
🧞♂️
"Nala,mau kuantar pulang pake motor?"Tawar Siti padaku.
Aku menggeleng,aku harus ke warnet langgananku untuk memesan pembuatan yassin terlebih dahulu.
"Btw kamu mau apa ke warnet kan ...kita ngak ada tugas"kata Siti.
"Buat yassin"Jawabku.
"Yassin siapa?"Tanya Siti.
"Yassin Kenala Ayuningrum"
"Astagfirullah!jangan sembarangan Nal,aku otw dulu lah.Bye!"
"Bye!"
Aku segera menyebrang jalan dan pergi ke warnet kecil itu.Warnet tujuanku kecil,sangat kecil bahkan.Di sini aku biasa ngeprint,memphotocopy,mengerjakan tugas sekolah dan lainnya.Di sini juga bisa memesan stempel,yassin,dan surat undangan dengan harga yang lebih murah dari warnet lain.
Sudah hampir 3 tahun aku mengenal para pekerja warnet ini yang semuanya laki-laki seumuran paman.Oleh karena itulah aku cukup akrab dengan para pekerjanya.
"A Muh,aku mau pesan 100 Yassin..."Kataku pada A Muh yang sedang mengotak-atik komputer.
Setelah selesai dengan model yassin,warna,dan harga yang tentu saja didiskon khusus untuk pelanggan setia sepertiku,aku segera pulang karena sudah terlihat lembayung di langit.
Aku cepat-cepat menyebrang jalan untuk menghampiri tukang ojek,tidak memperhatikan mobil bmw putih yang melaju kencang ke arahku.
Aku baru saja akan menjerit,begitupun orang-orang di sekitar yang melihat kejadian itu,tapi segalanya jadi berbeda saat kurasakan hawa dingin sekaligus panas yang tiba-tiba melingkupiku.Mobil bmw yang jaraknya tinggal 1langkah dariku terpelanting kebelakang dan dalam sekedipan mata,aku pun sudah berada di dalam kamar kost ku.
Dadaku naik turun dengan nafas yang memburu dan wajah pucat serta lutut yang lemas.Aku akan ambruk jika tidak ada yang memegangiku.Aku mendongak ke atas untuk bisa melihat ekspresi marah sekaligus cemasnya Om jin.
"Jangan bicara sembarangan lagi dan berhati-hati lah saat akan menyebrang jalan!"Om jin membentakku.
"Apa-hiks..."Tiba-tiba saja air mataku keluar karena dibentak seperti itu.
Om jin terlihat menelan ludah dan memelototiku.
"Apa Om jin selama ini mengikutiku?"Tanyaku.
"Bersumpahlah dulu mulai sekarang kau akan selalu berhati-hati dalam berbicara ataupun bertindak!jangan sampai peristiwa tadi terjadi lagi di kemudian hari!"Kata Om jin.
Aku mengangguk-angguk lemas.
"I'm promise"
"Ya sudah,mandi sana!"Selesai berkata begitu,Om jin pun berbaring di atas lemari sambil mengawasiku dari atas sana.
"Om jin masih belum menjawabku!"Aku berseru sambil memegangi tepi ranjang agar tidak jatuh.Lututku lemas,pikiranku juga masih kacau karena terlalu shock dengan kejadian tadi.
Brukk!
Aku terjatuh ke lantai dengan sengaja karena sudah tidak kuat berdiri lagi dan mulai membuka pakaianku yang penuh debu karena kejadian tadi.Aku mengesod ke kamar mandi karena lututku masih lemas dan menangis sambil mandi di dalam sana.Kejadian tadi benar-benar sangat berbahaya,untung saja Om jin datang menyelamatkanku kalau tidak aku lah yang pasti terpelanting tadi,bukannya mobil yang akan menabrakku.
Aku langsung tersentak sadar,bagaimana keadaan pengendara dalam mobil itu?Om jin membuat mobil itu terpelanting dengan parah.Bagaimana kalau nanti aku yang disalahkan akan kejadian tadi?
Gawat!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Peristiwa penyelamatanku oleh Om jin telah berlalu,sudah sebulan sejak peristiwa itu terjadi dan tidak terjadi hal berbahaya apapun padaku setelahnya.Dari berita aku tahu kalau pengendara mobil itu berhasil selamat dan hal itu membuatku lega karena sudah bisa melupakan rasa bersalahku.
Aku menjadi lebih terbuka pada Om jin.Tapi sekarang aku sedang bertengkar dengan Om jin,semua itu terjadi karena Om jin terlihat selalu menutup-nutupi sesuatu dariku.Aku tentu saja berbicara dengan keras padanya.
"Om jin tahu rahasia-rahasiaku,tapi kenapa aku tidak boleh mengetahui rahasia Om jin?!"Kataku.
"Tidak boleh ya tidak boleh!jangan banyak tanya lagi!"Balas Om jin.
"Dasar pelit informasi!kalau begitu,setidaknya beritahukan nama asli Om jin padaku"
"Aku...tidak bisa"
"Tuh kan!"Teriakku.
"Nal..."Ada orang yang memanggil namaku dari luar.
"Ada yang memanggilmu.Sudah kutakan jangan bicara keras-keras"Kata Om jin.
Aku mendelik padanya lalu membuka pintu dan menemukan Rizal di depan pintu dengan ekspresi yang aneh.
"Ada apa?"Tanyaku walaupun tahu Rizal mengetuk pintuku karena mendengar aku yang berteriak-teriak sendiri.
"Emm...itu kamu kenapa teriak-teriak?Siapa Om jin?"Kata Rizal.
"Kamu sudah sering mendengar aku berbicara sendiri kan?"Tanyaku tanpa menjawab pertanyaan Rizal dulu.
Rizal mengangguk dan ekspresinya sekarang berubah takut.Aku tersenyum miring dan memanggil Om jin.
"Om jin?Kamu manggil siapa Nal?"Tanya Rizal dengan ekspresi yang terlihat semakin ketakutan.
"Om jin tahu kan apa yang Om jin harus lakukan agar rahasia kita tidak terbongkar?"Kataku pada Om jin yang sudah berdiri di belakang Rizal.
"Tentu saja,dia bisa jadi pengganggu nantinya kalau terus dibiarkan..."Jawab Om jin.
Rizal yang tidak dapat melihat Om jin yang sedang berbicara denganku memelototiku karena bicara sendiri.
"Kam-"Ucapan Rizal terpotong saat tangan Om jin yang tidak dapat terlihat olehnya memegang kepalanya untuk melakukan hal 'itu'.
Beberapa detik kemudian Om jin melepaskan tangannya dari kepala Rizal dan membuat Rizal tertidur lalu membawa masuk Rizal ke kamarnya dan membaringkan Rizal di kasur.
"Sudah?"Tanyaku.
"Sudah.Aku membuatnya melupakan ingatannya saat mendengar kamu berbicara sendiri dan juga membuatnya agar tidak dapat mendengar kamu berbicara sendiri lagi di masa depan"Jawab Om jin.
"Di masa depan nanti,saat kamu berbicara padaku dia tidak dapat mendengarnya,tapi saat kamu berbicara selain padaku dia dapat mendengarnya"Jelas Om jin.
"Wah,praktis sekali.Hebat juga Om jin!"Pujiku.
"Biasa saja"Balasnya.
"Tapi...apa itu ada efek sampingnya pada ingatan Rizal yang lain?"Tanyaku memastikan,takut-takut Rizal melupakan siapa dirinya sendiri.
"Tenang saja,itu tidak berefek samping.Aku hanya menghapus bagian ingatan yang itu saja,yang lainnya tidak kuusik sama sekali"Jawab Om jin santai.
Saat kami kembali ke kamar,kami kembali melanjutkan pertengkaran kami dengan hasil 0 karena aku tidak mendapatkan sedikitpun rahasia Om jin.Aku pun akhirnya memilih untuk belajar daripada meladeni Om jin lagi.
"Sekarang aku tahu bahwa Om jin itu tidaklah menyeramkan,tapi menyebalkan!"Kataku sebelum mengakhiri pertengkaran kami yang terjadi hampir setiap hari,mulai menjadi kebiasaan sehari hari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Penilaian tengah semester sudah dua hari terlewati dan sekarang adalah hari ketiga pelaksanaan pts di sekolahku.Aku duduk bersebelahan sengan siswa kelas XI begitupun teman-temanku yang lain.
Setengah teman sekelasku berada di ruangan 13 dan setengahnya lagi di ruangan 14.Aku berada di ruangan 13 yang luar biasa damai.Tapi ruangan ini damai bukan karena kami sedang fokus mengerjakan soal,melainkan kami berusaha mengoper-ngoper kertas berisi jawaban dan yang pasti aku tidak ikut-ikuan karena menurutku,penilaian tengah semester adalah ujian yang sakral.Kecuali ulangan harian,aku akan dengan senang hati bekerja sama dengan teman-temanku dengan integritas yang tinggi.
Buntalan kertas melayang dan menghantam hidungku.
"Aww..."Aku meringis kecil lalu mengambil dan meremas-remas buntalan kertas itu hingga lecet,lalu melemparkannya ke arah di mana benda itu terlontar sebelumnya saat pengawas lengah.
"Jam berapa sekarang Om jin?"Bisikku pada Om jin yang melayang horizontal di sebelahku sambil tiduran.
"Nala,ini baru jam 08.40 dan akhir waktu pengerjaannya jam 09.30"Jawabnya.
"Tapi aku sudah selesai mengerjakannya"Kataku jengkel jika harus berbisik-bisik dan duduk diam seperti ini terus.Tubuhku sudah gatal sekali ingin berlari ke kantin.
"Periksa lagi!"Kata Om jin padaku yang menurutku mirip pengawas ujian.
Aku merasa ada dua pengawas ujian di ruangan ini dan yang satunya adalah makhluk halus yang melayang sambil tiduran mengecek lembar jawaban setiap siswa di ruangan ini.
"Temanmu yang paling depan baru mengerjakan 10 soal"
"Bocah ingusan yang tidak pakai kaos kaki itu tidak membaca soal sama sekali dan asal jawab"
"Orang yang ada di sebelah mu bibirnya tebal dan merah sekali seperti habis digigit lebah.Apa bibirnya baik-baik saja?Kalau menular sebaiknya kamu pindah tempat duduk saja,Nala..."
Aku menutup mulutku dan memegang meja untuk menahan tawaku agar tidak menyembur orang lain dengan tawa di tengah suasana ujian yang damai.
"Om jin jangan berkeliaran dan diam di sampingku saja"Kataku pelan.
Om jin menurut dan bersandar pada kursiku.Jangan heran dengan Om jin yang sekarang,sejak aku hampir tertabrak,walaupun Om jin tidak menjelaskan apapun padaku ataupun menjawab semua pertanyaanku,tapi dia mulai membuka diri untukku walaupun tidak memberitahukan padaku rahasia-rahasianya dulu.
Om jin selalu mengikutiku dengan memperlihatkan wujudnya padaku,tidak mengikuti dengan diam diam seperti dulu.Dia selalu mengikuti diam-diam tanpa memperlihatkan wujudnya,hal itu baru saja diakuinya kemarin saat kupaksa.Dia juga sekarang memanggilku Nala,bukan manusia lagi.Perubahan yang signifikan dan aku senang karena merasa seperti punya paman dan kakak baru sekaligus pengawas ujian pribadi.
Beginilah setiap harinya,Om jin selalu mengikutiku kemana-mana dan menjagaku.Akibatnya,aku jadi merasa seperti orang paling aman se-Asia.
Hari itu aku ditelpon Mamy karena sudah dua minggu tidak pulang,aku mengatakan alasanku yang sejujur-jujurnya.Aku bilang padanya bahwa aku sedang fokus belajar untuk pts dan persiapan mental,fisik,dan materi untuk ujian praktek nanti.
Tapi mamy tetap marah padaku.Aku pun tersulut oleh amarah Mamy dan membanting hpku ke luar jendela kamar dan menghantam batang pohon sirsak di luar sampai rusak parah.
Saat besoknya Mamy datang menemuiku dan tahu hpku yang baru dibelikannya satu tahun yang lalu rusak karena amarahku sendiri,dia mengancam tidak akan membelikanku hp lagi dan mengurangi uang jajanku.
Akibat kejadian itu,persiapanku berantakan,mentalku goyah dan fisik ku juga lemah.Dan soal materi,hpku yang hanya satu-satunya itu tidak bisa digunakan dan uang jajanku hanya Rp.200.000 sebulan karena sudah dikurangi lebih dari setengahnya oleh Mamy.
Dalam keadaan yang genting seperti ini raport akan segera dibagikan di sekolah dan aku tidak mau memberitahukan ini pada Mamy karena Mamy masih marah padaku dan aku pun begitu.Aku menyobek-nyobek surat pemberitahuan undangan itu untuk menyalurkan kekesalan dan membakarnya dengan lilin di kamarku.
"Nala,sebaiknya kamu meminta maaf pada ibumu dan pulanglah besok minggu"Om jin duduk di sebelahku dan mengusulkan hal itu.
Di saat pemadaman listrik seperti ini tentu aku tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi di wajahnya dan merespon saran Om jin dengan keras.
"Tidak mau,Om jin saja yang minta ma-aw!"Aku menjerit karena tidak sengaja tanganku terkena api dari lilin,tidak sempat menyelesaikan kalimat yang ingin diucapkan.
Tangan dingin Om jin menggenggam tanganku yang terkena api itu untuk mendinginkannya.Aku membiarkannya melakukan hal itu karena jika aku sedang kesal,aku tidak peduli pada apapun dan hanya berkutat dengan kekesalanku.
"Aku tidak bersalah pada ibumu,kenapa harus aku yang minta maaf?Saranku kamu segeralah pulang,lagi pula ibumu marah juga karena cemas padamu.Kamu adalah seorang gadis yang hidup sendiri di kota besar,tentu dia khawatir kamu kenapa napa"Kata Om jin dengan nada lembut dan pelan.
Om jin menasehatiku dan menjauhkan lilin serta melenyapkan abu bekas kertas yang kubakar.Aku tidak menjawab om jin dan melepaskan tanganku dari genggamannya karena tanganku sudah tidak sakit lagi.
"Kalau listriknya sudah nyala nanti,bangunkan aku"Kataku.
Om jin mengiyakan dan duduk di tepi kasurku sambil mengelus rambutku.Apa yang Om jin lalukan!wajahku terasa panas secara seketika,Om jin tidak pernah melalukan hal ini sebelumnya!apalagi sekarang jaraknya dekat sekali denganku
"Katanya,seorang gadis akan jadi jauh lebih tenang dan cepat mengantuk jika kepalanya dielus"Kata Om jin pelan.
"Om jin tau dari mana?"Tanyaku dengan suara kecil,hampir terdengar seperti cicitan.
"Tetangga kostmu pernah mengatakan itu ditelpon waktu itu dan aku tidak sengaja mendengarnya"Jawab Om jin.
"Pasti Rizal kan?"Tebakku.
"Hmm..."
Kupegang tangan Om jin dan menghempaskannya.
"Jangan pernah dengarkan kata-kata Rizal lagi.Aku tidak suka segala hal tentang dia"
"Hmm..."Om jin mengelus pipiku dan membuatku semakin salah tingkah dan merasa tidak karuan.
Aku menutup wajahku dengan selimut karena merasa sangat malu,aku berharap listriknya segera hidup karena entah kenapa dalam keadaan gelap seperti ini Om jin bisa jadi sangat terlalu manis.
"Nala,tidurlah"
👻
***Chapter ini baru saya revisi puebi-nya,semoga puebi-nya sudah benar dan pembaca semakin nyaman saat membaca story saya....
❤okey,see you in next chapter***!