My Lovely MUA

My Lovely MUA
86.



Mobil Andreas melaju cukup kencang membawa papanya menuju ke rumah sakit. Jarak yang ditempuh kurang lebih sekitar lima belas menit dari kediaman Nevan. Di kursi penumpang belakang, Vivian memangku kepala papanya dan sedikit menangis tersedu-sedu.


“Yas, kenapa lama banget?” gerutu Vivian menahan amarah dan sesak di dada.


Andreas tak menjawab, dia memilih untuk tetap fokus ke jalanan. Sambil sesekali melirik ke spion mengecek keadaan papanya. Napasnya menderu, dia juga gelisah karena dia merasa dia sudah menginjak gas dengan kecepatan tinggi namun seperti tidak berjalan.


Sedangkan di tempat lain, Nevan menyeka sudut bibirnya untuk membersihkan sisa-sisa darah yang menempel. Sambil tersenyum smirk, dia mendekati lelaki yang kini tengah berdiri di hadapannya dengan mata tajam bak elang.


“Ada yang perlu dibantu?” tanya Nevan sambil tertawa pelan.


Lelaki itu menggeleng. “Gue cuma pengen ketemu Briana, kemarin gue lihat dia masuk ke rumah ini. Dia nggak ada hubungannya kan sama lo?”


Nevan terkekeh sambil memegangi dadanya. “Briana udah resmi jadi isteri gue, lo mending pergi.”


Saat kedua lelaki itu tengah sibuk bersitegang, terdengar suara lantang yang memanggil nama Nevan dari luar pintu rumah. “Van!” panggil Mecca sambil berjalan tergopoh-gopoh, disusul di belakang ada Aisha dan juga Briana.


Briana sontak terkejut karena melihat Reno sudah berdiri dan berbicara dengan Nevan. Sungguh Briana tidak pernah menyangka jika Reno nekat mengikutinya sampai ke dalam rumah ini. Sedangkan Aisha juga tak kalah terkejut saat menyadari adanya Reno bersama dengan menantunya, Nevan.


“Tante Aisha? Jadi, tante disini juga?” Reno tertawa seperti orang bodoh. Bisa-bisanya dia di bodohi oleh keluarga Briana. Tanpa kabar tanpa pesan apapun selama ini.


Aisha mengernyit bingung juga membeku sejenak. Saat bibir Aisha sedikit terbuka ingin menjelaskan, langsung di potong oleh Nevan. “Ya jelas, Tante Aisha adalah mertuaku.”


Reno benar-benar seperti orang gila, mungkin Reno adalah orang satu-satunya yang tak mengetahui dimana Briana dan keluarganya selama ini bersembunyi. Dan pelakunya adalah orang yang kini berdiri di depannya sekarang. Orang yang telah menyembunyikan calon isterinya dulu. Mungkin tidak sekarang, karena Nevan sudah berhasil merebut Briana darinya.


Sekali lagi, lirikan mata Reno mulai terpaku pada sesosok makhluk kecil yang digendong oleh Aisha. Wajahnya sangat mirip dengan Nevan. Jelas sekali bayi berpipi tembam itu adalah buah hati mereka. Dada Reno sungguh sesak bak dihantam berton-ton batu.


“Jangan bilang dia...” suara Reno terputus tatkala menatap Sean dengan mata berkabut.


“Dia Sean, anak kita berdua, Kak Reno,” sambung Briana akhirnya.


Nevan tersenyum lega dan puas, karena Briana sendirilah yang sudah menjelaskan semua pada Reno. Sekarang semua sudah tidak ada yang ditutup-tutupi, Reno juga sudah mengetahuinya. Di benak Nevan hanya satu, papanya.


“Kalau udah selesai, mending lo pulang!” usir Nevan seraya meringis menahan sakit di dadanya akibat pukulan keras dari papanya.


Reno memendam amarah. “Terserah kalian semua!” langkah kakinya melebar meninggalkan semua orang yang ada disitu.


“Kak...” seru Briana lirih.


Ia sedikit merasa tidak enak, apa yang dilakukannya memang salah. Briana tidak bermaksud untuk menyakiti hati Reno sedikit pun. Tapi, jika dirinya menerimanya mungkin akan semakin membuat Reno terluka. Dari kejauhan, Briana memandangi punggung Reno yang sudah menghilang dari pandangannya. Begitupun Aisha, rasa bersalah kini mulai bersarang di dada.


“Briana? Kamu nyesel?” panggil Nevan lembut.


Nevan berusaha meredam emosinya. Ingin sekali dia menjawab Briana dengan sedikit meninggikan suara. Tapi, di posisinya yang tidak menguntungkan itu dia tak mungkin memarahi isterinya di depan mama dan mertuanya. Nevan kemudian memandangi tubuh Briana yang sedikit gemetaran, satu hal lagi mata isterinya itu sudah mulai berkaca-kaca.


“Sst, i'm ok,” jawab Nevan, seperlunya. Tapi, beberapa detik kemudian Nevan terbatuk-batuk lalu tubuhnya roboh di bawah tanah.


“Nevan?!” pekik ketiga wanita itu kompak.


...----------------...


“Sebenarnya apa yang terjadi sampai Nevan babak belur seperti ini?” Mecca mengusap perlahan air matanya yang tak henti-hentinya terjatuh.


Nevan sudah masuk ke dalam ruang UGD untuk diperiksa oleh dokter. Sedangkan Aisha dan Mecca menunggu di luar dan duduk di sebuah bangku besi panjang yang tersedia di luar ruang ugd. Jantung kedua wanita paruh baya itu seperti ingin melompat keluar dari tempatnya. Bagaimana tidak, saat Mecca dalam perjalanan ke rumah sakit membawa Nevan, Vivian menghubunginya mengabari jika Xaquil juga terkena serangan jantung. Beruntungnya mereka ada di dalam rumah sakit yang sama.


“Jeng, aku mau ke lantai tiga papa Nevan terkena serangan jantung,” isak Mecca sembari menunduk sedih.


“Biar diantar Pak Raka, jangan pergi sendirian.”


Mecca mengangguk, kemudian beranjak berdiri. Sebelumnya, Aisha memanggil Raka untuk menemani besannya itu ke lantai tiga. Setelah Mecca pergi, kini hanya tinggalah Aisha sendiri. Dia juga tidak mungkin mengajak Briana dan juga Sean ke rumah sakit. Terlalu bersikiko bagi bayi yang baru lahir. Beberapa kali juga Briana mengirimkan pesan singkat ke Aisha menanyakan kondisi suami dan juga papa mertuanya.


Tiga puluh menit berlalu, nampak seorang perawat dan dokter keluar dari ruangan tempat Nevan diperiksa. Aisha segera menghampiri dokter tersebut, dan menanyakan hasil pemeriksaannya. “Dok, bagaimana keadaan menantu saya? Apa dia baik-baik saja?” tanya Aisha panik.


Dokter itu tersenyum. “Tidak apa-apa ibu, dia hanya mengalami shock saja karena terkena pukulan yang sedikit keras. Pasien pasti baru saja terlibat perkelahian?”


Hati Aisha berdebar. “Perkelahian? Saya tidak tahu pasti dok, sewaktu saya datang menantu saya sudah babak belur.”


Dokter itu mengangguk. “Baik, pasien sebentar lagi akan dipindah ke ruangan biasa. Sebelum itu, silahkan mengurus administrasi dulu ya, Ibu. Saya permisi dulu,” ujar dokter itu seraya pergi bersama perawat tadi.


Aisha sedikit bersyukur karena Nevan ternyata hanya mengalami luka ringan saja. Yang jadi pertanyaan adalah siapa yang tega memukuli Nevan sampai seperti itu? Mungkinkah Reno atau orang lain? Tidak.. Tidak, Aisha berusaha berpikiran positif. Dia tidak mau menuduh tanpa adanya bukti yang jelas. Dari pada berpikiran yang tidak-tidak, Aisha segera bergegas mengurus administrasi untuk menantunya.


Sedangkan di tempat lain, Mecca, Vivian dan juga Andreas menatap lesu tubuh papanya yang kini sudah dipasangi selang oksigen. Xaquil masih menutup matanya sejak dari tadi.


“Papamu pasti nggak akan pernah bisa menerima semua ini, ini terlalu mendadak. Orang itu juga sangat keras kepala seperti Nevan. Mereka tidak bisa saling mengalah,” ucap Mecca lirih seraya mengelus pergelangan tangan suaminya.


Andreas mengusap wajahnya kasar. “Apa yang mau dicari? Toh, Kak Nevan juga sudah ada anak, dan isteri. Mereka juga saling mencintai, jika papa masih malu dan marah karena skandal itu, lebih baik Kak Nevan dan Briana balik lagi ke Los Angeles.”


Vivian manggut-manggut. “Apa mama setuju?”


Tanpa sadar Mecca mengangguk. Paham betul maksud Andreas. Ibu jari Mecca mengelus lembut punggung tangan suaminya. Tiba-tiba jari-jari Xaquil sedikit bergerak. Mecca menengadah, lalu menatap nanar mata Xaquil yang berusaha membuka.


“Pa?”