NOUS

NOUS
Nous 86



...:¨·.·¨: Welcome to:¨·.·¨:...


...🅂🅃🄾🅁🅈 🄻🄾🄽🄴🄻🅈...


HALLO SEMUANYA💗😰 apa kabar nih???🤺 Baik-baik ya!!! Sebelumnya jangan lupa untuk


➻ Like


➻ Komen


➻ Vote


Yuk follow sosmed Authornya dulu, dan pantengin anak-anak Author🤺 @Lonely_Friend3030 dan @Nous_Official123.


Aku bakalan spoiler di Instagram dan Tik tok!!! Pantengin terus yak🔥🔥🔥


...Salam hangat...


...:¨·.·¨:𝔏𝔬𝔫𝔢𝔩𝔶𝔉𝔯𝔦𝔢𝔫𝔡:¨·.·¨:...


...Happy Reading...


Feli membawa dirinya untuk duduk di ruang kepala sekolah, pikirannya kacau.


"Memang bener, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pantesan kelakuannya sama. murahan," Ujar Feli.


"Bun, tenang Bun. saham perusahaan sama semua asetnya akan di cabut." Yoga mencoba menenangkan istrinya yang sedang terbakar emosi.


"Pokoknya dia harus jauh-jauh dari keluarga kita!!!" Ucap Feli.


"Bunda," Panggil Cia memasuki ruang kepala sekolah.


"Bunda keche banget sih tadi, Han salut," Ujar Han di belakang Cia dengan Elira di sampingnya.


"Huh, bunda gitu loh." Feli mengibaskan rambutnya.


...••••••...


Setelah kejadian kemarin, kini sekolah memang di liburkan karena kelas 12 akan ujian.


Kini, Cia sedang bermalas-malasan dengan novel dan beberapa cemilan di atas kasur king size nya.


...Tok-tok-tok...


"Masuk,"


"Ci, lagi ngapain?"


"loh, Jio. Lagi baca novel aja, kamu ngapain?" tanya Cia mulai bangkit dari duduknya.


"mau ajak kamu main," Ujar Jio cengengesan.


"Kemana?"


"Ke hati aku yuk," Ujarnya tertawa ringan.


"ish, kalau gitu aku nggak mau." Cia membereskan kasurnya.


"bercanda, kemana gitu. kemarin di sebelah butik mama aku ada cafe yang baru launching, mau coba?" tawar Jio.


"MAU!!! bentar ya, mau ganti baju. Kamu keluar dulu sana." Usir Cia mendorong Jio keluar.


"Jangan lama-lama, udah cantik juga," Ujarnya.


"Cuma ganti baju, bukan dandan." Timpal Cia.


Jio menunggu Cia di ruang tamu di temani dengan Feli. Cia datang dengan out fit miliknya, celana jeans pendek dan hoodie oversize yang menutupi paha miliknya.


"CIA?!"


"Ganti," Ujar Jio menatap Cia.


"apanya?" tanyanya.


"pakai rok atau celana panjang, jangan gini!" peringatnya lagi.


Cia dengan lesu kembali ke kamarnya, Feli menggelengkan kepala.


...•••••••...


Setelah drama pakaian itu, kini Jio dan Cia bersama-sama menaiki motor menuju cafe yang Jio bilang.


Akhirnya, Cia memilih baju putih di padukan dengan dress bunga-bunga yang menambahkan kesan anggun pada dirinya.


"Ayo.. Masuk," Ujarnya sambil menyeret Cia.


"Selamat datang di Cafe **** ada yang bisa kami bantu?" tanya pelayan itu.


"mau pesan paket tiga, di meja sana." Jio menujuk meja pojok.


"baik, silahkan di tunggu."


Jio mengajak Cia untuk menuju meja yang baru di pesan, Cia sendiri bingung. "Paket tiga itu apa aja?" tanya Cia penuh waspada.


"Tenang aja, disini makanan nya sehat-sehat. kamu tau? ada bayam crispy, spaghetti carbonara pakai pakcoy dan banyak lah." Jelas Jio menarik kursi untuk Cia duduk.


Cia dan Jio duduk berhadapan menikmati jalanan yang ramai, banyak mobil berlalu lalang. "Cia, jangan pernah berhenti untuk semangat hidup ya."


"Heum?" Cia menatap manik mata Jio.


Terlihat jelas, sorot mata yang takut akan kehilangan.


"Ayok berjuang lagi, kamu mau ya berobat ke Singapura?" ajak Jio.


"pasti bunda yang suruh kamu, dengerin ya Ji."


"Aku udah cukup jauh dari tanah air, aku lahir disini, besar di England dan sekarang aku mau menghembuskan nafas terakhir aku disini," Jelas Cia.


"Stop bilang menghembuskan nafas terakhir, kamu nggak mau liat kamu lulus SMA? kamu nggak mau ayah dan bunda liat kamu wisuda pakai baju toga dan mendapat gelar?" Tanya Jio.


"Aku ngajak kamu berobat ke Singapura, hanya untuk berobat. Bukan untuk tinggal disana, aku juga mau liat kamu sukses ci." Lanjut Jio.


"Jio, dokter Dwi bisa bantu aku. Kalau semisalnya aku berobat di Singapura, terus takdir tetap berkata aku pergi. Mau bagaimana lagi?" tanya Cia menahan air matanya.


"Kamu sudah terlalu lelah dengan dunia hm?" tanya Jio.


"Aku udah terlalu capek dengan dunia, terkadang bukan orang-orang yang bikin aku sakit. Tetapi, harapan aku sendiri yang bikin aku sakit," Ujar Cia.


"Aku nggak mau berharap sembuh, aku takut kalian merasa kehilangan! stop suka aku, stop deketin aku, dan stop menekan aku berobat ke Singapura." Putus Cia dengan suara getirnya.


Jio pindah posisi dan duduk di sebelah Cia, tangan kekar nya menarik kepala Cia dan memeluknya erat.


"Maaf, aku terlalu egois memaksa kamu untuk sembuh," Ujar Jio mengusap kepala Cia.


"makasih udah mau mengerti," Ujar Cia tampak menyembunyikan wajahnya di dekapan Jio.


Rasanya hangat, ketika Cia mau memeluknya. Jio harus bagaimana, dia enggan sakit untuk kedua kalinya.


"izinkan aku untuk menemani perjalanan kamu Ci," lirih Jio.


"aku mengizinkan siapapun untuk menemani aku, tapi aku enggan untuk terlalu dengan kata manis ini," Ucap Cia.


Keduanya saling diam, mata Jio melihat mobil yang berlalu lalang. Sedangkan Cia masih menetralkan mood nya di dalam dekapan Jio.


Sampai pada akhirnya, makanan pun datang dengan beberapa pelayan. Paket tiga itu paket sehat, Jio lebih memfokuskan kepada kesehatan gadisnya.


Gadisnya?


"Terimakasih," Ujarnya kepada pelayanan ketika sudah selesai menata makanan nya.


Pelayan tersebut mengangguk dan pergi meninggalkan itu semua.


"Makan dulu ya," Tawar Jio mencoba melepas dekapan nya.


Cia mengangkat kepalanya, dan menyenderkan kepalanya pada senderan kursi yang terdapat tangan Jio.


"Banyak juga, habis berapa ribu ini?" tanya Cia tak percaya.


"nggak usah di pikirin, mending makan dulu aaaa..." Jio menyodorkan garpu yang terdapat sosis dengan saos sayur.


Cia memakannya, kepalanya kembali di senderkan kepada dada bidang milik Jio. Rasanya begitu nyaman menurutnya.


"Jangan pegel ya, aku mau gini dulu," Ujar Cia.


"Tenang aja, sambil makan ya." Cia mengangguk kan kepalanya.


Mereka lebih cocok dibilang sepasang kekasih, daripada di bilang hanya sekedar teman.


"maaf kalau aku lancang nanya ini, kalau kamu nggak mau jawab itu bukan masalah bagi aku. Selain kamu punya masalah kesehatan, apa mental kamu ikut kena?" tanya Jio masih fokus dengan makanannya.


"Nggak tau, nggak pernah ngecek." Cia memainkan jarinya di meja.


"Ayok cek kesehatan mental bersama, untuk semangat hidup, kamu juga perlu motivasi dan sekiranya mental yang baik," Ujar Jio memberi saran.


"Terkadang aku suka mikir, ini salah satu gangguan mental bukan."


"Aku memang hidup di keluarga yang berkecukupan akan harta, tapi aku tidak berkecukupan akan kasih sayang, bukan karena ayah dan bunda yang nggak sayang ke aku. Tapi, waktu mereka yang singkat untuk bersama."


"Dari dulu sampai sekarang, mereka ada aja baru-baru sekarang, apa memang aku harus sakit dulu?"


Sekarang Jio tau, ternyata mental Cia ikut terkoyak sedikit karena keluarganya.


"Uang memang kebutuhan, tapi kasih sayang bukankah lebih penting?"


"Dulu, Yoshi selalu bilang. 'aku akan selalu ada di sisi kamu', 'kamu jangan khawatir, ada abang', 'abang akan selalu ada buat Cia'. Memang terkadang yang dibutuhkan itu bukti, bukan cuma omongan dan janji.


Sekarang Jio bahkan tau, kenapa Cia tidak mudah dengan omongan. Karena ternyata benar, terkadang yang terdekat dapat menimbulkan sakit yang lebih.


"Terkadang memang, sakit yang terdalam adalah dari orang sekitar kita."


"Ji, kalau aku udah terlalu lelah. Aku boleh menyerah kan?" tanya Cia menatap manik mata Jio.


"iya boleh, tapi berjanji setelah itu udah ya," Ujarnya menunjukkan jari kelingking nya.


Cia menempel kan jarinya dengan jari Jio.


"Iya, udah selesai."


"Ketakutan terbesar adalah, ketika dia yang tidak bisa memaksa kan hati."


"Ini bukan akhir kan?"


"Aku hanya angan dan angin lalu, aku nggak boleh buta hanya karena cinta."


...Finish...


TANDAI JIKA ADA TYPO ATAU PENGGUNAAN TANDA BACA YANG SALAH(・∀・) YUK KOMEN SEBANYAK-BANYAKNYA!! LIKE JUGA Maksudnya (ʘᴗʘ✿) Sudah siap menuju ending?


BEBERAPA PART MENUJU ENDING »»