
Selamat Malam🌻 Tahu seneng banget uwuw 😚 Makasih buat pembaca setia Nous🌚 Sini kita kenalan, bikin Circle Nous bareng🙂 Hubungi Tahu yuk... 083865683501. Follow Author nya juga boleh ayok @Lonely_Friend3030 @Lonely_Cansss. yang mau follback DM yang Lonely Canss yak.
Asal kalian tau? ini nggak bakal kayak gini tanpa adanya kalian yang baca😭 Terimakasih para Readers Nous kesayangan ku 😙❤️❤️
...Happy Reading...
Cia kini berbaring di atas ranjang miliknya sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Yoga dan Yoshi tengah sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Ayah,Abang." Panggil Cia, Keduanya langsung menengok kearah Cia.
"Kenapa?" tanya mereka secara bersamaan
"Bosen." Cia memonyongkan bibirnya.
"tapi ayah mau ke kantor sebentar cantik, kamu sama Abang ya?" Tawar Yoga.
"Ya udah sama Abang, Ayah hati-hati ya," Ujar Cia tersenyum.
"Iya."
"Yoshi!! kamu harus jagain Cia yak, ayah cuma sebentar!!" Ucap Yoga tegas pada putra keduanya.
"Iya ayah, Yoshi pasti akan jagain Cia," ucap Yoshi sambil menarik kursi roda untuk membawa Cia.
"Habis dari kantor, ayah belikan Cia bubur ayam ya ayah, yang instan juga gapapa yah," Ujar Cia.
"yang instan nggak baik, nanti ayah Carikan yang jualan ajah ya sayang, dadah." Yoga pergi meninggalkan ruangan.
Cia mulai mencoba berdiri dan di bantu Yoshi untuk duduk di kursi rodanya. Setelah duduk di kursi rodanya, Yoshi segera mendorong kursi tersebut keluar ruangan dengan membawa infus milik Cia.
"Abang..." Panggil Cia.
"Hm.." Reflek Yoshi berdehem sebagai jawaban. Ingat... hanya refleks.
"Abang suka sama Alluna?" tanya Cia tanpa ragu.
"Kata siapa?" bukan nya menjawab Yoshi malahan balik tanya.
"kalau ditanya itu di jawab, jangan balik tanya." Ucap Cia kesal.
"Hei." Yoshi memberhentikan kursi roda milik Cia di lorong dekat taman, yang otomatis taman ada di depan mata Cia.
Yoshi berjongkok di depan Cia yang ternyata kini melihat apa yang Yoshi lakukan. Mata mereka saling menatap satu sama lain.
"Dengerin ya, abang nggak suka sama Luna enggak, Abang lagi nggak ngurusin cinta-cintaan, Abang mau kamu sembuh dulu." Yoshi berucap sambil menarik tangan Cia agar di genggamannya.
"Abang tau nggak sih?" Tanya Cia mencoba tersenyum dan menahan kantung matanya.
"semua omongan abang itu omong kosong, hanya omongan semata. Cia butuh bukti, bukan kata-kata bang," ujar Cia mengalihkan pandangannya.
"Hei." Yoshi menarik wajah Cia agar kembali menatapnya.
"Kamu kenapa jadi ragu sama Abang?" Tanya Yoshi heran.
"dengan semua perilaku abang yang terjadi selama ini, dan Cia harus percaya sama omongan abang? nggak semudah itu bang. Kita sebenarnya kembar nggak sih? atau bunda dulu salah ambil anak orang?" tanya Cia heran.
"hust, hust, hust. Jangan nangis cantik, Abang tau. Sikap abang yang kemarin-kemarin membahayakan nyawa kamu, tapi setelah semuanya terjadi, abang jadi tau. Bahwa yang salah di sini abang, sepertinya emang abang nggak cocok di sebut kembaran kamu." Yoshi tau, kembaran nya kini sedang menahan tangis, telihat jelas dari sorot matanya.
"bahkan dari sorot mata abang ajah penuh kebohongan," Ujar Cia mencoba menghapus air mata yang lolos turun begitu saja.
Yoshi diam membisu, dia hanya menatap mata kembarannya, menurut nya tersembunyi amat banyak rasa sakit yang telah ia buat.
"kenapa diam? bener kan yang Cia omongkan," Ujar Cia.
"ABANG... DENGAN BERLARI, NGGAK BAKALAN BIKIN INI SEMUA SELESAI BANG!!!" Teriak Cia sambil menangis dan mencoba turun dari kursi roda.
Cia berusaha turun dari kursi rodanya, namun usahanya nihil. Dirinya malah terjatuh sambil menangis. bahkan kini darah keluar dari sela-sela infus.
"Awww.." Cia merintih kesakitan memegangi kepalanya.
"Nonaa...." Beruntungnya Cia, dokter Dwi berada disana, dan bisa membantu Cia untuk kembali duduk di kursi roda miliknya.
"Makasih Dok,", ujar Cia ketika dirinya sudah duduk di atas kursi roda miliknya.
"Sebentar yah nona, mungkin ini agak sakit jadi bisa menarik rambut saya." Ucap dokter tampan itu, yang memang kebetulan kini akan menjadi dokter Cia untuk temoterapi.
Saat dokter Dwi mencoba mengencangkan kembali infus yang berada di tangan Cia.
"Nona, sudah jangan merem terus." Dokter Dwi berdiri dan menatap Cia.
"Nggak terlalu sakit, ada apa ya dok?" Tanya Cia heran.
"Ini mbak obat sama vitamin nya, jangan lupa rajin di minum yah, terus kalau kambuh vitamin nya bisa di minum 2 tablet," ujar dokter Dwi tersenyum.
"Kambuh? Emang saya sakit apa ya dok, kalau boleh tau?" tanya Cia sudah merasa curiga.
"Anda mengalami sakit asma di peredaran paru-paru anda, dan sakit asma untuk sementara ini belum ada obatnya nona, jadi nona harus temoterapi setiap hari Jumat nona," Jelas dokter Dwi.
Cia diam membisu, pantas selama ini dirinya sering merasa sakit ketika mencoba mengambil nafas, merasa sesak nafas jika phobianya kambuh.
"b-beneran dok?" Tanya Cia memastikan.
"Maaf jika ini membuat Anda shok, mungkin keluarga nona belum siap memberitahu semuanya, tapi saya harus memberitahu kepada anda biar tau apa aja yang harus di lakukan," Ujar dokter Dwi.
"Makasih ya dok, bisa tinggalkan saya sendiri dok?" Tanya Cia, matanya melihat sebuah pohon yang berada di taman.
"bisa, saya pamit dulu ya nona." Dokter Dwi pergi meninggalkan Cia sendirian, namun dia masih memantaunya secara jauh.
Mata Cia kini melihat dua anak kecil dan satu anak perempuan yang kini berada di taman rumah sakit. Salah satu anak lelaki itu duduk di atas kursi roda seperti Cia.
Cia tersenyum melihat ketiganya, dirinya kembali mengingat kenangan masa lalunya. Di bawah pohon rumah sakit, Cia, Ryan, dan Yoshi tengah bersama.
Saat itu Cia dan Yoshi tengah menjenguk Ryan yang sedang cuci darah. Cia sangat ingat kejadian itu, kenangan-kenangan bersama Ryan di masa kecilnya membuat rindu dalam hatinya menggebu-gebu.
"Memang benar yan, Kamu itu cinta pertama aku."
Air mata Cia kini meluruh begitu saja, ketiga anak di depannya sedang tertawa bersama. Mereka telihat sangat lucu kiyowok.
"Apa cinta aku akan abadi bersama mu? Ryan.. Aku merindukan mu."
"Orang-orang salah Ryan. Jodoh kamu bukan kematian, melainkan aku... bukankah nanti kita akan bahagia di alam sana nantinya?"
Cia mengusap air matanya yang kini membasahi pipi miliknya, setelah mendengar penyakit yang di deritanya sekarang dia pasrah. dia tau bahwa semua yang ada di dunia ini itu hanya sementara, bahkan nyawanya juga hanya titipan semata.
"Ciaa, Maaf lama." Yoshi datang tergesa-gesa sambil menyentuh pundak Cia.
"Hm?" Cia bukan tipe orang yang malu ketika menangis, dia malah langsung menatap lawan bicaranya dengan kondisi yang ada.
"Kamu kenapa nangis hm?" tanya Yoshi khawatir.
"benar saja kamu mau fokus dengan kesehatan ku, kamu nggak mau aku pergi?" tanya Cia ngelantur.
"kamu bicara apa sih hm?, ayok kembali ke ruangan kamu. disini mau hujan, nanti kedinginan dan ayah akan mencari kita," Ujar Yoshi lalu kembali mendorong kursi roda Cia kembali ke kamar.
...Finish...
Jujur nih yah, Tahu yang ngetik ajah sambil nangis 😭 Kalian yang baca nangis nggak sih? kok saya nangis 😭