
Tahuu balikkkಥ‿ಥ kalian kangen nggak? akhir-akhir ini lagi nggak mood nulis gengsss. Saya sudah PTM gengsss.
...Happy Reading...
"Adit om tidak mau tau kamu harus urus semua ini," Ujar Yoga pada Adit, keponakannya.
"Iya om tenang ajah, kalau perlu kita cek cctv-nya sekarang ajah?" tawar Adit pada Yoga.
"yasudah, saya bilang sama istri saya dulu yah." Ujar Yoga lalu masuk kedalam ruang rawat inap Cia.
Yoga dan Feli kini tengah menjaga Cia yang masih harus dirawat. Tapi, sedari tadi Cia mencoba merayu kedua orang tuanya agar pulang kerumah.
"Bundaaa pulang bunnnn, Cia nggak kenapa-kenapa!!" Rengek Cia.
"gapapa gimana? pasti sakit itu, kamu nurut dong sayang," Ujar Feli mengelus rambut Cia.
"ada apa ini hm? adek butuh sesuatu?" tanya Yoga pada keduanya.
"Ayah!!!! Cia mau pulang," Ujar Cia sendu.
"Putri ayah, katanya mau sembuh kan? nggak mau disini kan? makanya banyak istirahat, makan yang banyak, minum obatnya, terus makan buah nya, biar putri ayah cepet sembuh," Lirih Yoga duduk di samping ranjang Cia.
"Cia juga tau, tapi Cia nggak mau disini ayah? bau obat-obatan," Ujar Cia menutup hidungnya.
"namanya juga rumah sakit, kalau di rumah makan ya bau makanan," Saut Feli begitu saja.
"Mau sembuh kan? biar cepet ketemu sama omah sama oppah, kamu harus istirahat okeh!!" Ucap Yoga.
Akhirnya Cia mengangguk pasrah dan kembali berbaring untuk beristirahat.
"Ayah mau ke sekolah kamu dulu yah, mau urus semuanya," Ujar Yoga mengambil Jaz miliknya.
"Hati-hati ya ayah! awas aja kalau ketemu pelakunya, bunda ijek-ijek juga!!" Ucap Feli sebal.
Yoga hanya tersenyum melihat tingkah istrinya, sungguh dia sangat bersyukur mempunyai istri seperti Feli, wanita terkuat setelah mamahnya adalah Feli, menurut Yoga.
"Ayahhh..., Pulang nya beliin Cia susu in**milk yak," Ujar Cia memohon.
"iya, mau sama pabriknya ayah belikan," Ucap Yoga lalu pergi.
"JANGAN SAMA PABRIKNYA AYAH!! SATU KULKAS AJAH DIBELI," Teriak Cia.
...••••...
Mobil milik Yoga berhenti di parkiran SMA Ganesha, SMA yang dulu dia pernah tempati juga. Kebetulan kini pukul 10.00, dan jam-jam seperti ini banyak siswa siswi yang keluar untuk mengisi perutnya yang kosong.
Saat Yoga keluar dari mobil, tiba-tiba ada mobil yang membunyikan klaksonnya. dan itu adalah mobil milik Yovie, putra pertamanya.
Yoga, Yovie dan Adit berjalan beriringan layaknya teman, tampang Yoga yang seperti masih muda, Yovie dan Adit yang menggunakan seragam kantornya atau baju dinasnya.
"Kamu ngapain ikut sih bang?" tanya Yoga.
"kan Abang penasaran yah.. pengen di pukul sama Yovie itu," Ujar Yovie.
Kini mereka menjadi sorot mata sepanjang koridor, Tiba-tiba Yoshi keluar dari kelas beserta teman-temannya.
"ayah lu shi?" tanya Dion menunjuk Yoga di sebrang sana.
"kalian sini aja, gw kesana dulu." Yoshi pergi begitu saja meninggalkan kelas.
"Siapa?" tanya Jessi pada Dion.
"ada om Yoga sama bang Yovie di sini," Ujar Dion dingin lalu pergi meninggalkan Jessi.
"Siapa Yon?" tanya Han yang masih bersender sambil memainkan ponselnya.
"Om Yoga, Bang Yovie datang ke sini. kayaknya mau urus yang kemarin deh," Jelas Dion.
Han yang mendengarnya langsung terkejut dan berdiri dari duduknya, "Waspada yang nyawanya terancam," Ujar Han lalu pergi meninggalkan kelasnya.
di satu sisi Jessi dan Alluna sedang duduk berdua sambil mengobrol, Alluna tampak pucat dan keringat membasahi wajahnya.
"lu kenapa si na?" tanya Jessi heran.
"ha? g-gapapa" ucapnya.
"Tristan!!" Panggil Alluna.
"apa?" tanya Tristan mendekat ke Alluna.
"gampang ini mah, tapi nanti malam jangan lupa." Tristan pergi setelah mengtakan itu semua.
"hmmm."
...~~~...
Yoga, Yovie, Yoshi, Han dan Adit kini berada di ruang kamera Sekolah, Semuanya penasaran menunggu hasil cuplikan kemarin.
"pak, cari cctv kamar mandi dekat OSIS," Ujar Adit.
"iya ini pak." Penjaga itu memutar sebuah video yang terjadi sebelum jam istirahat, lebih tepatnya waktu rapat OSIS kemarin.
"Jadi kemarin Cia pergi keruang OSIS, karena ada rapat dengan Jio dan Alluna, namun saat rapat belum selesai Cia katanya kebelet dan pergi ke kamar mandi sebelum acara selesai." Jelas Adit matanya masih fokus melihat layar monitor.
"Itu Ciaa, yah." Yovie menunjuk seseorang yang lewat masuk ke kamar mandi.
"Di dalam kamar mandi nggak ada CCTV ya?" tanya Yoga.
"Om, itu privasi mereka. Apalagi ini kamar mandi perempuan om," Ujar Adit menepuk kepalanya pelan.
Yoga hanya mengangguk, matanya fokus ke layar monitor. selang beberapa saat Cia masuk kedalam kamar mandi, tiba-tiba seseorang masuk dengan membawa kunci dan dengan mata yang melihat sekeliling.
"Siapa itu?" tanya Yoshi.
"Coba zoom pak," Pinta Adit.
"Kenapa harus membelakangi kamera sih, kalau kayak gini susah," Ujar Han prustasi.
"bentar dia pakai-"
...Kring....Kring....Kring...
Terdengar suara telefon dari ponsel milik Yoga, Yoga segera mengeceknya dan benar saja tertera nama My wife di ponselnya.
"Tuh bunda telefon tuh," Ujar Han kepo.
"Diem lu." Bukan Yoga yang menjawab melainkan Yovie yang kini berada di sebelahnya.
"Hallo Bun,"
"Hallo ayah, udah selesai belum? hasil ronsen nya udah keluar, ayok kesini."
"Ya sudah, ini udah kelihatan bund. Pelakunya perempuan, tapi membelakangi kamera jadi susah untuk mengetahuinya."
"*Itu nanti dulu, ini dulu hasilnya ayah!! Buruan!!!"
"Iya-iya, ayah ke rumah sakit sekarang*,"
Yoga mematikan telefonnya, lalu memasukan nya kedalam kantong miliknya.
"Kenapa yah?" Tanya Yovie.
"Hasil Ronsen nya sudah keluar, ayah mau ke rumah sakit dulu, untuk ini nya kamu urus ya Adit. Om percaya sama kamu," Ujar Yoga lalu bergegas pergi keluar ruang kamera.
"Ayah ikutttt." Yovie berlari mengikuti ayahnya.
"gw juga penasaran, ikutan ahhhkkkk," Han berlari mengikuti Yovie.
sedangkan Yoshi berjalan, namun mengikuti mereka menuju rumah sakit..
...•••...
"Kenapa pada ikut semua?" Tanya Yoga heran saat sampai di parkiran sekolah.
"penasaran yah, sama hasilnya." Ucap Han sambil nyengir kuda.
"Ya sudah, Kalian bawa mobil masing-masing lalu ikuti mobil ayah." Yoga masuk kedalam mobilnya setelah mengucapkan itu.
Mobil milik Yoga melaju di ramai nya kota, dan di ikuti tiga mobil sport di belakangnya.
Tolong jangan di bayangkan༎ຶ‿༎ຶ༎ຶ‿༎ຶ karena ini hanya halu semata, Author yang miskin diem ajah.
Mereka menjadi sorotan orang-orang yang berkendara.
...Finish...