NOUS

NOUS
Nous 78



Absen!! siapa yang masih setia dengan Nous?


...Happy Reading...


Cia dan Yovie kini sudah berada di rumah sakit, mereka tengah berbincang dengan dokter Dwi yang sedang menjelaskan apa saja yang akan di lakukan jika terapi.


Sayang sekali, seharusnya tadi pagi Cia izin saja sekolahnya biar tidak sampai malam nanti.


"Kamu nurut sama dokter Dwi ya sayang, abang tunggu di luar." Yovie mencium kening adiknya lama lalu tersenyum manis.


"Dokter, apa tidak bisa kalau abang disini aja?" tanya Cia pada dokter Dwi.


"Bisa Nona, tuan Yovie bisa menemani anda selama terapi," Ujar dokter Dwi.


Sayang sekali, Yovie anaknya rada trauma dengan hal-hal rumah sakit seperti ini, sehingga dia memilih untuk keluar saja dari ruangan ini.


"Abang ada berkas yang harus di tanda tangani sayang, sebentar lagi kak Cindy datang membawa berkas itu," Ujar Yovie menjelaskan. Ralat, mencari alasan yang tepat.


Memang tadi Cindy sempat Chat dirinya bahwa ada berkas yang harus dia tanda tangani, namun bukan kah itu hanya sebentar?


"Abang plisss!!" Cia tampak membujuk abangnya.


"huft... Iya, biar nanti kak Cindy aja suruh masuk." Yovie pasrah dan duduk di sofa yang berada di sana.


Terapi akhirnya di mulai, banyak sekali alat-alat yang di keluarkan dari sang dokter. Cia menelan ludahnya kasar, mau sebanyak apa ketua mafia dan darimana yang dia taklukan kembali pada awal dia hanya takut pada mesin-mesin dan rumah sakit.


Cia memejamkan matanya takut, Dokter yang tau kenapa Cia seperti ini langsung menegur nya. "Kenapa nona? nggak sakit enggak, ini cuma di tempel disini terus ini disini, nona diam dulu ya, terus disini dan di tunggu setengah jam nona." Jelas yang dokter dan mulai menempelkan alat nya.


Ajaib. Mungkin ini teknik seorang dokter, ketika pasien nya sedang ketakutan dia menjelaskan sekalian menempelkan alat nya sehingga mengurangi rasa takut dari sang pasien.


Cia kembali menutup matanya, entah kenapa melihat sinar yang keluar dari celah-celah rumah sakit membuatnya mengantuk.


"Ngantuk juga lama-lama, ini sinar nggak ada bius nya kan?" batin Cia.


...Tok-tok-tok...


Cindy mengetuk pintu pelan dengan seorang suster di samping nya.


"Silahkan Nona." Suster itu mempersilahkan Cindy masuk.


Sambil berjalan masuk, Cindy berjalan dan matanya tidak berhenti menatap Cia yang berbaring di atas brangkas rumah sakit dengan alat-alat yang menempel pada kulit putih nya.


Bahkan hidung mungil mancung miliknya yang begitu cantik tertutup oleh sebuah selang dan sebuah alat bantu pernapasan.


Hati Cindy tersentuh melihatnya, mata-mata Cia yang tengah terpejam mengeluarkan sedikit air mata, membuat dirinya juga ingin mengeluarkan air mata.


"Cia lagi terapi Vie?" tanya Cindy saking penasarannya.


"eh, maaf. Cia lagi terapi pak?" tanya Cindy mengulangi nya lagi.


Ini pertama kali Cia terapi dan perdana bagi Cia, Yovie dan siapapun yang hari ini ada di ruangan itu, termasuk Cindy.


"Iya, saya tidak tega melihatnya." Yovie memalingkan wajahnya dan menatap Cindy yang ada di sampingnya.


"pak, saya boleh ikut menunggu Cia selesai terapi?" tanya Cindy tanpa ragu.


"tentu, kamu bisa temani saya juga disini toh." Erang Yovie.


Karena ini pertama kali Yovie sesekali melihat apa yang dokter Dwi itu lakukan, termasuk bagaimana cara mencopot salah satu selang yang arahnya di bagian diafragma Cia. Di tarik dengan sedikit kasar agar memberikan kesan tarikan, hal ini membuat Yovie meringis sendiri.


"Kalau memang terlalu sakit buat kamu dek, abang rela tukeran dengan kamu dek." Batin Yovie menatap sendu adiknya yang juga ikut terbangun akibat tarikan itu.


Ini baru awal pasti masih banyak hal lagi yang harus di lakukan. Alat-alat sudah terbebas tinggal selang bantu pernapasan saja yang belum di copot.


"Dwokk." Cia tampak menunjuk bagian hidungnya yang tertutup selang.


"Bisa di buka ya nona," Ujarnya.


"Baik terapi awal udah selesai, bisa tunggu ya tuan, Nona. Hasil akan keluar sekitar 15 menit lagi dan bisa di tunggu disini yang tuan Nona, saya harus menyiapkan vitamin untuk setiap harinya." Jelas sang dokter dan mendapat anggukan dari Yovie dan Cia.


"baru pertama kali udah dapet tambahan vitamin, fak!!" Batin cia menggebu-gebu.


"Kak Cindy!!!" Teriak Cia senang, muka sedihnya kini tertutup dengan perasaan senang nya.


Cindy berdiri dan berjalan cepat memeluk Cia.


"Kakak sudah lama disini?" tanya Cia.


"sudah, kamu lapar nggak?" tanya Cindy dan mendapat anggukan dari Cia.


"Ini kenapa sesi peluk sama suap-suapan?, abang peluk ya?" Yovie meminta izin untuk memeluk Cia.


Rasanya dirinya sudah tidak bisa berucap apa-apa lagi, setetes air mata bisa mewakili 1 kalimat. Yovie tetap Yovie yang angkuh dan tidak akan menunjukkan wajah sedihnya.


"Kenapa izin?" Cia langsung menarik tangan Yovie dan memeluknya.


Cindy yang tau situasi akhirnya, "Kakak ambil makanan di kantin rumah sakit atau ke suster dulu ya, kalian puasin peluk nya." Cindy tersenyum dan pergi meninggalkan keduanya.


"Sakit bang," Lirih Cia tepat di telinga Yovie.


Hati Yovie berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, gugup, atau salting. Dirinya takut, takut sangat kehilangan adik perempuan yang selalu ada untuk dirinya.


"Abang mau kalau memang harus tukaran dengan kamu, abang yang jadi Cia, Cia yang jadi Abang." Perdana Yovie menatap manik Cia yang sudah banjir dengan air mata, dan Yovie juga ikut menangis.


"Abang jangan nangis, ini perdana buat Cia liat abang nangis," Ujar Cia terkekeh pelan menghapus air mata abangnya.


"pertama kali abang yang temenin kamu, dan akan selalu abang yang temenin kamu terapi dek," Ucap Yovie membenarkan anak rambut Cia dan menyusun nya kembali. Mengusap pelan Surai Indah sang adik yang matanya memerah dan hidung nya juga ikut memerah.


...••••••...


Hari sudah semakin petang. Cindy datang dengan nampan rumah sakit berisikan makanan rumah sakit.


"Udah? Cia makan dulu ya?" tawar Cindy lalu menaruh nampan nya di atas nakas rumah sakit.


"Kak," Panggil Cia.


"iya?"


"bisa request nggak? makanan nya di ganti sama chicken wings?" Tanya Cia tersenyum Kikuk.


"Cia, kamu itu baru terapi. Tenang aja kakak kali ini pilih makanan nya nggak bubur kok, nasi kuning sama rendang sama Tadaa~~." Cindy membuka makanan nya dan menunjukkan nya pada Cia.


"Pasti masakan nya beda sama punya bunda," Cibir Cia pelan.


"Nanti kalau kamu pulang juga pasti makan masakan bunda lagi." Cindy menyendok nasi dan lauk itu lalu menyodorkan nya pada Cia.


Saat Cindy dan Cia asik bercerita dan tidak memperdulikan Yovie, Yovie akhirnya memilih pergi keruangan dokter Dwi.


Rasa penasaran yang memuncak membuat dirinya tidak tahan mencari tau apa penyakit dan bagaimana cara menyembuhkan adiknya.


Setelah berputar beberapa kali di lobi, akhirnya Yovie menemukan ruangan dokter Dwi setelah bertanya pada salah satu suster yang ada disana.


"Permisi dok,"


"Silahkan."


"Ada apa tuan?" tanya dokter Dwi serius.


"Bagaimana keadaan adik saya dok? apa ada sesuatu yang semakin fatal atau apa?" tanya Yovie mulai serius.


Dokter Dwi mengambil hasil lab yang tadi sempat dia cek, dia memandang cukup lama membuat Yovie semakin penasaran.


"Nona Cia mengalami Dyspnea, atau sesak nafas."


"Dyspnea adalah istilah medis untuk sesak napas. Kondisi ini terjadi akibat tidak terpenuhinya pasokan oksigen ke paru-paru yang menyebabkan pernapasan menjadi cepat, pendek, dan dangkal."


"Namun, ada sedikit bibit bibit penyakit Emfitematous."


"Astaga, terus?"


...Finish....


Pengetahuan umum


Penyakit emfisema merupakan salah satu jenis penyakit yang menyerang organ paru dan tergolong PPOK atau penyakit paru obstruktif kronis. Jumlah orang Indonesia yang menderita penyakit emfisema menurut catatan dari Riskesdas dari Kementrian Kesehatan RI sebanyak 4 setiap 100 orang. Jumlah penderita penyakit emfisema ini adalah jumlah yang tercatat di tahun 2013. Penyebab penyakit emfisema yang paling umum adalah asap rokok.


Akibat emfisema ini menimbulkan kerusakan pada alveolus atau kantung udara akan menyebabkan luas area dari permukaan organ paru-paru mengecil. Pada akhirnya jumlah gas oksigen yang ada di peredaran darah tubuh berkurang. Emfisematous lung adalah paru-paru yang telah terkena emfisema. Lama kelamaan, ukuran organ paru-paru pun akan semakin besar karena adanya udara yang terjebak di dalam alveolus dan susah untuk keluar.


akibat dari Emfitematous adalah asap motor, kendaraan atau terpapar debu yang berbahan kimia


Sumber Google 🙏


...Bisa di baca ya...


...TBC...