My Lovely MUA

My Lovely MUA
58.



Nevan melangkah pergi meninggalkan Briana sendirian di restoran itu. Cincin berlian itu masih tetap berada di posisinya. Briana menatap nanar cincin yang berkilauan itu dengan perasaan hampa.


...----------------...


Satu pesan Briana terima dari Adriella, sudah lama sekali sejak dia resign dari WillEnt.


Adriella


Bri, maaf aku baru sempet kabar-kabar. How're you?


Briana mengulum senyum tipis, dari sudut bibirnya. Lalu membalas pesan Adriella.


Briana


Fine, and you? We should hang out!


Tanpa lama-lama, Adriella menyetujui ajakan Briana. Briana cukup rindu dengan Adriella, dia sudah banyak membantunya bekerja di WillEnt.


Siang itu, selepas mendandani kliennya. Briana menuju ke sebuah kedai kopi terkenal di pusat ibukota. Dia terlihat menenteng tas jinjing dan dua buah paper bag. Lalu memesan satu buah kopi, sambil menunggu Adriella datang.


“Hei!”


Briana sontak kaget, lalu menoleh ke belakang. Gadis cantik itu sudah berdiri dan segera memeluk Briana tanpa basa-basi. “Brianaa, aku nggak tahu kalau kamu resign.”


Briana tertawa kecil. “Masa sih? Orang-orang emang nggak pada gosip?”


Adriella lalu duduk di samping Briana, dan mencebik. “Mereka mana sempat bergosip, eh btw kamu resign gara-gara si Isyana?”


Briana menaikkan satu alisnya. “Nggak, aku cuma mau handle MUA mamah, nggak ada alasan buat resign gara-gara dia.”


Adriella berdecih sinis. “Dia udah keterlaluan sama kamu.”


“Udahlah, nggak usah dibahas. Ohya, ini nih buat kamu, La,” kata Briana sembari menyodorkan dua buah paper bag untuk Adriella.


Mata Adriella membulat. “Apa ini?” Adriella segera membuka isi dari paper bag tersebut, namun gerakan tangannya langsung dicegah oleh Briana.


“No, dibuka dirumah aja, ya?”


“Kenapa, kan penasaran?”


Briana menggeleng. “Udahlah, sebentar lagi aku mau lanjut sekolah ke Amerika.”


Adriella yang semula tertunduk, kemudian mendongak. “Hah? Jauh banget!”


“Becanda ya kamu?”


Briana terkekeh pelan. “Nggak lah, itu udah jadi impianku.”


“Kapan berangkat?” Adriella memicingkan kedua matanya.


“Bulan September.”


Mata Adriella membola. Mulutnya bergumam sambil jari-jari tangannya menghitung berapa lama lagi Briana akan berangkat ke Amerika. “Kurang enam bulan lagi, cepet itu. Btw berkabar ya Bri kalau berangkat.”


Entah sejak kapan mereka berdua dekat, padahal dulu mereka saling membenci karena satu lelaki yang sama. Tapi, bagi Adriella itu hanyalah cerita masa labil mereka.


...----------------...


“Tante hanya ingin Nevan bahagia, kalau dia menyetujui pernikahan ini dilaksanakan kembali ya nggak papa sih,” kata Mecca sambil duduk di sofa ruang tamunya.


Dua wanita yang duduk didepannya, mengulas senyum lega. Seolah tak kapok dengan umpatan, dengan kata-kata kasar Nevan kepadanya.


Saat mereka bertiga membahas soal rencana pernikahan, pintu rumah mereka dibuka kasar. Mecca sengaja menyuruh Nevan pulang, alasannya dia ingin ditemani Nevan. Vivian sedang tugas ke luar kota, sedangkan Nevan tahu, Andreas—adik laki-lakinya masih berkuliah di luar negeri—tak mungkin bisa menemani Mecca. Nevan yang semula biasa-biasa saja, kepalanya mendadak berkobar ibarat tersiram air panas saat melihat Isyana datang bersama tantenya. Matanya memicing, rahangnya sudah mengeras. Tentu saja dengan langkah jenjangnya dia langsung naik ke lantai dua tanpa menyapa ketiga orang itu.


“Berhenti disana!” titah Mecca dengan nada dingin.


Kaki Nevan baru saja akan menapak ke satu anak tangga. Tanpa menoleh sedikitpun, Nevan menjawab perintah Mecca. “I can't deal with this shitt anymore!” sentak Nevan dengan nada tinggi. Lalu segera berlari kecil menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Mereka bertiga langsung terdiam saat mendengar kemarahan Nevan. Isyana menggigit bibir bawahnya, seraya bangkit berdiri, tapi kemudian ditahan oleh tantenya. Dia menggelengkan kepalanya, namun Isyana melepas tangan tantenya lalu berjalan menaiki tangga ke arah kamar Nevan.


“Isyana?!” panggil tantenya, namun Isyana tetap berjalan tanpa menghiraukan panggilannya.


Setelah berhasil naik ke lantai dua, Isyana segera mengetuk pintu kamar Nevan perlahan. “Van, let's us be friends! ”


Tak ada jawaban dari balik pintu kamar itu. “Aku bakal disini sampai kamu keluar.”


Isyana lalu berdiri di depan pintu Nevan, sekuat apapun Nevan menolaknya dia akan tetap gencar mengejar lelaki itu sampai dia bisa mendapatkannya. Entah dengan cara licik sekalipun.


Klek! Bunyi pintu kamar Nevan terbuka, raut wajah Nevan sangat malas saat melihat Isyana berdiri disana dengan muka centilnya. “Kamu nggak akan bisa menghindar dari aku, Van,” katanya seraya mengalungkan kedua tangannya ke leher Nevan.


“Bitchh!” umpat Nevan lalu mendorong tubuh Isyana mundur ke belakang.


Isyana terkekeh. “Jadi kamu nantangin aku?” Isyana lalu melangkah ke dalam kamar Nevan. Lalu mencebik. “Kamar ini akan jadi milikku, siap-siap aja anak-anak ki—”


“Go to gell, bitchh!” potong Nevan.


Isyana berjalan mendekat kearah Nevan, lalu mengeluss rahang Nevan yang mengeras. “You can't escape me, Nevan,” kedua mata itu saling menatap tajam. Tanpa, sadar Isyana mengecup bibir Nevan sekilas lalu cepat melangkah keluar dari kamarnya.


“Shitt!”


Isyana menuruni tangga dengan senyum penuh kemenangan. Dia sudah berjanji, apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan Nevan.


“Gimana Isyana?” tanya Mecca sedikit khawatir.


Isyana tersenyum hangat. Lalu duduk, disamping Mecca dan mengelus punggung tangan wanita paruh baya itu. “Tante, nggak usah khawatir, Nevan mau kok.”


Mata Mecca membulat, seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Isyana. Tante Isyanapun juga terjingkat di kursinya. “Serius kamu, Sya?” tanya tante Isyana.


Isyana mengangguk pelan, senyumnya lebar lalu menoleh ke arah Mecca lagi. “Tante, mau cucu berapa?” tanya Isyana sambil matanya mengerling licik.


Beberapa menit kemudian, Isyana dan tantenya sudah meninggalkan kediaman Xaquil. Di dalam mobilnya, Isyana menyandarkan kepalanya di jendela mobil. Menatap kosong ke arah luar jendela. Tantenya yang menangkap kecurigaan pun lalu melontarkan sebuah pertanyaan. “Kamu bohong kan?”


Isyana tersenyum sedikit. “Apapun akan Isyana lakukan,” Isyana lalu menoleh ke arah tantenya yang sedang menyetir. “Kita jebak Nevan, tante pasti tahu harus bagaimana, kan?” tanya Isyana dengan senyuman licik.


Tante Isyanapun meminggirkan mobilnya di tempat yang lumayan sepi. Setelah, berhenti dia menatap tajam ke arah Isyana. “So, what should i now?” timpalnya sambil tersenyum miring.


“Tante bukannya benci Kak Vivian?”


Mira—Tante Isyana— terkekeh pelan. “Apa hubungannya sama si jalangg itu?”


Mata Isyana memicing. “Gimana kalau kita jebak Kak Vivian main affair sama cowok lain?”


Mira menggeleng. “Sya, kamu nggak perlu hancurin dia hanya gara-gara Nevan,” Mira mengetuk-ngetukkan jarinya di setir. “Kita buat Nevan mabuk, lalu kamu tahu sendiri kan lanjutannya?” Mira mengangkat satu alisnya dengan senyuman sinis.


Isyana tertawa kencang. “Kenapa aku nggak punya pikiran kayak gitu ya?”


Mira menggelengkan kepalanya. “Vivian sudah tiga tahun menikah, tapi belum juga dikarunai keturunan. Ini saatnya Tante bertindak.”


“Maksud tante?”


“We will just see about that.”