"Nala,tenang dulu!luka kamu berdarah lagi karena tadi kamu malah berdiri dan berjalan sendiri untuk mengambil vas itu!"


Rizal menangkap tanganku dan menyuruhku untuk kembali duduk dan dia pergi ke dapur untuk membawa kotak p3k lalu kembali dan mengganti perbanku yang sudah penuh darah.


"Sekarang kamu diam saja dan jangan berjalan dulu..." Rizal membereskan kotak p3knya dan juga membuang perban yang sudah penuh oleh darahku tanpa menampakkan raut terganggu sedikitpun.


Sebenarnya aku merasa tidak enak padanya karena terus membantuku,tapi aku tidak bisa melupakan perasaan kesal jika melihat wajahnya.


Kami hanya duduk diam tanpa bicara apapun lagi selama beberapa menit entah karena apa,yang pasti aku tidak mau memulai pembicaraan lagi dengannya karena hal itu hanya akan memancing emosiku sendiri.


"Nala...." dengan pelan Rizal memanggil namaku dan secara refleks aku merasa terpanggil olehnya dan menatapnya.


"Ya?-eh!" aku menutup mulutku sendiri dan mempertanyakan mengenai harga diriku pada diri sendiri.


Kenapa aku malah menyahutnya?Lagipula sejak kapan Rizal suka memanggilku dengan nada lembut seperti itu?


Rizal membalas dengan senyuman lebarnya padaku.Aku menundukkan wajah dan merutuki diri sendiri yang bisa-bisanya terkena tipu daya si bocah tengil.


Om jin,Om jin sebenarnya pergi ke mana sih?Kenapa lama sekali?Aku takut akan membuat anak orang lain cedera di rumah ini kalau tidak ada orang yang selalu mengingatkanku.


"Apa maumu?" tanyaku,dan kembali memberanikan diri menegakkan wajah di depan Rizal yang masih tersenyum.


Dia itu bukan pramugara yang harus selalu bersikap ramah dan tersenyum pada orang lain,apa bibirnya tidak gatal dan pipinya tidak keram?Rahangnya kuat sekali...


Masih dengan senyuman yang tercetak jelas di wajahnya,Rizal membalas perkataanku dengan kalimat yang tidak pernah berani ku bayangkan sebelumnya.


"Mau ku?Aku mau kamu menjadi pacarku"


Aku hampir saja terkena serangan jantung dan langsung berdiri dari tempatku duduk yang menyebabkan luka di kaki ku kembali terasa sakit dan mengeluarkan darah,tapi aku mengabaikannya dan lebih mementingkan untuk mencapai tubuh Rizal dan mencakar wajahnya yang tanpa beban setelah mengatakan kalimat 'keramat' itu.


"Tidakkkkk!kamu gila,ya!?" aku berteriak histeris dan mencoba berjalan ke arahnya dengan mengelilingi meja untuk mempertemukan kuku panjangku dengan wajah tak berdosa Rizal.


"Eh,Nala!duduk di tempat mu kembali! Lukamu bisa berdarah lagi!" Rizal beranjak dari duduknya dan menghampiriku dengan cepat.


Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan emas saat Rizal menghampiri algojonya sendiri,yaitu aku!


Saat dia mencoba memapahku untuk berjalan dengan baik,aku langsung mencakar wajahnya lalu menamparnya bolak-balik.


Dengan nafas yang memburu aku menarik telinganya dan meneriakkan kata "tidakkkkkkkkkkk!" di samping telinganya.


Aku sudah punya orang lain yang kucintai!


Kulihat wajah Rizal yang linglung,dia terduduk di lantai sambil memegangi kepalanya.


Apa dia akan sadar sekarang?Apa otaknya sudah kembali normal?Pikirku merasa senang dan lega saat melihatnya memegang kepala dengan pandangan yang linglung.


Rizal masih memegangi kepalanya dan diam di lantai,tapi bisa kulihat dari atas sini kalau ada sebuah senyumam di bibirnya.Apa dia benar-benar sudah berubah gila,kenapa dia masih bisa tersenyum setelah kuperlakukan seperti itu?Apa dia psychopath?


"Aku-kamu itu terlalu barbar ya,Nala.Hahahahahahahahahhaha..."


Aku mundur selangkah kebelakang karena terkejut saat Rizal tertawa dengan keras dan nampak seperti seorang psikopat di mataku.


"Kamu sudah gila ya?Mamy,tolong aku!" aku berseru dengan panik lalu membantingkan vas dan kotak tissue kepada Rizal yang sama sekali tidak menghindar dan aku berlari dengan susah payah ke keluar dari ruang tamu.


"Eh,Nala tunggu dulu!dengar dulu penjelasanku!" kata Rizal dan berdiri dari lantai lalu mengejarku dan berhasil menangkap pergelangan tangan kiriku.


Aku menatap Rizal dengan horor dan berteriak memanggil Mamy,Nenek,Kakek,dan Om jin secara berurutan untuk meminta tolong.


"Lepaskan tanganku!memangnya apa yang bisa kamu jelaskan padaku,huh?!"


Rizal tersenyum dan berkata,"banyak hal di masa depan..."


👻


Enjoy this chapter and don't forget to give me a like👍 and coment💬!