
Briana berdiam diri cukup lama saat Nevan berkata bahwa Brianalah yang menyuruhnya untuk pergi. Sejenak dia menepis kenangan buruknya itu 6 tahun lalu.
Kewarasannya kini sudah berangsur kembali, setelah terbuai oleh janji-janji manis dari bibir Nevan. “Koper, mana kopernya?”
Nevan berkecak pinggang, lalu berkata. “Lo bener-bener deh!”
Melesat menuju ke arah kamarnya, Nevan tergopoh mendorong koper berukuran sedang berwarna kuning menyala tersebut. Membawanya ke arah Briana yang seperti terlihat ingin menangis. Briana langsung memeluk harta karun berharganya itu yang nilainya setara dengan harga motor baru.
Nevan mengernyitkan dahi, mencebik kesal. “Baru nggak ketemu beberapa jam aja udah panik. But, you never called me.”
Briana tertegun saat mendengar keluh kesah Nevan, ia menghela nafas panjang sesaat. “Gue sibuk kuliah, fokus menata hidup.”
Briana lalu berpikir sejenak, sambil berjongkok di depan kopernya. “Emang lo pernah hubungi gue?”
Nevan lalu ikut-ikutan berjongkok di depan Briana, dan memegangi dagu Briana lalu berkata, “Why did you ignore my calls?”
Mata Briana mengerjap-ngerjap, mencoba mencerna pertanyaan Nevan. “Gue reject, karena itu pasti nomor lo.”
“Lo bener-bener, gemesin!” celetuk Nevan membuang nafas panjangnya segera. Lalu bergegas berdiri memasukkan kedua tangannya di saku celana pendeknya.
“Makasih udah nyelamatin koper gue, dan gue mau pamit pulang.”
Briana kemudian bangkit, menyalami Nevan sebelum pulang lalu mengulang lagi kata-katanya, “Gue pamit dulu, trus bukain itu pintunya.”
Nevan melirik Briana sejenak, masih bergeming. “Gimana kalo Reno beneran...”
Plak! Briana memukul lengan kekar Nevan cukup kencang. “Please, don't talk anymore!”
Nevan menghela nafas panjang, “I'm gonna take you home, now.”
Briana menggeleng. “Jangan pernah sekali nganterin gue pulang, atau apapun.”
“Kenapa?”
“Papah bakal marah kalo aku masih berhubungan sama..”
Nevan menggeleng. “It seems you underestimate me.”
Mata Briana berkaca-kaca, Steven pasti akan sangat marah saat Briana menjalin hubungan kembali dengan Nevan. Steven begitu membenci Nevan dan seluruh keluarga besarnya.
“Briana, please, give me a chance and i can show you.”
Nevan tak akan pernah berhenti memohon demi melunakkan hati Briana yang sudah terlanjur membeku. Bahkan, jika perlu dia akan kawin lari dengan Briana.
Briana menggeleng, “Aku mau pulang, Van, aku capek.”
“Aku anterin, jangan nolak lagi.”
Nevan segera mengambil kunci mobil di dalam kamarnya, tak lupa dia meraih hoodie hitam untuk menutupi tubuhnya supaya tidak terkena hawa dingin malam yang menusuk pori-pori kulitnya. Satu tangannya mendorong koper Briana. Satunya, lagi meraih tangan Briana lembut dan berjalan keluar menuju basement.
...----------------...
Briana tiba di rumahnya, dia menyeret koper itu hingga menimbulkan sedikit bunyi. Saat itu, Aisha menyadari Briana telah kembali setelah sekian lama mengurus kopernya yang hilang.
Aisha berjingkat dari ruang makan lalu mengekori Briana yang akan naik ke kamarnya. “Na, kenapa lama banget?”
Briana menoleh ke arah Aisha dengan wajah masam. “Umm.”
Aisha lalu meraih tangan Briana cepat sebelum Briana beranjak ke atas. “Ada masalah?” Mata Aisha menyelidik bahwa ada yang tidak beres dengan anaknya yang sedari tadi murung sejak masuk ke dalam rumah. “Gimana ngejob sama Tante Sierra, asyik nggak?”
Briana menghela nafas panjang, ketahuilah dirinya sangat lelah sekali. “Asyik, yaudah ya Briana capek mau ke kamar dulu.”
Aisha melepas tangan Briana, lalu berdehem. “Kalo Reno gimana, udah ketemu kan?”
Briana menghentikan sejenak langkahnya, lalu menoleh penuh amarah. “Oh, jadi tujuannya mau jodoh-jodohin gitu, iya? Asal mamah tahu, Briana nggak akan mau menikah sama pria manapun di dunia ini!”
Glek! Aisha menelan ludah kasar, “Tapi, Na...”
Briana tak menggubris, dia lalu membuka pintu kamarnya dan membantingnya dengan kasar.
Blam!
Aisha mengelus dada untuk menenangkan dirinya sendiri. Briana sangat keras kepala, sampai kapan dia akan menutup pintu hatinya untuk laki-laki. Sesakit itukah hatinya sampai dirinya menjadi seperti itu, batin Aisha mencoba menerka-nerka isi hati putrinya.
Steven keluar dari kamar, karena mendadak kaget ada suara pintu dibanting. “Ada apa ini?”
Steven berlari kecil menuruni tangga menghampiri istrinya yang masih termangu di bawah. Matanya sedikit berkaca-kaca. Steven kemudian meraup wajah istri cantiknya itu lembut, “Ada apa?”
Aisha menghambur ke pelukan Steven, menghirup aroma tubuh suaminya yang menenangkan. “Apa Briana sangat trauma ya, Pah.”
“Dia sudah pulang?”
Aisha mencubit perut gelambir Steven, hingga Steven meringis kesakitan. Aisha menggerutu sambil berlalu di ruang keluarga. “Briana bilang dia tidak mau menikah dengan lelaki manapun di dunia ini. Kalau gitu, Briana apa perlu kita kirim ke L.A secepatnya?”
Steven menghela nafasnya, lalu duduk disamping istri tercintanya. “Biarlah, Briana berusaha sendiri tanpa kita memaksanya.”
“Dan, kamu Aisha apa kamu masih berhubungan dengan keluarga Nevan?”
Aisha menoleh cepat hingga membuat Steven takut, kepala istrinya itu lepas, saking cepatnya. “Untuk apa?”
“Ya siapa tahu, aku ingin sekali menghajar anak itu.”
Aisha mendelik tajam, “Anak orang itu, Pah.”
Aisha tertawa cekikikan, pasangan paruh baya itu nampak harmonis. Mereka berdua berharap, kelak saat Briana membina rumah tangga, putrinya selalu mencontoh kedua orang tuanya yang jauh dari kata sempurna itu.
...****************...
“Sarapan dulu, nggak usah buru-buru,” sahut Aisha melirik putrinya turun dari kamar. Briana berlari kecil menuruni tangga. Gadis itu sudah rapi, dan cantik. Namun gerakan tubuhnya terhenti saat mendengar Aisha sudah memanggil dirinya di ruang makan.
Briana menoleh, disana juga sudah ada Steven sibuk melahap menu sarapannya. Siap-siap terkena kultum dari mereka berdua, batinnya. Dengan langkah gontai, Briana menghampiri mereka, dan duduk saling berhadapan. Raut Briana sedikit kesal atas perbuatan kedua orang tuanya yang seenaknya sendiri.
“Kenapa mukamu itu?” Steven bertanya sambil melirik wajah Briana yang ditekuk seolah sedang kesal terhadapnya.
Briana tak menjawab, langsung saja dia melahap sarapan yang sudah terhidang di depannya.
“Pelan-pelan, kenapa sih?” Aisha mulai menginterupsi Briana.
Tak! Briana terasa risih dengan sikap Steven dan Aisha. Dia meletakkan sendok dan garpu di atas piring. Pertanda, dirinya sudah selesai makan.
“Briana berangkat dulu,” jawabnya ketus. Seraya bangkit dari tempar duduknya.
Steven mendengus kasar. “Duduk dulu!”
“Kenapa, Pah?” sahutnya, lalu duduk kembali pada posisinya.
Aisha melirik raut Briana, wajahnya sudah merah padam. Kesempatan mereka untuk menasehati putri semata wayangnya itu.
“Briana kecewa sama papah dan mamah,” celetuk Briana tiba-tiba.
Steven, berhenti mengunyah seraya mengambil segelas air putih lalu meneguknya. “Maksud kamu?”
“Papah bilang kalau ke Jogja buat liburan, namun nyatanya ada job disana. Malam itu, Tante Sierra bilang mau ngenalin ke seseorang, katanya juga sudah atas persetujuan mamah sama papah,”
Aisha dan Steven saling melirik satu sama lain. Aisha kemudian berkata, “Itu semua demi kamu, Na, nggak ada niatan apapun.”
Briana mencibir. “Bohong! Yang datang kesana itu Kak Reno, padahal papah sendiri kayak nggak suka sama Kak Reno!”
Steven mengeratkan giginya, “Apa yang telah Nevan perbuat sampai kamu jadi seperti ini, hm? Jawab papa!”
Briana menelan ludah kasar, tak berani menatap Steven karena papanya itu sedang marah.
Briana menggeleng, “Nggak ada.”
“Dari dulu mamah sudah bad feeling sama anak itu, dia adalah anak dari keluarga Xaquil satu-satunya yang...”
“Terusin aja, Mah,” sahut Steven, sambil masih menatap ke arah putrinya.
“Ya gitulah, nggak bisa ditebak sama sekali. Berbeda sekali dengan Vivian, Andreas, kalau untuk Nevan dia anaknya dingin, misterius, tak banyak bicara” imbuh Aisha.
“Troublemaker?” timpal Steven.
Briana tetap mendengar percakapan antara kedua orang tuanya itu dengan seksama. Apalagi ini menyangkut Nevan. Tak dipungkiri saat sekolah dulu, Nevan begitu dingin dengan siapapun, bahkan dia hanya mengajak ngobrol dengan orang-orang yang sudah dikenalinya. Apalagi saat Briana tahu sifat asli Nevan, Briana mendadak pusing dan hampir ah, ralat sudah kehilangan akal sehatnya.
Aisha menggeleng, lalu lanjut menoleh kearah Briana. “Belum tentu dia troublemaker, tapi, dia kurang akur dengan kedua orang tuanya.”
“Bagaimanapun juga, aku tidak mau Briana berhubungan kembali dengan anak itu. Briana?!”
Briana yang sedari tadi menunduk, lalu mendongak menatap Steven kembali. “I-iya, Pah.”
“Kamu bisa berjanji jangan berhubungan lagi dengan anak itu?” tanya Steven.
Tangan Briana mengepal di bawah sana, “Kenapa jadi bahas Nevan?”
Aisha mencebik, “Sudahlah, cepat pergi kerja!”
“Jawab dulu, baru boleh pergi!”
Briana ingin membenturkan kepalanya ke dinding melihat tingkah kedua orang tuanya yang sangat memusingkan ini. “Briana janji, nggak akan pernah dekat dengan lelaki manapun, dan nggak mau menikah. Puas?!”
Briana beranjak pergi tanpa permisi, lebih baik dia segera menghilang daripada telinganya semakin terasa panas. Dahulu, Steven tak pernah seposesif ini kepadanya, tapi mengapa lama-lama jadi makin menggila.
“Ck, anak itu!” Steven menghela nafas panjang.
Aisha mengelus lengan suaminya itu. “Sabar, Pah, pelan-pelan saja ya.”
Di depan gerbang rumahnya, sebuah mobil sport berwarna merah sudah terparkir rapi. Sudah jelas disana, Nevan berdiri di samping pintu penumpang untuk menunggu sang pujaan hatinya, Briana.
“Ngapain disini?” tanya Briana, ketus.
Nevan melepas kacamata hitamnya, dan menyugar rambutnya kebelakang. “Jemput kamulah.”
“Ssst, kan aku udah bilang jangan ngawur!” jawab Briana, kesal.
Nevan mendekati Briana, “Ngawur kenapa sih, emang salahnya dimana?”
“Dahlah, aku berangkat sendiri aja!” Briana melipir pergi, namun tangannya sudah kadung dicekal kencang oleh Nevan.
“Tunggu dulu, dong.”
Saat mereka berdua sibuk dengan argumennya sendiri, gerbang di rumah Briana sedikit terbuka. Hingga, jantung Briana seakan ingin berhenti berdetak.
“Kamu?!”