
Chaca dan yang lainnya sudah pergi untuk membebaskan Sandra itu sementara putra, septa dan kiyara melawan semua musuh mereka dan kiyara melawan pria paruh baya itu sendirian.
"Kami akan melawan mereka kalian berhati hatilah."ucap putra memperingatkan chacaha dan yang lainnya.
"...."
"Aku akan melawan pria paruh baya itu dengan kekuatan yang aku punya."ucap kiyara pada putra dan septa.
"Jangan bodoh kau kiraya, dia bukan lawanmu yang sebanding."ucap putra memperingatkan kiyara.
"Kau tenang saja aku bisa, percakan padaku."ucap kiyara dengan yakin.
"Kau akan mati kiyara."Ucap pria paruh baya itu dengan suara yang keras dan tak lupa tertawa yang khas.
"Kita lihat siapa yang akan mati, kau atau aku."ucap kiyara.
"Aku akan membunuhmu."ucap pria paruh baya itu.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu pak tua."ucap kiyara dengan sarkasnya.
"Akan ku pastikan itu terjadi, dan saat kita mulai, akan ku pastikan tidak akan ada yang membantumu.
"kita lihat saja nanti siapa yang akan menang kau atau aku."ucap kiyara dengan tatapan tak kalah tajam.
Taka lama setelah itu pertarungan mereka semua pun dimulai, kiyara tanpa basa basi ia langsung saja mengeluarkan benda benda yang ia bawa karena ia tau jika kelemahan pak tua itu pada benda yang ia bawa dan ia yakin bawa ia dapat mengalahkannya.
"Aku akan mengalahkan anak ini."ucap ketua mereka.
"Baik bos."ucap semua anggota lainnya.
"Kiyara kau hati hatilah, jangan sampai mereka melukaimu."ucap suara pria yang begitu jelas dan keras dari arah luar.
"Baiklah aku mengerti."ucap kiyara.
"Septa kau juga berhati hatilah."ucap pria yang ada di sebrang dirinya yang juga sedang melihat kearahnya.
"Baiklah aku mengerti."ucap septa pada putra.
ditempat lain.
chacaha Dimas Devan dan Julian sedang menelusuri setiap kamar yang ada disana untuk mencari keberadaan Sandra yang akan mereka bebasi untuk menyelesaikan misi mereka.
"Bagaimana ini kita sudah cari disemua tempat tapi tidak ada."ucap Chacha yang mulai lelah.
"Kita engga boleh nyerah ca inget mereka juga bertarung untuk menyelamatkan kita bukan."ucap julian pada chaca.
"Iya chacaha engga nyerah ko, cuma Chacha binggung aja kita harus cari kemana lagi."ucap Chaca pada sahabatnya.
"Cha kira cari lagi ya jangan nyerah, mereka aja engga nyerah untuk melindungi kita." ucap dimas pada Chaca.
"Baik kalo gitu, ayo kita cari lagi, maaf ya guys."ucap Chacha pada semua sahabatnya.
"Okay cha."ucap Chacha tiba tiba kembali bersemangat.
Saat sedang ingin mencari kembali tiba-tiba beberapa anak buah dari ketua gengster itu mencoba untuk menghadang mereka untuk tidak bisa menyelamatkan Sandra yang mereka tawan.
"Hey kalian,apa yang kalian lakukan disini."ucap salah seorang pria itu.
"Kami ingin bermain bola disini."ucap chaca yang menjawab dengan tiba tiba karena panik.
"Main bola."ucap salah satu dari mereka.
"Tentu saja, main bola."ucap Dimas yang tiba tiba menimpali.
"Siapa lawan siapa."ucap Banu yang melihat kearah mereka.
"Kami lawan kalian."ucap julian tiba tiba.
"Lian kamu itu ngomong apa sih."ucap Chacha tiba tiba.
"Cha waktu kita engga banyak, dan kita harus segera membantu mereka yang sedang bertarung disana.
"Ya baiklah, tapi kita juga harus tetap Berhati-hati."ucap julian pada yang lainnya.
"Lian gue Titip anak anak yang lainnya sebentar karena gue harus bantu za disana, dan gue yakin dia kewalahan."ucap devan tiba tiba bersuara.
"Tapi gimana sama kita."ucap dimas dan Chacha bersamaan.
"Udah kalian tenang aja udah ada gue."ucap julian pada Dimas dan Chacha.
"Lo boleh pergi sekarang."ucap julian pada Devan.
setelah itu devan pergi untuk membantu kiyara karena ia tau jika kiyara tidak bisa melawannya sendiri karena bos mafia itu bukanlah lawan yang sepadan dengannya.jika hanya dilawan sendirian.
"Devan, apa yang kamu lakukan disini."ucap kiyara yang merasa binggung dengan kehadiran devan.
"Lalu chaca dan yang lainnya bagaimana."ucap kiyara pada Devan.
"Kamu tidak perlu merasa khawatir karena disana ada julian."ucap devan pada kiyara.
"Baguslah jadi bukan hanya Dimas dan Chaca disana, karena mereka berdua belum bisa diandalkan.
"Apa kalian sudah selesai dengan pembicaraan kalian."ucap bos mafia yang ada didepan mereka.
"Tentu saja sudah, memangnya kenapa."ucap kiyara pada bos mafia itu.
"Tidak jika belum kalian bisa melanjutkan nya terlebih dahulu."ucap bos mafia itu.
"Bukan urusanmu."ucap kiyara pada bos mafia itu.
"...."
Setelah itu kiyara memberi code pada Devan untuk menyerangnya lewat belakang, agar ia bisa menyerangnya lewat depan.
"Sekarang."ucap kiyara pada Devan lewat code mereka.
"Baiklah."diikuti akunggukan kepala oleh Devan.
Kiyara dan devan melawan pria paruh baya itu dengan Sangat santai namun pasti secara bersamaan dan menghajarnya dengan penuh semangat, tanpa ada yang ingin menyerah dan mengalah.
"Sekarang siapa yang akan mati pak tua."ucap kiyara dengan tatapan tajamnya.
"Aku akan mebunuhmu."ucap pria paruh baya itu dengan tatapan tak kalah tajam.
"Apa kamu tidak salah."ucap kiyara pada pria paruh baya itu.
"Apa kalian berfikir jika aku akan mengalah begitu saja dengan kalian."ucap pria paruh baya itu.
"...."
"Apa sekarang kaliab merasa takut denganku."ucap pria paruh baya itu kembali.
"Kami tidak takut dengan mu, jadi jangan terlalu senang karena apa yang menjadi harapan mu tidak akan terjadi."ucap kiyara dengan sarkasnya.
"Baiklah jika seperti itu aku merasa senang bisa bermain dengan kalian begitu lama."ucap pria paruh baya itu dengan wajah tersenyum yang sulit di artikan.
Ditempat lain
Akhirnya Julian berhasil menemukan wanita itu dan berhasil menyelamatkan wanita itu dengan susah payah, dan mereka bergegas pergi dari sana dan tak lupa membawa sandra seorang wanita bersama mereka.
"Kami sudah menyelamatkan nya."ucap julian pada putra, dan kiyara.
"Bagus jika seperti itu, bawa gadis itu bersama kalian dan sembunyi ditempat yang aman."ucap putra dan kiyara bersamaan.
"Baiklah kami akan membawanya ketempat yang aman."ucap Julian pada putra dan kiyara.
"Baiklah jika sudah kamu langsung kesini."ucap putra pada Julian.
"Baiklah."ucap Julian kembali.
Julian, dimas dan chaca mereka pergi ke tempat yang diberitahukan putra dan mereka akan aman disana dan tak lupa mereka bersama dengan gadis yang disandra itu bersama mereka.
"Kita disini dulu sambil menunggu mereka datang baru setelah itu kita kembali."ucap Dimas pada yang Chaca dan wanita itu.
"Si...si..apa kalian."ucap gadis itu terbata bata dan terlihat sangat ketakutan terlihat dari wajah cantiknya walaupun penampilan nya lusu.
"Kamu bisa bicara."ucap Chacha dengan tatapan terkejut namun bahagia begitu juga dengan dimas yang tak kalah terkejutnya.
"Tentu saja."ucap gadis itu dengan tatap takutnya.
"Kamu tenang saja kami itu bukan komplotan mereka, kami itu baik dan ingin mengeluarkan mu dari sini."ucap Chacha pada gadis itu.
"Kenpa kalian menolongku."ucap gadis itu dengan tatapan yang terus menundukkan kepalanya.
"Karena ibumu meminta kami untuk menyelamatkanmu."ucap Dimas tiba tiba buka suara.
"Benarkah ibuku."ucap gadis itu.
"Kamu bisa tanyakan itu pada sahabat kami kiyara jika kamu tidak percaya, karena kami bersamanya untuk menyelamatkanmu."ucap Dimas menjelaskan panjang lebar.
"Apa ibuku benar benar meminta bantuan kalian."ucap gadis itu pada chacaha dan Dimas.
"Itu benar memang nya ada apa."ucap Chaca merasa binggung.
Gadis itu bukan nya menjawab ia tiba tiba menangis dan terdiam membisu dan enggan menjawab pertanyaan yang diajukan Chaca padanya.
"Apa yang tejadi, jangan seperti ini kami jadi binggung."ucap Chaca pada gadis itu.