NOUS

NOUS
Nous 68



...Happy Reading...


Cia bersandar di sandaran ranjang, matanya menatap kosong pintu yang tak kunjung membuka.


"Kamu kenapa hm?" tanya Yoshi.


Cia masih diam, enggan untuk berbicara sedikit pun. Rasanya masih belum terima dengan penyakit yang kini di deritanya.


tiba-tiba pintu kembali terbuka menampilkan Han, Yovie dan Feli yang datang bersama-sama.


"Hallo sayang," sapa Feli dengan menunjukkan senyum manisnya.


Cia hanya tersenyum, namun tak bertahan lama senyuman itu luntur dan kembali ke muka datar miliknya.


Feli yang melihatnya merasa heran dan langsung menatap Yoshi yang juga terheran-heran karena sikap Cia.


"Kenapa?" tanya Feli pada Yoshi.


"Nggak tau Bun, dari tadi dia diam terus." Yoshi menjawab apa adanya sesuai dengan yang terjadi.


"Nggak lu apa-apain kan?" tanya Han curiga.


"aneh, dia kembaran gw! yakali gw cabuli dia," Ujar Yoshi malas.


"Nggak cabuli juga, lu salah beli permen atau susu kek, atau lu nggak belikan dia bakso+toge yang banyak kek, atau mungkin lu ninggalin dia lagi?" Tanya Han membiarkan apa yang pernah Yoshi perbuat di masa lalu.


"nggak usah bawa-bawa," ucap Yoshi dingin.


"Ayah kemana? kok nggak ada?" tanya Feli menatap sekeliling ruangan.


"Ayah ke kantor," Ucap Cia.


"Kamu kenapa sayang? kok diem terus hm?" tanya Feli mendekat ke arah putrinya.


"Bang Yov, Han, Bang Yoshi. Bisa tinggalin Cia sama bunda, berdua doang boleh?" pinta Cia pada saudara-saudaranya.


Feli heran, apakah ada yang penting? Mengapa putrinya hanya ingi berdua dengan nya?.


Yovie dkk pergi keluar ruangan menuruti kemauan Cia, Cia langsung menatap bundanya yang kini balik menatapnya bingung.


"Bunda pasti nggak tau ya bagaimana caranya supaya Cia tau semua ini, tapi Cia nggak sakit hati gitu?" Cia berhenti sejenak menatap manik mata Feli.


"atau bunda sengaja? supaya Cia nggak tau semua ini?" sambungnya mencoba menahan air matanya sendiri.


"tau apa sih hm? bunda nggak paham sayang," Feli semakin bingung dengan tingkah putrinya.


"Aku mengidap sakit asma kan Bun? ayah sama bunda mau nutupin ini semua ke Cia?" Ujar Cia begitu saja.


Feli terkejut, kok bisa putrinya tahu? padahal dirinya masih memikirkan cara agar Cia tau, namun tidak menyakiti perasaannya.


"kamu tau darimana?" tanya Feli geleng-geleng menatap Cia.


"dari dokter Dwi Bun, bunda kenapa nggak bilang ke Cia Bun?" Tanya Cia kembali.


"bunda bukan nggak mau bilang sayang, bunda cuma tunggu waktu yang tepat. Bunda juga baru tau tadi siang waktu ayah ke sekolah kamu," Jelas Feli pada Cia.


"Kamu marah sama bunda?" Tanya Feli. Mata Feli dan Cia berkaca-kaca.


"enggak, Cia hanya kecewa sama Cia sendiri." Yocia menghapus air matanya.


"kamu harus kuat dong sayang, katanya mau ke Raja Ampat sekeluarga." Feli mengjeda kalimatnya, diraihnya tubuh mungil Cia dan memeluknya.


"kamu mau kan berjuang bersama-sama, bunda, ayah, abang, pasti akan dukung kamu untuk sembuh," Ujar Feli tersenyum.


"kamu jangan pesimis bahwa kamu akan pergi sayang, kalau ngomong di jaga ya."


"Ayah dan bunda pasti akan kasih yang terbaik buat kamu," Ujar Feli menguatkan Cia.


Cia menangis diam, dirinya masih belum bisa terima dengan takdir.


"Sayang ingat ya, Takdir itu di terima dan di jalani karena ini yang terbaik bukan kamu," Ucap Feli menatap manik putrinya.


"Iya bunda, bunda sama ayah janji ya."


"bakalan bantu Cia selalu,"


Cia dan Feli berpelukan dan menangis bersamaan, mereka berdua hanyalah manusia biasa. Mereka wanita normal yang masih suka menangis seperti anak kecil, pasti tidak sendiri. Banyak wanita yang diluaran sana yang hanya bisa menangis untuk melampiaskan semuanya.


Yoga tiba-tiba masuk begitu saja, dirinya tersentuh ketika melihat kedua wanita kesayangannya tengah menangis sambil berpelukan, dengan cepat dirinya langsung mendekat dan memeluk istri dan anaknya dari belakang.


"Hust, udah-udah." Yoga mencoba menenangkan keduanya.


Mereka melepas pelukannya, Feli dan Cia menghapus air matanya.


"Ayah bubur Cia mana?" Tanya Cia sambil mengelap ingus yang keluar dari hidungnya.


"sempet-sempetnya mikirin bubur kamu, ayok makan." Yoga mengangkat plastik berisi 6 bungkus bubur ayam dan 10 kotak susu indomilk kesukaan putrinya.


"Ayah panggil abang di depan sama Han suruh masuk," Pinta Feli pada sang suami.


Mereka semua hanya makan bersama, kali ini Han hanya diam tidak berucap sedikit pun, karena ini buka suasana yang cocok.


Saat pada sibuk dengan kegiatan masing-masing, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


"Iya masuk," Ucap Cia mempersilahkan masuk orang itu.


Saat pintu terbuka menampilkan Jio, Azlan dan Dion yang datang bersama-sama. Namun bukan itu saja, muncul Rey di belakang sana.


"Eh kalian."


"Hai, Cia gimana keadaan nya?" Tanya Jio mendekat kearah Cia sambil membawa parsel buah untuk Cia.


Jio itu bisa dibilang lelaki idaman kaum hawa, anak OSIS✓


ketua kelas✓


si pintar✓


Selain Yoshi ada juga Jio yang selalu bisa mengimbangi kepintaran Yoshi dan Cia.


"Paketu tumben nih, ada apa gerangan?" Tanya Han Heran.


"saya kan mewakili teman-teman kelas, ingin menjenguk Cia," Ujar Jio.


"iya dah iya, terserah anda."


"Lu diem sehari bisa nggak sih?" Tanya Yovie pada Han.


"bisa-bisa, ada uang mulutnya tapi bang." Bukan Han namanya kalau tidak memanfaatkan waktu.


"dih, mending gw pake earphone." Yovie mengambil Earphone nya dan memasangnya di telinga miliknya.


Mereka mengobrol bersama, Yoga dan Feli pamit pulang sebentar untuk membersihkan badan dan memasak untuk Orang tua Feli yang kini juga berada di rumahnya.


Cia terlihat sangat senang, dengan tingkah Dion dan Han yang memang sangat Random. Membuat dirinya tertawa lepas melihatnya.


"aduh... perut gw sakit," Ucap Cia memegangi perutnya.


"jangan ketawa keras-keras makanya, sakit kan," Ucap Yoshi mengelus perut kembarannya.


"ish kalian lucu tau, sama badut ajah kalah,", Ucap Cia sambil mencoba memberhentikan tawanya.


"Siapa juga yang badut, kita mah sad boy" Ucap Dion sambil merangkul Han.


"Kita? lu ajah kali, gw mah punya Lira." Han mencoba melepas rangkulan itu dan pergi menjauh dari Dion.


"Cisss dulu Korban LDR," Ujar Dion smirk.


"BACOT Lo jomblo, diem ajah!" Ucap Han geram.


"Gapapa Jomblo, daripada pacaran Virtual, LDR beda negara," Lanjut Dion masih memancing emosi dari Han.


"Awas lu, nanti kalau kuliah Lira selesai, siap-siap lu gw pamer sama lu," Ucap Han.


"Dih yang pamer kena ajab, nggak baik skip." Dion duduk ngos-ngosan di sebelah Yovie.


"nyenyenye."


"Udah heh, jangan Gelud terus!!" Ucap Cia melerai


"Cia Bosen, Cia kan orangnya Bosenan," Ucap Cia.


"Mau kemana?" Tanya Yoshi.


"ma-" Belum sempat Cia selesai berucap, tiba-tiba dokter Dwi datang dengan suster Key, sekertaris atau partner kerja dokter Dwi.


"Lah bang Ali." Jio mengangkat alisnya.


"Jio!!" Dokter Dwi tampak terkejut dengan adanya Jio.


"ngapain kamu disini?", Tanya dokter Dwi pada adik tirinya itu.


"jualan bang, mau beli?" Tawar Jio ngarang.


"Jangan malu-maluin nama keluarga, jenguk siapa kamu disini?" Tanya Dokter Dwi membawa perkakasnya.


"lagian kerumah sakit mau jenguk Cia, Cia itu teman Jio bang, dan guys Bang Ali ini atau dokter Dwi Abang nya Jio ya," Ucap Jio memperkenalkan abangnya.


"Hallo semua saya Alister Dwicaksono," Ujar Dokter Dwi memperkenalkan dirinya.


biasa lah dalam kedokteran, biasanya nama akhirnya yang digunakan untuk bekerja, sedangkan nama panggilan nya nganggur.


...Finish...


Tahu juga ulangan gengsss, jadi up nya enggak setiap hari🙏