
🧞♂️
"Ehem..." aku mencoba mencairkan suasana dengan berdehem,tapi baik Astri maupun om jin sama-sama memalingkan wajah dariku.Kenapa mereka bisa kompakkan seperti itu?
"Kamu tidur sekamar sama aku ngak papa kan Tri?" tanyaku mengalihkan pembicaraan dan juga takut Astri keberatan karena di rumah ini hanya tersisa satu kamar,itupun kamar yang paling sempit dan sudah dijadikan lemari pribadi oleh Mamy.
"Ngak papa" katanya dengan ketus.
Aku tersenyum canggung,huh...seperti aku perlu lebih banyak stok kesabaran.
"Kenapa kamu malah mengajaknya tidur sekamar?Biarkan saja dia tidur di kamar sempit itu!" kata om jin tak terima,menambah-nambah beban pikiranku.
'Sudahlah,om jin ikuti saja alurnya.Ngak keliatan juga sama Astri...' ucapku dalam pikiran.
Om jin mendengus tak terima dan membalasku.
"Enak saja,apa karena aku tidak terlihat olehnya makannya aku disuruh mengalah?Kalau begitu aku akan memperlihatkan diri saja padanya!" ucap om jin,terdenger seperti ancaman di telingaku.
'Apa-apaan sih om jin ini,jangan sembarangan deh!' balasku marah dengan perkataannya.
Sudah cukup Sera yang sudah berpengalaman mengenai urusan gaib ketakutan setelah melihat wujud asli om jin,jangan sampai Astri yang tidak punya pengalaman apapun jantungan setelah melihat wujud asli om jin.Nanti kan yang repot siapa kalau bukan aku?
Tapi karena itu aku jadi penasaran,apa jika di lihat oleh orang yang bukan indigo wujud om jin akan tetap seperti yang ku lihat atau berbeda?Tapi aku tidak mau mencobanya dan mengambil resiko yang besar karena melibatkan pihak lain.
"Sebenernya aku belum ngomong sama Mamy kamu mau nginep di sini,pas pulang nanti aku bakal jelasin ke Mamy.Kamu bakal diterima dengan tangan terbuka kok di sini walau kedatangan kamu mendadak..." kataku pada Astri yang diam sedari tadi.
Aku pergi ke dapur untuk mengambil makanan atau apapun itu yang bisa dijadikan kudapan sambil menunggu Mamy kembali ke rumah dan mencairkan suasana diantara kami.
"Beri saja dia jus sisa kemarin!" ucap om jin padaku.
"Sembarangan,bagaimana pun juga kan dia tetap temanku!" kataku menolak ucapan om jin yang menyesatkan.
Jus sisa kemarin sudah basi karena tidak dimasukkan ke dalam kulkas dan sudah dikerubuti oleh semut.Mana mungkin aku tega membuat Astri meminum jus busuk itu.
"Om jin,jangan cemberut kayak tadi lagi ya?" kataku mencoba membujuknya.
"Kenapa?" tanya om jin menatap ku sinis.
Aku membalasnya dengan tatapan tak berdosa,aku harus mencoba bersikap baik padanya agar semua hal berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun juga.
"Karena aku ngak suka liat om jin cemberut kayak gitu,om jin ngerti kan?" kataku menjawabnya dengan jujur.
Om jin memalingkan wajahnya melihat keluar jendela."akan ku coba" ucapnya dengan masih memalingkan wajah dan tidak menatapku langsung.
Aku mengerti dia malu,sebenarnya aku juga malu mengatakan hal-hal manis seperti itu untuk membujuknya.Apalagi aku kan seorang gadis!
Aku kembali ke ruang tamu terlebih dahulu dengan membawa berbagai snack dan minuman dingin untuk disuguhkan kepada Astri.
Astri sedang menatap layar hp nya dengan nanar saat aku sampai,matanya terlihat berkaca-kaca dengan bibir yang bergetar.Apa yang dia lihat sampai dia bereaksi seperti itu?
Aku menaruh bawaanku ke atas meja dan ikut melihat apa yang sedang Astri tatap di layar hp nya secara sembrono dan sangat tidak sopan,takut hal itu adalah hal yang menyakitkan buat Astri karena sudah cukup dia menderita dengan perceraian orangtua nya saja saat ini,dia tidak boleh menderita lebih banyak lagi!
Aku terkejut,di chat whatsapp nya Astri,bibinya mengirimkan foto sebuah surat yang menyatakan kalau hak asuh Astri jatuh ke tangan Ayahnya.
Benar-benar tol*l orang yang membuat surat ini!melihat ayahnya saja hanya kadang-kadang berada di kota yang sama dengannya,ayahnya saja sudah tidak menghidupi keluarganya lagi.Bagaimana Astri bisa hidup di bawah lindungan orang seperti itu?!
"Tri..."panggilku pada Astri yang masih termenung.
Aku mengusap punggungnya lembut,mencoba memberi ketenangan padanya karena punggungnya pun bergetar.Hatinya pasti lebih tercungang lagi daripada anggota tubuh Astri yang lain.
"Nal... aku tau alasan sebenarnya keluarga ku nyuruh aku ke sini,mereka memang sengaja melakukannya supaya aku tidak tau apa-apa soal keputusan ini.Nal...aku bahkan hampir tidak mengenali ayahku sendiri akhir-akhir ini,bagaimana bisa ini terjadi..." Astri berkata dengan air matanya yang menetes-netes ke atas layar hpnya yang kini gelap.
Aku bingung harus menanggapinya bagaimana,aku juga ikut terguncang dengan fakta tadi.Lagi pula,bagaimana bisa surat hak asuh anak bisa jadi sehari setelah percerain.Ini tidak masuk akal!
"Astri...apa ada anggota keluarga kamu yang pegawai pemerintahan?" tanyaku dengan curiga.
Astri terlihat bingung dan diam sesaat mendengar pertanyaanku yang pasti dia pikir tidak nyambung dengan kesedihannya.
"Ada,adik ayah aku..." kata Astri sambil menatapku dengan bingung.
"Ada apa memangnya?Dia sedang ada dinas di luar kota dari kemarin lusa..." kata Astri lagi.
Aku menggeleng,aku tetap yakin ada campur tangan orang dalam,yaitu pamannya Astri ini yang merupakan pegawai pemerintahan walau dia sedang berada di luar kota,dia pasti yang membuat surat hak asuh itu jadi lebih cepat dari seharusnya!
"Tri...pa-"aku tidak jadi bicara.
Astri menatapku yang bungkam dengan tatapan yang seperti mengisyaratakan,'katakan saja,aku selalu siap mendengarnya apapun itu'.
"Mu-mungkin saja paman kamu yang bantuin ayah kamu supaya dia dapet hak asuh kamu secepet itu..." ucapku pada Akhirnya,mengatakan pemikiranku.
Astri menunduk dan meneteskan air matanya dengan lebih banyak.
"Setelah mendengarnya dari kamu,aku juga jadi berpikir seperti itu karena tugas dinas paman pun seperti dibuat-buat saja.Terlalu mendadak,terlalu mencurigakan..." kata Astri dengan bibir yang terus bergetar.
Aku menepuk-nepuk pundaknya yang terguncang,"sabar,sabar..." aku berkali-kali mengatakan itu pada Astri.Aku bingung harus mengatakan apa lagi agar Astri tenang dan berhenti menangis.
"Ada apa lagi ini?" ucap om jin saat tiba-tiba memunculkan diri di tempat aku dan Astri berada.
Aku menaruh telunjukku di bibir,'kali ini om jin ngalah lagi ya...'
Om jin menghela nafas,dan berkata."setelah dia sudah tidak berisik lagi,jelaskan padaku apa yang sudah terjadi sampai lagi-lagi aku harus mengalah padanya"
Aku menggangguk dan menepuk-nepuk pundak Astri sampai akhirnya Mamy datang dengan kresek hitam besar dan terkejut melihat keadaan di dalam rumah.
"Ada apa ini?!" kata Mamy.
Astri langsung berhenti menangis,aku juga langsung mematung karena terkejut dengan perkataan Mamy yang mengagetkan.
"My ini Astri..."kataku berdiri dan memperkenalkan Astri.
Astri menghapus sisa air mata di pipinya dan berdiri lalu menyalami Mamy dengan sopan.
"Maaf tante Astri dateng tiba-tiba ngak izin dulu sama tante buat nginep di sini" kata Astri.
Mamy diam,mungkin dia sedang mencerna keadaan.Dia menyuruh Astri kembali duduk dan memintaku untuk ikut ke dapur bersamanya.
"Temen kamu kenapa?" tanya Mamy setengah berbisik saat sampai di dapur.
Aku duduk di meja kompor,dan menghela nafas.Aku merasa tidak sanggup membicarakan soal percerain,tapi Mamy butuh penjelasanku agar Astri dibiarkan menginap di sini.
"Orang tuanya cerai kemarin,dia di suruh keluarganya buat refreshing dulu ke sini..." jelasku sambil menunduk dan mengayun-ngayunkan kaki.
Aku tidak tahu bagaimana raut wajah Mamy saat mengetahuinya,tapi Mamy berdehem dan mulai membuka kresek hitam bawaannya.
"Ya sudah,dia boleh nginep di sini.Asal Mamy mau ngomong dulu sama keluarganya biar jelas..."
Aku mendongak menatap punggung Mamy yang membelakangiku.My,hanya itu sajakah respon Mamy terhadap hal yang dulu pernah ku alami?Hatiku sakit rasanya dengan respon Mamy yang biasa saja,tapi mau bagaimana lagi,Mamy tidak pernah merasakan rasa sakit anak yang orang tuanya bercerai.Nenek dan Kakek hidup harmonis dari dulu sampai sekarang,mereka sehidup semati dan hanya sekali seumur hidup menikah.
Betapa bahagianya anak yang orang tuanya tidak bercerai kan?Aku tersenyum getir dan kembali ke ruang tamu untuk menemui Astri dan om jin yang mengikutiku.
"Tri,kamu diizinin nginep kok sama Mamy aku,tapi katanya dia mau ngomong sama keluarga kamu dulu.Kamu ngak tersinggung kan?" kataku pada Astri yang kini menunduk diam.
Astri mendongak dan menggeleng,"tidak papa,lagi pula pas sekali mamah aku nelpon aku sekarang" kata Astri dan memperlihatkan hp nya padaku.
"Nih,bawa ke Mamy kamu!"Kata Astri dengan menyodorkan hp itu padaku.
Aku mengambilnya ragu,"maaf" kataku.
"Tidak papa,aku benar-benar tidak tersinggung.Aku mengerti pikiran Mamy kamu..." kata Astri dengan tersenyum.
Aku balas tersenyum sambil melirik om jin yang melayang diam di dekat meja,dengan wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi apapun atau berkata apapun.
'Ayo ikuti aku,kenapa om jin diam saja' kataku lewat pikiran.
"Kenapa aku berada di antara manusia penuh masalah seperti kalian" om jin berkata pelan.
Jantungku serasa berhenti mendadak mendengar perkataannya,sebermasalah itu kah kami?Batinku merasa sakit hati.
Om jin mengikuti ku ke tempat Mamy dan aku memberikan hp Astri pada Mamy.
"Ini Mamahnya Astri,katanya mau ngomong..." kataku melihat alis Mamy yang bertaut melihatku memberikannya hp asing.
Mamy mengerti lalu mengambil alih hp itu dari tanganku dan pergi ke halaman belakang untuk melakukan percakapan.Selagi Mamy menelpon,aku diam saja di dapur meminum minuman dingin dari kulkas.
Om jin jahat sekali,apa aku merepotkannya?,tiba-tiba aku berpikir seperti itu sambil menatap om jin dan kembali menatap Mamy dari kejauhan.
Om jin mengangkat alis,"ada apa Nala?" kata om jin.
Aku diam,pura-pura tidak menyadari keberadaan om jin ataupun mendengar perkataannya.
Apa sakit hati dan perasaan sedih bisa menular?Kalau iya berarti aku sudah tertular sampai ketingkat yang paling mengkhawatirkan.
👻