
...🧞♂️...
Semuanya berawal dari perayaan ulang tahunku yang dirayakan di rumah kecil Nenek dan Kakek.
Aku cemberut,kenapa orang-orang yang kukenal tidak bisa berkumpul dan merayakan ulang tahunku yang ke-16.
Menghela nafas,aku menyesal kenapa dulu aku brojol disaat orang-orang sedang merayakan hari kemerdekaan!
menyebalkan!
waktu kecil aku mengira bisa lahir di hari kemerdekaan negara sendiri itu merupakan sebuah kebanggaan dan keberuntungan,tapi semakin dewasa aku sadar bahwa lahir di hari seperti itu akan membuat orang-orang sibuk bersenang-senang sendiri dan lupa akan ulang tahunku yang istimewa ini.
Seperti sekarang,lagi-lagi yang merayakan ulang tahunku hanya Mamy-Papah,Nenek-Kakek,dan Paman.
Dengan satu kue ulang tahun yang mungil,cantik,juga terlihat sederhana dan berbagai hidangan lainnya yang berjejer rapi di atas meja makan.
"Aku mau opornya My,maaf tolong ambilkan"pintaku pada Mamy karena letak mangkuk opor jauh dari jangkauan tanganku.
Belum juga Mamy mengambilkan opor untukku,Paman sudah menuangkan sesuatu keatas piringku.
"Makan yang banyak.Manyun terus jadi kurus tuh!"Paman berbicara sambil menuangkan-yang lebih tepatnya disebut menumpahkan banyak sayur mentimun dengan sengaja ke piringku.
Aku memelototinya dan langsung meraih piring mie tumis lalu menumpahkan semua mie itu ke piring Paman.
Aku membalas perbuatannya karena aku paling tidak suka diganggu saat sedang makan karena itu akan mengurangi nafsu makanku.
"Rasakan!"Aku pun kabur dari sana.
"Kenalaaaaaa!"Teriak Paman.
"Sudahlah,lagian kamu yang mulai duluan"Ucap Mamy.
"Kamu malah membuat Nala tambah manyun"Tambah Nenek.
"...."Paman tidak bisa membela diri dan aku cengengesan di dapur mendengar Paman dimarahi oleh Mamy dan Nenek.Kedua wanita itu memang pahlawanku!
Rasa kesalku sebenarnya jadi sedikit berkurang karena tingkah Paman,tapi aku sama-sekali tidak kasihan kalau dia dimarahi,malahan aku senang.
Aku kemudian meminum air teh hangat tanpa gula buatan nenek karena merasa tenggorokanku kering sehabis puas menertawakan Paman.
Sambil menenggak air,aku melihat-lihat isi dapur Nenekku yang perabotnya kebanyakan masih menggunakan perabotan tradisional yang terbuat dari bahan-bahan yang diambil langsung dari hutan.
Berada di rumah ini membuat aku selalu bernostalgia tentang masa kecilku yang sebagian besar kuhabiskan di rumah Nenek-Kakek.
Dulu,Mamy bekerja jadi Tkw di luar negeri selama beberapa tahun yang membuatku harus dititipkan di rumah Nenek-Kakek.Saat keadaan ekonomi kami benar-benar buruk dan menyebabkan Mamy harus terpaksa jadi Tkw.
Selama enam tahun aku tidak merasakan kasih sayang dari kedua orangtua ku karena Bapakku saat itu memilih cerai dengan Mamy dan menelantarkanku.
Jadilah aku yang penyakitan dan manja itu tinggal bersama Nenek-Kakek dan Paman yang menyebalkan.
Omong-omong soal Paman,dia masih tinggal di rumah ini sampai sekarang padahal usianya sudah tiga puluh tahunan dan masih belum menikah juga padahal pacarnya banyak.
Paman masih begitu lengket pada orangtuanya.Tapi soal Paman yang masih membujang itu karena dia belum bisa melupakan mantan pacar yang dulu meninggalkannya karena perbedaan status dan kedudukan sosial.Mengenaskan tapi klise memang kisah cintanya itu,kasihan.
Kadang-kadang aku kasihan pada Paman karena hal itu.Dan ajaibnya Pamanku ini,dia berhasil menutupinya dariku selama 14 tahun!mungkin Pamanku tahu bahwa kisah seperti itu masih belum pantas diceritakan padaku.Dia menceritakan kisah itu padaku saat aku berumur 15 tahun!
Dia tidak tahu saja kalau sebenarnya pada usia itu aku sudah membaca novel-novel dewasa.
Jujur saja,dulu aku menyesal sering mengatai Paman jomblo.Padahal sebenarnya Pamanku sering bergonta-ganti pacar demi melampiaskan perasaannya tersebut.
"Nala,tolong ambilkan teko dan beberapa gelas kesini!Paman dan Bibimu datang!"
Aku tersentak kaget oleh teriakan Mamy yang berhasil membuyarkan nostalgia ku itu.
Aku segera menuruti perintahnya dan menyalami Paman dan Bibi yang datang membawa anak mereka yang baru berusia dua tahun dan sebuah kado berukuran sedang.
"Nah ini kado untuk Nala"Bibi memberikanku kado itu.
"Makasih..."Balasku sambil tersenyum senang karena jarang sekali aku diberi kado seperti ini setiap tahunnya.
Biasanya keluargaku memberikanku uang sebagai hadiah ulang tahun.Bahkan orangtuaku pun tidak memberiku kado.Mereka bilang jangan meminta dibelikan kue ulangtahun jika mau diberi kado.
Karena aku tidak terlalu suka berbasa-basi,maka aku pun kembali ke dapur dengan alasan perlupergi ke kamar mandi yang berada dekat dapur.
Tiba-tiba aku merasa lelah yang tak beralasan jika sudah menyambut tamu.Rasanya bersikap ramah seperti itu membuat mentalku lelah berakting menjadi tuan rumah yang baik.Padahal aku sama sekali tidak suka berada di tengah banyak orang,rasanya menyesakkan.
Mataku berbinar melihat pintu belakang rumah yang terbuka.Biasanya pintu belakang selalu di kunci menggunakan gembok oleh kakek dan jika ingin pergi ke halaman belakang maka penghuni rumah ini harus memutar jalan lewat depan.Dengan binar jenaka di mataku dan tanpa alasan yang jelas aku tiba-tiba senang dan segera keluar dari rumah lewat pintu itu.
Aku merasa bebas dan bahagia,padahal bukan bebas seperti inilah yang selalu kudambakam sejak dulu.
Sambil bersenandung ria dan tidak mengacuhkan suara kambing Kakekku yang kelihatannya risih karena aku bersenandung seperti ini atau mungkin mereka berharap aku memberi mereka rumput atau juga mereka ingin agar aku membebaskan mereka dari kandang sempit itu.
Kambing itu mungkin iri padaku atau semua kambing merasa iri pada manusia yang bisa hidup bebas?Tanpa perlu waswas pada saat-saat tertentu seperti idul adha?
Karena tidak tahu harus melakukan apa di belakang rumah ini,aku mengambil cangkul Kakek yang tergeletak kotor di atas tanah,hampir lapuk dan berkarat.
"Eh,apaan nih?"Aku melihat sesuatu yang bersinar-sinar menyilaukan terkena terpaan sinar matahari di tanah.Dengan cangkul itu aku menggali benda menyilaukan yang membuatku penasaran.
"Nala,ngapain kamu nyangkul di situ?Jangan main tanah,baju kamu itukan baru beli kemarin.Nanti dikasih tau Mamy kamu pasti marah!"
Aku kaget dengan teguran Pamanku yang menyebalkan itu.Jadi,aku mengabaikan perkataannya dan terus menggali setelah tahu kalau yang menegurku itu hanya Paman.
"Jangan main cangkul,jangan main tanah paman aduin nih sama Mamy kamu!"Pamanku berteriak.
"oh" responku
"Kak...si Nala nih malah mainin cangkul.Baju barunya juga jadi kotor.Padahal mah udah aku nasehatin!" Pamanku berteriak mengadukanku pada Mamy.
"Dasar pengadu!"
Aku berjongkok untuk melihat benda yang telah berhasil kugali dan mengambilnya.
Tentu aku manyun dengan hasil penemuanku itu.Ku kira aku akan mendapatkan permata atau benda-benda lainnya yang berharga.Fosil manusia purba pun tidak papa karena mungkin namaku bisa terkenal nantinya.Tapi sampah ini...ah sudahlah,mungkin nasibku sedang tidak mujur.
Harapanku memang selalu terlalu tinggi,tapi jika diperhatikan lebih jeli lagi botol parfum ini bagus juga karena tebuat dari kaca bening yang tebal dan ada sedikit ukiran-ukirannya.
Botol Parfum ini dulu kelihatannya dipakai untuk parfum yang mahal.Aku bisa mengisi ulangnya dengan parfumku nanti di kost.
Botol parfum ini hanya sedikit kotor oleh tanah pada bagian luarnya.Aku bisa dengan mudah membersihkannya dengan air dan sedikit disikat.
"Ih Nala kenapa kamu pulung sih beling itu,cepat buang!" Pamanku kembali mengacaukan suasana hatiku.Kenapa dia masih ada di dapur sih,ku kira dia sudah kembali makan.
Pamanku memang orang paling menyebalkan sedunia,baru aku berbalik untuk kembali masuk ke dalam rumah,dia sudah berceloteh sambil berkacak pinggang di ambang pintu.
"Hiling-hiling" Kataku dalam bahasa sunda untuk menyuruhku menyingkir.
Paman sama sekali tidak bergerak dari sana,dengan sengaja dia menghalangi jalanku ya!
"Go out!your body like a rhinocores" Kataku lagi,sengaja mengejeknya dalam bahasa Inggris.
"Hah,kamu ngomong apa sih?" Tanya paman bingung.Dia memang sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris.
"Pokoknya artinya ngak jauh dari badan Paman ini bagus"
"Wahahahahah....Badanku memang bagus!"
Akupun baru bisa masuk ke dalam dan mencuci botol parfum itu setelah Paman tertawa bangga dengan kata-kata bohong yang aku ucapkan padanya,tidak papalah kan,yang penting Paman senang.
"Nala,itu apa?" Tanya Mamy yang melihatku sedang mengelap botol parfum itu.
"Botol parfum My..." Jawabku.
"Loh botol parfum buat apa?Kamu kan paling anti sama bau parfum-parfuman gitu..."
Aku menghela nafas sebab terus ditanyai seperti itu,bukannya aku anti parfum,hanya saja sebagian besar aroma parfum yang pernah aku cium itu tidak cocok dengan hidungku yang sensitif.
"Nala punya parfum yang bagus,baru beli minggu kemarin.Baunya juga Nala suka..."
Mamy menganguk-angguk dan tidak bertanya lebih jauh padaku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali ke Bandung memang sangat aku nanti- nantikan,tapi jika aku harus naik kendaraan umum untuk sampai di sana...aku tidak mau!
Hari ini ada saja-saja,mobil orangtuaku tiba-tiba mesinnya mati dan harus diservis.Aku tidak mungkinkan ke Bandung harus naik bus atau kendaraan umum lainnya yang selalu penuh sesak itu.
Sudah beberapa kali keluargaku membujukku dengan berbagai tawaran seperti ini:
"Nala,nanti Mamy temenin aja ya..."
Atau...
"Nanti uang jajannya ditambah deh!"
Tapi aku tetap keukeh tidak mau.Aku tidak mau naik kendaraan umum,sejak kecil aku pantang untuk melakukan itu karena waktu Tk dulu aku masih ingat pernah naik angkot dan malah muntah karena baunya yang tidak sedap dan pengap.
Alhasil,sampai sekarang mau angkot ataupun kendaraan umum lainnya pun aku tidak mau menaikinya jika hanya membuatku muntah dan mempermalukan diriku sendiri.
Paling-paling aku akan naik taxi atau ojek jika keadaan mendesak.
"Terus mau kamu apa?Besok kamu sudah harus sekolah lagi kan?Kalau tidak berangkat sekarang,mau kamu subuh-subuh sudah bangun?" Mamy terus mendesakku.
"Sudah-sudah.Cep,antarkan Nala naik motor ke Bandung.Kasihan dia kalau harus berangkat pagi sekali" Kata Nenek menyuruh Paman mengantarku.
Nenek memang yang paling pengertian akan keadaanku.Tapi sialnya Pamanku yang menyebalkan itu kini naik level menjadi Paman yang super duper menyebalkan.
"Capek ah,Bawa motor ke Bandung.Yang benar saja!" Tolak Paman.
Sebenarnya aku setuju dengan ucapan Paman bahwa pasti mengendarai motor dari Purwakarta ke Bandung itu akan sangat melelahkan.
Tapi mau bagaimana lagi,besok aku sudah harus masuk sekolah dan aku tidak bisa naik kendaraan umum.Jadi,akupun memohon dengan penuh drama pada Paman agar mau mengantarku.
"Pamanku sayang yang tertampan,antarkan aku ya....please".
"Capek ah..." Elaknya banyak alasan.
"Nanti aku carikan cewek cantik asli Bandung deh,please anter ya Paman.."Aku tetap memohon padanya dengan iming-iming yang tidak mungkin kulakukan.
"Kamu bohong Nal,Sampai sekarang kamu tidak pernah mencarikannya untuk paman kan?Waktu bulan lalu juga kamu menjanjikan hal yang sama"
Haha,aku tidak menyangka Paman masih ingat kebohonganku bulan lalu.Akan tetapi aku masih belum ingin menyerah.
"Ck,Paman tidak mengerti.Itu semua butuh proses,aku sedang mencarikan yang paling cantik khusus untuk Pamanku yang tersayang.I'm not lie,uncle".
"lai-lai apanya....sudah jelas kamu itu bohong!"
Kukira negosiasi ini tidak akan berlangsung lama,tapi ternyata karena kepala Pamanku yang semakin hari semakin keras,negosiasi ini jadi berlangsung sangat lama sampai hari menjadi gelap.
Halo!ini merupakan karya pertama saya di mangatoon.
Semoga kalian menyukai karya saya ini dan mohon maaf apabila masih terdapat kesalahan kata dan typo.
DONT FORGET TO GIVE ME A ❤,COMMENT💬,AND SUPPORTS!💪
👋👋