
Briana merenung seorang diri di balkon hotel. Niatnya disini hanya untuk job dan ingin liburan. Tapi, seolah bayangan Nevan tak pernah luput dari matanya. Selalu mengikutinya, seolah takdir tak terpisah di antara mereka berdua. Seperti halnya semalam, Briana sangat terkejut saat melihat Nevan berada di kediaman Pak Michael Abraham. Dia berharap, nanti atau seterusnya itulah pertemuan terakhir mereka. Briana lelah jika harus berhubungan dengan manusia licik itu. Usaha untuk melupakannya pun sia-sia karena Nevan selalu ada tiba-tiba.
“Gue, nggak pernah merasa secapek ini karena lo, Van,” gumamnya lirih.
Sementara di kamar lain, Nevan sibuk dengan laptop di meja kerjanya. Kali ini, dia sedang berada di mode serius. Serius mengerjakan pekerjaan yang besar, kliennya bukan orang sembarangan. Michael mempercayakan pekerjaannya itu sepenuhnya kepada Nevan. Setelah cukup lama di depan laptop, badannya terasa sedikit pegal. Mungkin dirinya butuh refreshing, jalan-jalan sebentar menikmati keindahan kota Jogja sebelum nanti malam dia sibukkan dengan adanya pesta.
Diapun memutuskan untuk keluar dari kamar, memakai kaos, celana pendek selutut. Rasa-rasanya Nevan ingin mencoba makanan gudeg khas kota Jogja. Hanya sendiri ? Tak apalah, batinnya.
Sedangkan Briana, juga diliputi rasa bosan. Dia melirik arloji di tangannya. Jam menunjukkan pukul 09.00 pagi. Daripada bengong di kamar, dia juga memutuskan untuk keluar kamar. Jalan-jalan sebentar mungkin ke pasar yang terkenal itu. Membeli bakpia atau daster untuk mamanya ? Pasti terasa asyik, batin Briana.
Setelah turun, Briana memutuskan untuk naik becak. Karena, hotelnya berada di pusat kota, dia memutuskan untuk belanja daster di kawasan M. Membeli lumpia yang kata orang terkenal di kawasan itu. Briana lupa dirinya sedang sendiri. Tapi, baginya tak apa. Toh selama ini dia juga terbiasa sendiri. Dia sangat nyaman dengan keadaan dirinya yang seperti ini.
Meskipun Briana cukup lama tinggal di Jogja, memorinya tentang Jogja hanya sebatas di kota Sleman. Papanya jarang membawa dirinya jalan-jalan di sini sebelumnya. Kasihan sih, tapi itulah kehidupan Briana dulu dan keluarga yang serba pas-pas an.
Setelah puas berbelanja daster, pakaian untuk papanya, dan kedua pegawainya. Dia memutuskan untuk kembali ke hotel. Barang belanjaannya sangat banyak, Briana terkekeh karena besok pasti dia akan sangat rempong membawanya pulang ke Jakarta. Seandainya dia membawa asisten atau teman mungkin tak akan serempong ini, keluhnya.
Cuaca di Jogja siang itu cukup terik, lumayan membuat Briana berpeluh. Setelah sampai di depan lobby hotel, dia berjalan tergopoh membawa belanjaan di tangan kiri dan kanannya.
Tak sempat melihat di depan, tiba-tiba dirinya tersungkur menabrak sesuatu.
Brug!
Paper bag belanjaannya jatuh tercecer di bawah lantai, lelaki itu mencoba menolong Briana untuk memunguti pakaian-pakaian hasil belanjaannya ke dalam paper bag kembali.
“Ma-maaf, saya nggak lihat,” tuturnya sambil memungut belanjaannya kembali.
“Nggak apa,” katanya. Tangan Briana dicekal erat oleh lelaki itu. Betapa terkejutnya bahwa yang didepannya kini adalah Nevan! Lelaki yang sangat ia hindari beberapa hari ini.
“Lo-lo ngapain disini ?!” tanya Briana gugup. Lutut Briana terasa gemetar saat melihat Nevan.
“Justru gue yang harusnya nanya, ngapain lo disini ?!”
Briana menatap Nevan penuh kesal. Dia hempaskan tangan Nevan, dan segera bangkit meninggalkan Nevan begitu saja.
“Sial!” umpat Nevan.
Nevan sangat benci di abaikan seperti ini. Bodohnya dia tak mengejar, malah sibuk mengumpat Briana. Dia lalu berputar arah dan mengejar Briana sebelum gadis itu menghilang kembali.
Nafas Briana tersengal-sengal saat sampai di kamarnya. Ia melemparkan beberapa paper bag itu ke atas ranjang.
“Kenapa sih dia harus satu hotel sama gue ?” keluhnya kesal setengah mati.
Di waktu yang sama, Nevan menengok kanan kiri. Namun, tak nampak batang hidung Briana di manapun. “Sial, gue kehilangan bocah itu lagi!”
Saking kesalnya, Nevan memukul dinding hotel yang ada di sampingnya. “Lo nggak akan pernah bisa lari lagi, Briana.”
...----------------...
Sudah pukul 14.30, Briana sudah siap dengan segala macam perlengkapan alat tempur untuk me-makeup Sierra dan kedua temannya. Tak butuh waktu lama untuk menunggu, Sierra sudah tiba di hotel.
Briana lalu masuk ke dalam salah satu kamar yang memang disewa khusus oleh Michael. Kamarnya berbeda dengan miliknya. Michael menyewa presidential suite untuk Sierra. Jenis kamar paling bagus dan paling mahal. Mempunyai fasilitas yang sangat lengkap, mulai dari ruang tamu, dapur, ruang makan, teras, hingga menyajikan pemandangan terbaik.
“Bisa kita mulai sekarang ya, Tante ?” tanya gadis itu ramah.
Sierra manggut-manggut, matanya langsung tertuju pada koper berukuran sedang milik Briana, yang mana berisikan berbagai merk foundation, bedak, dan semua brand kosmetik terkenal sampai tidak terkenal pun ada di dalamnya. Sierra cukup percaya diri walau bagaimanapun juga, Briana adalah anak MUA terkenal se-negaranya.
Tangan Briana kemudian mulai mengobrak-abrik wajah klien sultannya sore ini. Tak butuh waktu lama untuk memolesnya dengan berbagai macam skill yang dimiliki Briana. Karena, wajah Sierra sudah cantik dari lahir. “Warna bajunya apa, Tante ?”
Sierra kemudian tertegun melihat tampang dirinya didepan cermin. “Ah, warna merah, Briana.”
Briana kemudian manggut-manggut mengerti. Dia mulai membubuhkan eye shadow warna senada dengan baju Sierra pakai. Tentunya dengan di blend dengan warna eye shadow yang lain.
“Lipstiknya nanti jangan menor-menor ya, Tante geli,” tutur Sierra meringis terlihat dari pantulan cermin.
“Baik, saya mengerti, Tante.”
Karena skill Briana sudah diatas rata-rata mirip Aisha, memoles wajah tanpa banyak 'dosa' seperti Sierra adalah hal mudah baginya. Setelah selesai memoles wajah Sierra, dia lalu mengeluarkan beberapa perlengkapan untuk hair-do. “Kayaknya rambut panjangnya tante ini cocok dibuat gaya pony-tail deh, nambah cantik.”
Sierra tersipu malu. “Bisa aja deh kamu, Briana.”
“Briana, udah punya pacar ?” tanyanya. “Kalo nggak mau jawab, nggak papa sih.”
Briana sejenak berpikir, lalu menjawab seadanya saja. “Belum, Tante.”
“Gebetan mungkin ?”
Briana menggeleng sambil mengepang rambut panjang Sierra dari belakang. “Nggak ada, Tante.”
Sierra manggut-manggut. Lalu bertanya kembali, “Kamu kan cantik ? Masa sih nggak ada yang deketin, Bri ?”
Briana menyengir. “Saya nggak niat buat nikah.”
Sierra menarik kepalanya lalu menoleh cepat ke arah Briana. Menatap lekat wajah Briana yang terlihat sedang tidak nyaman. “Um, maaf tante banyak nanya.”
Sierra lalu kembali pada posisinya. Menghadap ke arah cermin, sambil sesekali melirik Briana yang sudah nampak tenang walaupun dihujani pertanyaan-pertanyaan yang sensitif dari Sierra.
“Oh ya, nanti kamu ikut pesta ya.”
Mata Briana membulat tak percaya. Pesta ? Pesta seperti yang pernah dia datangi pada saat penyambutan kedatangan Nevan, tentu saja di kediaman Xaquil.
“Maksudnya ?” tanya Briana mengerjap-ngerjap tak mengerti.
Sierra tertawa kecil, “Jadi, nanti jamu dandan cantik trus ikut tante, ya.”
“Ta-tapi, saya nggak bawa baju pesta,” kilahnya.
“Nggak papa, Tante udah siapin gaun yang pas buat kamu, cantik.”
Jantung Briana berdegup tak beraturan. Bagi, Briana menghadiri pesta adalah hal yang ia hindari selama beberapa tahun ini. Entah, mendengar kata pesta membuat hatinya terasa sakit. Kenangan-kenangan tentang dirinya dan pesta membuatnya mengingat Nevan.
“Briana ?” tanya Sierra lagi. Briana sudah cukup lama terdiam.
“Um, tapi..”
“Sudah, tenang aja. Kamu aman sama tante.”
Sierra mencoba membujuk Briana, bukan tanpa alasan dia melakukan hal itu. Ya, karena ada hal lain, batin Sierra.
...----------------...
Malam itu, suasana di hotel tempat diadakannya pesta sudah ramai. Semua orang sibuk berbincang dengan tamu yang lain. Ada beberapa pelayan yang sibuk menghidangkan beberapa minuman dan makanan. Desain pesta itu sangat mewah.
Pandangan mata Michael Abraham mengedar ke kanan kiri. Mencari-cari istri tercintanya yang belum nongol di ruang pesta.
“Coba kamu ke ruang kamar hotel ibu, segera panggil dia. Pesta sebentar lagi akan dimulai,” titah Michael kepada salah satu bodyguard-nya.
Tak berapa lama, Sierra muncul bersama seorang gadis. Memasuki ruangan, keduanya begitu sangat menawan, sama-sama cantik jelita. Tak ada yang tak terpesona dengan kedua wanita cantik itu. Semua orang berbisik, saat Sierra dengan erat menggandeng tangan Briana erat di lengannya. Senyuman wibawa ia edarkan ke seluruh tamu yang sudah hadir disana.
Wajah Briana, pucat pasi. Bisa-bisanya dia terjebak di sebuah pesta yang tak pernah terlintas di benaknya. Ia tertunduk malu karena dia sudah lama tidak berada di kerumunan banyak orang. Michael Abraham masih bertanya-tanya dengan siapa Sierra.
“Sierra, siapa dia ?”
HAI HAI PEMBACA MY LOVELY MUA.
TERIMAKASIH SUDAH MAU MEMBACA, TINGGALKAN KOMEN DAN LIKE NYA. SUPAYA AKU SEMANGAT UNTUK UPDATE SETIAP HARI.
SAYA AKUI KARYA SAYA INI BEDA GENRE DENGAN KARYA-KARYA LAIN. TAPI, SAYA JAMIN KALIAN TIDAK AKAN BOSAN DENGAN KARYA SAYA. HEHEHE 😄😅
TAPI, MESKIPUN BEDA, SI NEVAN INI JUGA CEO DI TEMPAT KERJANYA LOH. JADI, NAMANYA TETAP CEO KAN ? WKWKWK😛
SALAM SAYANG SEMUA,
TTD
SAGE GREEN92 😘