Om Jin!

Om Jin!
om jin! 2(versi revisi)



Dia menjelekkanku!Ini tidak bisa dibiarkan,dasar jin tidak tahu diri,bukannya bersyukur telah ku bebaskan,dia malah terus mengeluh tentangku.Dan seharusnya dia memanggilku tuan,bukan manusia!bukankah semua jin yang dibebaskan selalu memanggil orang dibebaskannya tuan?


"Om jin,memangnya kenapa sih Om jin risih sekali dengan manusia sepertiku ini?Bukannya berterimakasih,malah ngejelekkin di belakang"


"Hahaha"Tawa Om jin menggema dalam kepalaku.


"Aku tidak seperti manusia yang suka menjelekkan ataupun mencelakai bangsanya sendiri di belakang,bangsa jin tidaklah seperti itu..."


"Ya terus kenapa kayaknya Om jin ngak bersyukur udah aku bebasin?!"Balasku kesal dengan perkataanya yang berhasil menusukku dan mungkin manusia lainnya yang juga bisa mendegarnya.


"Bukannya tidak bersyukur,tapi aku khawatir dengan emosi labil yang dimiliki jenis manusia sepertimu ini.Masamu sekarang akan sangat mudah menjerumuskanmu ke jalan yang gelap"Ucap Om jin.


Masa remaja memang benar seperti itu,tapi kurasa kata-kata Om jin itu terlalu berlebihan dan juga tidak sepenuhnya benar karena pada saat masa remaja juga manusia mendapatkan banyak pelajaran berharga untuk masa depannya nanti.Termasuk pelajaran untuk menghadapi seseorang yang menyebalkan sepertinya.


Jika aku tidak setuju dengan argumen seseorang,maka aku akan mulai berdebat dengannya."Kamu ini bangsa jin,mana tahu menahu tentang manusia.Tidak semua manusia yang masih dalam masa remaja itu mudah masuk ke jalan yang gelap.Lagipula manusia yang terjerumus itu kan karena ulah makhluk gaib sejenismu itu!"Nah,makanlah bulat-bulat sanggahanku ini!


"Hati-hati dengan ucapanmu itu,manusia.Ucapan yang dikatakan manusia itu lebih mudah dikabulkan tuhan"Balasnya.


Begini nih kalau yang berdebat argumentasinya kalah denganku,pasti ujung-ujungnya bawa-bawa agama.Membosankan sekali berdebat dengan orang-maksudku jin seperti ini.


"Terserah Om jin sajalah,lain kali pokoknya jangan menghilang tanpa memberitahukannya padaku dulu"Ucapku pada akhirnya.


Aku menyerah padanya,lagi pula tujuan awalku kan hanya untuk memastikan keberadaanya.Tapi,karena Om jin juga emosiku ini seperti intrusi magma,magma yang tidak bisa keluar sampai ke permukaan bumi,membeku dan mengendap diam pada sela-sela litosfer.


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


pernah mengalami tidur ketindihan?Kalau pernah,berarti kamu sudah tahu bagaimana rasanya.Aku juga,untuk yang kedua kalinya aku mengalaminya.


Aku terbangun dengan kepala pusing,dada sesak,berkeringat dingin,dan berlinangan air mata.Panik kurasakan,tapi pada siapa aku harus berlindung dan meminta pertolongan.Ya,aku memang sudah bangun tapi,perasaan itu...sensasi tidur ketindihan itu membuatku takut setengah mampus!


Hari masih gelap,masa aku harus ke rumah Ibu kost sekarang,pergi ke kamar sebelah?Tidak mungkin karena semua kamar di sebelahku isinya laki-laki semua.Alhasil,pilihan terakhirku adalah Om jin.Walaupun aku curiga dialah yang melakukannya padaku karena ingin membalas dendam atas kekesalannya padaku kemarin.


"Om jin!"Aku berteriak memanggilnya.


"Om jin!"Suaraku serak dan akupun berhenti memanggilnya karena takut merusak pita suaraku sendiri kalau memaksakan diri berteriak lagi.


Om jin akhirnya muncul,aku bersyukur sekali.Aku yakin jika sekarang Om jin belum muncul juga setelah ku panggil dua kali dengan suara serak,aku aku pasti sudah memecahkan jendela kamarku sendiri saking kalutnya karena terlalu takut dengan suasana ini.


"Kenapa?Kau mimpi buruk?Syukurlah"Ucapnya setelah melihat penampilan dan wajahku yang berantakan.


Sialan,bukannya cemas melihat penampilanku yang seperti orang dikejar kuyang,Om jin malah mengolok-olokku dan bahkan bersyukur secara terang-terangngan!Karena kesal tak kepalang dengan responnya,bantalku pun kulayangkan pada wajah rupawannya.


Bantal itu ditangkapnya,dan ajaibnya bantal itu malah tiba-tiba berbalik menghantam wajahku.Senjata makan tuan!


BUGGH!


Hidungku!Aku takut hidungku yang minimalis kenapa napa.Om jin jahat sekali membuatku terkena senjata sendiri!


"Om jin tega banget!padahal aku lagi ketakutan,eh Om jin malah ngeselin..."


"Kau tahu manusia,bukan hanya bangsamu saja yang butuh istirahat.Kau mengganggu ku juga tahu!"Suara Om jin bernada kesal dan bebalnya aku malah terbuai oleh suaranya itu.Kapan aku akan terbiasa dengan suaranya yang indah?


"Sudahlah,lebih baik kau tidur lagi saja.Bukankah manusia harus sekolah?Dan jangan ganggu aku lagi,ingat itu."Setelah mengatakan itu Om jin mulai memudar dan kembali masuk kedalam botol parfum,menyisakan kabut tipis di luarnya.Aku jadi panik karena Om jin malah mau meninggalkanku.


"Tunggu,Om jin!Bisakah kamu tidur dengan tetap menampakkan diri dihadapanku.Jujur saja aku masih takut gara-gara tadi ngalamin tidur ketindihan.Please uncle gean!"Aku memohon padanya.


"Manusia,aku juga butuh privasi"Dia menolak dan aku memaksa atau eum..bisa disebut memohon dan memelas.


"Tolonglah Om jin,temenin aku tidur sampai shubuh.Nanti Om jin boleh ngilang lagi setelah itu.Please,please,please!"Wajahku sudah sedemikian rupa memelasnya dan Om jin masih belum bereaksi atas permintaanku.


Aku berkedip sekali dan Om jin sudah berbaring di atas lemari,membelakangiku.Dia memilih menghadap dinding daripada menghadapku ternyata...terserah dia sajalah,yang penting dia mau menurutiku untuk sementara waktu ini.


Aku sedang mengikat tali sepatuku sekarang.Aku melihat tadi Rizal sudah berangkat duluan.Aku mengerti,memang dari awal kenal dulupun kami berdua seperti selalu menjaga jarak dengan sengaja.Entah siapa yang memulainya duluan diantara kami,sampai sekarang hubungan kami tetap seperti ini...tidak ada perkembangan sedikitpun.


Hidup kami tidak seperti drama dimana teman sekostan bisa saling jatuh cinta karena hidup bersama.Ini adalah kehidupan nyata.Tapi,semenjak Om jin ada aku merasa hidupku telah disusupi fantasi yang tidak pernah ku bayangkan sekalipun.


Tadi pagi sekali Om jin sudah menghilang dari atas lemari dan sepertinya dia sudah masuk ke dalam botol parfumnya lagi jika dilihat dari sisa kabutnya yang masih melayang layang meninggalkan jejak menuju ke botol parfum.Aku yakin sampai di sekolah nanti pasti teman-teman sekelasku akan heboh karena aku tidak masuk sekolah selama dua hari.Sungguh bukan sebuah prestasi yang tidak perlu semua orang tahu.


Apakah di sekolah lain juga seperti itu?Pertanyaan itu selalu muncul di otakku ketika aku muak dengan suasana di sekolahku.Bahkan saat kelas X dulu aku hampir akan pindah sekolah karena sebegitu muaknya.Tapi lama-kelamaan aku jadi terbiasa dan meniru sifat antipati mereka...


"Nala,tungguin!"


Aku berbalik,di belakang sana Astri berlari dan aku menunggunya tepat di samping angkot sambil menjepit hidung.


Banyak anak-anak sekolahan yang memilih angkot untuk pergi-pulang sekolah karena hemat biaya dan lebih mudah didapatkan tidak seperti kendaraan umum lainnya.Mereka memandangku dengan pandangan mencibir,bahkan ada juga yang sengaja mencibirku dengan lantang,tentu saja dia berani melakukannya karena dia ditemani gengnya.


Aku heran kenapa mereka lebih memperhatikanku daripada pengemis yang berada tidak jauh di sampingku.Dialah yang seharusnya lebih mereka perhatikan daripada aku yang hanya berdiri diam dan yang lebih mengherankan lagi,kok bisa ada anak sekolahan yang punya geng seperti itu naik angkot,biasanya kan orang-orang seperti mereka itu naik mobil pribadi atau membawa kendaraan sendiri-sendiri.


Astri sudah ada di sampingku dan aku langsung berjalan beriringan dengannya.Sudah cukup aku jadi pusat perhatian mereka itu.Soal Astri,dia teman sekelasku dan suara cemprengnya juara satu di kelas,mengalahkanku bahkan...Dia juga tidak suka naik kendaraan umum sepertiku,dia biasanya diantar-jemput keluarganya jika ke sekolah atau kadang-kadang dia membawa motor sendiri ke sekolah.


Alasan dia berjalan kaki sekarang dan beberapa hari yang lalu,itu karena dia sedang dalam masa hukuman dari orangtuanya.


Aku dan dia sangat berbeda,sebenarnya Astri bukannya tidak suka naik kendaraan umum,tapi dia tidak biasa karena dia biasanya selalu dimanja dan alasanku tidak suka naik kendaraan umum itu sangat memalukan,jadi aku tidak ingin membahasnya lagi.


"Nal,kamu yang bener ngak masuk sekolah dua hari.Jangan bilang kalo kamu ngambek sama kita karena kita ngak ikut ngerayain ulang tahun kamu"Astri berkata nyaring sekali,satpam penjaga gerbang sekolah pun,mang Harun namanya,sampai kaget.Aku kasihan padanya,takut tiba-tiba dia jantungan padahal tidak punya riwayat sakit jantung sebelumnya.


Aku menjawab perkataan Astri tak kalah nyaringnya,padahal aku tidak menginginkan hal itu.Suaraku benar-benar tidak sinkron dengan raut wajahku yang malas untuk banyak berekspresi jika di sekolah.


"Aku ngak ngambek karena kalian kok,aku cuma liburan di kampung halaman lebih lama aja"Jawabku bohong.


"Gitu?Kirain teh kamu ngambek kan kamu mah gede ambek orangnya"


Benar,sebenarnya aku kesal dengan teman-temanku dan juga benar,aku orangnya gede ambek seperti yang sering teman temanku bilang.


Mau bagaimana lagi,sifatku yang satu itu sudah mengakar sejak aku kecil.Jika akar itu dicabut,maka pohon pun akan mati bersama akarnya.Jadi,aku tidak ingin karena satu sifat burukku itu,sifat-sifatku yang lain harus ikut jadi korbannya jika kupaksakan untuk menghilangkannya.


"Astri,kamu juga tau kan aku mana mungkin ngak sekolah kalo cuma karena itu.Kamu kira aku bocah"Kataku.


"Iya,kamu bocah kan kamu baru 16 tahun,sedangkan aku dan kebanyakan teman di kelas sudah 17 tahun dari lama,ada juga yang sudah 18 tahun malah..."Balas Astri berhasil menohokku.


Soal usia,aku memang terbilang bungsu di kelasku,tapi jika menyangkut soal sikap dewasa di kelas,akulah yang selalu seperti itu.Sedangkan apa yang dilakukan oleh teman-teman sekelasku yang lain selalu kekanakkan.


Sebagai contohnya,masalah dengan kelas sebelah selalu mereka besar-besarkan dan kelas sebelah pun tak ada bedanya,mereka juga suka membesar-besarkan dan bahkan membeberkan hal itu pada siswa lain,siswa dari sekolah lain bahkan.Guru sampai staf TU pun jadi tahu permusuhan antara kelasku dan kelas sebelah.


Tapi tentu saja itu tidak berdampak padaku.secara personal hubunganku dan siswa-siswi dari kelas sebelah baik-baik saja dan tidak pernah ada masalah.Tapi,apalah dayaku,dari kelas X semester 1 sampai kelas XII semester 1 ini pun kelas kami masih belum juga berdamai.


Baru saja aku menaiki tangga untuk sampai ke kelasku,Erna-siswi kelas sebelah yang bermusuhan dengan kelasku itu menyapaku dan mengajakku untuk berbicara sebentar.


Aku dan Erna satu ekstrakurikuler,jadi yang kami berdua bicarakan pun otomatis selalu tentang kegiatan-kegiatan seputar ekstrakulikuler.


"Anak-anak nanyain kamu tuh pas ekskul.Katanya sepi ngak ada yang suka marah-marah.Pembina juga nanyain kamu.Hp kamu katanya dua hari ini ngak aktif..."Katanya memberitahuku.


"Bukannya mereka malahan bahagia ya kalau aku ngak ada.Ngak ada tuh yang bakal ngatur-ngatur mereka lagi.Lagian aku kan cuma admin,jadi ada-ngak ada aku ngak bakal terlalu ngaruh kan?"Balasku.


Erna tersenyum canggung mendengar responku yang sinis.Dia memang se-cool itu untuk urusan seperti ini dan dia juga mungkin sudah terbiasa dengan omongan pedasku.


"Ah kamu mah kayak ngak tau aja gimana kacaunya kegiatan ekskul kalo ngak ada kamu yang atur.Ya sudahlah,pokoknya aku cuma mau nyampein pesan dari Pak Denis saja.Katanya baca wa dari Bapak,Bapak mau mendiskusikan soal ekskul sama kamu"Lalu Erna pun pergi setelah mengatakan itu.


Hpku memang sudah dua hari-eh dan hari ini juga belum ku cek.Padahal waktu itu Om jin bilang kalau hpku terus berkedip-kedip.


Entah berapa notifikasi yang harus kulihat nantinya.Kondisi di kelas,seperti yang kubayangkan.Mereka bilang,mereka ikut berdukacita soal kematian Pamanku.Ck,Rizal ternyata memang sudah memberitahu mereka.Tapi tadi Astri aneh,kenapa tadi dia tidak membahas soal Pamanku,apa dia tidak tahu?


Tapi ya sudahlah,tidak apa-apa.Lagipula biang kehebohan di kelas ku hari ini tidak masuk sekolah.Jadi,aku tidak akan terlalu kewalahan dengan simpati teman-teman sekelasku yang suka berlebihan.


Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang menelusup kedalam hatiku saat kematian Paman kembali dibicarakan,aku kembali menangis...Huh,lebaynya aku.Anak-anak cewek memelukku saat melihatku menangis,aku jadi terharu sekaligus malu.Tapi,terimakasih teman-teman!


Astri berada di pojokkan kelas saat aku di hibur oleh teman teman dan berbicara lewat telpon entah kepada siapa dan tentang apa tapi rautnya terlihat sedikit sedih.Apa itu mantan pacarnya?Tapi playgirl seperti Astri tidak akan bersedih hanya karena satu cowok kan?


👻


**chapter ini sudah saya revisi,semoga para pembaca bisa semakin nyaman membaca cerita ini.


*okey,see you in next chapter and don't forget to like this chapter on like button below!


...by-by***!...