
🧞♂️
Aku masih terus menggigit telinga Om jin sampai ada seseorang yang memanggilku dari luar kamar dan disusul dengan suara-suara seruan lainnya agar aku segera keluar.
Terpaksa aku melepaskan Om jin begitu saja dan langsung membuka pintu,sebelum pintu itu ku buka sepenuhnya ada dua orang yang terjatuh ke lantai tepat di ambang pintu.
"Astri!Sera!" seruku dan langsung membantu mereka berdiri.
"Kalian ngapain sih?!" tanyaku khawatir sekaligus jengkel.
"Aduh..." Astri menepuk pantatnya sendiri.
"Ya kami mau ketemu kakak lah..." kata Sera sambil mencoba berdiri dengan tegak.
Aku terdiam melihat mereka yang masih merasa kesakitan,tapi tetap memikirkanku.
Seseorang lagi yang merupakan Aldi berlari ke arah kami dan menanyakan apa yang terjadi,karena dia bisa mendengar suara gaduh dari ruang tamu bersama dengan nenek dan nenek memintanya untuk mengecek keadaan kami.
"Kami hanya bermain-main...hahaha" kataku,Astri dan Sera saling memandang kemudian melirikku dan Aldi bergiliran setelahnya mereka ikut tertawa- mendukung kebohonganku.
Om jin ikut keluar dari kamar dan melihat kami,para manusia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,karena merasa jengah dengan perilaku kami.
Aku mendelik padanya dan berkata dalam pikiranku,'hukuman Om jin masih belum selesai ya tadi...siap-siap saja nanti!'
Om jin kemudian berdehem dan diam sambil memalingkan wajah,tapi ada sebuah senyuman yang dia tahan di bibirnya saat aku memelototinya.
Kenapa Om jin malah terlihat seperti kesenangan?Tanyaku pada diri sendiri.
Om jin tersedak entah oleh apa,tapi aku rasa dia mendengar isi kepalaku lagi.Aku benar-benar sudah tidak punya ruang untuk privasiku lagi di hadapan Om jin setelah kekuatannya kembali.
Kami pergi ke ruang tamu dan berbasi-basi yang sebenarnya membuatku sangat bosan,tapi dari sana aku tahu kalau Aldi datang ke sini untuk tinggal bersama nenek,karena dia akan melanjutkan pendidikan tingginya di UPI Purwakarta.
Ah,calon guru!
Mendengarnya aku merasa senang karena nenek dan kakek akan punya seseorang untuk diurus kembali dan tidak membuat rumah mereka sepi seperti setelah perginya aku dan paman,tapi di sisi lain dalam diriku aku merasa khawatir posisiku sebagai cucu kesayangan mereka akan tergantikan...
"Jangan takut dan cemburu buta begitu Nala,anak gadis posisinya tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun di mata keluarganya..."
Aku menghembuskan nafas dan diam termenung di saat suasana hangat seperti ini sampai Sera menyadarkanku kembali dan ikut kedalam pembicaraan lagi.
Bicara apa sih?Kalian hanya saling menanyakan tempat tinggal,sekolah asal,usia,dan hal umum lainnya.Membosankan sekali...seperti perkenalan saat orientasi siswa saja,bedanya kami berbincang sambil ngemil dan tidak ada senior yang mengawasi,kecuali nenek yang juga ikut berbincang-bincang.
Melihat Sera yang memeluk toples kacang,aku jadi sadar jika dia tidak membawa bunganya dan juga baru merasa gagal saat aku ketahuan kabur dari rumah dan berhasil tertangkap basah di rumah nenek.
Astri dan Sera jadi mirip mata-mata atau mungkin mereka malah jadi mirip stalker?Membayangkan jika hal ini akan terus berlangsung membuatku bergidik.
Mereka mengangguku sewaktu aku menghabiskan waktu dengan Om jin,saat Om jin tidak ada di dekat ku pun mereka mencoba menjauhkan ku dengan Om jin secara mental dengan kata-kata dan berbagai sugesti yang mereka berikan yang tanpa henti mereka gaungkan di telingaku.
Mereka benar-benar gigih melakukannya,tapi aku juga tidak mau kalah gigih mempertahankan hubunganku dengan Om jin.Maaf saja jika aku nantinya akan membuat kalian berdua kecewa...
Aku menatap Astri dan Sera bergantian saat meminum teh manis buatan nenek dan menatap ke bawah,pada kakiku yang masih diperban.Aku pasti akan melukai mereka...
Mau tak mau,sengaja tak disengaja Astri dan Sera akan tetap terluka karena kecewa olehku...
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sejak hari itu Aldi tinggal di rumah nenek dan kakek dan aku menjalani hari libur yang tidak bisa kusebut hari libur lagi bersama dengan Astri dan Sera yang terus mengamati gerak-gerikku.
Dan liburan kali ini rasanya hampa tanpa kesenangan yang murni kudapatkan dari teman ataupun keluargaku.Tidak kutemui teman lamaku ataupun pergi berkunjung ke rumah kerabat,karena tidak punya mood untuk itu.
Selama beberapa hari juga Om jin terpaksa harus sering pergi dariku,karena bunga penangkal Sera.Pada hari kelima tepat pada malam selasa kliwon,bunga itu mati dan kehilangan fungsinya.Aku bersyukur pada awalnya,tapi kemudian...
Pada malam itu terjadi dua keributan sekaligus,karena Sera yang menangisi bunga itu juga karena kesenangan dari aku yang bisa kembali berdekatan dengan Om jin.
Masih bisa ku ingat dengan jelas pada malam harinya Sera tidak bisa tidur dengan nyenyak karena banyak hantu yang lebih menyeramkan berkeliaran pada malam itu dan kehadiran Om jin di sisiku yang membuatnya gatal ingin memisahkan kami.
Padahal Om jin membantunya mengusir para hantu yang mendekatinya dan menemaniku tetap terjaga untuk mengawasi Sera yang terus ketakutan dan Astri yang awalnya berbaring sambil menenangkan Sera pun akhirnya ketiduran,menyisakan aku dan Om jin yang bertugas menjaga Sera-walaupun sebenarnya aku tidak melakukan apa-apa kecuali menenangkan Sera.
Kapan Astri dan Sera akan sadar kalau Om jin tidaklah seburuk yang mereka kira?Seperti manusia,jin pun ada yang baik dan ada yang jahat.Walaupun dulunya Om jin adalah jin yang jahat dan dia mengakuinya,tapi sekarang dia sudah berubah menjadi jin yang baik.
Jika manusia bisa dipercaya kembali setelah melakukan kejahatan,kenapa jin tidak?Bukankah pemikiran seperti itu adalah deskriminasi terdahap Om jin?
Kenapa Sera juga tidak ingat kalau dulu aku dan Om jin lah yang mencoba membantunya agar tidak dijadikan 'pewaris' oleh kakeknya sendiri?Apa manusia memang begitu mudah melupakan kebaikan yang ada di depan mata dan malah fokus pada satu keburukan yang samar?
Sampai liburan semester berakhir pun aku tidak merasakan kesenangan yang bisa ku ingat nanti saat kehidupan yang padat di sekolah kembali kujalani.Apalagi aku nanti sudah memasuki semester 2 di kelas XII.
Menjemukkan rasanya jika ada orang lain yang terus mengganggu privasimu dan memaksamu untuk mencerna semua sarannya,seakan dipaksa untuk menelan pil pahit yang sebenarnya racun.
Aku dan Astri berpisah di dalam mobil bibinya yang terparkir di dekat gerbang kostan ku.Perpisahan itu membuatku senang dan merasa bebas,sedangkan Astri merasa was-was membiarkanku sendirian saja dengan Om jin.
Aku bisa melihat kekhawatiran itu di matanya yang berkaca-kaca.Astri tidak bisa terus berada di dekatku seperti saat liburan dan sekarang dia tidak dapat melakukan apa-apa lagi,karena dia juga sudah disuruh untuk segera pulang ke rumahnya sendiri dan yang pasti setelah masuk sekolah pun dia akan sibuk dengan urusan sekolahnya sendiri karena berada pada semester akhir sepertiku.
Biasanya saat aku dan Astri berpisah walau berpisah di jalan saat pulang sekolah untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing pun kami berdua akan merasa kesepian dan kehilangan bahkan saat masih bisa melihat punggung masing-masing.
Banyak hal yang sudah berubah,begitu juga dengan perasaanku terhadap mereka yang tak lagi sama.Saat bersama Astri dan Sera aku merasa bukan seperti berada di tengah teman dan keluargaku,tapi berada di antara dua orang asing yang suka ikut campur dan mengatur ini-itu terhadapku.
Sangat menjengkelkan sekaligus menyakitkan,karena aku masih ingat seminggu sebelumnya mereka masihlah orang yang sama.Namun sekarang aku pun sudah berubah seperti mereka.
Aku belajar gigih mempertahankan sesuatu dari mereka yang memaksakan egonya padaku.Dan Om jin pun,karena lama dan sulit untuk bertemu denganku,dia mulai kehilangan kesabarannya pada mereka berdua,yaitu Astri dan Sera.
Sejujurnya aku merasa takut kalau nanti Astri dan Sera akan mengalami hal yang sama seperti kedua kakekku yang pada akhirnya memasrahkanku kepada diriku sendiri untuk membuat pilihan akhir.
Hal itu membuatku bimbang sampai sekarang walaupun segala tindakanku sudah sepenuhnya dibebaskan.Entah kenapa aku merasa semuanya jadi membingungkan.
Berbagai emosi dalam diriku saling bersaing untuk menjadi yang paling dominan,tapi perasaanku terhadap Om jin lah yang masih paling dominan.
"Iya kan,Om jin?" tanyaku setelah sekian lama merenung di kamar sejak kembali ke Bandung.
"Semuanya terserah padamu,Nala..." jawab Om jin sambil tersenyum kecil,karena dia juga tahu apa yang sedang menganggu pikiranku.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sebelum aku benar-benar akan disibukkan oleh urusan sekolah,aku memanfaatkan hari senin-hari pertama kembali masuk sekolah untuk membolos dan pergi ke Tkp,tempat di mana paman ditabrak dulu...
Dengan bantuan saksi mata yang waktu itu kuhubungi,aku diizinkan untuk melihat semua rekaman cctv yang dipasang di luar gedung dan mengarah ke jalanan.Syukurlah saksi mata itu punya toleransi yang besar terhadap masalah yang ku hadapi.
"Nala,kamu tidak perlu membolos sekolah untuk menyelidiki mengenai kasus paman mu.Aku bisa membawa mu melihat ke masa lalu dan melihat si pelaku sekarang juga" Ucap Om jin sedari tadi,mencoba mencegahku membolos sekolah.
"Setidaknya biarkan aku berusaha dahulu,Om jin.Kalau ternyata usaha ku sia-sia...gagal-baru aku akan memakai jalan pintas dan menerima bantuan dari Om jin"
Om jin terdiam,membiarkanku mencoba untuk mengecek satu persatu rekaman cctv pada waktu itu.
Petugas cctv sedang mengotak-atik komputernya,mencari rekaman cctv pada waktu terjadinya peristiwa itu.Rekaman itu kemudian diputar pada tanggal dan jam perkiraan peristiwa itu terjadi pada malam hari.
Jalanan itu lenggang pada malam hari,kemudian beberapa menit berlalu dan rekaman menampilkan sebuah sepeda motor dan pengendaranya yang sangat ku kenal,paman! tengah melintas dengan kecepatan tinggi karena jalanan yang sepi,tapi beberapa detik kemudian sebuah mobil bmw hitam melaju sangat kencang-secepat kilat menabrak bagian belakang motor yang dikendarai paman.
Sejenak aku lupa untuk menghirup udara saat rekaman itu berlalu begitu saja,menampilkan paman yang terlempar ke aspal jalan dan motornya ringsek terbontang-banting terus ke depan karena dorongan yang disebabkan oleh tabrakan yang disengaja oleh mobil itu.
Mobil itu ditutupi plat nomornya dengan sengaja oleh si pemilik mobil,sengaja karena dia menggunakan mobilnya dengan niat untuk membuat pamanku celaka!
"Nala" Om jin memegang pundakku,mencoba menenangkan.
"Udah neng,tadi bapak bilangin bakal sia-sia karena cctv gedung ini cuma merekam satu sudut jalan saja.Mobil si pelaku juga ditutupi plat nomornya,sedangkan si pelaku juga tidak keluar dari mobilnya dahulu dan langsung cepat-cepat kabur" petugas cctv ikut mencoba menguatkanku.
Aku segera pamit padanya dan tidak lupa berterimakasih setelah berhasil mengendalikan diri sendiri.Rekaman cctv di gedung ini hanya menampilkan satu sisi saja,yaitu tepat saat tabrakannya terjadi dan saat motor paman terbanting ke depan juga mobil itu yang melaju kencang,setelah itu rekaman cctv hanya kembali menunjukkan kelenggangan jalan.
Pergi ke gedung lain,rekaman cctv yang ditampilkan hampir sama dengan rekaman cctv yang pertama ku lihat tadi.
"Nala,sudahlah...kalau kamu melihat rekamannya lagi itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri.Mungkin ini juga alasan mengapa keluarga kamu lebih memilih menutup kasusnya.Karena mereka tidak ingin terluka lebih jauh lagi..." Om jin berusaha membujukku setelah aku keluar dengan kekecewaan dari gedung itu.
"Cctv di gedung ini yang terakhir,Om jin" Aku menunjuk gedung seberang yang akan kudatangi.
"Biarkan aku melihatnya sekali lagi.Ini yang terakhir.Ji-jika aku tidak berhasil juga,maka aku akan mengambil jalan pintas itu.Aku akan menerima tawaran Om jin untuk pergi melihat masa lalu..."
Om jin menurut.
Di jalan ini hanya ada tiga gedung yang memiliki cctv yang menyorot jalan,dan sekarang aku ditemani Om jin yang memegang tanganku untuk menguatkan sedang menonton rekaman cctv di gedung terakhir.
Isi rekamannya hampir sama seperti rekaman dari dua cctv sebelumnya,tapi rekaman yang satu ini menampilkan mobil yang melaju kencang itu tak berhenti walau sedetikpun setelah menabrak motor yang dikendarai paman.Mobil itu melaju kencang ke arah yang sama di mana paman dan motornya yang terbanting-banting ke jalan-hampir melindas tubuh paman.
"Aaa-"
Seketika aku menjerit tertahan,jantungku seakan terlepas dari tempatnya.Om jin memelukku,menutup pandanganku dari melihat rekaman cctv itu sampai selesai,menampilkan rongsokan dari body motor dan mobil si pelaku yang bagian depannya penyok berat lalu jalanan kembali lenggang dan baru beberapa menit kemudian beberapa warga yang sepertinya bertugas meronda karena terlihat memakai sarung dan membawa pentungan berlarian menuju tubuh paman yang tergeletak di jalan.
"memang sebaiknya anak kecil kayak adek ngak liat rekaman cctv kayak gini.Waktu awal polisi datang ke gedung ini untuk melihat cctv juga saya kaget luar biasa,padahal saya saja yang udah biasa liat kecelakaan yang terekam cctv masih shock menontonnya" Kata si petugas cctv.
Aku menangis terisak,tidak menghiraukan perkataannya sekaligus curhatannya itu.Petugas cctv itu menghela nafas sambil melihatku yang masih menangis.
Om jin membawaku keluar gedung setelah beberapa saat yang penuh dengan air mata,aku memegangi dadaku yang mendadak terasa sakit sampai aku tidak kuat lagi menahannnya dan jatuh berlutut.
"Nala!" Om jin memanggil namaku dengan panik.
"Tapi kamu-"
"sttttt!"
Aku membungkam mulut Om jin dengan tanganku yang lemas,dan menatapnya...meyakinkannya kalau aku masih kuat untuk melihat kenyataan yang ada walaupun itu sakit rasanya.
Om jin menghela nafas dan kemudian setuju,"baiklah"
Om jin menutup mataku dengan tangannya dan dia pun ikut menutup matanya dengan tangannya sendiri.Kemudian penglihatanku seakan menghilang sementara,lalu kembali lagi dengan pemandangan yang berbeda.
Aku menahan nafas,inikah...masa lalu itu?
Tempat ini adalah tempat yang sama ketika aku dan Om jin tadi berada,tapi kondisinya sangat berbeda karena langit menunjukkan lembayung,tadi langitnya cerah sekali karena hari masih siang dan banyak motor dan mobil yang berlalu lalang dengan lampu depan yang menyala,juga pejalan kaki di trotoar yang awalnya tidak ada seorangpun yang ada di trotoar tempatku dan Om jin berada.
"Nala,tetap berpegangan tangan denganku,jangan sampai dilepas" Ucap Om jin,yang baru kusadari juga ada di sisiku.
Aku menganguk tanpa menanyakan apapun alasannya itu pada Om jin.
Sebelah tangan Om jin yang bebas teracung ke depan,menggeser pemandangan yang kami lihat hingga pemandangan di sekitar kami menjadi gelap,ini...sekarang malam hari.
Di lihat dari suasananya,ini adalah malam di mana tabrakan itu terjadi,aku meremas tangan Om jin yang berpegangan dengan tanganku-merasa takut,teringat dengan kengerian yang kulihat di rekaman cctv saat tabrakan itu terjadi.
"Tenanglah,Nala.Kita akan langsung melewati bagian yang mengerikan itu lalu mengikuti si pemilik mobil sampai dia keluar dari mobilnya" Om jin memberitahuku,walau begitu aku tetap merasa takut dan masih meremas tangan Om jin-kali ini karena tak sabar ingin melihat wajah si pelaku.
Tangan Om jin kembali menggeser pemandangan di sekitar kami,kali ini dengan cepat,tapi aku masih bisa mendengar suara tabrakan dan mobil yang menggerung kencang,suara bantingan-bantingan body motor dengan aspal dan teriakan warga yang meronda saat menemukan tubuh paman.
Aku kembali menitikkan air mata,kali ini Om jin yang meremas tanganku sambil tersenyum menenangkan.
"Semuanya akan segera selesai,Nala..."
"Ayo" Om jin menarikku ke dalam pelukannya dan membawaku melesat cepat,mengikuti mobil itu yang masih terus melaju kencang di jalan.
"Terimakasih,Om jin" Aku membisikkan itu saat mengencangkan pelukanku pada tubuh Om jin.
"Tidak perlu seperti itu,Nala" Om jin membalas.
Kami berhenti setelah beberapa saat,mobil itu akhirnya menurunkan kecepatannya dan berhenti di depan sebuah bengkel yang sudah tutup,tapi dengan pagar yang masih terbuka dengan celah kecil yang cukup untuk satu orang bisa lewat .
Aku melewati setiap detik untuk menunggu si pelaku menampakkan wajahnya dengan resah,satu detik seakan satu abad...
Pintu mobil itu akhirnya terbuka,dan seorang pria dewasa dengan perawakan jangkung dan kurus keluar dari dalam mobil sambil terpincang-pincang.
Wajahnya menunduk melihat kakinya,lalu kemudian kembali tegak,memperlihatkan rambutnya yang hitam legam-sangat hitam dengan wajah yang sangat ku kenali tersorot lampu jalan.
Dia,Kak Iza!
Nafasku tercekat,aku sudah mengalami shock berat selama beberapa kali dalam satu hari ini dan kali ini lebi berat lagi...
"Kak Iza...bagaiman dia tega melakukannya!"
Om jin menatapku dengan bingung,"kamu mengenal si pelaku itu?"
Kak Iza dengan terpincang masuk lewat celah pagar itu dan kemudian membuka pagar itu lebar dan membawa mobilnya masuk.
Pantas saja aku melihat mobil kak Iza waktu itu di kostan seperti baru di cat ulang,ternyata inilah penyebabnya...
Pandanganku tiba-tiba seperti menghilang,lalu yang kulihat pertama kali adalah telapak tangan Om jin yang menutup mataku.
"Kamu mengenal pelaku itu,Nala?Kenapa kamu tidak pernah menceritakan kalau kamu mengenal laki-laki seperti dia?" Tanya Om jin tak sabaran.
Tubuhku langsung luruh- berjongkok,kaki ku terasa lemas untuk tetap berdiri menopang tubuhku.
"Nala,jawab aku!" Bentak Om jin.
Aku tersentak,baru kali ini Om jin membentakku seperti itu...
Aku mengambil nafas dalam-dalam dan mulai menjelaskan mengenai hubunganku dengan kak Iza kepada Om jin dari awal pertemuan kami sampai kak Iza yang datang menemui ku di kostan saat kebetulan Om jin tidak ada di sana.
"Pantas saja aku tidak pernah melihatnya,dan kamu juga tidak pernah memikirkannya saat bersamaku...tapi siapa sangka ternyata dialah orang yang kamu cari-cari selama ini"
"Aku tidak pernah menganggap kak Iza penting...atau tidak pernah berpikir kalau kak Iza punya sisi gelap...aku benar-benar tidak pernah menduga kak Iza lah pelaku nya!" Kataku dengan frustasi.
Aku menjambakki rambutku sendiri seperti orang gila di pinggir jalan,kali ini Om jin tidak menghentikanku karena dia juga masih merasa terkejut dengan informasi yang baru dia dapat.
Tapi apa alasan kak Iza sampai tega membunuh paman dengan terencana begitu?Apa dia juga mendekatiku untuk membunuhku?Aku memeluk diriku sendiri,merasa ngeri.Bagaimana bisa kak Iza yang ramah seperti itu punya sisi gelap bahkan sampai membunuh orang!dan orang itu adalah pamanku sendiri!
Tiddd! Tidddd!
Aku mendongak saat suara klakson mobil itu terasa dekat sekali dengaku.Saat mendongak,ku lihat mobil itu-mobil bmw hitam itu...
picturefromgoogle.
DEG
Kak Iza beberapa detik kemudian turun dari mobilnya dan menghampiriku lalu ikut berjongkok di depanku.
"Kamu kenapa ada di sini,Nala?Kamu bolos sekolah ya?"
Aku tersentak mundur ke belakang,Om jin merangsek masuk diantara kami berdua, pasang badan di depanku untuk menghalangi kak Iza yang bahkan melihatnya pun tidak bisa,tapi Om jin mengeluarkan aura yang sangat menyeramkan dan membuat kak Iza mengurungkan niatnya untuk mendekatiku.
"Nala,kamu ngapain di sini?" Tanya kak Iza lagi.
Lidahku kelu,aku masih belum tahu alasan kak Iza membunuh paman...oleh karena itulah aku akan mencaritahu dari kak Iza-si pembunuh itu secara langsung.
"Ak-aku tadi bangun kesiangan dan eumm..." Aku berusaha mengarang cerita.
"Naik ojek baru dan malah dibawa nyasar ke sini makannya tadi aku kayak orang gila"
"Kok kamu ngak pake seragam?Terus mana tukang ojeknya?Kok malah ninggalin kamu di sini sendiri?" Kak Iza bertanya-tanya.
"Itu...aku takut sekali!" Kemudian aku menangis karena benar-benar takut dengan kak Iza yang saat ini berhadap-hadapan langsung denganku.
"Eh?Ini memang jauh sekali dari kostan kamu.Ayo naik mobil kakak,nanti kakak antar kamu pulang ke kostan" kak Iza sedikit melunak dan menghapuskan segala kecurigaannya terhadapku.
Aku memang ingin tahu alasan kak Iza membunuh paman dengan mengintrogasinya dari sumbernya langsung,tapi naik mobil yang dia pakai untuk menabrak pamanku sampai meninggal?Aku bahkan merasa trauma saat melihat mobilnya saja,apalagi berada di dalamnya.
"Ayok,Nala.Kenapa kamu masih jongkok"
Aku memberanikan diriku sendiri,berdiri di atas kakiku yang masih lemas dan hampir membuatku terhuyung,tapi Om jin dengan sigap menahan bobot tubuhku.
"Aku tahu apa rencana mu,Nala.Aku akan selalu ada di sisi mu dan mendukungmu" Ucap Om jin.
Kakiku yang lemas kembali pulih seketika setelah mendengar kalimat Om jin barusan,aku seperti mendapat suntikan semangat dan dengan langkah pasti masuk ke dalam mobil itu-duduk di kursi yang berada di sebelah kursi pengemudi dengan kak Iza yang menutup pintu mobil untukku dan duduk di kursi pengemudi.
Kak Iza juga memakaikanku seat belt sebelum memakai seat belt miliknya sendiri.Om jin ikut masuk ke dalam mobil,tepatnya dia duduk diantara aku dan kak Iza,membuat posisinya tampak aneh di mataku.
Tapi itu tidak masalah sekarang,karena Om jin akan selalu ada untuk menjagaku dari siapapun,termasuk si pembunuh ini yang duduk tepat di sebelahku dengan senyum mengembang.
Tiba-tiba tangan kak Iza meraih kepalaku,Om jin melotot saat kak Iza dengan telaten membereskan rambutku yang tadi kujambakki karena frustasi.
Aku menenangkan Om jin lewat tatapan mata,membuatnya menahan diri untuk menerkam kak Iza.Kak Iza berdehem setelah selesai dengan ramputku yang sekarang kembali rapi.
Kemudian dia menancap gas dengan senyumannya yang masih mengembang sedangkan aku duduk dengan gemetaran di sebelahnya.
Apa aku target pembunuhanmu selanjutnya kak? Batinku.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan,yang ada hanya keheningan yang menusuk buatku dan keheningan yang menyenangkan bagi kak Iza.
Aku belum kuasa untuk bertanya ini-itu kepada kak Iza untuk membongkar perbuatannya,tidak sekarang...aku akan membuat persiapan khusus untukmu kak,karena kamu adalah pembunuh pamanku sekaligus kakak dan teman terbaik sepanjang hidup!
"Kak,ehemm...aku mau ketemu sama kakak lagi setelah ini,apa boleh?Maksudku jika kakak punya waktu senggang..." Kataku sesaat setelah mobil kak Iza berhenti di depan gerbang kost.
Kak Iza tersenyum sumringah,"tentu saja!" Dia menerima ajakanku tanpa keraguan.
"Baiklah,kapan dan di mana tempatnya biar nanti Nala hubungi lewat telepon ya kak!" Kataku,pura-pura antusias dan keluar dari mobil mengerikan ini sesegera mungkin.
Kak Iza menanggapi dengan anggukan,lalu membunyikan klakson mobil dan melaju pergi dengan pelan.
"Dia memperhatikanmu lewat kaca spion" beritahu Om jin yang tak kusadari ikut keluar berbarengan denganku.
Aku mempertahankan senyumanku dan melambaikan tangan ke arah kepergian kak Iza dengan mobilnya.
Setelahnya aku buru-buru masuk ke kamarku diikuti oleh Om jin lalu menumpahkan semua emosiku di sana dan mulai menyusun rencana untuk membongkar kejahatan kak Iza juga untuk mencaritahu apa alasan kak Iza membunuh paman.
👻