
Cuaca cerah menyelimuti kota Los Angeles pagi ini. Di ruang makan, nampak seorang ibu muda yang masih berkutat menyiapkan sarapan untuk dua lelaki jagoannya. Hari ini, Sean tepat berusia empat tahun. Ya, sudah empat tahun lamanya Nevan dan Briana tinggal menetap di Los Angeles.
“Sean... Mommy membuat nasi goreng sosis untuk kamu, jangan lupa dimakan. Setelah ini, Daddy akan mengantarmu ke sekolah, ok?” ucap Briana lembut seraya menyiapkan kedua sarapan itu ke meja makan.
Sean mengangguk sambil tersenyum lebar menampakkan seluruh gigi putihnya. “Baiklah, Mommy.”
Briana tersenyum seraya mencium pipi Sean dengan gemas. Setelah itu, Nevan nampak berjalan menuruni anak tangga dan segera bergabung dengan Sean untuk sarapan. “Morning, boy!” sapa Nevan seraya memeluk jagoannya itu dengan sayang.
“Morning, Dad, apa daddy mau kerja?” tanya Sean polos.
Nevan mengangguk seraya meraih sepiring nasi goreng buatan isteri tercintanya. “Kita lihat Sean, nasi gorengnya apakah asin?” ejek Nevan.
Sambil mencuci piringnya Briana menyahut. “Jangan ngomong yang tidak-tidak. Cepat sarapan.”
Nevan dan Sean tertawa. Lihatlah mereka berdua sudah bisa mengejek mommy-nya. Sambil melahap sarapan, Nevan menatap punggung Briana dari tempat duduknya. Sudah empat tahun Briana memutuskan untuk fokus merawat Sean. Bukan Nevan yang memintanya seperti itu. Tapi dirinya sendiri yang menginginkannya. Setelah berpikir seribu kali Briana ingin membersamai Sean, tak ingin melewatkan tumbuh kembang anaknya tanpa dirinya.
“Briana?” panggil Nevan sedikit keras.
Briana langsung menoleh ke belakang dengan cepat. Suara Nevan sedikit tegas dan seperti ingin mengatakan sesuatu. Setelah selesai dengan pekerjaan dapur, Briana segera melepas celemeknya lalu berjalan menghampiri Nevan yang sudah memasang wajah serius.
“Ada apa?” tanyanya seraya duduk berhadapan dengan Nevan.
Nevan sedikit menghela napas dalam sebelum memulai pembicaraan yang sedikit serius. “Gimana kalau kita pulang ke Jakarta?”
Pertanyaan itu sontak membuat raut wajah Briana terlihat sedikit terkejut. “Kenapa tiba-tiba...”
“Udahlah, aku nggak pengen membuat kamu terbebani selama kita terus-terusan tinggal disini, Bri.”
Briana meneguk ludahnya seraya melirik Sean yang lahap memakan nasi goreng, dan sesekali melihat ke layar tabletnya. “I'm ok, Van—”
Nevan tiba-tiba menatap Sean lekat. “Sean, ayo cepat habiskan sarapanmu lalu kita berangkat,” potong Nevan cepat seraya berdiri. “Daddy tunggu di mobil,” sambungnya lalu berjalan begitu saja keluar.
Sean mengangguk lalu cepat menghabiskan sepiring nasi gorengnya. Setelah selesai, anak kecil berusia empat tahun itu berpamitan dengan Briana lalu mencium pipi Briana.
“Hati-hati, Sean!”
“Yes, Mommy,” jawab Sean seraya berlari kecil keluar rumah.
Setelah kepergian kedua malaikat pelindungnya, Briana menghela napas panjang. Selama hampir empat tahun ini, Briana dan Nevan sering memperdebatkan masalah ini, selalu dan selalu. Nevan hanya ingin Briana bahagia dengan pilihannya. Tapi, ternyata pilihan Briana sedikit membuat Nevan kecewa pada akhirnya. Nevan juga tidak ingin terus-terusan tinggal di Los Angeles karena khawatir Briana akan menyesal dengan semua pilihannya.
****
“Daddy, lihat aku sudah bisa membaca satu kata hari ini,” ucap Sean seraya duduk di pangkuan Nevan.
“Oh ya?”
Sean mengangguk. “Mommy, dimana?” tanya Sean tiba-tiba.
Nevan menggeleng. “Tidak tahu.”
“Mommy dan Daddy sedang bertengkar?”
Nevan terkekeh sambil menggendong Sean yang tubuhnya sudah mulai tinggi tersebut naik ke lantai dua. “Kita cari Mommy, boy!”
Setelah mereka berdua sampai di kamar utama, Nevan segera membuka handle pintu perlahan. Tepat di bawah lantai, Briana sedang membereskan semua pakaiannya dan ia masukkan ke dalam koper. Termasuk pakaian Sean dan juga Nevan.
“Mau kemana?” tanya Nevan penasaran.
“Katamu kita harus bersiap-siap pulang ke Jakarta lusa?”
Nevan menghembuskan napas pelan. “Apa kamu yakin?”
Briana mengangguk. “Tentu saja, siapa tahu nanti aku bisa memperbaiki karirku disana.”
Briana sedikit mendongak lalu menatap netra cokelat Nevan lekat. “Ponselku penuh dengan nama klienku, mereka mau aku kembali ke Jakarta. Mereka sudah nggak peduli dengan semua skandal ku dulu. Aku harap ini adalah satu titik kebangkitanku nanti.”
Nevan tersenyum lega. Sejak awal Nevan tahu bahwa Briana sedikit tidak lega dengan pilihannya bekerja di Hollywood. Dia berpikir pekerjaannya akan mengorbankan waktu dengan Sean, sementara jika dia bekerja di Jakarta dia tidak akan khawatir berlebih.
“Kalau begitu, tidak perlu menunggu lusa. Besok pagi kita pulang ke Jakarta, dan aku akan menjual rumah ini. Gimana?”
Briana melempar senyum tipis. “Sean, apa kamu siapa naik jet pribadi besok?”
Sean yang sedari tadi tidak paham obrolan kedua orang tuanya hanya mengangguk saja. Yang dia tahu hanya mainan kereta api biru yang selalu dia bawa kemana-mana. Bahkan, mainan kereta apinya selalu beranak-pinak sampai banyak.
“Aku harus membawanya pulang, Mommy,” ucap Sean sambil memegang kereta biru kesayangannya.
Nevan dan Briana mengangguk kompak. “Iya, sayang.” jawab mereka bersama-sama.
Keesokan harinya mereka sudah siap untuk melakukan perjalanan panjang. Perjalanan yang akan menbawanya untuk memulai semua dari nol kembali. Cukup sudah waktu yang Briana buang di Los Angeles. Dia merindukan klien-kliennya yang ada di Indonesia.
Perjalanan Los Angeles kurang lebih 18 jam lamanya. Saat tiba di Indonesia, mereka memasuki waktu menjelang pagi. Dimana orang-orang masih sibuk beradu di dalam selimutnya masing-masing. Rombongan Nevan segera berjalan meninggalkan bandara. Setelah keluar di lobby bandara, mereka sudah di jemput oleh mobil yang akan mengangkutnya ke rumah pribadi Nevan.
“Tidur dulu, masih pukul 03.00 pagi,” suara bariton Nevan membuat Briana sedikit nyaman. Sementara Sean masih terlelap dalam dekapan Briana, sedangkan Nevan nampak sibuk mengutak-atik gawainya.
Tiga puluh menit perjalanan ke rumah pribadi Nevan, Briana nampak berjalan cepat menggendong Sean ke kamarnya. Mata Briana sangat berat, terlebih lagi dia mengalami jet lag.
“Pagi ini, Mommy mau melakukan sesuatu. Semoga Sean tidak akan merasa bersalah selamanya,” ucapnya lirih sambil mengelus rambut puteranya.
Tak terasa waktu berganti, Briana sudah siap berdandan cantik. Sesuai dengan permintaan Nevan, pagi itu mereka akan menggelar konferensi pers. Mereka akan meminta maaf atas skandal yang membuat nama baik mereka hancur. Hanya satu jam saja mereka melakukan konferensi pers.
“Kami berdua meminta maaf atas perbuatan kami di masa lalu yang membuat nama baik kita hancur. Selama lebih dari empat tahun ini, Briana dan saya sudah menikah dan mempunyai seorang putera. Kami harap perbuatan kita tidak menjadi contoh untuk generasi penerus bangsa mendatang, kami meminta maaf sebesar-besarnya. Terimakasih.”
Setelah mereka berdua selesai melakukan konferensi pers, semua wartawan saling melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sedikit sensitif. Tidak mau menjawab secara gamblang, mereka berdua memilih untuk cepat-cepat pergi dan masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depannya.
“Sudah lega?” tanya Nevan sambil memeluk pinggang Briana.
Briana tersenyum tipis. “Bom itu sudah hilang di sini,” ucapnya seraya menunjuk ke tengah dadanya.
Nevan berdecak. Lalu tanpa ragu menarik tengkuk Briana dan mencium mesra bibir merah merekah isterinya dengan penuh kelembutan. Tak ada yang tahu perjalanan cinta dua insan manusia ini. Betapa beratnya juga seorang Briana berjuang meraih cita-cita, dan akhirnya memilih untuk pulang ke Indonesia. Saat memutuskan semuanya, Briana juga sudah memikirkan segala bentuk konsekuensinya.
*****
Beberapa bulan setelah ungkapan maafnya di publik, Briana mulai sedikit-sedikit menerima satu job ringan untuk wisuda. Seperti saat pertama kali dia bekerja, dia sangat enjoy.
“Aku ngggak peduli masa lalu Kak Briana, yang aku mau karir Kak Briana jangan berhenti sampai disini,” ucap salah satu kliennya hari ini.
Briana terharu, ternyata masih banyak yang me-supportnya untuk tetap berkarya. “Terimakasih, Kak.”
Seiring berjalannya waktu, job Briana kembali mengular. Tentu saja Briana tak sendirian, ada Nabila dan Elsa yang setia membantunya kapanpun dan dimanapun Briana berada. Sementara Sean tinggal bersama Aisha dan Steven. Tak jarang Mecca juga sering bersama Sean untuk bermain bersama jika Briana sedang sibuk.
“Kita harus berbulan madu lagi, sayang,” ucap Nevan manja.
Briana mencium tengkuk suaminya. “Sepertinya aku sedang hamil...”
Nevan langsung meloncat dari ranjang, lalu menggendong tubuh mungil isterinya. “I love you,” ucapnya.
“Tetaplah mencintaiku, sampai kapanpun. I love you too,”
...----------------...
END....
TERIMAKASIH MY LOVELY MUA AKHIRNYA SELESAI.. TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA YA🥰