NOUS

NOUS
Nous 72



Author minta maaf ya, baru bisa up setelah beberapa hari nggak up.


...Happy Reading...


Dengan langkah kaki yang cukup cepat, Jio membopong tubuh Cia dengan hati-hati menuju UKS. Di dalam dekapan tubuh Jio, Cia hanya bisa merintih kesakitan.


Ini bukan awal yang baik bagi Cia, Cia bahkan sekarang merasa tidak nyaman berada di sekolahannya sendiri.


Jio membaringkan tubuh Cia secara perlahan-lahan keatas ranjang UKS. Cia menatap wajah tampan Jio sekilas, dirinya merasa wajah Jio sangat mirip dengan lelaki yang pernah singgah di hatinya.


Cia masih diam melihat gerak gerik Jio yang panik, dan mengambil kotak P3K. "ini sakit nggak?" Tanya saat menyentuh kaki Cia.


"Eh, e-enggak." Jawa Cia dengan sedikit gelagapan.


"Kenapa hm? mikirin apa?" Tanya Jio sambil mengoleskan salep di luka Cia.


"Kalau di lihat-lihat wajah lu mirip mantan gw," Ujar Cia asal.


"Gw sama Reygan beda jauh kali, beda turunan dan tanjakan malah," Ucap Jio sedikit bercanda.


"Nggak, Bukan Rey bukan. Mirip Ryan," Ujar Cia.


"Ryan? perasaan lu sekolah disini kelas 10 semester 2? Ryana siapa?" Tanya Jio semakin penasaran dengan masa lalu Cia.


"Tau nggak, ini cerita lucu banget asli. Masa gw kelas 8 SMP udah pacaran, eh bukan lebih tepatnya friendzone sama temen gw, itu yang Ryan-Ryan. Tapi sekarang hanya tinggal kenangan, walau sempat mengungkapkan rasa satu sama lain." Cia menggantung kalimatnya, sedangkan Jio malah semakin tertarik dengan cerita Cia.


"Dia udah pergi jauh, jujur nih ya masa SMP gw ada lucu, Susah dan senangnya." Cia tampak memijat kakinya.


"Pergi kemana Ryan?" Tanya Jio.


"Pergi ke surga, Surga tempat Ryan Ji. Disana Ryan nggak akan ngerasain sakit dan sendiri lagi, Ryan udah ketemu sama kakek dan neneknya, dan nggak usah bolak balik rumah sakit kayak dulu," Ucap Cia sedikit menjelaskan tentang Ryan. Sosok yang pernah ada mengisi hari-hari nya dengan tawa dan candaannya. Ada banyak Hal yang Cia pelajari dari Ryan, salah satunya dimana Ryan masih bisa tersenyum ketika mendengar semua penyakitnya.


Cia meneteskan air matanya, sungguh dia merasakan bagaimana susah nya Ryan, di usianya yang baru menginjak 14 tahun harus bisa ini itu sendiri, bolak-balik rumah sakit sendiri.


"Jangan nangis." Entah dorongan dari mana Jio langsung mendekat kearah Cia dan memeluknya.


"Salut gw sama dia, kehilangan nya adalah sebuah hal yang paling menyakitkan Ji," Ujar Cia.


"Udah jangan nangis, lu bisa anggap gw sebagai Ryan." Jio mengusap kepala Cia.


"Nggak Ji, gw mau lu adalah lu, lagian Ryan hanya masa lalu gw, maaf ya gw udah cerita ginian hehe." Cia melepaskan pelukan itu, Cia mengusap air matanya dan kembali tersenyum.


"ini ya Ci, dengerin!! Kamu baru sembuh, kamu harus istirahat, jangan sekolah dulu ya, makan nya sayur-sayuran, terus jangan lupa jaga kesehatan, jangan begadang, jangan ~~~"


"Iya-iya, bawel banget. Aku kan bosan, kamu mau aku ketinggalan pelajaran? kan sebentar lagi ulangan masa bolos Mulu," Ucap Cia.


"Aku-kamu ya sekarang? iya-iya sayang, besok-besok sama aku aja yak," Ucap Jio sambil terkekeh.


"apa sih!!" Cia memukul lengan Jio.


"Meh-meh-meh, baru juga dateng! udah di suguhin dengan pemandangan luar biasa," Ujar Jihan dkk yang baru masuk.


"Apasih, sana-sana." Cia mendorong tubuh Jio agar jauh dari tubuhnya.


"Abang-abang saya kemana ya?" Tanya Cia kepada teman-temannya.


"masih urus mba sasimo tuh," Ucap Jihan membalas ucapan Cia.


"Lu punya masalah apa sih sama Alluna sama Jessi?" Tanya Fariha heran pada Cia.


"Gw juga merasa nggak ada masalah sama dia, ya nggak tau kali ya mungkin dia merasa gw ada salah kali," Ujar Cia mengacuhkan bahunya asal.


"btw Gendis kemana?" tanya Cia


"Lah tadi di belakang gw, mungkin dia ke toilet kali," Ujar Fariha.


di satu sisi Kantin terlihat sangat ricuh karena adegan dimana Yoshi mencaci maki Alluna hingga menangis. Selama mereka sekolah di SMA Ganesha ini belum ada kejadian seperti ini sebelumnya.


"BAHKAN GW BISA BIKIN LU SAMA SAUDARA-SAUDARA LU INI!! ANGKAT KAKI DARI SEKOLAH INI!!" Sentak Yoshi penuh amarah sambil menunjuk teman-teman Alluna.


Alluna hanya menunduk sambil menangis sesenggukan, sepertinya dukun kemarin salah kasih mantra, pikir Alluna.


Eh༎ຶ‿༎ຶ


Yoshi sudah beberapa kali mengeluarkan kalimat-kalimat kasar yang selama ini belum pernah dia katakan.


Azlan dan Dion mencoba menenangkan Yoshi yang seperti kerasukan setan, sedangkan Han menghilang dari tempat kejadian.


"Udah shi udah, dia cewek shi." Lerai Azlan mengusap pundak Yoshi.


Yoshi yang masih terlihat kesal itu langsung meninggalkan tempat kejadian, di ikuti dengan Azlan dan Dion di belakangnya.


Rey juga menatap semuanya dengan kecewa, mau bagaimana pun dirinya tidak sepenuhnya mencintai Jessi.


"Hiks hiks hiks." Alluna tampak menangis sesenggukan.


"Gw tandain wajah lu Ci," Batin nya.


Alluna menghapus air matanya, sakit hatinya, lelah jiwanya, saat Yoshi katakan dirinya murahan.


Ya nyata sih


Rey berdiri dari duduknya dan mencoba pergi dari kantin.


"Mau kemana?" Tanya Jessi dengan suara alaynya.


"Mau ke kelas, sebentar lagi Bell," Ujar Rey pada Jessi yang sekarang menjadi kekasihnya.


"tap-"


...Kring..Kring..Kring...


"Udah bell kan?" Tanya Rey lalu pergi begitu saja.


"Yang sabar aja Jess, banyak-banyak sabar dah." Tristan berucap sambil mengusap bahu Jessi pelan.


"AAA KESEL?!" Jessi tampak menghentakkan kakinya menuju ke kelas.


...Di UKS...


Yoshi sudah sampai di UKS, dirinya harus mengontrol emosinya.


"Ci, abang bakalan keluarin si Alluna sama arek-arek nya," Ujar Yoshi membuat semua orang mantapnya.


"What? keluarin darimana?" Tanya Cia agak sedikit ngelag.


"Dari sekolahan kita lah, nggak kuat lama-lama abang dengan tingkahnya," Ujar Yoshi mengelus lembut rambut Cia.


"Gw setuju sih Shi," Ujar Dion.


"Gw juga setuju sih,"


"Gw makin setuju,"


"Ngapain dah main setuju-setuju aja," Ujar Cia heran.


"Udah sana masuk kelas semuanya, gw mau istirahat! jangan ada yang ganggu!!" Ujar Cia mengusir semuanya termasuk abangnya.


"Kamu ngusir?" Tanya Yoshi.


"Iya lah!" Jawab Cia enteng.


Mereka semua menuruti apa yang Cia mau, keluar dari UKS. Cia langsung menarik selimutnya dan mulai menutup matanya.


Kelas sudah di mulai, bahkan kini semuanya menatap papan tulis. Rey sedikit terlihat gelisah, "Kamu kenapa?" Tanya Jessi.


"Gapapa," Jawab Rey singkat.


"Bu." Rey mengacungkan tangannya.


"Kenapa Rey?" Tanya guru itu.


"Izin ke toilet ya Bu," Ujar Rey lalu pergi menuju pintu keluar rumah.


"Rey!! ikut," Rengek Jessi.


Semua seisi kelas langsung ketawa mendengar penuturan Jessi yang menurutnya menjyjykan.


"gila mau ngapain lu? ngintilin pacar Mulu," Ujar Jihan ketawa.


"Sudah-sudah!! kembali menghadap papan tulis!!"


...Finish...


CARI TAHU TENTANG NOUS DI IG MOMY TAHU YUK!! @LONELY_FRIEND3030