Om Jin!

Om Jin!
Om jin!50(versi revisi)



🧞‍♂️


BRUMM


"Tri,Tri...santai saja Tri ngak usah ngebut.Kita ngak akan telat kok,kafenya masih bakal buka!"


Astri melirikku dengan wajah paniknya,mobil pun oleng ke arah kiri dan kami berdua langsung menjerit bersamaan.


"Astriiiii!Kita masih belum lulus sekolah!"Jeritku sambil mencengkram erat jari-jari tanganku.


"Aku tau!Makannya sudah ku bilang untuk jangan bicara dulu!" Astri berkata-kata dengan nafasnya yang memburu dan wajahnya yang semerah cabai saking paniknya.


Untung saja jalannya sepi,kalau tidak aku yakin jika kami sudah menabrak pengendara lain di jalan.


Sebagian dari pikiranku yang tidak ikut panik ketika nyawaku berada di ujung tanduk karena Astri bertanya-tanya bagaimana caranya Astri bisa sampai membawa mobil ini sendirian ke kostan ku malam-malam sedangkan aku tahu bahwa tempat tinggalnya yang sekarang ada di Bandung Utara dan kostan ku ada di-


"Aaaaaa!" Aku lagi-lagi berteriak sampai pikiranku pun berhenti memikirkan apapun lagi dan hanya mengkhawatirkan nyawaku saja.


Astri memintaku untuk diam agar konsentrasinya tidak tertanggu lagi.Aku membungkam mulutku dengan sebelah tangan dan memejamkan mata lagi.Tidak sanggup melihat pemandangan di depan...


Kalau aku tidak kembali ke kostan lagi,aku yakin Om jin pasti akan mengacak-acak seisi kostan dan keluargaku yang lain akan mengacak-acak seisi Bandung untuk mencari jasadku yang mungkin terbanting entah kemana jika mengalami kecelakaan disupiri oleh Astri.


Aku masih ingin hidup!


Masih ada banyak hal yang harus kuselesaikan!


Tiba-tiba mobil berhenti dengan suara decitan ban yang menyakitkan ditelinga dan aku yang hampir akan tersaruk ke depan sekali lagi menjerit dengan jangka waktu yang lama sampai ada yang membuka pintu mobil dan menepuk bahuku dengan keras.


"Udah selamet!Yuk turun!"


Aku membuka mataku dengan perasaan ragu akan jiwaku yang masih ada di dalam raga atau tidak.


"Kita sudah sampai?" Tanyaku dengan linglung.


"Ya iyalah,Astri gitu loh!" Kata Astri.


Aku keluar dari mobil dan melihat sekelilingku yang....harus ku katakan sangat asing bagiku,karena selama hampir tiga tahun hidup di kota besar ini,aku hampir tidak pernah keluar malam-malam kecuali ditemani Om jin dan merasakan suasana yang tidak bisa ku deskripsikan ini.



Suara pintu mobil yang ditutup dengan asal oleh Astri membuatku tersentak dan memegangi keningku yang rasanya tiba-tiba berputar sebentar lalu kembali normal lagi.


Ada apa ini?Tidak mungkinkan aku mabuk perjalanan?


Karena melihatku yang masih berdiri linglung di trotoar,Astri menggandengku masuk ke kafe yang suasana di dalamnya ternyata tidak seperti yang ada dalam pikiranku selama ini.


"Nal,udah deh jangan ngelamun terus gitu!" Astri menyadarkanku kembali ke kenyataan.


Kami duduk di bangku yang paling dekat dengan jendela agar bisa mengawasi mobil Astri yang terparkir liar di tepi jalan,takut akan ada orang yang mencuri ban atau bagian mobil yang lainnya,atau mungkin saja mobilnya akan diangkut juga sekalian dengan mesin derek.


Suasana hening di antara kami,begitu juga kafe ini yang sepi pelanggan,hanya ada lima orang di dalamnya,yaitu aku,Astri,dan tiga lainnya adalah pegawai kafe.


Sebelum Astri duduk,dia terlebih dahulu memesankan dua cokelat panas untuk kami berdua dan membayarnya di muka.


Ucapan Astri di telpon kembali ku ingat,dia ingin mengatakan sesuatu yang penting denganku,tapi kenapa dia diam saja sekarang?


Rasa penasaranku yang berlebihan menggerayapi pikiranku dan membuat aku memberanikan diri untuk mengajukan hal itu pada Astri.


"Astri,jadi apa yang ingin kamu beritahukan padaku?" Tanyaku dengan nada rendah yang penuh kehati-hatian.


Astri kemudian memandangku,bisa kulihat matanya yang berkaca-kaca saat terkena cahaya dari lampu kafe yang benderang.


"Sebenarnya hal apa yang ingin kamu katakan sampai kamu kelihatan... seperti ini?" Tanyaku lagi setelah melihat ekspresi berat di wajah Astri.


"Ini tentang pertemanan kita,dan juga Sera.Tadi bukankah dia meneleponmu?"


Aku mengangguk,"katakan,sebenarnya ada apa ini?"


"Aku-tapi...kamu harus berjanji supaya jangan menangis jika kukatakan ini..."


Aku terdiam,kemudian mengangguk setuju.Aku sudah cukup banyak menangis hari ini,jadi kurasa jika aku ingin menangis pun,air mata tidak akan keluar dari mataku.


Sebelum Astri berkata-kata dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.Kemudian dia menatapku dengan pandangan mata yang kelihatan teguh,tidak seperti raut sedihnya sebelumnya.


"Nala...aku-setelah lulus SMA nanti aku akan ikut keluar negeri dengan Andre..."


Mataku membelalak karena terkejut,tapi aku masih tetap diam di tempatku karena merasa hal ini malah akan membahagiakan Astri walaupun pada awalnya ini akan jadi berat untukku dan Sera juga yang sudah terlanjur dekat dengannya.


"Tapi perlu kamu tau,kepergianku bukan karena kamu ataupun Sera ataupun yang lainnya.Tapi ini karena keinginanku sendiri dan Andre juga senang atas keputusanku"


Aku menatapnya,aku tahu walaupun Astri pada dasarnya sudah punya keinginan untuk kembali bersatu dengan Andre,tapi pasti ada hal lain yang membuatnya mengambil keputusan secepat itu.


"Orang tua kamu setuju?" Tanyaku.


Astri memalingkan wajahnya dariku dan bisa kulihat wajah tegarnya kembali dirundung kesedihan.Astri tertawa sebentar sebelum kembali bergumam,"Mungkin mereka akan senang kalau aku pergi"


"Ast-" Sebelum aku dapat memanggilnya,Astri sudah kembali berbicara.


"Tentu saja mereka mengizinkan,kalau tidak aku tidak akan mendapat uang untuk biaya hidupku di sana nanti.Masa aku harus numpang hidup sama Andre?Jatohnya bukan bikin dia bahagia,malah bikin dia sengsara"


"Eumm..." Aku melipat bibirku kedalam dan mendengarkan ocehan melantur Astri yang lain sebelum dia kembali berubah serius dan bisa mengontrol emosinya yang dia luapkan lewat kata-kata yang keluar dari mulutnya.


"Sera-eumm...Nala kamu seharusnya tidak memutuskan panggilannya tadi..." Kata Astri.


"Kenapa memangnya?Dia hanya menanyakan kabarku seperti biasa" kataku.


Astri menggeleng,"Bukan hanya itu saja yang ingin dia katakan padamu,tapi ada hal lainnya.Sera...anak itu setelah lulus SD nanti akan dimasukkan ke dalam pesantren oleh kakeknya..."


Pegawai kafe yang tadinya akan menaruh minuman kami ke atas meja langsung mematung dan menatapku dengan pandangan terkejut.


"Nala,,,aku juga sama kagetnya denganmu,hanya saja Sera mengatakan kalau ini terjadi karenamu,maksudku-" Suara Astri tercekat,tapi dia kembali melanjutkan perkataannya.


"karena kakek Sera yang takut jika di masa depan Sera akan jadi sepertimu.Makannya dia berencana akan mengirimkan Sera ke pesantren supaya lebih bisa mendekatkan diri pada agama dan punya banyak teman...Sera bilang agar kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri dan bersedih..."


Aku langsung berdiri dan membuat kursi yang kududuki jatuh ke lantai dengan suara besi yang memekakan telinga sampai para pegawai kafe menatapnya.


"Nala,minum dulu cokelat panasnya supaya kamu bisa tenang" Kata Astri yang juga ikut berdiri denganku.


Aku menutup mata untuk menenangkan diri dan membenarkan kursiku kembali lalu duduk di atasnya dan mengambil cangkir yang berisi cokelat panas milikku.


Astri juga mengambil cangkir cokelat panas miliknya dan perlahan-lahan meminumnya.


"Apa kalian bersekongkol?" Tanyaku tiba-tiba.


Astri terbatuk dan menaruh cangkirnya di atas meja sebelum kemudian kembali menjelaskan padaku bahwa semua yang terjadi bukan karena aku penyebabnya dan ini juga bukan akal-akalan yang dibuatnya dengan sengaja bersama Sera.


"Lalu apa kalian sengaja ingin meninggalkanku di saat yang bersamaan?"


Astri menggeleng,"Bukan,Nala!Percayalah padaku dan Sera.Kami juga tidak menginginkan hal ini terjadi..."


Aku menatapnya dengan sinis saat dia mengatakan itu.


"Maksudku,kami juga sebenarnya tidak ingin meninggalkan kamu,tapi keadaan memaksa kami.Maafkan kami dan terutama...selalu ingatlah kata-kata kami jika kami sudah meninggalkanmu nanti..."


"Kalian-" Kata-kataku tercekat di tenggorokan,seperti ada sesuatu yang mengganjal tenggorokanku.


Kalian jahat sekali memberikanku balasan seperti itu!Jeritku dalam hati sebab tidak mampu mengatakannya langsung.


"Kamu mau memaafkan kami,kan Nala?" Tanya Astri dengan suaranya yang serak karena menahan pedih.


"Aku-" Kata-kata yang akan keluar dari mulutku kembali tercekat dan aku hanya bisa mengatakannya di dalam hatiku.


Seharusnya aku yang meminta maaf,bukan kalian!


"Nala?Bicaralah..." Kata Astri dengan matanya yang sudah penuh dengan air mata yang sebentar lagi akan mengalir keluar.


Tapi air mataku mengalir keluar mendahuluinya dan aku tidak mampu membalas perkataan Astri untuk memberinya kejelasan dari perasaan yang kurasakan.


"Nala..." Astri memanggil namaku dan mengenggam sebelah tanganku yang ada di atas meja dengan tujuan untuk menguatkanku.


"Kenapa...kenapa kalian membalas sikapku dengan cara seperti ini?!" Kataku di sela-sela tangisanku.


"Bukan maksud kami ingin membalas dendam atas sikapmu,tapi kami benar-benar tidak punya pilihan lain.Aku tau kamu paham soal hal itu,kamu hanya belum siap untuk menghadapinya langsung..."


Aku menangis semakin kencang tanpa peduli dengan para pegawai toko yang menontoni aku dan Astri seperti sedang menonton drama korea.


"Aku tidak bisa seperti ini,kenapa kalian ingin sekali pergi?" Kataku.


Aku sungguh merasa tidak ikhlas jika harus ditinggalkan oleh orang terdekatku lagi,apalagi Sera yang mendapatkan hukuman karena ku.Anak itu tidak bersalah sama-sekali,kenapa kakek mengirimnya ke tempat di mana dia bisa saja kembali dianggap aneh oleh orang lain yang tidak mengetahui kemampuannya?


Astri-aku bisa memahami keputusannya dan akan sangat setuju jika itu demi kebahagiannya,tapi kepergiannya akan terjadi secara bersamaan dengan kepergian Sera dan juga...Om jin!


Aku baru kembali mengingatnya,aku baru kembali mengingat permintaanku dulu pada Om jin.Bahwa jika aku sudah lulus nanti,maka Om jin pun akan bisa pergi dan terbebas dariku.


Tiga orang terdekatku akan pergi meninggalkanku disaat yang bersamaan?Bagaimana aku bisa menjalani hidupku setelah itu?


"Nala?Nala!Jangan melamun lagi!" Kata Astri.


Aku kembali diseret ke kenyataan yang pahit di depan mataku yang harus kujalani di masa depan nanti.


"Nala,kamu baik-baik saja?Kenapa malah diam saja?" Tanya Astri yang sudah berdiri dari tempat duduknya dan mendekatiku karena khawatir denganku yang terus melamun setelah mendengar penjelasannya.


Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk mengusir air mata sebelum kemudian berdiri dan berkata ingin segera pulang karena ini sudah terlalu larut malam dan para pegawai toko yang sudah beberes dan mengemasi barang milik mereka untuk pulang.


Saat di perjalanan pulang Astri berkendara dengan baik karena aku yang sedari tadi diam dan hanya menatap ke depan dengan pandangan yang sebenarnya kosong.


Entah apa yang kurasakan,entah apa yang kupikirkan,semuanya terjadi terlalu cepat dan secara bersamaan.Itu membuatku hampir lupa untuk bernafas dan dadaku terasa sesak sekali.


"Kita sudah sampai..." Kata Astri dengan suara yang serak dan pelan.


Aku melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu lalu keluar bersamaan dengan Astri yang mencegat jalanku dan sekali lagi meminta maaf padaku.


"Aku yang seharusnya meminta maaf!" kataku dan air mataku pun kembali mengalir keluar.


"Astri,semua ini terjadi karenaku!Aku yang seharusnya mendapatkan maaf darimu dan Sera!" Aku jatuh terduduk di atas aspal dan Astri berusaha untuk membuatku kembali berdiri.


"Tidak,sudah kubilang ,kan agar tidak menyalahkan dirimu sendiri!Dan,dan... aku dan Sera sudah memaafkanmu bahkan saat kamu belum melakukan kesalahan itu pada kami"


"Tapi aku sudah berkali-kali berbuat salah pada kalian..." Seduanku terdengar semakin keras bersamaan dengan luapan emosi yang kurasakan semakin kuat.


"Kami sudah memaafkanmu!"Seru Astri lalu memelukku dan dia ikut menangis bersamaku.


Kami berdua saling menumpahkan kesedihan untuk yang terakhir kalinya sebagai sahabat yang sebentar lagi akan berpisah jauh.


👻


...DO YOU ENJOY THIS CHAPTER?IF IT RIGHT,PLEASE GIVE ME A LIKE 👍AND COMENT💬!...


...❤SEE YOU IN NEXT CHAPT!...


...BYE-BYE!👋👋...