
Author kembali lagi malam ini😤🖐🏻
...Happy Reading...
Cia membuka gorden-gorden jendela kamarnya, penampakan pertama adalah segarnya perumahan disini.
"Pagi Bandung." Cia terbangun dari tidurnya kemudian berdiri dari ranjangnya.
"Seger banget gila," Ujar Cia lalu mencoba membuka jendela kamarnya.
"Beda banget sama Jakarta, bisa betah gw disini," Ucap nya kembali.
Kemudian Cia berjalan dan duduk di sebuah kursi santai, yang memang ada di bagian rooftop kamar. Cia menikmati terbitnya matahari ditemani secangkir cokelat hangat buatannya.
Hari memang masih cukup pagi, sekitar pukul 05.45 WIB, Bandung bagian pegunungan nya memang tidak mengecewakan segarnya alam membuatnya menjadi lebih lengkap.
"Eh itu ada kakek dibawah." Cia kemudian mulai melakukan agenda paginya. Bukan mandi ataupun apa, tetapi perawatan wajahnya terlebih dahulu.
sekitar 15 menitan, Cia selesai merawat wajahnya yang sudah seperti rutinitas setiap pagi. kemudian Cia keluar menuruni tangga dan melihat Han dan Kakeknya yang sepertinya sedang mengobrol bersama.
Han adalah orang yang paling anti dingin, karena keturunan. Dirinya tidak kuat jika berlama-lama di suasana dingin.
Cia berjalan menuju dapur, membuat dua gelas susu dan dua teh hangat untuk dibawa keluar. Kemudian Cia membawa nampan itu keluar untuk duduk bersama kakek dan temannya.
"Pagi Semuanya," Sapa Cia lalu menaruh nampan itu diatas meja.
"Pagi Cucuku," Ujar Irfan.
"Kakek, apa kabar?" Tanya Cia kemudian duduk di samping kakeknya.
"ya begini lah Ci, faktor umur." Irfan menyeruput teh yang tadi di bawa Cia.
"Kakek seharusnya banyak-banyak istirahat, Nenek kemana ini?" Tanya Cia mencari keberadaan neneknya.
"sedang berbelanja, itu di depan perumahan." Bukan kakek Irfan yang menjawabnya melainkan Han.
"Ya udah, aku mau nyusul nenek yak." Cia menaruh minuman yang tadi dia sempat minum, kemudian berdiri dari duduknya dan hendak berjalan.
"ya sana, kenapa disini dingin banget sih." Han tampak menggigil sambil mengusap pelan tangan nya.
"Namanya juga di pegunungan nak, ini mah seger liat nih kakek." Irfan tampak berdiri kemudian mulai menunjukkan beberapa gerakan senam.
"masih kuat juga yah kek," Ujar Han tertawa renyah.
"masih dong, gini-gini Masi ku- awww." Irfan tampak memegangi pinggangnya yang sepertinya encok.
"Astaga, kakek kalau mau senam hati-hati dong, inget umur." Han membantu Irfan untuk duduk kembali.
"Gapapa kok, udah biasa ini mah," Ujar Irfan kembali terduduk lalu bernafas lega.
"Oh iya nak, Kakek mau tanya, kalian kok hanya berdua saja? kemana kembaran nya Yocia?" Tanya kakek Irfan kembali meminum teh hangatnya.
"sebenarnya mereka lagi ada masalah kakek," Ujar Han membuka suara.
"masalah apa? bisa kamu jelaskan?" Irfan kembali dibuat penasaran.
"Jadi begini, jadi Yocia punya pacar sudah hampir dua bulan, kemudian beberapa hari terakhir ini banyak perubahan sama pacarnya Cia," Ujar Han mulai menjelaskan.
"siapa namanya?" Tanya Irfan
"Reygan Gevano Putra Aldebaran," Jawab Han.
"kayak kenal," Batin Irfan.
"Lanjutkan," sambung Irfan.
"Terus Cia jadi kepikiran karena tingkah Rey yang berubah-ubah, terus kemarin Yoshi bilang untuk mengurangi galau Cia, dia akan mengajak Cia jalan-jalan ke Mall, tapi setelah Cia menunggu lama malah nggak Dateng-dateng." Han tampak menjeda ucapanya.
"sampai Han datang, Yoshi belum datang. Sebelumya Han habis ngumpul sama Genk nya Yoshi, Han yang nggak tau yak bilang kalau Yoshi jalan sama Alluna ke Mall," Jelas Han.
"Akhirnya Cia yang merasa kesal, dan kebetulan katanya hari ini mau ke Bandung, dia ngajak malam-malam ajah langsung ke Bandung kerumah kakek nenek." Akhirnya Han selesai menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.
Irfan bukan orang Sembarang, dia itu seperti orang Istimewa yang tau apa yang akan terjadi kedepannya untuk keluarganya, bukan peramal bukan tapi ini seperti keturunan.
"Aduh, Firasat kakek udah nggak enak,"
"kenapa kek?" Tanya Han
"Cia harus berlatih menjaga dirinya sendiri, secara mama sama ayah nya lagi diluar negeri yang memang jarang menjaga anaknya." Irfan mulai menjelaskan apa yang ada di hati dan pikirannya.
"Kalau ngandelin kamu, Cia bisa menjadi beban kamu, lagian kamu belum tentu ada di dekat Cia bukan?" Tanya Irfan memastikan.
"Iya sih kek." Han menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sebaiknya Cia mengakhiri hubungannya dengan Rey, dia anak baik hanya saja mudah terhasut." Irfan mulai menutup matanya.
"Sepertinya Cia harus di masukan ke Mafia milik keluarga Mahendra." Batin Irfan.
"Nak, Kakek mau nawarin kamu, mau tidak jika harus menjaga Cia?" Tawar Irfan.
"Kakek kalau tanya aneh-aneh, pasti lah mau." Han tersenyum
"Kalau begitu, kakek akan mengajari Cia menjadi Mafia, tapi tolong kamu sembunyikan dulu ini yak," Ujar Irfan. Hal itu membuat Han melongo tak percaya, dia pikir mafia hanya ada di drama-drama dan novel saja.
"Kakek punya tim Mafia?" Tanya Han masih tak Percaya.
"Gini-gini Kakek punya Genk motor juga yak." Irfan tampak tersenyum bangga.
"Hebat Kakek, Han mau banget masuk ke Mafia sama Genk motor milik kakek." Han bertepuk tangan sambil masih tak percaya.
"Apa nih Tepuk-tepuk tangan?" Tanya Cia tiba-tiba saat masuk bersama Milla.
"Kakek hebat-"
"masih kuat olahraga, gerak sana sini yah nggak Han?" Tanya Kakek Irfan sambil menyipitkan matanya ke atas Han. Han yang paham akan kode itu kemudian mengangguk sambil tersenyum kikuk.
"Sudah-sudah kata mau bantu nenek masak, ayok nanti keburu Siang," Ujar Milla kemudian masuk.
"Han, mandi kek udah siang juga lagain." Cia kemudian masuk menyusul neneknya.
...////////...
Sedangkan di Jakarta, Rey dibuat bimbang kenapa pacarnya tidak bisa dihubungi? atau pacarnya marah karena kemarin jauh darinya.
"Aduh apa langkah gw salah?"
"atau yang gw pilih salah?"
Rey tampak mondar-mandir di kamar miliknya, berbeda dengan Bandung di Jakarta pagi ini sudah di kejutkan dengan jago merah yang melanda sebuah Kios. membuat asal tebal muncul di sekitaran.
"Gw kerumah nya aja kali yak, palingan juga lagu ngedrakor," Ujar Rey lalu mencari kunci motornya dan segera pergi menuju ke kediaman Yocia.
beberapa menit kemudian, Rey telah sampai di kediaman Yofel yang terlihat sangat sepi.
"Assalamualaikum"
Rey berkali-kali mencoba untuk memencet bel, sedangkan Yoshi yang merasa tidurnya terganggu kemudian memilih untuk membukakan pintu.
"Shi, Cia nya ada?" Tanya Rey.
"gw juga lagi kehilangan Cia bodoh! ini semua gara-gara Lu" Tanpa mikir panjang Yoshi langsung menyalahkan semuanya ke Rey.
"salah gw? salah nya yang mana anjir?" Rey dibuat bingung.
"lu pikun? kemarin lu bikin ulah apa anjir, kalau lu nggak bikin ulah Cia nggak bakalan jadi kayak gini." Sungguh Yoshi sudah tidak bisa menjaga emosinya.
"Maaf, iya ini salah gw, jadi sekarang dimana Cia?" Tanya Rey merasa bersalah.
"Gw juga nggak tau Bang*at." Yoshi memukul pintu yang terbuat dari kayu itu.
"Ya udah ayok Cari, lu udah cari di rumah teman-temannya?" Tanya Rey.
"oh iya, Bener gw lupa belum nyari, tunggu gw ambil jaket." Yoshi tampak membalikkan badannya kemudian berlari mencari jaketnya.
Rey duduk di kursi depan rumah itu, sebuah notif pesan membuatnya membuka ponsel miliknya.
"Ayok!!" Yoshi kemudian menutup pintu.
"Sorry lu duluan ajah, nanti kalau ada kabar hubungi yak." Rey tampak berlari menaiki motornya.
"BANG*AT" Yoshi berteriak emosi.
...Finish...
Author lagi rajin, Up dua