Om Jin!

Om Jin!
pamanku(versi revisi) Halo pembaca,saya sebagai author merevisi Om Jin



Akhirnya saat ba'da maghrib,Paman baru mau mengantarku ke Bandung dengan syarat aku tidak akan mengata-ngatainya 'jomblo' lagi.


Oh waktuku yang berharga harus terbuang sia-sia selama 4 jam demi membujuk Paman.


Aku menyalami setiap orang yang mengantar kepergianku di teras rumah dan merapikan jaketku lalu naik ke atas motor.


Biasanya aku tidak pernah selelah ini setelah melakukan aktivitas.Mungkin ini terjadi karena beberapa minggu belakangan ini aku sudah jarang berolahraga secara teratur lagi di kostan ataupun di rumah selain pada saat jam mata pelajaran olahraga di sekolah.


Tingkat kebugaran jasmani ku sepertinya menurun.Memang,semenjak aku naik ke kelas 12,kepalaku penuh dengan pikiran akan masa depan dan masa sekarang di mana tiba-tiba saja semua guru mapel di sekolah kompak memberikan tugas untuk dikumpulkan di minggu yang sama.


"Woy jangan tidur!" Teriak Paman membuyarkan lamunanku yang sedang enak-enaknya ditambah embusan angin malam.Tapi aku tidak menyalahkannya karena Paman mungkin mengira aku mengantuk karena diam sedari tadi dan takut aku akan terjatuh dan memang pada kenyataanya dalam pikiranku menghitung lelah,aku hampir terlelap saking lelahnya juga karena suasana yang mendukung.


Suara hewan malam yang mengalun merdu,angin sepoi-sepoi,kerlip bintang-gemintang,dan bulan yang bersinar terang dan yang paling utama adalah sepinya kendaraan yang berlalu lalang.


Setelah masuk ke kostan dan melihat Paman mengendarai motor untuk kembali pulang,aku segera meletakkan tas ku yang terasa lebih berat dan dingin setelah kembali dari rumah nenek di dekat kaki kasur dan menjatuhkan diriku di atas kasur yang otomatis membuatnya bergoyang.Akupun terlelap dengan ringan dipeluk kesepian hidup di kota besar sendirian.


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


Shubuh hari itu aku tidak pernah terpikir apapun lagi setelah menerima telepon dari Mamy.Tidak pernah sekalipun kuduga peristiwa seperti ini akan terjadi.Air mata menetes-netes dari mataku yang memerah dan aku terisak,rasa sesak di dada membuatku kelimpungan saat mencoba berdiri,ditambah lagi mataku yang terhalang oleh air mata yang tidak berhenti mengalir.


Paman mengalami kecelakaan motor dan meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit semalam.Semalam pun memang tidak ada telepon masuk ke hp ku karena sanak keluargaku di sana tahu pasti bahwa aku akan menjadi orang yang paling terkejut dengan peristiwa ini.


Pamanku sudah seperti Kakak dan teman bermainku sejak kecil.Sikapnya yang cerewet padaku pun karena dia ingin melindungiku.Aku menyesal,kenapa aku memaksanya untuk mengantarku kemarin malam?Kalau saja aku mau naik kendaraan umum,pasti Paman tidak akan mengalami kecelakaan.


Tetangga sekostan sekaligus teman sekolahku,Rizal masuk ke kamarku karena mendengar suara tangisan.


"Nala,kamu kenapa nangis?"Tanyanya bingung dengan sarung yang menggantung di lehernya.


Tangisku semakin kencang,sebenarnya aku ingin memberitahunya alasanku menangis seperti ini dan memintanya agar aku diantar pulang ke Purwakarta,tapi mataku malah mengkhianati mulutku.Karena tidak kurespon dengan benar,Rizal pun pergi menggedor-gedor pintu rumah Ibu kost kami.


"Neng Nala kenapa nangis?" Ibu kost mendekapku erat,dengan badannya yang gempal seperti ikan buntal membungkusku dan rasa sesak di dadaku sedari tadi,maka rasa sesak itupun bertambah melilit tubuhku dan membuat air mataku seperti air terjun di saat musin hujan.Aku terus menangis tanpa menghiraukan hp ku yang bergetar tanda ada yang menelepon.Rizal menjawab panggilan itu.


"Nal,kata Mamah kamu,kamu tunggu dulu di sini.Nanti bakal ada Papah kamu yang datang jemput kamu"


Oh tidak,Papah yang akan menjemputku?Caranya membawa motor itu seperti siput dan aku ingin bertemu Pamanku-jasad Pamanku dan meminta maaf padanya atas segala sikapku yang selalu tidak sopan dan bertindak memaksa padanya.Untuk terakhir kalinya aku ingin melihat wajahnya...


Tapi kemudian aku berpikir bagaimana perasaan Nenek dan Kakek,Paman adalah anak bungsu mereka,anak kesayangan mereka dan mereka harus melihat anak mereka meninggal terlebih dahulu dari mereka yang sudah tua.Hatiku hancur lebur menjadi seperti abu.


Bagaimana dengan Mamy?Paman adalah Adik satu-satunya,saudara terkasihnya.Hati Mamy pasti lebih hancur dariku.Aku ingin memeluk Nenek-Kakek dan Mamy daripada aku yang dipeluk oleh sembilu yang membuatku menangis pilu.


Aku tetap berkubang dalam sedihku selama beberapa jam ditemani Ibu kost,Rizal sudah berangkat sekolah dan akan memintakan izin tidak masuk sekolah untukku.


Suara knalpot motor Papah terdengar,dengan fisik dan mental yang sedang kepayahan seperti ini apa aku tidak akan terjatuh dari motor?Ibu kost yang baik hati itu membantuku bersiap dan mengantarkanku sampai ke depan gerbang rumah kostnya.Aku tidak berterimakasih padanya,aku lupa.Papah diam saja tak bicara sepotong kalimat pun padaku,padahal kami sudah setengah jalan menuju tujuan.


Mamy meneleponku dan mengatakan agar Papah langsung membawaku ke rumah Nenek-Kakek,tidak perlu ke rumah Mamy dulu.Akupun mengatakan pesan Mamy pada Papah.Aku menyerah,sekarang akulah yang harus berbicara duluan padanya.


Dari dulu komunikasi antara kami memang sangat jarang dan terbatas karena dia memang bukan papah kandungku dan diapun hanya seminggu sekali pulang ke rumah,hampir mirip sepertiku.


Duo toyib...


Memoriku bersama Paman terus terbayang-bayang dalam benak.Suaranya juga terus terngiang dalam kepalaku yang serasa ringan sekaligus berat ini.I'm down without you,uncle.


Aku berpikir,setelah kepergian Paman ini alasanku untuk pulang ke rumah mengalami pengurangan.Siapa Kakak dan teman bermainku di saat aku pulang sekarang?Aku kembali menangis kencang saat berhenti di lampu merah tanpa tahu malu walau sudah ditegur oleh beberapa pengendara lain.Alhasil,Papah pun harus ikut menanggung malu karena aku,tapi dia tetap tak bicara apapun padaku.Papah hanya memohon pengertian pada pengendara lain bahwa aku telah kehilangan orang tersayangku.


Saat tiba di depan rumah Nenek-Kakek,sudah ada bendera kuning di sana,kursi-kursi plastik dari desa dan tenda.Banyak orang sudah berkumpul di sana untuk berbelasungkawa.Aku bertanya-tanya,untuk apa orang-orang suka melakukan hal itu,padahal aku yakin mereka tidaklah sesedih seperti keluarga alharhum.


Kaki ku lemas saat turun dari motor,dan terjatuhlah aku sampai bersimpuh tanpa ada satupun dari orang-orang yang sedang berkumpul itu membantuku.Hanya Papah yang buru-buru mencoba membantuku berdiri.Tapi aku diam,tidak mau berdiri.Kaki ku pun lemas dan terasa berat untuk digerakkan.


Aku lihat orang-orang yang suka berpura-pura itu saling berbicara pelan tentangku.Menurutku mereka sedang saling mengatakan kalau akulah penyebab kematian Paman.Karena mengantarku yang pemaksa ...


"Dia tidak tau kan kalo pamannya korban tabrak lari?" Bisik pelayat yang kemudian disikut oleh orang di sebelahnya.


Mamy matanya merah sekali,hidungnya juga.Aku terisak menatapnya dengan kasihan,melupakan bisikan pelayat barusan.Dia berlari ke arahku dan langsung mendekapku.Aku menagis,dia menangis,kami menangis.


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


Kata Mamy kemarin aku pingsan saat menangis sambil saling berpelukan dengannya.Orang-orang pun menguburkan Paman tanpa menunggu aku siuman karena pada hari itu awan menggelap tanda akan turun hujan.Dan mereka mana mungkin mau memakamkan seseorang sambil hujan-hujanan.Padahal menurutku,hujan-hujanan itu menyenangkan apalagi bersama orang tersayang seperti Paman....walau dia kini sudah meninggal.


Ah-akalku menjadi pelik dan sinis.


Mamy dan Nenek memelukku kompak sekali dan masing-masing dari mereka menahan lengan dan kakiku agar tidak berontak.Mereka,wanita hebat itu mencoba menenangkanku.Mereka menyuruhku mengucapkan istigfar,tapi aku malah berteriak dengan kata-kata kasar pada mereka.Mamy bilang aku sangat sulit ditenangkan hanya oleh cara mereka saja,jadi Kakek ku pun turun tangan dan mengguyurkan segelas air ke kepalaku.


Tentu saja itu bukan air biasa,air itu sudah Kakek beri do'a.Dari dulu aku tahu Kakek ku punya kepercayaan dan kemampuan akan hal seperti itu dan memang,aku pun mulai berhenti berontak dan kembali menangis lagi di dekapan kedua wanita hebat itu.


Aku Sudah egois,aku bersikap seakan akulah yang paling menderita atas kepergian Paman.Padahal Mamy dan Neneklah yang pasti sangat amat lebih menderita daripada aku.


Hari ini,Kakak Paman dan Mamy yang tinggal di pulau Sumatera sana dikabarkan akan datang ke sini.Sanak keluarga yang lain excited dengan kabar itu dan merasa terharu.


Menurutku,untuk apa mereka-Paman dan anak-istrinya datang ke sini.Paman sudah ditelan bumi dan tidak akan pernah mungkin dimuntahkan kembali.


"My,nanti sore aku balik ke Bandung lagi saja ya?"


"Hah?Tapi nanti sore kan kita harus jemput Paman kamu ke bandara.Lagipula bukannya teman kamu sudah memintakan izin kamu ke sekolah tadi?Kamu tidak usah khawatir kamu nanti dialpakan"


Aku menatap Mamy lama,dia juga menatapku dengan sama.Kami seperti sedang bertelepati saja.Aku harap Mamy mengerti jika tempat ini penuh dengan memoriku bersama Paman.Itu semua membuat sesuatu di dalam kepalaku memanas dan hampir meletus.Aku sudah tidak tahan lagi berada di sini.


Aku sudah berhenti menangis dari tadi siang karena memang air mataku sudah habis terkuras.Mau menangis lagi pun mataku perih sekali rasanya dan kalau dipaksakan untuk menangis,yang keluar pasti bukan lagi air mata,melainkan darah.


Tubuhku menahanku untuk tidak menangis mungkin karena dia tahu jika aku terus menangis maka Mamy dan Nenek akan merasa gagal mencengahku untuk tidak lagi menangis.


Sanak keluarga datang silih berganti,ada yang membawa beras,'amplop' ,dan ada juga yang tidak membawa apa-apa.Kesamaan dari mereka hanya kalimat yang mereka ucapkan agar aku tidak terus bersedih dan tidak menyalahkan diriku sendiri atas kematian Paman.Tapi aku tahu kalau ini adalah salahku...


Bebalnya omongan mereka semua masuk telinga kanan keluar telinga kiri.Tak mempan untuk menghilangkan kesedihan dan rasa bersalahku.Sekarang aku sudah bersahabat dengan lara,hanya dengan lara aku menolak berteman dengan si pelipur,pelipur lara.


"Nala,A Fahmi dan Hana juga akan ikut ke sini,lho.Bahkan A Derris juga Masa kamu tidak mau bertemu dengan mereka sih?Kamu kan nanti bisa curhat sama mereka"


Aku menjerit dalam hati.TIDAK!,aku tidak mau bertemu dengan mereka.


"Siapa mereka?Kapan terakhir kali aku bertemu mereka,aku bahkan sudah tidak ingat bagaimana suara mereka dan apa bisa mereka ku percaya untuk teman curhat?"


"Mereka Saudara kamu,sayang.Jangan bicara seperti itu lagi" Mamy dan kesabarannya menghadapi sikapku berusaha mengingatkanku akan ukhuwah itu.


Namun kepalaku sekeras batu,jadi aku tetap kembali ke Bandung diam-diam sendirian menaiki kendaraan umum,untung aku tidak muntah.


Ku buka pintu kamarku pelan,lalu kembali menutupnya sama pelannya.Aku bersandar pada pintu dan melamun,membiarkan akalku merajalela untuk melanglang buana dengan tujuan untuk melupakan kesedihanku walaupun hanya untuk sementara.


Aku termasuk jenis orang yang tidak mudah melamun,jadi gagallah tujuanku itu.


Aku menghela nafas,kembali menghela nafas,sudah berapa kali aku melakukan hal itu terus menerus?Lama-lama aku muak dengan apa yang aku lakukan.Apa aku sebaiknya sekalian saja berhenti bernafas?Ah,tidak,itu ide buruk.


Memandang isi kamarku yang juga membosankan jika diamati lama-lama ini,aku jadi teringat tas ku yang dari kemarin lusa belum ku buka.


Kulihat posisi tas itu masih sama seperti sebelumnya,berada di lantai di dekat kaki ranjang.


Aku mengeluarkan semua isi tas yang terasa dingin saat ku sentuh dan semakin berat,aneh...aku menaruh kembali barang-barang yang ada di dalam tas itu ketempatnya masing-masing di kamar ini.


Satu-satunya barang yang belum punya tempatnya sendiri di kamar ini adalah botol parfum itu,ah-aku jadi kembali teringat dengan Paman,sial!


Aku membuka tutup botol parfum itu dan mencoba membaui sesuatu dari sana,mungkin masih ada aroma parfum yang tersisa.


Ya ampun aroma ini...aroma yang belum pernah ku cium sebelumnya.Aroma ini punya bau harum yang unik.Aku semakin menghirup aroma itu,tapi tiba-tiba botol parfum itu mengeluarkan asap.Aku sangat kaget dan panik,juga terbatuk batuk karena asap yg tiba-tiba mengepul.


"Bommm!" Aku berteriak keras sekali.


Aku lemparkan botol itu ke kasur dan menutupinya dengan bantal dan selimut.Aku berlari keluar kamar dan menutup telinga,takut kalau benda itu benar bom.Sial,di waktu siang seperti ini kost sepi karena penghuninya belum pulang kerja ataupun sekolah.Masa aku harus mati sendiri?Sudah hidup sendiri,mati pun aku sendiri?!


Setelah sekitar 3 menit aku tiarap di luar kamar,asap masih mengepul dari celah pintu,tapi tidak terdengar suara ledakan apapun.Akhirnya kuberanikan diriku untuk mengecek dan masuk kedalam kamar.


Aku menyingkap selimut dan bantal.Betapa sangat terkejutnya aku.Bulu kudukku langsung berdiri,tangan dan kakiku gemetar,keringat dingin membasahi sekujur tubuhku.


Sesosok kabut atau asap atau juga penampakan apapun yang ada di hadapanku ini membuatku hampir mengompol di celana.


Aku tidak bisa berteriak dan bergerak untuk meminta bantuan siapapun,kalau bisapun rasanya sudah terlambat.Hanya dengan menutup mataku rapat-rapat dan membaca ayat kursi dalam hati atau do'a apapun yang bisa mengusir setan.Aku ingin penampakan ini hilang!


"Sudah membaca do'anya?Kau terus mengulang-ulang dan tidak mencapai ayat terakhir"Suara menyeramkan itu terdengar bergema dalam kepalaku.


Kau setan,pergi!Aku membalasnya menjerit dalam hati.


👻


EH-ADA SETANNYA?HAHAHA...GIMANA KELANJUTANNYA?


^^^SO,STAY TUNE ON THIS STORY AND DON'T FORGET TO GIVE ME A👍AND ♡ FOR ALL ...^^^