
🧞♂️
Dunia di sekelilingku mendadak terasa berputar dan hening,lalu waktu rasanya terhenti dan aku menjeritkan nama Om jin dalam hatiku.
Ku mohon jangan pergi lagi Om jin,maafkan aku
Kemana perginya dia?Kenapa dia pergi lagi?Berbagai pertanyaan menghinggapi kepalaku yang sedang mengingat-ingat apakah aku melakukan kesalahan lain lagi dan menyakiti perasaan Om jin.
Aku tidak bisa bernafas secara normal,nafasku terengah dan tiba-tiba rasa sakit dari telapak kaki ku menyerang.Kulihat telapak kaki ku yang telanjang berdarah entah karena menginjak apa.
Aku meringis merasakan sakit di hati dan telapak kaki ku secara bersamaan.Saat mencari Om jin barusan aku pergi ke halaman belakang lewat pintu dapur dan lupa tidak memakai sandal.
Tapi seharusnya di halaman yang setiap hari Mamy bersihkan dan rawat tidak ada benda tajam yang tersisa di atas rumput gajahnya yang terpangkas rapi.
Aku hampir menangis dan memanggil Mamy untuk mengobati lukaku dan melihat apa ada benda asing yang menancap atau tidak dilukanya.
"Mam-" teriakku tertahan karena sayup-sayup terdengar suara familiar lain dari halaman depan.
"Assalamualaikum,Nala..."
Aku langsung membatu ditempatku sambil menjijitkan kaki yang terluka,suara itu...Rizal!
Apa yang dia lakukan di sini?Dia kan tidak tahu alamat rumahku! batinku bertanya-tanya.
Dengan tertatih-tatih dan meloncat-loncat kecil menggunakan sebelah kaki yang tidak terluka,aku pergi ke halaman depan dengan mengelilingi rumah karena halaman belakang masih terhubung dengan halaman depan lewat jalan setapak kecil yang di sisi-sisinya terdapat pot sayuran dan bunga yang Mamy tanam dan rawat.
Saat sampai di halaman depan rumah,terlihat Rizal yang berpakaian rapi berdiri di depan teras rumahku dan menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.
"Rizal,kamu ngapain ke sini?" Tanyaku tanpa basa-basi.
Rizal melihatku dengan aneh karena cara jalanku,kemudian matanya terlihat seperti mau keluar saat melihat darah yang mengalir ke tanah dari kaki ku.
"Nala,kamu kenapa lagi?!" Rizal berseru lalu menghampiri dan mencoba memapahku.
Aku menolaknya,lalu duduk di tanah karena rasa sakit dan perih yang semakin terasa.
Aku menggumamkan nama Mamy,Nenek,Kakek,dan Om jin secara tidak sadar sambil meringis dan meratapi lukaku.
Huhuhu,menyedihkan!disaat aku seperti ini bukannya Mamy,Nenek,Kakek,ataupun Om jin yang ada di sampingku dan membantuku,tapi si Rizal menyebalkan inilah yang datang!
"Nala,kamu-" ucap Rizal,kemudian berhenti.
"Sini biar kubantu!"
Tanpa basa-basi lagi Rizal membantuku berdiri dan memapahku ke kursi di teras depan rumah walaupun aku sempat menolaknya.
"Sudah,diam dan duduklah.Biar aku mengobatimu..." katanya setelah selesai mendudukkanku di kursi lalu berjongkok di depanku dan mencoba menyentuh kakiku.
"Eh,jangan!" aku langsung menjauhkan kakiku darinya.
"Jangan disentuh,sakit..." kataku sambil meringis dengan ekpresi berat hati.
Rizal menghela nafas dan berkata,"kalau tidak kusentuh,lalu bagaimana caraku untuk mengobatinya?"
Aku diam,kemudian menjawabnya seraya sedikit bercanda agar Rizal tidak merasa tersinggung dengan penolakanku.
"Kamu kan bukan jin atau mimi peri yang bisa nyembuhin orang tanpa menyentuhnya sama sekali" kataku.
Kulihat ekspresi Rizal yang langsung berubah terkejut kemudian kembali seperti semula dan tertawa.
Ketawa mu telat,Zal!batinku.
"Ya sudah,bisa kamu beritahu aku di mana kotak p3k nya?"
"Di dalam rumah,di lemari yang ada di dapur,rak paling atas" beritahuku pada akhirnya karena sudah tidak bisa menahan rasa sakit dan takut terjadi infeksi pada luka ku kalau lebih lama lagi kubiarkan.
Rizal kemudian pergi ke dalam rumah tanpa banyak babibu lagi.Aku memikirkan kata-kata yang dia gunakan agak ...agak bukan seperti dirinya yang biasa.
Tak lama Rizal datang membawa kotak p3k dan sekotak tissue lalu kembali berjongkok di depan kakiku.
Aku menaikkan alis melihat kotak tissue yang sekarang ada di bawah kakiku.Bukannya kotak tissue itu adanya di ruang tamu?Sembarangan bawa saja si Rizal ini!aku membatin dan tidak sengaja mendengus.
Rizal mendongak melihatku di sela-sela kegiatan mengelap darah di kakiku dan lantai yang juga kena imbasnya.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
Aku menggeleng,"ah tidak,aku hanya menahan perih..."
Rizal dengan fokus membersihkan lukaku walaupun aku tidak bisa diam saat diobati dan banyak mengeluh.
Aku dengan bungkam memperhatikannya.Perlu ku akui bahwa Rizal ini memang baik,tapi tetap saja menyebalkan.
Hanya saja hari ini dia sedikit tidak menyebalkan,tidak seperti biasanya.Dan juga,kenapa dia tiba-tiba datang ke rumahku dan darimana pula dia mendapatkan alamatku.Apa dari Bapak kost?Jadi dia menyogok bapak kost?
Di saat suasana sedang damai-damainya dan alam pun mendukungnya,terdengar suara ribut dari jalan yang ada di depan rumahku yang hanya dibatasi oleh pagar berwarna hijau ketupat.
"Nala,tadi Mamy perasaan deng-" Mamy datang sambil berlari dan membuka pagar dengan sembarangan karena terburu-buru.
Seketika aku bingung harus bersikap seperti apa di depan Mamy.Rizal menengok kebelakang dan mengangguk pada Mamy ku,kemudian melanjutkan pekerjaannya yang masih belum selesai untuk membalut luka.
"Nah,sudah selesai...mau kubantu untuk masuk kedalam?"tawar Rizal.
Aku dan Mamy langsung tersadar,aku berterimakasih pada Rizal dan melihat balutan lukaku dan kedua kakiku yang sudah bersih.Aku bahkan tidak sadar kalau Rizal juga telah membersihkan sisa tanah di kaki ku.Itu,,,terlalu berlebihan...aku jadi merasa tidak enak padanya.
Mamy menghampiri kami dan menerima salam dari Rizal.Aku tahu bahwa Mamy sudah mengenal Rizal sebagai teman kost sekaligus teman sekolahku,tapi dia masih tetap memberikan tatapan mematikan padaku-hanya padaku.
Aku salah tingkah di belakang tubuh Rizal yang masih sedikit berbasa-basi dengan Mamy.Ya ampun,mati aku!mati aku!mati aku!pasti mati aku!
Rasanya aku ingin kabur saja dari tempatku ini untuk menghindari segala hal yang nanti akan terjadi.Kedatangan Astri lebih baik daripada kedatangan Rizal di rumahku ini!
Siapapun,tolong bawa aku lari dari situasi menegangkan ini!
"Ayo nak masuk dulu..." kata Mamy dan berusaha memapahku masuk ke dalam rumah.
"Tante,biar aku saja,Nala berat kelihatannya..." kata Rizal mengambil alih aku dari Mamy.
Mamy tertawa canggung dan berterimakasih pada Rizal yang lebih dulu memapahku masuk ke dalam rumah dan mendudukanku di sofa ruang tamu.Mamy mengekor di belakang kami.
Aku yakin sekarang ini pipiku semerah tomat busuk karena sikap Rizal juga karena Mamy melihat sikapnya padaku ini.Aku masih bingung dengan alasan kedatangan Rizal kemari dan sekarang pun sikapnya tambah membuatku semakin kebingungan.
"Makasih" ucapku yang dibalas Rizal dengan ucapan 'sama-sama' seraya tersenyum lembut.
"Kalian ngobrol dulu saja,Mamy mau beresin dulu bekas ngobatin Nala di luar" kata Mamy dan melangkah keluar dari ruang tamu.
"Jangan tante,aku saja yang membereskannya.Tante saja yang duduk menemani Nala" kata Rizal dan membuat Mamy ku tidak bisa membantahnya kemudian Mamy duduk di sampingku dengan wajah terkejut sekaligus sumringah-perpaduan emosi yang aneh.
Kerasukan makhluk halus macam apa si Rizal ini?!dan kenapa Mamy pun bisa langsung tunduk padanya seperti itu?!
Perasaanku tidak enak saat melihat ekspresi di wajah Mamy.
"Nala,dia betulan Rizal temen kost sekaligus sekolah kamu,kan?" tanya Mamy sambil berbisik-bisik seperti takut kedengaran tetangga.
Aku mengangguk.
"Dia datang ke sini mau apa katanya?" tanya Mamy lagi.
"Tidak tau" jawabku jujur.
Mamy menepuk pahaku dan berkata,"Jangan bercanda,cepet jujur saja sama Mamy.Jangan-jangan pacar kamu itu dia,ya?"
"Ihh...Amit-amit!" aku berseru secara spontan.
Mamy langsung membungkam mulutku dan tersenyum pada Rizal yang menaruh kotak tissue di atas meja kaca di depan sofa kami lalu melewati kami dan pergi ke dapur sambil membawa kotak p3k.
Dia...apa yang dia inginkan sebenarnya?!batinku.
Kalau saja Om jin ada di sini,pasti akan ku minta dia agar menghilangkan Rizal dari hadapanku dan Mamy sekarang juga.Sayangnya itu hanya khayalan jahatku saja yang langsung kalah telak oleh kenyataan yang sedang kuhadapi saat Rizal kembali dari dapur dan duduk di sofa yang letaknya berhadapan dengan sofa yang aku dan Mamy duduki.
"Nala,apa lukamu masih terasa sakit?" tanya Rizal sambil menatapku.
"Masih sedikit perih..." kataku jujur.
Mamy tersenyum seperti tante-tante girang sambil menatap Rizal dan berkata,"Kalian ngobrol berdua dulu saja,biar Mamy siapin minuman dan cemilan dari dapur"
"My..." aku memanggil Mamy yang melarikan diri ke dapur dengan alasan mengambil minumam dan makanan,padahal Mamy kan sebenarnya sengaja ingin aku dan Rizal mengobrol berdua saja.
Mana bisa aku berduaan lama-lama dengan orang yang menyebalkan seperti Rizal...tapi kemudian aku sadar kalau Rizal yang sekarang ada di depanku tidak bersikap menyebalkan seperti biasa.
Akhirnya mau tak mau aku memulai pembicaraan dan mengobrol dengan Rizal,demi kesopanan tuan rumah.
"Btw kamu tau rumahku dari mana,Zal?Atau kamu nyasar ke sini?...." kataku.
Rizal diam,"dari bapak kost,kan alamat kita semua ada pada dia" jawabnya.
"Terus,kamu ke sini mau ngapain?Ngak mungkin kan cuma mau ketemu aku doang?" kataku setengah menggodanya dengan tidak serius.
Rizal menatapku dengan dalam dan secara naluriah aku juga menatap balik bola matanya yang terasa sangat familiar di mataku,kemudian aku sadar kalau bola matanya seperti bukan bola mata jenaka milik Rizal yang selalu bersikap menyebalkan.Kali ini dapat kulihat keseriusan,kedewasaan,dan kasih sayang di dalamnya.
"Aku ke sini hanya untuk kamu" katanya.
Hampir saja aku melompat dari tempat dudukku jika tidak ingat kalau kakiku sedang terluka.
Aku merinding di sofa dengan hati yang seperti akan meledak dan kepala yang mendidih.Apa aku tidak salah dengar?Atau perkataan Rizal itu dia tujukkan pada kotak tissue di atas meja yang terletak di antara kami atau pada ikan ****** dalam aquarium yang baru Mamy beli?
"U-untuk kamu-maksud kamu itu siapa,ya?" kataku pura-pura bodoh.
"Kamu,Nala..." jawabnya.
Aku langsung berpaling,menghindari tatapan Rizal yang kelihatan tulus padaku dan tidak sengaja kulihat kepala Mamy yang kelihatan mengintip di ambang pintu.
Mamy mendengarnya juga?Gawat!
👻
Enjoy this chapter and don't forget to give me a like👍 and coment💬!