NOUS

NOUS
Epilog



...Ga tau mau opening gimana!! intinya...


...Happy Reading...


Semenjak pagi, hujan turun membasahi tanah bumi. Hujan itu tampak tenang dan anteng. Feli masih belum menyangka, bahwa sekarang dia telah kehilangan putri satu-satunya. Semuanya kini berduka, bumi dan langit menjadi saksi akan kematian Yocia Ganesha Mahendra Putri.


Yoga, lelaki tampan yang semakin lama rambut nya beruban. Lelaki itu tetap tegar, meski hatinya hancur kala dia harus kehilangan putri kecilnya. Dia harus kuat menghadapi kenyataan, dan harus bisa merangkul keluarga kecilnya untuk kembali bangkit tanpa adanya sosok Cia.


Mereka semua masih menunggu hujan reda untuk membumikan almarhum Cia. Kini kediaman Yoga terlihat tampak ramai.


Yovie, Abang pertama dari Yocia. Lelaki itu duduk di sofa berdekatan dengan ayah dan bundanya. Mereka semua terdiam, rasanya susah melepas begitu saja.


"Sudah, ikhlaskan saja." Pak Ifan membuka suara kala mereka ngalamun dengan pikiran yang kosong.


Yoga tersenyum menatap sang ayah, dia tak setegar ini sebenarnya. Dia harus bisa merangkul keluarganya agar tidak berlarut-larut akan kematian sang putri.


"Cucu putri kakek yang satu-satunya. Dia wanita kuat, dia wanita hebat sama seperti bunda dan kedua neneknya. Sekarang dia telah usai, ikhlaskan dia, biarkan dia istirahat dengan tenang." Ifan kembali membuka suara.


Memang, Tuan Ganesha dan Nyonya Zahra ada disana. Mereka masih diam membisu akan kehilangan cucu perempuannya, cucu yang dia rawat sejak kecil, cucu yang dulu merengek tidak bisa tidur dan minta di elus rambutnya.


Feli, bunda dari Yocia. Perempuan yang melahirkan nya, perempuan yang mendidiknya, perempuan yang merawat nya dari kecil, namun hanya melihat sedikit pertumbuhan dari sang putri. Rasanya ia menyesal, ketika dulu sering meninggalkan anak-anak nya dan ikut dinas sang suami, dia merasa gagal menjadi seorang bunda yang di idam-idamkan seorang anak. Kini hanya penyesalan yang menghantui dirinya.


Han, Teman dekat seorang Yocia. Han duduk termenung memegang satu buku Yasin di tangannya dan melihat jenazah Cia yang sudah semakin memucat. Han mengusap pelan kepala Cia. Temannya kini meninggalkan nya tanpa mengajaknya.


"Aku bahkan belum nikah, kamu udah pergi duluan. Bahagia selalu Cia, tugas kamu di dunia ini memang sudah selesai." Han mengusap buliran air mata yang jatuh, Dion menepuk bahu Han dan mengusapnya pelan.


Reygan, dia hanya termenung melihat jenazah wanita yang mengikat hati kecilnya. Wanita yang dulu pernah mengisi hari-harinya, wanita yang selalu ada saat dia butuh pelukan hangat.


"Kamu akan selalu ada di hati ini, selamanya. Maybe, semua larangan-mu akan menjadi kebiasaan ku untuk kedepannya," Ujarnya.


Azlan dan Dion juga merasa kehilangan, semasa hidupnya Cia di kenal akan sifat kepemimpinan nya, dia sangat pemberani dan sangat lucu menggemaskan, mungkin itu akan menjadi suatu hal yang sangat mereka rindukan.


Jio, Entah apa yang ada di pikirannya itu. Jio duduk di sudut ruangan menatap kosong jenazah Cia yang di kerubungi teman-teman nya. Entah bagaiman dia untuk kedepannya, pemilik hatinya ada di wanita ini, wanita yang mengisi hari-hari nya akhir-akhir ini, wanita yang berhasil mencuri perhatian, pandangan dan isi hati seorang Jio.


"Kehilanganmu adalah kehancuran terbesar di hidup ini, bahkan aku seakan lupa cara bernafas." Batinnya.


Jihan, Fariha dan Gendis. Teman sekaligus Bestie yang selalu menemani hari-hari Cia akhir-akhir ini. Sayang, mereka tidak menemani Cia saat dia menghembuskan nafas terakhirnya. Kehilangan Cia juga berpengaruh dalam kehidupan mereka, mereka seakan kehilangan sosok teman dekat, mereka selalu menghabiskan waktu bersama, mereka mempunyai banyak cerita yang kini hanya akan menjadi cerita terbaik untuk masa depan kelam.


"Kamu teman terbaik kita dimasa seperti ini, kamu berhasil meraih satu mimpi kamu Ci, kamu berhasil." Jihan berucap dengan mata yang kosong menatap jenazah Cia.


Seluruh anak SMA Ganesha berduka atas meninggalnya Yocia Ganesha Mahendra Putri. Gadis yang terkenal periang, gadis yang selalu tersenyum cantik, gadis yang mempunyai sejuta cerita. Namun, dibalik cerita itu, ia menanggung penyakit hebat yang menggerogoti tubuh mungilnya, memang sehebat itu Cia. Selalu tersenyum, menyembunyikan sakit yang dia rasa sendiri.


Black Rose, salah satu tempat dimana Cia juga ikut berjuang di dalamnya, Cia kuat dan berani menatap orang-orang di depannya yang menganggapnya remeh. Karena mereka, Black Rose. Tempat dimana Cia bercerita akan susahnya kehidupan.


Hujan sudah mulai reda, Mereka memutuskan untuk segera membumikan almarhum Cia. Tubuh kecil dan pucat itu di masukan kedalam keranda. Sebelum itu, Feli dan keluarganya menatap putrinya untuk terkahir kalinya.


"Istirahat dengan tenang, kita semua kehilangan, namun hanya bisa ikhlas melihat Tuhan berkehendak." Yoga mencium lama kening sang Putri.


Feli lemas, kakinya bahkan kini sudah tak bisa menahan tubuhnya. Dia terjatuh dengan tangisan yang membanjiri wajahnya. Han yang melihat nya langsung menolong dan menggendong sang 'Bunda'.


Mereka semua berjalan keluar kompleks, Cia akan di makamkan di TPU milik keluarga Ganesha. Tidak terlalu jauh dari kediaman Yoga dan Feli, mereka memutuskan untuk berjalan saja.


...•••••...


Mendung dan becek, suasana yang haru dan menyedihkan. Jenazah Cia kini sedang di adzan kan oleh Yoga di dalam tanah sana. Yoshi dan Yovie mengusap air mata yang keluar dari matanya. Jangan sampai air mata itu jatuh ke atas jenazah Cia.


Setelah itu, Jenazah Cia di kebumikan. Semua berdoa mendoakan yang terbaik untuk Cia. Biarkan gadis periang itu bahagia di alam sana. Biarkan gadis itu tidak merasakan sakit kembali.


Setelah semua telah usai, satu persatu dari mereka pulang keluar dari tempat peristirahatan terakhir Cia. Yoga mengajak sang istri untuk pulang.


"Kita bisa jenguk dia lagi, sekarang putri kecil kita udah ga sakit bund," Ujar Yoga menguatkan Feli.


"Ikhlas ya, nanti sakit putri kecil kita disana." Yoga membenarkan kerudung yang menutupi rambut sang istri.


"Pulang ya, nanti kita jenguk Cia lagi." Feli mengangguk menyetujui dan ikut berdiri.


"Ayah sama bunda duluan, hujan akan turun kembali kalian jangan kelamaan ya." Yoga berpesan sebelum pergi meninggalkan pemakaman itu.


Yovie mengangguk mengiyakan apa yang ayahnya ucap, dia masih setia menemani Yoshi yang menatap kosong makam sang adik.


"Ayok pulang," ajaknya ketika sudah 10 menit mereka jongkok saling diam satu sama lain.


"Duluan aja bang, masih mau sama Cia."


"Untuk terakhir kalinya." Sambungnya.


Yovie tau, Yoshi masih membutuhkan waktu sendiri untuk melepas kembarannya. Yovie pergi meninggalkan Yoshi sendirian disana.


"Abang gagal, Abang selalu ingat pesan adek kok." Yoshi mengusap papan yang ada nama sang kembaran.


Sebenarnya, yang paling sakit disini adalah Yoshi. Yoshi saudara sekaligus teman ikatan darah dan batin, semenjak kecil mereka selalu bersama, susah dan senang mereka selalu bersama.


"Entah bagaimana Abang jalani hari tanpa kamu, Abang mau ikut kamu, tapi ingat pesan kamu." Yoshi menangis.


Runtuh sudah air mata itu, air mata yang dia tahan semenjak kembali ke rumah dari rumah sakit, dia seakan-akan menguatkan diri sendiri.


"Hati ini kian sendiri dek," Ujar Yoshi memegang dadanya.


"Udah seneng kan ketemu Rian? maaf ya Abang belum jadi Abang yang terbaik buat adek, Abang belum bisa jadi kembaran yang selalu ada buat Cia." Yoshi menangis terseguk-seguk.


Dia tidak peduli kalaupun ada yang melihat dia menangis, mau dia dari Yoshi kutub jadi Yoshi cengeng juga tidak apa-apa. Ayok, ajarkan dia Ikhlas melepas sang kembaran.


Hujan kembali turun tanpa permisi, membasahi makam yang baru itu dengan lelaki yang ada di sebelahnya. Air mata Yoshi bercampur dengan air hujan itu.


"Belum.." Batinnya.


Yoshi masih menatap gundukan tanah itu, ia harus tetap tegar menghadapi kenyataan ini. Kenyataan dimana dia harus berpisah dengan wanita yang selalu ada untuk dirinya, wanita yang selalu dewasa dalam setiap situasi.


Yoshi berjalan keluar dari TPU itu, Yoshi berjalan seperti orang tidak ada tujuan, walaupun tujuannya adalah pulang kerumah penuh kenangan itu.


Yoshi kembali mengingat sebelum dia melihat sang adik menghembuskan nafas terakhir di dalam pelukannya.


Selesai? Sudah. Nous kini benar-benar berkahir. sudah tidak ada lagi kata "KITA" dalam cerita ini. Yang ada kini hanya, "Aku," "Sendirian,".


...*****...


Yoshi melirik kamar yang ada di sebelahnya, kamar yang dulu masih terdengar suara sang adik. Kini dia mengingat akan surat yang katanya sudah ada untuk setiap orangnya.


Tangan Yoshi perlahan membuka kenop pintu itu, Kamar yang tertata rapi dengan perpaduan warna Putih dan pink. Aroma wangi khas Cia masih tercium ke Indra penciuman nya.


Yoshi melihat buku Diary yang tertata rapi, entah mana yang Cia maksud untuk dirinya. Mungkin dia akan membuka nya satu-satu persatu.


...End...


Hallo semuanya, selesai ya...Makasih yang sudah mau support aku dari awal, sudah support aku dari cerita "Ketua OSIS itu Suamiku" But, tanpa kalian aku ga ada apa-apa nya


Makasih komen positif dan negatif kalian, masukan-masukan yang selalu di ingat.


Jangan khawatir, aku ada cerita lain( ≧Д≦) Yuk cek di profil aku, atau cari di pencarian "Guruku Suamiku" Ga beda jauh dari "Ketua OSIS itu Suamiku"


Aku tunggu kedatangan kalian