NOUS

NOUS
Nous 64



Tahu balik Lagi🐻 Kangen nggak ci? nggak? ya sudah.


...Happy Reading...


"CI!! BANGUN CI!"


"PRANK LU NGGA LUCU!"


"CIA!! BILANG KALAU INI MIMPI CI!!"


Teriak Han masih terdengar di seluruh penjuru kamar rumah sakit.


"HAN!!"


"SADAR HAN!!"


Adit menepuk-nepuk pipi Han, yang sepertinya terlalu lelah dan tertidur.


Dengan cepat Han membuka matanya, dia masih loading, bukan kah tadi dia ada di pemakaman Cia?.


"Ciaa mana bang?" Tanya Han dengan nafasnya masih memburu.


"Gw disini, ngapain lu teriak-teriak manggil nama gw?" Tanya Cia sambil memakan buah apel.


Han berlari memeluk Cia yang berada di atas Ranjang, Sedangkan Cia masih diam membisu. ada banyak pertanyaan yang melintas pada otak nya.


"Napa lu? pake ngigo manggil nama gw," Ucap Cia membalas pelukan Han.


"Gw mimpi lu meninggal Ci," Ujar Han.


...Plak...


"Aduh sakit dodol." Han mengusap kepalanya yang tadi di tabok Cia.


"Mimpi lu dosa nggak sih? doain gw cepet meninggal?" Tanya Cia tak menyangka.


"Namanya juga mimpi Ci," Han melepas pelukannya.


"Minggir! gw mau ke toilet," ujar Cia berdiri dari duduknya dan pergi menuju ke toilet membawa infusnya.


Adit dan Yoshi di buat melongo karena tingkah Cia, berubah 360°. Biasanya manja, kenapa jadi bar-bar kayak gini.


"Ini bukan efek di kunci di kamar mandi kan?" Tanya Adit.


"Kayanya bukan deh, dari pulang waktu itu, dia sudah berubah bang," Lirih Yoshi pada Adit.


"Gara-gara lu Keknya deh," Sambung Adit melirik Yoshi yang diam.


"Iya gw."


...•••...


Kini teman-teman Cia berada di ruangan Cia, ada Jihan, Gendis, Fariha, Alluna dan Jessi. Ada Dion, Azlan, Angel, Rey dan Jio.


"Kalian ke sini udah kayak mau pesta ajah, Gilak." Cia mencoba untuk duduk bersender pada Ranjang.


"Kita khawatir sama lu Cia," Ujar Jihan.


"iya kita, Kecuali si onoh yak," Ucap Gendis matanya melirik Alluna dan Jessi yang tengah berduaan.


Awalnya mereka akan pergi tanpa Jessi, Alluna dan Rey, namun mereka malah ber pas-pasan di depan rumah sakit, mau tidak mau mereka harus bersama.


"Mau jenguk orang apa ngelonT sih? pakain nya behh, miris kayak kurang bahan, sini gw sumbangin bahas sisa bikin gorden rumah noh," Lirih Fariha menatap Jessi dan Alluna sebal.


Pantas saja Alluna dan Jessi di bicarakan, Alluna dengan baju model lengan terlihat, sedang kan Jessi celana Jeans pendek sebatas lutut di padukan baju putih tembus pandang pendek.


"Keknya habis ini mereka langsung ke bar," bisik Fariha.


"Bahas apa sih kalian? bisik-bisik tetangga lagi," Ucap Azlan melihat gerak gerik Jihan dkk.


"Kepo! anak cowok mana tau, hus sana bocah!" Ucap Gendis menjulurkan lidahnya.


"Dih tengil."


"Iri? ngikut!"


"Kalian datang kesini nggak bawa buah tangan gitu?" Tanya Cia menatap semaunya.


"Bawa dong, jeng-jeng-jeng." Jihan dkk mengangkat totebag nya.


"Fiks kalian besplen gw, nggak lupa permen na kan?" Cia mengangkat Alisnya untuk memastikan.


"Lu beruntung udah di jenguk, pake ngelunjak lagi," Ujar Han.


"Dih, Iri? bilang say, kasihan panas," Ucap Cia menatap sinis Han.


"punya dosa lu sama gw, sampai mimpi gw meninggal! awas ajah kalau gw sudah sembuh," Ujar Cia sewot menatap Han.


"Namanya juga mimpi Ci, kalau gw bisa request gw juga nggak bakalan minta mimpi ini njir, mending mimpi ketemu Lira," Ujar Han memakan Melon yang ada.


"Bacot Lo, bucin nya lira mah apa atuh, saya menepi," Ujar Cia.


Ucapan Cia tadi membuat mereka semua diam membisu, semuanya tak menyangka perubahan Cia yang menurut nya sangat pesat.


"Kalian Napa sih? gw ada yang aneh?, diem Mulu heran." Cia menatap semuanya bingung.


"Ci, Kepala lu nggak kejedor pintu kan?" Tanya Gendis memastikan.


"Matamu, ya enggak lah." Cia membuka totebag bawaan teman-temannya satu persatu.


"Fiks, Cia pasti di guna-guna sama orang nih, tolong keluarkan setan pada tubuh Cia tuhan," Ujar Gendis.


"Matamu di guna-guna, gw kebal njir, mana ngefek gitu-gituan."


"Iya kebal banget, udah keseringan di sakitin. awokawok," Sambung Cia dengan tertawa garing di akhir kalimat.


"Apa sih?" Jihan di buat bingung.


"Nyidir mah di depan orang nya langsung say, masa iya mental sosmed, UPS." Ujar Cia menutup mulutnya rapat-rapat.


mereka tertawa bersama, biasa lah besplen poreper, pake kode dikit. Paham semua.


tiba-tiba pintu ruangan terbuka, mereka yang sedang tertawa langsung terkejut akan hal itu.


Terlihat 3 sosok orang dewasa berada di sana.


"CIAAAA" teriak Feli tiba-tiba.


"WHAT!! BUNDAAAAA," Balas Teriak Cia membuka tangannya.


Feli dengan cepat memeluk anaknya itu, saat mendengar berita Cia yang akhir-akhir ini drop, Feli dan Yoga buru-buru pulang ke Indonesia, dan memindahkan Opah dan Omahnya ke Indonesia. Hanya saja untuk memeriksa kesehatan opah mereka, harus bolak balik Indo-London setiap bulannya.


"gini nih, kalau dua-duanya udah ketemu, Dunia seakan milik berdua," Ujar Han.


"Udah lah, Emak Anak sama ajah," sambung Han.


"Bunda denger loh Han," Ujar Feli sambil memeluk Cia.


"Oleh-oleh buat kamu, Bunda Cancel ajah yak." Feli melepas pelukan pada putrinya itu.


"Bunda kok gitu, Han maaf deh. Oleh-olehnya jadi yak Bun, okeh bun?" Tanya Han butuh kepastian.


"nah kan kalau ada mau nya mah gini," Ujar Feli.


Yoga duduk di samping Yoshi dan Yovie.


"Kalian apa kabar?" Tanya nya.


"Baik Yah," Ujar Yovie


"Sama"


"Ayah nggak mau peluk Cia? Fiks Ayah udah nggak sayang Cia." Ucap Cia sambil memanyunkan bibirnya.


Yoga mendekat kearah Cia, lalu dengan cepat dia memeluk putri semata wayangnya itu.


"Ayah sayang Cia dong, Oleh-olehnya Cia ada di rumah yak," Ucap Yoga mengelus pelan rambut Cia.


"Hiks, Cia kangen ayah bunda tau," Ujar Cia menangis kecil.


"Dih alay, kayak anak kecil," lirih Han.


"Lu ngomong sekali lagi, sendal ini melayang Han." Yovie tampak menunjukan sendal miliknya yang siap melayang ke muka Han.


"Mweheheh, ampun bang." Han langsung diam membisu.


"Ini Bunda bawa cemilan, Kalian teman-temannya Cia kan? ayok dimakan," Ujar Feli tersenyum ramah.


"Iya Tante, kami teman-temannya Cia," Ujar Gendis membalas senyuman Feli.


"Teman Cia banyak juga yak sayang, Rey sini deh." Feli memanggil Rey untuk mendekat ke dirinya.


Rey sudah mempersiapkan mental nya, apapun yang terjadi itu juga karena nya.


"Gimana kamu sama Cia? ada kemajuan?" Tanya Feli sedikit lirih, supaya tidak ada yang mendengarnya.


"Maaf Bunda, Awalnya ada kemajuan, sekarang malah semakin asing, iya Rey yang salah, maaf Rey masih sayang sama Cinta pertama Rey," Ujar Rey menundukan kepalanya.


"Ohh begitu, ya sudah." Ekspresi Feli langsung berubah masam.


Dirinya langsung berdiri dan meninggal kan Rey yang masih menunduk. "Kayaknya Bunda Feli udah bener-bener kecewa sama gw," lirih Rey menarik nafasnya panjang dan menghembuskan nya.


"Nih." Yovie tiba-tiba melempar sebuah totebag kearah Cia dan Yoga.


"ABANG!! NGGAK SOPAN TAU!!" teriak Cia.


"Eh- maaf-maaf yak." Yovie mendekat lalu meminta maaf pada adeknya.


"iya."


"Btw apa ini?" Tanya Cia mengangkat alisnya.


"Paket atas nama Nona Yocia Ganesha Mahendra," Ujar Yovie membuat Jessi dan Alluna melotot.


"Keturunan keluarga Ganesha sama Mahendra,"


"Gilak, money nya banyak."


Lirih keduanya menatap Cia Iri.


"Pliss ini pasti dari bang Emil, Ini cia pengen banget!!" Ujar Cia menatap senang tas Dior di depan matanya.


"What! Dior Cuyy! itu yang harganya sampai belasan M nggak sih?" Tanya Jessi bisik-bisik pada Alluna, Alluna hanya menganggukkan kepalanya sambil meneguk ludahnya kasar.


"Bang Emil naikin mood Cia banget, nambah lagi koleksi Cia," Ujar Cia senang.


"Cia kam~"


"Ayah jangan marah-marah, nanti takut cepat tua, ini bang Emil yang kasih yah," Ujar Cia.


"Beneran? bukan kamu yang bujuk?" Tanya Yoga memastikan.


"Dikit kok yah, serius! nggak lagi-lagi deh," Ujar Cia.


Tiba-tiba Adit masuk dengan membawa tiga bungkus nasi Padang, "Hai se-, Hai Bunda ayah," sapa Adit.


"Hai Adit, apa kabar kamu?" tanya Feli ramah.


"Adit saya mau kamu urus semua ini, jika perlu saya akan membawanya ke jalur hukum, saya tidak terima ada yang melakukan ini semua pada putri saya," Ujar Yoga tegas membuat dua orang wanita di pojok kamar meneguk ludahnya kasar.


...•••...