
“Saya sangat senang Briana mau bergabung di William Entertainment kembali, sayangnya bukan sebagai talent. Saya berharap kedepannya Briana bisa bergabung sebagai talent,” ujar direktur William Entertainment.
“Terimakasih, Sir Christian.” ucap Aisha sangat berterimakasih banyak.
Beberapa saat kemudian, Christian mengajak Briana ke ruang make-up para model dan talent mereka. “Besok, disini tempatmu bekerja, Briana. Aku harap kamu betah disini.”
“Tentu Sir, saya akan bekerja lebih baik dari pada beberapa tahun lalu.”
Christian menggeleng. “Tidak, jangan ungkit lagi peristiwa konyol itu.”
“Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang duluan, Sir. Terimakasih banyak.”
Christian mengantar Aisha dan Briana ke luar kantor. Dari arah berlawanan, Isyana datang memakai kacamata hitam, celana jeans panjang, sepatu boots, dan berkemeja putih seputih salju.
Dug!
Ditabraknya bahu Briana, kebetulan Briana berjalan di samping Aisha.
“Maaf, saya nggak sengaja.” tuturnya tanpa menunggu lebih dulu balasan dari yang ditabrak ia langsung berjalan cepat.
Mata Christian menyipit melihat punggung Isyana yang sudah cepat menghilang. “Gadis itu benar-benar!” Christian memijit pelipisnya sedikit dan tersenyum canggung di hadapan Aisha dan Briana.
“Maafkan, ya Briana dan Bu Aisha.”
Briana seraya menoleh ke belakang, bukannya tadi itu adalah Isyana. Tapi, harusnya Isyana mengenal Briana kan ?
Disatu tempat, Isyana menunduk hingga rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Dirinya sangat malu, dan berusaha menutupi rasa sesak di dadanya. Ia ingin menghilang bersama angin jika itu bisa.
“Sebenarnya ini bukan urusan kita ya Isyana, tapi teman-temanmu bergunjing di belakangmu. Pihak management jadi risih. Aku harap kamu bisa menjelaskan duduk masalah ini kepada teman-temanmu supaya mereka tidak kecewa.”
Teman-teman yang mana ? Memang Isyana punya teman ? Karena sifat angkuh dan sombongnya itu, dia dijauhi teman sesama modelnya. Ya, meskipun popularitasnya berada di nomer 2 setelah Adriella.
“Ba-baik, Tante.”
Dia lalu mengayunkan langkah kakinya menuju studio. Saat dia masuk, beberapa orang menyorot Isyana yang sudah akan masuk ke studio. Mereka bergunjing dan ada juga yang tertawa, menertawakan rencana pernikahannya yang gagal. Pedih. Airmatanya mengalir deras di balik kacamata hitamnya.
Saat Isyana duduk memakai high heelsnya, dia mendapati Adriella sudah berdiri di depannya. Menatap penuh kebencian.
“Selamat ya atas gagalnya pernikahan lo, Isyana.”
Adriella dan kedua temannya sukses membuat mental Isyana jatuh saat itu juga. Isyana lalu mendongak dengan sepasang mata sembab menatap Adriella nanar. Lalu dia mengawasi seluruh studio, teman-temannya yang lain juga ikut menertawakan kegagalannya. Tangannya meraup wajahnya yang sudah basah akan ingus bercampur airmata.
Christian lalu berteriak di depan pintu. Seraya mereka langsung diam. Saling melempar pandang, tiba-tiba saja direkturnya itu datang ke studio.
“Semuanya tolong jaga sikap kalian kepada teman kalian sendiri !”
Semua berdiri mematung, terdiam. Tak terkecuali Adriella. Dia menunduk seperti kehilangan nyali lagi.
Christian kemudian mendekati Isyana yang masih terisak di bangku panjang di depan kaca. “Everything will be ok, Sya.” ujar Christian seraya menepuk bahu Isyana yang rapuh itu.
“Thanks, Sir Christian.”
Senyuman indah terukir dari bibir Briana. Christian Ivander, lelaki bujang berumur 35 tahun itu sudah menaruh hati kepada Isyana sejak Isyana bergabung di dalam agency-nya beberapa tahun lalu. Kini, hatinya bersorak gembira ketika mendengar kabar bahwa Isyana gagal menikah.
...----------------...
Sebuah mobil sport hitam terparkir sedari tadi di depan kantor MUA Aisha. Mulai pagi dan sekarang menjelang siang. Mobil itu tak menunjukkan gerakan sama sekali. Elsa berdiri mengintip dari pintu kaca kantornya seksama. Tak nampak batang hidung orang di dalamnya. Karena kacanya sangat gelap.
“Lagi ngintip siapa ?” tanya Aisha yang juga ikut mengintip.
“Coba ibu tanyain.”
Aisha kemudian membuka pintu kantornya, dan menuju ke mobil hitam itu. Diketuk-ketuk mobil itu sambil mengintip, dan menyipitkan matanya memastikan ada orang di dalam.
“Ada orang di dalam ?” tanya Aisha mengetuk-ngetuk kaca mobil gelap itu.
Kaca itu lalu diturunkan, sepasang mata Aisha kemudian membulat sempurna. Nevan! Pemuda itu lagi. Nevan menyengir dan tersenyum sempurna sambil memberi salam kepada Aisha. Pintunya ia buka dan turun dari mobil mewahnya.
“Siang, Tante.”
Aisha tersenyum terpaksa. Di belakangnya, Elsa berteriak histeris. “Ah, Om ganteng waktu itu ya, gantengnya berkali-kali lipat, Nyonya!” pekik Elsa menyambar-nyambar lengan Aisha sampai tubuhnya bergoyang. Aisha kemudian melirik dan berdehem.
“Ah, ma-maaf, Nyonya. Saya hanya kaget.”
Elsa memonyongkan bibirnya, lalu berjalan masuk ke dalam kantor.
“Masuk dulu, Nak Nevan.”
Ajak Aisha diikuti langkah kaki Nevan di belakang. Dia lalu dipersilahkan duduk di kursi tamu oleh Aisha.
“Sa, tolong buatkan minuman untuk, Nak Nevan.”
Elsa mengangguk. Matanya beralih dan berkedip sekilas dan beranjak pergi.
“Dasar !” gumam Aisha dingin.
Nevan meremas kedua tangannya, gugup, tegang, berdebar bercampur menjadi satu. Wajahnya terangkat sedikit bibirnya mulai membuka sedikit. “Sa-saya sekali ingin meminta maaf, Tante. Saya pikir, saya dan Briana—”
“Tidak perlu, Nak Nevan. Biarkan Briana bebas, selama 6 tahun ini, dia sudah menemukan hidupnya kembali. Jadi, tante mohon dengan sangat jangan ....,”
Aisha menjeda sedikit ucapannya. Airmatanya lolos begitu saja. Mencoba tegar, dia mengusap kasar air mata di pipinya. “Jangan pernah temui dia lagi.”
Nevan mengulum bibirnya, merasakan panas di dada yang meletup-letup. Dia sendiri sudah putus asa, tak sanggup melupakan Briana. Tak mampu menghapus jejak Briana di hatinya. Sampai akhirnya dia mengusir wanita yang ingin mengganti posisi Briana di hatinya. Tak seorangpun boleh menempati hatinya selain Briana. Menyesal sudah kini, tiada gunanya lagi.
“Saya menyesal, Tante.” kata Nevan dengan suara parau.
Aisha sendiripun tak mampu memendam rasa kecewanya terhadap Nevan. Dulu, saat Briana memutuskan untuk berpacaran dengan Nevan saja jantung Aisha ingin melompat keluar dari dadanya. Mana mungkin Mecca menyetujui, mereka adalah keluarga terhormat. Lalu, Nevan ? Pemuda itu masih labil. Sifat dinginnya sebesar batu es di kutub. Sifatnya saja sulit ditebak. Sampai-sampai Xaquil menendang Nevan bersekolah ke luar negeri untuk membentuk karakter Nevan. Berbeda jauh dengan sifat Vivian, dan juga adiknya, Andreas. Nevan dulu dingin, tak banyak bicara. Namun coba lihat kini, setelah 6 tahun ditendang kembali oleh Xaquil ke Inggris, banyak perubahan sifat Nevan yang membuat Aisha bergidik ngeri. Contohnya sekarang, menyesali perbuatannya kepada Briana. Dan lebih banyak berucap kata maaf.
“Tidak ada yang perlu disesali. Lagipula sebentar lagi Briana akan melanjutkan sekolah ke Los Angeles. Biarkan dia berkembang dulu, Nak Nevan. Jangan pernah coba menggagalkan impiannya kembali,” ucapan Aisha tenang tapi menusuk. Menusuki jantung Nevan.
Nevan mengumpat di dalam hati. Impian Briana bahkan hancur di tangannya sendiri. Haruskah dia merelakan kembali Briana lepas dari genggamannya ? Adakah cara yang lain untuk menahannya pergi ? Menahan ? Itu akan membuat keluarga Briana semakin kecewa pada Nevan.
Hening. Nevan sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Dia sudah menutup pintu hatinya selama ini, belum cukupkah Nak Nevan menyiksa Briana kembali ?”
Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari bibir wanita itu. Kalah telak! Nevan yang sekarang berbeda dengan Nevan yang dulu. Dulu dia suka memutar balikkan omongan Briana. Namun sekarang, dia tak berkutik ketika Aisha—Ibu Briana— menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan menusuk.
“I-itu ....,” suaranya tertahan di tenggorokan. Tercekik sendiri. Membayangkan dulu, ketika Briana dia siksa dengan segala perbuatan bodohnya.
“Lebih baik, Nak Nevan pulang. Saya takut jika Briana mendengar percakapan ini. Saya juga tidak ingin putri saya sedih saat melihat Nak Nevan berada disini.”
Nevan memejamkan mata sejenak. Otaknya terasa kosong. Bahkan, sekarang dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
“Kalau begitu, saya permisi, Tante. Maaf jika siang ini saya mengganggu.”
Nevan menyalami tangan Aisha sopan, tersenyum getir. Baru saja dia berpamitan, langkah kakinya tertahan ketika bayangan Briana memantul di pintu kaca kantor. Briana mematung melihat lelaki itu berdiri tertahan sambil menatapnya dari dalam. Terlambat menghindar.