
๐งโโ๏ธ
Pasca menumpahkan segela emosi dan memeras pikiran untuk membuat rencana dan menyusun skenario untuk mengintrogasi kak Iza secara terselubung aku tertidur dan baru bangun saat malam hari tiba dan terjadi sebuah keributan di atas kelapaku,maksudku di atap.
Karena keributan itu semua penghuni kost keluar dari kamarnya dengan wajah bantal dan saling memojokkan agar ada salah satu orang yang mengecek atap dan mencaritahu penyebab keributan itu.
Bapak kost tidak akan peduli,oleh karena itulah laki-laki yang paling dewasa di kostan,yaitu kang Rudi beserta Rizal yang sok pahlawan naik ke atap dengan menggunakan tangga bambu dari gudang kost.
Takut hal buruk terjadi pada mereka berdua dan atap kost berpotensi rusak,aku bermaksud akan meminta Om jin juga untuk ikut mengeceknya.Tapi saat aku kembali ke kamar untuk menemuinya,Om jin sudah tidak ada di sana.
Apa dia sudah pergi dan mengecek atap atas keinginannya sendiri?Baguslah kalau begitu!
Namun kekhawatiran tiba-tiba melandaku saat kang Rudi dan Rizal turun bersama dengan dua ekor kucing hitam yang saling menggeram satu sama lain.Hanya kucing?Tapi kenapa tadi kurasa ribut sekali seperti ada benda yang sangat besar di atas sana?
Apa Om jin tahu hal yang sebenarnya?Kenapa dia belum juga kembali jika pembuat keributannya sudah diketahui?
Melihatku yang masih kelihatan ketakutan di luar kamarku membuat teh Santi bersimpati dan menyuruhku untuk kembali tidur karena besok aku harus kembali sekolah.
Aku merebut satu kucing hitam dari kang Rudi dan mengatakan akan mengeluarkan kucing itu dari kostan bersama Rizal yang kebingungan karena sikapku.
Tapi dia mengiyakan karena dia juga merasa lelah dan ingin segera kembali beristirahat dengan tenang.
Sebenarnya ini sudah jam dua dini hari,jadi aku berani keluar dari kost pada keadaan yang masih gelap gulita dengan pikiran kalau sebentar lagi matahari akan terbit.
Sambil menguap lebar Rizal memeluk kucing hitam di tangannya seperti bantal guling.Kami melepaskan kucing itu di dekat gerbang kostan dan mereka pun langsung berlari ke arah yang berlawanan.
Aku kembali ke kamar dengan tergesa-gesa dengan harapan Om jin sudah ada di atas lemari dan kembali berbaring di sana,tapi tidak.Saat aku sudah berada di dalam kamar dan bahkan memanggil-manggil namanya,Om jin belum juga menampakkan diri.Kemana perginya dia?
Apa jangan-jangan benar kalau sumber keributan itu bukan kedua kucing tadi dan Om jin sedang mengurusnya?Jadi,apa sumber keributan itu makhluk gaib atau sejenisnya?Lalu kenapa Om jin lama sekali perginya...
Aku menunggu Om jin sambil memeluk kedua lututku di atas kasur tanpa berselimut walaupun suhu udara sangat rendah di jam-jam seperti ini.Rasanya udara dingin ini tidak sebanding dengan suasana hatiku yang penuh dengan kekhawatiran.
Sampai matahari terbit pun Om jin belum juga pulang dan aku malas sekali untuk berangkat ke sekolah tanpa ada Om jin yang menemaniku.Aku menangis saat mandi karena merasa ditinggalkan begitu saja olehnya.
Kenapa Om jin sekarang jadi sering pergi meninggalkanku,sih?!Dulu dia tidak pernah seperti ini!
Dengan menyeret kakiku yang masih diperban dan tubuh yang lemas,aku berjalan ke sekolah dengan tanpa semangat sedikitpun.Kantong mataku terlihat jelas dan gelap,karena aku tidak bisa tidur sesudah keributan itu.
Astri dan teman sekelas lain yang melihat penampilanku yang tidak seperti biasanya mulai bertanya-tanya apa masalahku sampai terlihat seperti ini.Aku mengatakan kalau aku bergadang untuk menyelesaikan membaca novel.
Temanku yang lain percaya,mereka tahu bahwa membaca novel adalah hobi favoritku dan itu masuk akal bagi ku lakukan,tapi ada satu orang yang menatapku dengan tajam karena tahu aku berbohong.
Saat waktu istirahat kedua tiba dan kelas hampir kosong karena kebanyakan penghuninya pergi ke kantin untuk mengisi perut,Astri berbicara denganku di pojok kelas dekat jendela yang mengarah langsung ke tiang bendera.
"Nala,kamu kenapa?Semalam tidak tidur karena jin itu?" tanya Astri sambil berbisik.
"Bukan,tapi karena dia tidak ada di sampingku.Dia pergi!Kamu puas?Sampaikan berita ini juga pada Sera sana!" kataku dengan keras sampai-sampai teman sekelas yang lain melihat ke arahku dan Astri yang memisahkan diri berdua dari mereka.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Siti.
Astri menjawab dengan matanya yang sudah berkaca-kaca,"tidak papa,Nala cuma lagi pms aja"
Aku bungkam dan membiarkan mereka melahap kebohongan itu bulat-bulat.
"Dia benar-benar sudah pergi meninggalkanmu?Kamu tidak sedang mengbohongiku agar tidak ikut campur urusanmu lagi,kan?" tanya Astri dengan lebih pelan dan lembut padaku,mungkin dia takut aku akan membentaknya lagi.
"Aku tidak berbohong,dia pergi mendadak tanpa alasan yang jelas!" aku menutup wajahku dan memeluk kedua lututku untuk meredam tangisanku yang sudah keluar.
Astri menepuk-nepuk bahuku berusaha menenangkan dan teman yang lain hanya melihat kami serta sedikit berkomentar tentang siklus pms ku yang sampai membuatku sensitif dan se emosional ini.
Sepanjang waktu sekolah usai istirahat kedua aku berada di uks karena penyakit maag ku yang mendadak kambuh.Astri mengantarku pulang dengan taxi online dan menemaniku sampai sore di kostan.
Om jin belum juga pulang!
Bisa kulihat Astri pergi dengan berat hati meninggalkanku sendirian di saat aku sedang terpuruk.Tapi mau bagaimana lagi,jika dia tidak pulang sampai adzan maghrib berkumandang,pasti ayahnya akan sangat marah karena sekarang dia terpaksa tinggal bersama dengan ayahnya dan pacar baru ayahnya yang katanya seperti ibu tiri di sinetron-sinetron itu.
Sungguh malang,batinku entah kepada diriku sendiri atau pada Astri.
Malamnya ada sebuah panggilan suara tanpa nama ke hp ku,aku mengangkatnya tanpa rasa curiga dan langsung mendengar suara rendah Sera yang menanyakan kabarku.
"Bohong!Suara cempreng kakak jadi kecil kayak gini!Apa ini benar karena jin itu meninggalkan kakak tanpa kejelasan?" tanya Sera.
Aku bungkam.
"Kak...kakak!" Seru Sera dengan tak sabaran.
"Iya,iya!Sera sudah mendengar ceritanya dari kak Astri tadi.Maafkan Sera,tapi Sera begini juga dem-"
Aku mengakhiri panggilan dan mematikan hp ku,lalu menaruhnya di dalam laci.Setelahnya aku keluar kamar untuk membuat cokelat panas demi menenangkan diri agar bisa beripikir dan bertindak lebih jernih lagi.
Lagipula mana mungkin Om jin pergi meninggalkanku diam-diam,kan?Dia-maksudku kami baru saja berbaikan dan kembali bebas tanpa gangguan Sera dan Astri seperti dulu!
Om jin juga belum memenuhi perjanjiannya,karena dia hanya akan pergi jika aku sudah lulus nanti.Tapi...kenapa dia pergi tanpa meninggalkan pesan apapun padaku?Kenapa dia pergi di saat-saat seperti kejadian semalam-setelah dia berjanji akan membantuku untuk membongkar kejahatan kak Iza?
"Nala!Airnya sudah mendidih,tuh!" kata Rizal,tepat di samping telingaku.
Aku tersentak keluar dari lamunanku dan langsung mematikan kompor.
"Nala,kuperhatikan dari sekolah tadi kamu sudah lesu begini,lagi pms ya?" tanyanya.
"Tidak sopan bertanya begitu" kataku sambil menyeduh cokelat panasku.
Rizal bungkam,lalu menggaruk kepalanya dan meminta maaf padaku lalu pergi dari dapur.
Aku menghembuskan nafas dengan kasar dan duduk di atas meja makan di dapur sambil meniupi cokelat panasku.
Suasana hening karena baru ada beberapa penghuni kost yang kembali.Hanya ada suara dengingan dari kulkas dan tetesan air dari wastafel yang sudah bocor mengiringi lamunanku.
Tapi sekelebat bayangan hitam dan putih tiba-tiba seakan melintas tepat di depan wajahku,karena itu tanpa sengaja aku menjatuhkan cangkir yang berisi cokelat panas yang ku pegang ke lantai.
Teh Santi datang ke dapur karena mendengar suara pecahan cangkir keramik itu dan mendapatiku yang membatu di atas meja makan.
"Nala,kamu ngapain!?"
Aku langsung turun dari atas meja karena seruan teh Santi dan membersihkan lantai yang sudah kukotori dengan lap yang tersedia di dapur.
Ah,cangkir kesayanganku...
Aku kembali ke kamar dengan pikiran yang bertambah kacau karena cangkirku yang pecah dan kelebatan bayangan tadi.Aku merasa familiar dengan auranya.Apa yang tadi itu Om jin atau jin lain?
Aku meremas kepalaku dan menjambak rambutku sendiri saking stresnya,nafasku memburu karena rasa marah,kesal,takut,dan kecewa.Aku baru berhenti menyiksa diriku sendiri saat kepalaku terantuk jendela yang terbuka.
Terbuka?Aku tidak pernah membuka jendelanya dari tadi pagi!Apa jangan-jangan Om jin yang melakukannya?!
Aku langsung melompat keluar dari kamarku lewat jendela yang sudah terbuka itu.Dinginnya rumput langsung terasa di kakiku yang telanjang.
Ku tatap bunga anggrek bulan di pohon sirsak sana,bunga-bunganya sudah tidak ada yang tersisa.Siapa yang melakukannya kalau bukan aku yang selalu gatal untuk mengambil bunga anggrek bulan yang sudah mekar itu?
Aku berjalan mendekati pohon sirsak itu dan menyentuh batang pohonnya,mataku langsung terbuka lebar saat melihat ada seseorang di balik pohon sirsak ini.
Orang itu bersandar pada batang pohon sambil memainkan bunga-bunga anggrek di tangannya,dia membelakangiku dan aku tidak bisa melihat wajahnya dari posisiku berdiri.
Tapi aku merasa sangat kenal dengan postur tubuh dan pakaian yang ia kenakan,dia seperti Om jin...
Orang yang ku identifikasi sebagai Om jin itu menggenggam bunga anggrek di tangannya lalu meremasnya sampai bunga itu benar-benar hancur saat ia membuka genggaman tangannya.
"Hubungan kita akan jadi seperti ini sebentar lagi..." ucapnya.
Aku tersentak dan melangkah mundur kebelakang ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya.Aku merasa kata-kata yang ia ucapkan sangatlah familiar bagiku.Perkataan itu seperti kata-kata yang pernah kuucapkan sebelumnya sesaat setelah mendengarkan kakek lewat telepon.
Lalu kenapa dadaku tiba-tiba terasa sesak dan hatiku terasa perih?Apa yang terjadi padaku?
๐ป
...Do you enjoy this chapter?If it's right,let's give me a like ๐and coment๐ฌ!...
...Bye-bye๐๐!...