My Lovely MUA

My Lovely MUA
41.



“Mobil siapa itu?” Steven mengintip dari balik jendela rumahnya. Pagar rumah Briana sedikit banyak mengintip karena besinya jarang. Cukup jelas saat mobil sport warna merah itu terparkir di depan rumahnya.


“Mah, coba kamu lihat Briana lagi ngobrol sama siapa disana?” titah Steven.


Aisha kebetulan sedang tidak ada di dapur, Steven mencoba mencari istrinya namun tidak ada. Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi sendiri untuk mengecek siapa yang berbincang dengan Briana sepagi ini di depan rumahnya.


Tangan Steven terulur membuka pintu pagar bercat coklat tersebut, hingga dia menemukan pemandangan yang sangat membuat dirinya kepalanya panas.


“Nanti, kalo papahku li—”


Briana merasakan jika pintu pagar rumahnya terbuka, dia segera menoleh kebelakang. Tak disangka-sangka Steven muncul dengan wajah merah padam.


“Kamu!” Steven segera berjalan cepat menghampiri Nevan, dengan cepat Steven melayangkan tinjunya di wajah tampan Nevan.


Briana segera menutup rapat mulutnya saat Steven memukul Nevan dengan membabi buta.


Bhug! Bhug!


“Mau apa kamu! Mau menyakiti hati putri saya lagi, mau mencelakai putri saya lagi, hah! Jawab!”


Steven menarik krah baju Nevan yang sudah ternodai dengan darah segar keluar dari bibirnya. Nevan tak melawan atau apapun.


Bhug! Satu pukulan melayang lagi di perut Nevan.


“Jawab! Dasar anak kurang ajar!” Steven terus menghajar Nevan dengan membabi buta. Darah segar tak berhenti mengalir dari pelipis, dan bibir Nevan.


Briana kemudian mencoba melerai, “Pah, udah Pah, Briana mohon.”


Briana terisak memeluk tubuh besar Steven supaya berhenti memukuli Nevan. Nabila dan Elsa kemudian menghambur ikut histeris saat melihat bosnya itu sedang memukuli Nevan.


Dada Steven naik turun karena amarah sudah membuncah di dalam hatinya. Steven merasa sangat puas sudah bisa menghajar Nevan sampai terhuyung seperti itu. Steven sangat amat murka melihat putrinya berhubungan kembali dengan Nevan.


Nevan jatuh bersimpuh di bawah kaki Steven, penampilan tampannya selama ini sudah berubah menjadi mengerikan karena wajahnya benar-benar sudah babak belur.


“Briana, baru saja papah memperingatkan kamu, papah sangat kecewa sekali sama kamu,” Steven menghempaskan tubuh Briana hingga sedikit terpelanting ke belakang. Kata-kata Steven sangat menusuk hati Briana, dia menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu.


Aishapun keluar dari dalam kantornya, telinganya mendadak bising karena diluar seperti ada suara ribut-ribut. Terlebih lagi, kedua asistennya sedang tidak ada ditempat. Aisha mendapati Nevan sudah babak belur, sementara disampingnya ada Briana yang tengah menangis. Lalu beberapa detik kemudian, suaminya, pergi meninggalkan kedua manusia itu. Disana juga ada kedua asistennya Elsa dan Nabila yang berusaha menenangkan Briana yang menangis.


“A-ada apa ini?” Aisha memekik kaget lalu meraup tubuh Nevan yang masih bersimpuh di tanah.


“Astaga, Nevan, kenapa jadi begini?!” Aisha panik saat melihat wajah Nevan babak belur mengenaskan. Aisha lalu menyuruh Nabila dan Elsa membawa Briana ke dalam kantor. Sedangkan, Nevan dituntun Aisha masuk untuk diobati lukanya.


Nevan di dudukkan di sofa tamu, sementara Briana masih sesenggukan menangis berdiri di samping sofa.


“Ini kenapa bisa begini?” Aisha berlalu sambil mengambil kotak P3K di ruang belakang.


Nabila dan Elsa gemetar masih ketakutan saling lempar pandang. “Aduh, saya ngeri kak lihat wajahnya om bule jadi babak belur gitu, kasihaan,” Elsa berbisik di telinga Nabila, ia hanya meneguk ludah kasar dan mengiyakan keluh kesah Elsa.


Nabila lalu mendekat ke arah Briana, lalu menyuruhnya untuk duduk di kursi terpisah dengan Nevan. “Lo duduk sini, Bri.”


Briana hanya mengangguk, hatinya sakit saat Steven menghajar Nevan habis-habisan seperti itu. Apalagi


Steven sekarang sangat kecewa pada Briana.


Dari arah dalam, Aisha berjalam membawa sebuah kotak berwarna putih bertanda merah, dia juga memerintahkan Elsa mengambil air dingin di baskom.


Nevan tertunduk lesu sambil sesekali melirik ke arah Briana, ingin sekali dia memeluk erat Briana. Namun, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan itu.


Aisha kemudian duduk di tepi sofa lalu mulai membersihkan luka yang ada di wajah Nevan. Ya, walaupun Aisha tidak setuju Briana dan Nevan menjalin hubungan, tapi, Aisha mempunyai jiwa keibuan. Dirinya tak tega melihat Nevan babak belur seperti itu. “Maafkan papanya Briana ya, Nak Nevan.”


Nevan hanya diam, lalu tersenyum kaku.


Disela-sela mengobati luka Nevan, Aisha masih sempat meminta maaf kepada Nevan. Sedetik kemudian, Aisha menatap ke arah putrinya dengan berkata. “Lebih baik kamu segera berangkat kerja, Nevan biar mamah yang urus.”


Briana menghapus sisa-sisa air matanya yang masih membanjiri pipinya. Menatap sendu ke arah Nevan dan Aisha. Briana seraya berdiri lalu berpamitan pada Aisha, tak lupa dengan Nevan.


“Permisi,” ucapnya, sedikit lirih. Sambil melirik ke arah Nevan.


Sepeninggal Briana, Aisha dengan telaten mengobati luka-luka yang ada di wajah Nevan. “Tante, nggak perlu begini.”


“Sshhh,” Nevan meringis saat Aisha sedikit menekan lukanya.


“Nggak papa, udah hampir selesai.”


“Apa benar Briana akan menikah, Tante?”


Aisha sedikit menjeda gerakan tangannya di atas wajah Nevan. Lalu, melanjutkan lagi dengan menjawab. “Kamu tahu darimana?”


“Jawab saya, Tante.”


Aisha memilih menyudahi aktivitasnya, lalu berbicara dengan Nevan. Aisha ingin menjelaskan lagi, duduk perkaranya sampai Nevan bisa babak belur seperti tadi.


“Tante kan sudah bilang dulu, jangan buat Briana sakit hati lagi. Tolong, Nevan kamu tinggalkan Briana, lupakan, kalian bisa berbahagia jika berjalan sendiri-sendiri.”


Nevan tersenyum sedikit, “Tante apa sudah nanya ke Briana, apa selama ini dia bahagia?”


“Sangat bahagia,” imbuh Aisha sambil merapikan alat-alat P3K nya, dan memasukkannya kembali ke kotak.


Nevan tersenyum dengan pandangan kosong. “Kalau begitu, saya pamit, terimakasih Tante sudah mau menolong saya, permisi.”


Nevan melangkah pergi, dan keluar dari kantor MUA Aisha. Sebagai seorang pengacara, Nevan pasti tahu strategi apa saja yang akan dia pakai untuk melawan musuh. Sebelum dia pergi, dia menoleh ke arah rumah Briana dan kantor Aisha, tersenyum miring khas Nevan Xaquil seperti dulu saat remaja.


...----------------...


Briana tak sengaja melewati lorong tempat latihan para talent yang akan tampil nanti malam. Mereka latihan keras untuk penilaian bakat yang diadakan WillEnt setiap tahun. Briana tersenyum sedikit, tujuh tahun yang lalu, dia sempat merasakan berada di dalam studio latihan bersama para pejuang yang lainnya.


“Ok, guys latihan siang ini cukup ya, kita latihan lagi setelah istirahat,” sahut pelatih wanita sambil tersenyum lebar. Pintu studio itu terbuka sedikit, hingga Briana jelas melihat wanita itu tetap semangat dan energik seperti dulu.


Para talent lalu berhambur keluar, untuk menikmati jam istirahat siangnya setelah seharian penuh latihan keras. Pelatih wanita itu berjalan ke tempat duduk mengambil satu botol air mineral dan meneguknya. Saat sedang menoleh, wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya memandang pantulan kaca. Terlihat Briana sedang mengintip sedikit.


“Hai? Masuk lah!” ucapnya lalu berdiri menghampiri Briana.


Briana tersenyum sedikit, sambil membenarkan kacamatanya. Pelatih wanita itu meneliti penampilan Briana dari atas sampai ke bawah.


“Ka-kamu Briana Micella bukan?!” katanya.


Briana manggut-manggut, sesaat kemudian wanita itu memeluk tubuh Briana. “Ah, aku kangen banget!”


“Sama, Kak Marsha, aku juga kangen,” balas Briana.


“Masuk dulu yuk, kamu nggak kangen sama studio ini?” ujar Marsha antusias, lalu menyeret Briana yang awalnya meragu tapi pasrah saat Marsha memaksanya.


Mereka kemudian duduk di lantai studio, studio itu berukuran luas. Disekelilingnya terdapat cermin-cermin yang bisa untuk melihat performa masing-masing talent. Briana duduk sambil menekuk kedua kakinya didepan perut sambil bersandar di dinding.


“Oh ya, kamu ngapain disini Briana?” tanya Marsha.


Briana tersenyum, “Aku kan kerja disini, Kak.”


Marsha langsung menoleh, menatap Briana lekat. “Ke-kerja sebagai?”


“Kerja makeup-in talent sama model baru aja sebulan disini, tapi, aku mau resign.”


Mata Marsha membulat tak percaya, mulutnya menganga lebar. Sejak kapan Briana jadi makeup artist, batin Marsha. “Bentar-bentar, gimana aku nggak paham, maksud kamu kerja disini jadi makeup artist gitu?”


Briana manggut-manggut. “Iya Kak Marsha yang cantik.”


“Trus kenapa kamu resign, kita baru ketemu loh! Aku kemana aja sih, nggak sadar kalo kamu ada disini?” Marsha memegang lengan Briana, masih tak percaya bahwa rekan talentnya dulu itu bekerja sebagai makeup artist bukan sebagai artisnya.


“Mau nerusin usaha Mama, Kak.”


Kening Marsha berkerut-kerut, “Usaha apa?”


Marsha sendiri sudah lama lost contact dengan Briana semenjak kejadian bodoh di masa lalu gara-gara si pembuat onar, Nevan. Marsha difitnah oleh kekasih sahabatnya sendiri. Sampai Briana sangat membenci Marsha detik itu juga.


“MUA juga, Kak Marsha pasti kenal dong sama mamah aku,” jawab Briana terkekeh.


“Oh, ya, emang siapa namanya?” tanya Marsha penasaran.


Briana tersenyum, “Aisha Ilyana.”


Marsha menepuk lengan Briana, mengacungi dua jempol untuk Briana yang meringis kecil. “Sip! Pantesan talent disini pada muji-muji MUA baru, itu ternyata kamu, anaknya Mami Aisha?”


Briana terkekeh, “Iya gitulah.”


Marsha lalu teringat pada sesuatu, ya sesuatu yang membuat dirinya tersandung masalah besar waktu itu. “Kamu masih pacaran sama dia?”


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Gimana ? Ada yang penasaran nggak sih sama masa lalu Nevan dan Briana ? Perlu dibuatin flashback nggak, atau biarin aja?


Komen dibawah ya 😛