
Langsung cap cus episode selanjutnya ini... Nggak Vote sama like, apalagi nggak komen 🌚 Author santet and dobrak rumahnya.
...Happy Reading...
Empat mobil sport melaju berturut-turut memasuki halaman rumah sakit yang memang pada dasarnya cukup luas.
Saat sudah sampai, Empat lelaki keluar dengan kostum masing-masing, mereka juga kembali menjadi sorotan orang-orang yang berada di sana.
"Gini amat jadi orang ganteng, jadi sorotan tuh," Ucap Han PD sambil berjalan beriringan menuju ruangan Cia.
"PD amat, orang liatin Yoshi bukan elu," Ujar Yovie kekeh.
"Dih liatin gw itu."
"sudah-sudah diem." Yoga sangat sensitif dengan kebisingan, jadi tolong diam jika berada di sebelahnya.
"kenapa kita nggak bikin Circle orang-orang keche, lihat.... kita sangat keche bukan," Ujar Han kembali.
semua hanya diam, Yovie kali ini sedang tidak mau meladeni orang seperti Han.
"kok pada diam? salah yah?" tanya Han keluar dari lift dengan ketiganya.
"Ayah!!! ditunggu dokter itu," Teriak Feli saat melihat mereka berempat keluar dari lift.
"Kalian kompak amat jalan nya, behh mana ganteng-ganteng lagi anak bunda semua ini," Ucap Feli memuji putra-putra nya dan suaminya.
"Anak bunda gitu lohhh," Han kini menanggapinya dengan tersenyum smirk.
"sudah-sudah, ayok ayah udah di tunggu dokter di ruangan nya." Feli menarik tangan suaminya dan berjalan menuju ruang dokter.
"Masuk yok," Ajak Han, namun Yovie dan Yoshi malah sudah masuk duluan.
"Yeay... Abang sama Han datang," Ucap Cia senang.
Cia sendiri tau bagaimana saat yang tepat, dimana dia harus bersikap wajar dan harus bersikap Siya bukan Cia.
"Hallo tuan putri, Abang datang." Yovie duduk di sebelah kanan ranjang Cia, sedangkan Yoshi duduk di samping kiri ranjang Cia.
"Abang... ayah bawa susu kotak nggak?" Tanya Cia pada kedua abangnya.
"Nggak kayaknya dek, kamu mau susu kotak?" Tanya Yovie pada Cia.
"Iya mau indomilk bang, beliin rasa cokelat sama putih," Ujar Cia tersenyum.
"Biar abang yang belika yah," Ucap Yoshi hendak pergi.
"Jangan." Cia mencekal tangan Yoshi.
"Biar bang Yov ajah, kalau sama bang Yoshi kurang meyakinkan," Ucap Cia.
Demi kebaikan mood Cia yang hari ini cerah seperti cuaca, Cia meminta tolong kepada Bang Yovie supaya pas balik bawa barang yang dia pesan. Sedangkan jika Yoshi yang beli, takut seperti yang sebelum-sebelumnya, beli nasi Padang bisa sampai Berjuta-juta abad Masehi.
Yovie akhirnya mengiyakan keinginan Cia, dan pergi menuju ke mini market yang berada di depan rumah sakit.
sedangkan di satu sisi, Yoga dan Feli kini tengah serius mendengarkan apa yang dokter itu bilang.
"Oleh karena itu, Nona Cia tidak boleh kecapaian, tidak boleh sampai terkejut, apalagi seperti sebelum-sebelumnya, phobianya kambuh itu malah semakin menyebabkan penyakitnya parah tuan, nyonya." Jelas dokter itu.
"Bagaimana caranya supaya putri saya sembuh Dok?" Tanya Feli khawatir.
"Sebenarnya ada caranya, intinya itu tadi semua jangan ada yang terjadi dan rutin meminum obat dan vitamin nya," Tambah dokter itu.
"Cia bakalan sembuh kan dok?" Tanya Feli pada dokter itu.
"itu semua kehendak tuhan yang di atas tuan, nyonya. Sekarang kita hanya bisa berdoa," Ucap sang dokter.
"Ayah... Bunda nggak mau kehilangan putri bunda ayah," Tangis Feli benar-benar pecah saat mendengar penjelasan dokter.
"kita berdoa ajah bunda, kita jaga Cia dengan benar," Ucap Yoga mengelus kepala sang istri.
"Saya permisi ya tuan, nyonya." Karena merasa kondisi tidak bagus, dokter itu segera pergi keluar ruangan.
"Bagiamana kalau Cia tau yah? dia pasti sangat sedih," Ucap Feli sambil menangis.
"Hust, cepat atau lambat Cia pasti akan tau semuanya kan Bun? sekarang intinya fokus ke Cia sama Daddy okeh?" Yoga mencoba menyemangati istirnya yang sepertinya kini butuh sandaran.
Cukup lama menunggu air mata Feli habis, Akhirnya kini Feli dan Yoga kembali ke ruangan Cia.
"Sayang," Panggil Feli saat membuka pintu ruangan Cia.
"Gimana Bun?"
"Gimana Bun?"
Tanya Yovie dan Han bersamaan, sedangkan Yoshi hanya menunduk menahan segalanya sendiri.
tanpa di ketahui oleh Yoga dan Feli, tadi Yoshi sempat mendengar sedikit pembicaraan kedua orang tuanya dan sang dokter.
Sakit rasanya, ketika mengetahui kembaran nya mengalami hal seperti ini. Kenapa bukan dirinya saja yang mendapatkan ini semua.
"Gapapa, Cia hanya butuh istirahat sama rajin minum obat," Ucap Feli. Dari sorot matanya terlihat jelas Feli menahan suatu hasrat.
"Cia kan memang harus rajin minum obat bund, biar cepet pergi dari sini. Nanti kalau Cia udah sembuh, ayah sama bunda ajak Cia ke Raja Ampat ya, soalnya selama Cia di Indonesia nggak pernah liburan," Ucap Cia senang sambil meminum susu kotak miliknya.
"Mau kemana ajah, ayah anterin. intinya putri ayah harus rajin-rajin minum obat," Ucap Yoga lalu mengelus rambut Cia.
"Kalau Cia udah sembuh, nggak usah minum obat ayah, Cia kan udah sehat nanti." Cia berbicara sambil tersenyum dan tertawa senang.
"Ayah sama Bunda janji ya, jangan pergi ke London lagi, nanti nggak ada yang temenin Cia," Ucap Cia kepada kedua orang tuanya.
"Janji, ayah sama bunda ke London cuma buat tes kesehatan oppa sayang." Ucap Yoga tersenyum manis.
Sedari tadi Feli hanya diam, mendengar semua ucapan yang keluar dari bibir Cia membuatnya ingin menangis.
"Ini pasti ada apa-apa, Cia sehat-sehat ajah kan? pasti kan?" Batin Han.
"Cia kuat, Cia adik kesayangan Abang," batin Yovie.
"Gw harus kuat, kita kembar kalau gw kuat, Cia pasti kuat juga," batin Yoshi.
"Kalian kenapa pada diem-diem sih, Cia sama ayah doang masa." Cia tampak cemberut.
"Nggak kok sayang, bunda lagi sedikit pusing ini," Ujar Feli memegang kepalanya yang memang pusing.
"Bunda pulang ajah, Ayah pasti akan menemani Cia sama abang," Ucap Cia.
"Tapi sayang,"
"Bunda hust, Masa Cia sakit bunda ikut sakit, bunda pulang ya istirahat," Ujar Cia.
"Bang antar bunda mu pulang," Pinta sang Yoga pada putra pertamanya.
"Ayok bund," Yovie membantu bundanya berdiri dan berjalan.
"Han ikut boleh?" Tawar Han.
"Han juga pengen rebahan sebentar di sana heheh," Ujar Han tertawa renyah.
"Pergi ajah heheh," Ucap Cia.
"Ayah bakalan jagain Cia, tenang ajah kalian."
...•••...
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam membisu dengan pikiran nya masing-masing. Hujan membasahi kota kali ini, kota yang awalnya cerah seperti senyum Cia, tergantikan dengan rintikan hujan yang membasahi bumi.
"Bun..." Panggil Han dan Yovie bersamaan.
"hm?"
"Ada apa dengan Cia Bun?" Tanya Han duluan.
"Nggak mungkin Cia harus meminum obat selalu kan?" kini Yovie ikut bertanya.
"Sebenarnya Ciaaa....,"
Feli menjelaskan semuanya yang dokter bicarakan padanya.
...Finish...