
"Ka Tian janji akan terus ngelindungin kamu dan engga akan ngebiarin siapapun ngelukain kamu atau bikin kamu nangis, dan Kakak akan lakuin apapun untuk bisa terus ngelindungin kamu dan keluarga kita walaupun nyawa Kakak taruhannya."ucap Septian dalam hati.
"Iya ka, Aya tau ko."ucap kiyara pada Septian.
Lily memberitahukan kepada Septian jika dirinya dan kiyara akan pergi kerumah neneknya untuk bertanya sesuatu pada neneknya tentang kiyara, tetapi ia tidak memberitahu kiyara tentang dirinya.
"Ka, mamah bawa adik kamu kerumah nenek itu suapaya mamah tau adik kamu itu kenapa."ucap Lily pada Septian.
"Iya mah, Tian tau."ucap Septian pada Lily.
kiyara yang tidak tau jika ibu dan kakanya sedang membicarakan apa, ia bertanya kepada ibu dan kakanya apa yang mereka bicarakan, tetapi ibu dan kakanya tidak memberitahukan kepada putri nya, tetapi kakanya memberitahukan kepada kiyara jika neneknya sangat merindukan dirinya.
"Mamah sama ka Tian ngomong apa, ko pada diem pas Aya kesini."ucap kiyara pada ibu dan kakanya.
"Engga ngomong apa-apa ko, dek mamah sama Kakak itu lagi ngomongin soal apa ya kak."ucap Lily pada putrinya.
"Gini loh dek, Kakak sama mamah lagi ngomongin soal nenek yang lagi kangen sama kamu."ucap Lily pada putrinya.
"Yaudah kalo gitu, okay."ucap kiyara pada ibunya dan kakanya.
Lily dan Septian merasa lega karena putrinya percaya apa yang mereka katakan.
"Yaudah okay."ucap kiyara pada ibu dan kakanya.
kiyara kembali menonton kartun kesukaannya sambil memakan cemilan kesukaannya, diruang keluarga, tiba -tiba ibunya memintanya untuk tidur di kamar karena besok ia berangkat pagi -pagi.
"Dek kamu tidur dikamar aja ya soalnya besok kita berangkat pagi."ucap Lily.
"Iya mah."ucap kiyara pada ibunya.
sebelum naik atas menuju kamarnya kiyara berpamitan dulu dengan ibu, ayah dan kakanya.
"Mah, Pah, ka Tian,Aya tidur dulu ya."ucap kiyara sambil memeluk mereka.
"Iya sayang kamu istirahat ya."ucap Jakson pada putrinya itu.
"Iya Pah."ucap kiyara.
kiyara Langsung menaiki tangga untuk sampai di kamarnya yang berada di lantai dua itu. Tak lama setelah itu Septian berjalan ke kamarnya untuk beristirahat begitu juga kedua orangtuanya.
"Kiyara kamu harus bermain denganku."ucap sosok yang memasuki kamarnya.
kiyara yang masih tertidur lelap tidak menghiraukan suara yang membuatnya terbangun itu, ia masih saja tertidur dan tidak ingin beranjak dari tepat tidurnya untuk bermain.
"Kamu harus bermain denganku."ucap sosok itu pada kiyara.
karena merasa terus di abaikan oleh kiyara ia langsung mengangkat tubuh kiyara dan membantingnya kebawah itu membuat kakanya terbangun, dan melihat kondisi adiknya itu.
"Dek ada apa."ucap Septian dan disusul oleh kedua orangtuanya yang juga mendengar suara gaduh itu.
"Berhenti mengangguku dan pergi dari sini."ucap kiyara pada sosok yang mengganggunya.
"Dek kamu kenapa apa yang terjadi."ucap Septian yang merasa khawatir.
Septian yang mencoba membuka pintunya tetapi pintunya tidak bisa terbuka dan dikunci dari dalam oleh kiyara, Septian terus menggedor pintu kamar kiyara untuk melihat apa yang terjadi. dan ia hanya mengatakan jika ia baik- baik saja tanpa membuka pintu kamarnya.
"Dek kamu baik -baik aja."ucap Septian merasa khawatir pada adiknya itu.
"Iya ka kiya baik -baik aja ko, jangan khawatir ya."ucap kiyara dari dalam kamar.
tiba-tiba ibu dan ayahnya datang untuk melihat apa yang terjadi dan mengetuk pintu kamar putrinya itu dan jawaban yang di berikan kiyara tetaplah sama ia mengatakan jika ia baik -baik saja padahal sebaliknya ia sedang tidak sedang baik-baik saja.
"Kak ada apa ini, kenapa sama kiyara."ucap Lily yang juga tak kalah khawatir dengan kondisi putrinya itu.
"Tian juga engga tau mah,apa yang terjadi sama Aya tapi dia bilang dia baik -baik aja itu tadi buku yang jatoh katanya."ucap Septian menjelaskan kepada kedua orangtuanya.
"Apa benar."ucap Lily yang merasa ada yang aneh karena ia baru saja melihat ada yang keluar dari kamar putrinya.
"Dek kamu benaran baik -baik aja."ucap Lily pada putrinya.
"Iya mah Aya baik-baik aja."ucap kiyara dari dalam kamarnya.
merasa ada yang janggal dari sikap putrinya ia mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada putrinya saat ini ia akan menunggu besok pagi untuk bertanya kepada putrinya dan juga kepada ibunya.
"Iya mah."ucap Septian dan kiyara.
setelah itu kedua orangtuanya kembali kekamar untuk tidur karena besok mereka harus bekerja kembali.kiyara mengobati luka di tangan dan didahinya terlebih dahulu baru ia kembali tidur karena besok ia akan berangkat kerumah neneknya untuk menemani ibunya.
"Kenapa mereka selalu saja mengangguku, apa yang mereka inginkan dariku."ucap kiyara pada dirinya sendiri.
setelah selesai kiyara kembali melanjutkan tidurnya, tetapi ia tetap saja tidak bisa tidur dengan tenang karena ada saja yang memanggil -manggil namanya sampai setelah jam 5 pagi ia baru bisa tidur kembali tetapi itu hanya 5 menit tertidur dan ia harus bangun kembali untuk bersiap kerumah sang nenek bersama ibunya.
"Sayang kamu udah bangun."ucap Lily dari luar kamar.
"Udah mah."ucap kiyara pada ibunya.
"Kamu siap -siap ya kita kita berangkat pagi kerumah nenek."ucap Lily pada putrinya.
"Iya mah."ucap kiyara.
Kiyara menutup pintu kamarnya kembali dan segera bersiap - siap untuk pergi kerumah sang nenek bersama ibunya, setelah selesai ia turun kebawah untuk sarapan pagi bersama keluarganya dan saat sedang turun kebawah kakanya Septian keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang rapih dan bersama sama menuruni anak tangga untuk sarapan.
"Pagi adek kesayangannya ka Tian."ucap Septian pada kiyara.
"Pagi ka."ucap kiyara dengan senyuman manisnya.
"Kamu kenapa."ucap Septian yang merasa binggung.
"Aya, engga kenapa-kenapa."ucap kiyara sambil menunjuk kearah dirinya sendiri.
"Wajah kamu itu loh pucet banget kaya orang engga tidur."ucap Septian pada kiyara.
"Oh...itu Aya baik -baik aja ko."ucap kiyara.
"Kamu yakin."ucap Septian pada adiknya memastikan jika ia benar -benar dalam kondisi baik.
"Iya yakin."ucap kiyara.
Septian terus saja memperhatikan adiknya ia merasa jika adiknya tidak sedang baik -baik aja seperti ada sesuatu yang terjadi semalam padanya, tapi ia tidak tau apa itu.
"Sayang ayo sini kita sarapan dulu."ucap Lily pada kiyara dan Septian.
"Iya mah."ucap kiyara dan Septian bersamaan.
kiyara dan septian duduk bersama di meja makan Lily menyiapkan sarapan untuk semua keluarganya dan setelah selesai Lily duduk disamping Jakson suaminya dan memulai sarapan pagi mereka. saat sedang sarapan Jakson melihat balutan perban yang ada di lengan kanannya dan di kening putrinya karena penasaran ia bertanya itu yang membuat semua anggota keluarganya mengarahkan pandangannya ke arah dirinya.
"Itu kening dan lengan kamu kenapa dek."ucap Jakson pada putrinya itu.
"Engga apa-apa."ucap kiyara.
"Jangan bohong itu kenapa, kalo engga apa apa, ko di perban gitu."ucap Jakson pada putrinya.
Lily dan sepetian yang juga melihat jika tangan dan dahinya di perbanpun bertanya hal yang sama dan menuntut kiyara untuk menjawab dengan jujur.
"Iya sayang itu kening kamu sama lengan kamu itu kenapa."ucap Lily merasa khawatir.
"Engga apa-apa ko mah ini cuma luka kecil ko."ucap kiyara meyakinkan keluarganya.
"Yaudah lanjutin makanya ya."ucap Lily pada putrinya.
"Iya mah."ucap kiyara.
setelah mereka selesai makan Jakson kembali bertanya kepada kiyara apa yang terjadi semalam padanya dan kenapa ia bisa terluka.
"Dek papah mau tanya sama kamu apa yang terjadi semalam sama kamu dan kenapa kamu bisa terluka."ucap Jakson pada putrinya itu.
"Semalam Aya terjatuh dari tempat tidur pah dan Aya terbentur ujung meja jadi luka deh."ucap kiyara menjelaskan.
"Lain kali hati -hati."ucap Jakson pada putrinya itu.
"Iya Pah."ucap kiyara. dengan senyuman manisnya.
kiyara dan Lily berangkat menuju rumah Maya, begitupun dengan Jakson dan Septian berangkat menuju kantor untuk memimpin perusahaan.