
SUDAH SIAP BACA??? BISMILLAH DULU YA SEBELUM BACA!!! LANGSUNG END NIH....
...:¨·.·¨: Welcome to :¨·.·¨:...
...🅂🅃🄾🅁🅈 🄻🄾🄽🄴🄻🅈...
HALLO SEMUANYA💗😰 apa kabar nih???🤺 Baik-baik ya!!! Sebelumnya jangan lupa untuk
➻ Like
➻ Komen
➻ Vote
Yuk follow sosmed Authornya dulu, dan pantengin anak-anak Author🤺🤸🏻♀️ @Lonely_Friend3030 dan @Nous_Official123.
Aku bakalan spoiler di Instagram dan Tik tok!!! Pantengin terus yak🔥🔥🔥
...Salam hangat...
...:¨·.·¨:𝔏𝔬𝔫𝔢𝔩𝔶𝔉𝔯𝔦𝔢𝔫𝔡:¨·.·¨:...
...Happy Reading...
Yoshi berjalan mondar mandir di depan ruang UGD, pikirannya berkecamuk.
"Cia gimana?" tanya Feli tiba-tiba dari ujung lorong sana.
Yoshi mengangkat kepalanya, dilihatnya kedua orangtuanya yang terlihat sangat khawatir akan kembarannya.
"Ini bagaimana bisa terjadi?" tanya Yoga.
"Kalau ga bisa jaga Cia, mending tadi ga usah ngajak pergi." Yovie menatap adiknya marah.
Yoshi mengaku salah, membiarkan sang adik jauh darinya. Yoshi juga kurang mengawasi yang ada di sekitar sang adik.
Dokter keluar dari ruang UGD, dia menatap satu persatu keluarga pasiennya.
"Kondisi saudari Cia sangat kritis, dia tidak seharusnya terkena udara dingin, atau dinginnya air malam. Lagipula dia tidak bisa berenang." Dokter itu menghembuskan nafasnya.
"Saya yang salah dok, apa yang harus di lakukan untuk adik saya?" tanya Yoshi tergesa-gesa.
"Lebih baik bapak dan ibu ikut ke ruangan saya terlebih dahulu, sambil menunggu dokter Dwi selesai memeriksa dua pasiennya," Ujar Dokter perempuan itu mengajak Yoga dan Feli pergi menuju ruangannya.
Yoga dan Feli berlalu mengikuti sang dokter. Yovie dan Yoshi mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia.
"Kenapa?" tanya Yovie tanpa basa-basi.
"Jadi begini bang, tadi pas dateng masih baik-baik aja. Cia bilang dia akan duduk bareng Jihan sama Fariha, ya terus gw iyain kan, gw duduk ga jauh dari Cia sambil pantau dia." Yoshi mulai menjelaskan apa yang terjadi kepada sang abang.
"Terus, tiba-tiba Byur begitu aja. Tapi gw liat Jihan sama Fariha ga lagi sama Cia, sepertinya mereka lagi ambil minum gitu. Nah Cia memilih diam di deket kolam," Jelas Yoshi yang sedikit melihat akhir-akhir tragedi.
"bang, Cia gapapa kan?" tanya Yoshi khawatir.
"Doa aja dek,"
Sedangkan diruang dokter, Yoga dan Feli sedang mendengarkan apa yang dokter itu katakan.
"Jadi, sangat sedikit ya dok?" Feli meluruh begitu saja.
"Iya, tapi bapak dan ibu tenang saja, kami dari tim medis akan melakukan yang terbaik demi kondisi Cia." Dokter itu mencoba meyakinkan.
"Sebaiknya sekarang kita melakukan transfusi darah terlebih dahulu, karena darah saudari Cia termasuk rendah dan membutuhkan sedikit darah. Mungkin bapak atau ibu, mau sedikit mendonorkan darahnya?" Tanya sang dokter.
"Darah saya aja dok, saya ayahnya sudah pasti darah kita sama." Yoga berdiri.
"Saya juga gapapa dok, tapi tolong selamatkan putri satu-satunya kami dok." Feli tampak memohon menaruh harapan kepada dokter itu.
"Kami akan melakukan yang terbaik, mari ke ruang transfusi darah pak," Ujar Dokter itu mengajak keluar.
"Ayah, Bunda." Yoshi memanggil kedua orangtuanya.
Yoshi dan Yovie berlari mendekati mereka, "Dokter Dwi sudah masuk ke ruangan Cia yah, bund," Ujar Yovie memberi informasi.
"Sukur kalau begitu, Jagain adik kalian." Feli menyuruh kembali anak-anaknya.
"Ayah mau kemana bund?" tanya Yovie kebingungan kala melihat Yoga pergi memasuki ruangan entah apa itu.
"Ayah akan transfusi darah, adik kamu kekurangan darah, darahnya kurang stabil dan wajahnya sangat pucat," Jelas Feli menguatkan dirinya.
"Ayok kembali ke ruangan adik kamu." Ajak Feli pergi terlebih dahulu.
"Bunda duluan aja, aku pergi ke kantin rumah sakit dulu ya bund," Pamit Yovie terdengar samar-samar di telinga Feli.
Feli menengok dan mengacungkan jempol nya, lalu kembali menuju kursi yang terdapat putra nya.
Yovie memang benar menuju ke kantin untuk membeli Coffe cup, ia mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia di kantin itu.
Ia meraih ponselnya, ia menghubungi Cindy, wanita yang kini bisa di bilang akan menjadi miliknya selamanya.
Yovie berlalu pergi meninggalkan kantin rumah sakit, membeli beberapa cemilan dan minuman untuk adik dan kedua orangtuanya.
Saat kakinya melangkah melewati ruang transfusi, ia sedikit mendengar perkataan antara ayah dan sang dokter.
"Cocok darahnya ya pak, nanti kami akan melakukan transfusi darah ke tubuh saudari Cia," ujar dokter itu.
"Ya cocok, saya ayahnya." Yoga berdiri dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Yovie yang panik lalu ia langsung bersembunyi, Yovie melihat sekelilingnya. Ia jadi penasaran, Yovie masuk kedalam ruang transfusi.
"Ada apa ya mas, ada yang bisa dibantu?" tanya dokter itu.
"tadi ayah saya habis transfusi darah dok? saya juga mau, buat adik saya kan?" tanya Yovie.
"bisa kok mas, biar saya cek dulu darahnya ya mas." Dokter itu mendekat dan mengambil sedikit darah untuk stempel.
Setelah beberapa menit Yovie menunggu, hasil pun keluar. Yovie sangat excited, dia sangat yakin bahwa darahnya pasti sama dengan sang adik perempuan.
"Maaf mas, darah kalian berbeda." Dokter itu menunjukkan surat itu.
Yovie melongo tidak percaya, apa-apaan ini?
"darah ayah saya apa dok?" tanya Yovie tak percaya.
"Darah pak Yoga dan saudari Cia sangat cocok, sama-sama golongan A+, sedangkan punya mas sendiri darahnya B mas," Jelas dokter itu.
Yovie keluar dari ruang transfusi masih dengan tangan yang membawa plastik, kertas yang ada di tangan nya ia lipat dan menaruhnya di saku.
"Darimana kamu? di kantin kamu pdkt an ya?" Tanya Yoga kala melihat sang putra datang.
"Iya, tadi minta no mba kasir nya dulu." Jawab Yovie asal.
"Minum dulu, jangan terlalu tegang." Yovie memberikan mereka satu persatu minuman.
...******...
Sudah lima hari Cia kritis, Yoshi masih setia menemani sang kembaran. Setiap hari dia menemani sang kembaran, setiap hari teman-teman mereka datang. Namun, mereka hanya dapat melihat Cia terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan oksigen.
Yoshi menghembuskan nafasnya panjang, dia membaringkan tubuhnya di atas sofa yang tersedia. Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 malam, Yoshi memang jarang sekali tidur, dia hanya ingin jika sang adik bangun, dia yang akan melihatnya pertama.
"Kamu ga cape tidur terus?" Tanya Yoshi mendekat.
"Dari kecil kita bersama-sama, kamu sakit banget ya dek. Sakitnya sampai ke sini dek," Jelas Yoshi memegang dadanya sendiri.
"Ayah sama Bunda udah ga sibuk lagi, mereka sudah ada waktu dek, ayok ke Mall bareng-bareng lagi." Yoshi menggenggam tangan perempuannya itu, perempuan kedua yang ada di hatinya setelah sang bunda.
"Ga perlu sakit dek, ayok gantian. Gapapa kalau Abang yang harus berbaring disini dek," Ujarnya kembali.
"Kamu tidur terus, lagi ketemu Riyan yah?" Tanya Yoshi.
"Kala udah ga kangen Riyan, ayok balik. Gantian Abang yang kangen dek, Abang ga mau kehilangan kamu," Jelas Yoshi masih menggenggam jari-jari sang adik.
Tubuh yang ringkih, wajah yang pucat, kulit yang semakin hari semakin tipis dan gerak perut yang semakin melambat.
Cia, gadis dengan sejuta keceriaan itu sekarang sedang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Setelah kejadian itu, kini dari pihak Yoga sedang melakukan penyelidikan.
"Mau dengerin cerita ga? Dulu pas kamu masih kecil, waktu kamu selalu bermain dengan Riyan, Abang cemburu tau, gatau aja. Riyan menang banyak yah di hati kamu." Yoshi kembali mengingat masa-masa kecilnya.
"Waktu kamu di culik, Abang ngerasa kalau itu salah Abang. Andai dulu Abang nggak ninggalin kalian berdua di taman itu, andai dulu Abang dengan benar jaga kamu, pasti ini ga akan terjadi kan dek?"
Yoshi menumpahkan air matanya, dirinya sama-sama jatuh kali ini. Jika ditanya, siapa yang paling hancur saat ini? mereka berdua sama-sama hancur. Ayolah, kini sedang berduka satu sama lain.
Yoshi mengangkat kepalanya, ia menghapus buliran air matanya yang jatuh. Dia menatap sang adik, perlahan mata perempuan itu terbuka.
"Dek, Cia..." Panggilnya senang.
"Yoshi." Pertama Kalinya Cia memanggilnya tanpa sebutan Abang.
"Heem, kenapa? mau apa? makan? minum?" tanya Yoshi kelewatan senang.
Cia menengok dan melihat satu cangkir air, Yoshi yang paham langsung mengambilnya dan menaruh sedotan agar Cia lebih mudah meminumnya.
Cia merenggangkan kedua tangannya, mau sebanyak apapun kesalahan Yoshi, dia akan tetap menjadi saudara yang pernah melihat perjuangan nya sejak kecil.
Yoshi memeluk sang adik, dia membopong tubuh kecil itu dan membawanya kedalam pangkuan nya. Yoshi mencopot alat oksigen itu, ia tau sang adik ingin berbicara dengan nya.
Tangis keduanya sama-sama pecah, memeluk satu sama lain, menyalurkan rasa sakit yang keduanya sama-sama rasakan.
"Kangen ...." Yoshi memeluk nya erat tapi masih membiarkan Cia bernafas.
"Abang, Cia udah capek bang." Cia merintih kesakitan.
Rasanya seluruh tubuhnya sakit, dia masih memeluk sang kembaran itu tak kalah erat.
"Abang, takdir itu ga jahat. Kalau Cia pergi, Abang harus janji rajin belajar, abang harus bisa kuliah dan ambil jurusan kesukaan Abang," Ujar Cia.
"Ayah sama Bunda pasti seneng kalau ngeliat anaknya sukses," Ujar Cia terbata-bata.
"Bang, kalau bang Yovie menikah minta bang Yovie jaga pasangannya baik-baik ya, Cia nitip ponakan yang lucu mirip dengan Cia ya," Ujarnya masih menangis.
"Kamu mau ngomong apa sih ci?" tanya Yoshi meneka air matanya.
"Cia udah ga lama, Cia ga yakin bisa liat Abang nikah, Cia ga yakin bisa liat Abang lulus dan kita lulus bersama-sama, Abang makasih udah selalu ada di dekat Cia. Abang adalah Abang terbaik dan terkeren Cia, Abang itu pahlawan Cia sesudah ayah." Cia menangis histeria, rasanya semakin sakit.
"Nitip salam buat semuanya nya bang, Abang tau diary Cia yang ada di atas meja kan? nanti Abang baca ya, terus di laci Cia ada banyak surat-surat di bawah resep obat. Kasih surat itu satu persatu sesuai namanya ya bang," Ujar Cia menyenderkan kepalanya di dada sang kembaran.
"Kamu mau kemana? Abang ga mau ya, kalau kamu pergi Abang harus ikut." Yoshi mengusap wajah pucat Cia, ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik sang adik.
"Abang jangan ikut, Abang, Cia nitip amplop yang warna merah buat Jio ya bang."
"Iya sayang iya, kamu istirahat aja. Besok pagi ayah dan bunda pasti datang kok." Yoshi mengusap keringat di antara wajah cantik sang adik.
"Cia udah berhasil rangking satu, tapi Cia gagal buat bertahan bang, izinkan Cia istirahat ya bang?" Tanya Cia menahan kantuk di matanya.
"Iya, istirahat dong... Biar kamu cepet sembuh," Yoshi memeluk adiknya.
Setelah mata itu tertutup, Yoshi menatap wajah tenang sang adik. perlahan nafas itu tida terdengar, wajahnya semakin memucat dan tangan yang tadi ia genggam perlahan dingin.
Yoshi panik, dia menepuk pelan pipi Cia. "Dek, Dek."
"ADEK..." Tangis Yoshi pecah begitu saja...
"CIA, JANGAN!!" Yoshi menangis histeris. Dipeluknya tubuh sang adik yang semakin dingin dan putih.
Yoshi memeluk dan mencium wajah cantik yang kian memucat itu, dia salah paham, salah dia mengizinkan Cia untuk beristirahat.
Hari ini, Rabu 15 Juni 2022, pukul 01.45 menit, Yocia Ganesha Mahendra Putri, menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Pelita.
Yoshi membaringkan tubuh sang adik, dia meraih ponselnya dan menelfon sang abang.
"Kenapa dek?" Terdengar suara serak khas bangun tidur.
"Belum pagi dek, kenapa sih? kok diem aja," Yovie menggerang kesal kala tak ada suara apapun, tiba-tiba terdengar suara tangisan.
"Kamu kenapa? ada apa?" Tanya nya khawatir.
"Cia, udah ga ada bang..?" Kalimat itu, kalimat yang paling dia takuti seumur hidupnya.
"Ga lucu dek, masih fajar ini gausah bercanda..." Yovie tampak sangat tak percaya.
"Abang bilang ke ayah aja, bunda dibilangin nya nanti aja... Takut ga kuat bang," Yoshi menangis terseguk-seguk.
"Abang akan kesana dek..."
Yoshi mematikan telefonnya secara sepihak...
Yoshi mendudukkan dirinya di samping jasat Cia, ditatap nya wajah sang kembaran yang sedang tersenyum cantik dan semakin pucat.
Rasanya kini dunianya hancur, apa yang akan terjadi? bagaiman dengan ini? Rasanya otak itu sangat lelah.
Yoshi keluar dari ruangan, dia memanggil beberapa suster dan memberitahu kondisi sang adik.
Usai sudah perjuangan Cia, usai sudah rasa sakit yang menjalar pada tubuh Cia. Kini, dia dapat tertidur tenang tanpa merasakan sakit, tanpa harus mengkonsumsi obat-obatan lagi. Semua tentang perjalanan hidupnya kini akan menjadi cerita bagi keluarga Ganesha Mahendra, sesakit apapun dunia, sekejam apapun dunia, jika memang sudah takdir, apa yang harus kita lakukan?
Yocia Ganesha Mahendra Putri, Gadis cantik dengan sejuta keceriaan, gadis cantik dengan sifat cerewetnya, gadis cantik penyuka bakso extra toge. Gadis yang baik, gadis yang banyak disukai oleh orang karena sifat ramahnya. Gadis cantik dengan senyum manis dan lesung pipi di pipi kanannya.
Kini, cerita ini telah usai, telah usai juga perjuangan ini, sudah cukup rasa sakit ini...
...End...
SELESAI!! GIMANA? DAPAT FEEL NYA GA? MAAF GA BERBAKAT BIKIN CERITA SAD...
Tenang-tenang, jangan sedih kita ada beberapa bonus chapter untuk beberapa part cerita ini...
Yuk Follow sosmed Fiksi ini!!!
@Lonely_friend3030
@Yocia_gnshputri
@nous_official123
@Reygan_gevano
@Yoshi_Ganesha
Di INSTAGRAM YAA!! Pantengin terus, di tunggu aja bonus chapter cerita ini😍 Aku juga ada cerita baru, kalian buka aja profil aku, disana ada cerita "Guruku Suamiku" GENRE: Perjodohan...