
“Jadi koper saya statusnya tidak terbawa atau tertinggal di pesawat?”
Customer service maskapai tersebut menggeleng. “Statusnya sudah diterima oleh pemilik, Ibu.”
Briana mencoba berpikir keras. Dia sudah semaksimal mungkin memberi informasi, ciri-ciri koper itu kepada pihak customer service maskapai. Namun, koper itu nyatanya sudah dibawa keluar oleh Briana. Lantas dimana koper itu berada?
“Apakah saya boleh melihat cctv untuk memastikan dimana terakhir kali saya meletakkan koper saya, Kak?” ucap Briana, memohon sambil berderai air mata.
Petugas customer service itu lantas tertegun, “Sebentar saya akan hubungi bagian cctv.”
Beberapa saat kemudian, Briana telah diantar ke ruangan cctv. Disana, Briana menjelaskan pukul berapa dia keluar dari bandara. Terlihat, tangan Briana membawa dua koper bersamaan menuju keluar bandara. Setelah sampai di lobby bandara, Briana terlihat berbincang dengan seseorang. Ya, laki-laki itu adalah Nevan. Disamping kanan Briana ada dua kopernya. Namun, sayang, setelah berbincang dia hanya menyeret satu koper saja. Koper itu dibawa oleh supir taksi yang dipesannya dan dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Hanya satu koper.
Terlihat, Nevan mencoba memanggil Briana. Namun, taksinya tetap melaju pergi. Nevan juga terlihat sibuk dengan ponsel yang melekat di telinganya. Beberapa menit kemudian, mobil jemputannya datang. Sontak, koper milik Briana itu pun tak luput dibawa oleh Nevan ke dalam bagasi mobilnya.
Briana menepuk keningnya dan mendengus kasar. Salah satu petugas cctv pun bertanya, “Apa ibu mengenal laki-laki tersebut?”
Briana manggut-manggut, “Dia teman saya.”
Kepala Briana mendadak pening. Mengapa kopernya harus tertinggal, dan berakhir dibawa oleh Nevan.
Setiap kali berhubungan dengan Nevan, jantung Briana sedikit tidak bisa dikondisikan. Sejak kembalinya Nevan dari luar negeri, ada saja momen-momen yang membuat mereka akhirnya bertemu.
Kini, Briana mendadak dilema. Kepalanya ia sandarkan di kursi tunggu bandara, menghela nafas dalam-dalam. Sesaat kemudian, dia lalu meraih benda pipihnya di tas selempangnya. Tangannya sudah berkeringat dingin, matanya terpaku menatap nama di layar itu.
“Arghhhh!” Briana frustasi, berkali-kali dia mencoba menghindar. Tapi, nyatanya takdir seolah membawanya untuk bisa bertemu kembali dengan Nevan. Memang, takdir bisa sekejam itu.
Sementara di tempat lain, Nevan nampak menyugar rambutnya ke belakang, dan bersandar di sofa sambil tersenyum sedikit. Dia memainkan benda pipihnya hingga beberapa saat kemudian bergetar.
“Bingo!” decaknya lalu menggeser panggilan itu ke kanan.
“Dimana koper gue?” tanya Briana dengan nafas memburu.
Nevan terkekeh, lalu menegakkan posisi duduknya. “Ambil kesini kalo mau.”
“Haishhh!” Briana terdengar kesal di seberang sana.
Bagi Briana, sudah pasti Nevan akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.
Tut! Briana mematikan panggilannya begitu saja. Merasa cukup tahu dan sedikit lega jika memang koper itu sedang ada pada Nevan.
Benda pipihnya lalu bergetar kembali. Nampak ada satu pesan baru dari Nevan.
Nevan:
Koper lo di apartement gue,buruan ambil cepet gue sibuk!
Briana berdecih, “Cih, sok sibuk!”
Dengan berat hati, Briana kemudian memutuskan untuk pergi mengambil kopernya di apartement Nevan.
...----------------...
Tok.. Tok..
Tangan mungil Briana segera mengulur, mengetuk pintu apartement Nevan dengan sedikit kencang. Tak berapa lama, kepala Nevan menyembul membuka pintu dengan senyum cerah.
“Jangan senyum-senyum, mana koper gue?!”
Briana nampak masih berdiri di depan pintu apartement Nevan. Gadis itu nampak memanyunkan bibirnya, sampai membuat Nevan terkekeh geli.
“Masuk dong, jangan berdiri disitu, ntar ketahuan Eric, atau....”
Dahi Briana berkerut-kerut. “Atau siapa?”
Mendadak namun pasti, tangan Briana ditarik masuk oleh Nevan. Briana yang tiba-tiba ditarik oleh Nevan auto membulatkan matanya lebar-lebar.
“Kelamaan mikir! Duduk situ, gue buatin minum dulu.”
Briana menelan ludah kasar. Dirinya masih bergeming di depan pintu apartement Nevan, sambil matanya mengedar ke seluruh sudut ruangan itu, namun Briana tak menemukan dimana koper itu disembunyikan.
Sementara Nevan sedang sibuk membuatkan secangkir teh jasmine untuk Briana di dapur, melirik gadis itu sambil tersenyum miring. “Cari koper?”
“Um,” sahut Briana singkat.
Tak!
Nevan meletakkan dua cangkir teh jasmine di meja. “Minum dulu, gue tahu lo capek.”
Gluk! Briana menelan kembali ludahnya dengan kasar. Dia enggan menyentuh sesuatu yang berhubungan dengan Nevan, apalagi sebuah minum yang dibuat oleh Nevan. Memikirkan masa lalu yang akhirnya membuatnya kehilangan sesuatu yang sangatlah berharga bagi dirinya.
Nevan seolah tahu pikiran Briana didalam otaknya sana, “Ck, gue nggak akan mengulang kesalahan yang sama kayak dulu, minum aja.”
Nevan lalu duduk menghadap Briana, dengan kaki satunya disilangkan dan bersedekap memandang Briana yang tengah menunduk meremat kedua tangannya.
“Mana koper gue?”
Nevan terkekeh. “Minum dulu, baru gue kasih kopernya.”
Briana mendesis kasar. “Banyak ngomong lo, buruan kasih nggak!”
Briana sudah tidak ada sabar-sabarnya menghadapi Nevan yang tiap hari membuat dirinya makin pusing. Apalagi kondisinya sekarang yang sangat lelah, makin menjadi saat berhadapan dengan Nevan.
“Kalo gitu, jawab pertanyaan gue jujur. Lo beneran mau menikah sama Reno?”
Nevan menatap Briana lekat-lekat, tak mau melewatkan begitu saja ekspresi gadis itu saat dirinya bertanya mengenai Reno.
Briana nampak tenang, tanpa disangka-sangka dia meraih secangkir teh jasmine didepannya itu kemudian menyesapnya pelan-pelan. Briana menggeleng, lalu meletakkan teh itu di atas meja. “Menurut lo gue mau?”
Nevan menyeringai, nampak puas dengan jawaban Briana.
“Nevan Xaquil yang terhormat, asal anda tahu wanita yang duduk di depanmu sekarang sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah menikah dengan siapapun.”
Nevan mengernyitkan dahinya. “Why?”
Briana lalu tersenyum getir, menatap Nevan nyalang. “Lo masih nanya kenapa ?” Briana memutar bola matanya jengah. “Siapa yang mau menikah sama wanita yang nggak suci lagi, hah?! Jawab gue?!”
Tak tertahan lagi, air mata disudut mata Briana menetes seiring dengan emosinya yang membuncah tumpah ruah di depan Nevan. Matanya memerah menahan amarah, hatinya perih saat harus memaksa kerja otaknya mengulang lagi kejadian-kejadian menyebalkan di masa lalu.
Nevan tertohok mendengar pengakuan Briana, itulah mengapa dirinya selalu ingin bertanggung jawab atas perbuatan yang dia lakukan kepada Briana dulu. Yaitu, dengan menikahinya. Namun, Briana tak pernah menerima niatan tulus Nevan. Briana malah makin membenci Nevan. “Kan gue udah bilang, gue bakal nikah sama lo, Bri. Kenapa lo nggak pernah percaya sama gue?”
“Balikin koper gue, buruan!” ucap Briana seraya berdiri dan berteriak.
Mata Briana melototi Nevan yang seakan meremehkannya selama ini. Nevan yang juga bangkit berdiri, mendekati Briana yang masih sesenggukan menangis. Tangannya meraih kedua lengan Briana berusaha menenangkan Briana.
“Briana, gue janji nggak akan semena-mena kayak dulu lagi, lo tahu kan kita dulu masih labil?” ucapnya, mencoba meyakinkan Briana.
Briana menengadah, mengerjap-ngerjapkan matanya menatap bayangan Nevan yang mengembun di kacamatanya. “Bohong!”
Nevan mengusap lembut air mata dipipi Briana, “Trust, Me.”
Satu janji manis terukir indah di bibir Nevan, tetapi berbeda dengan Briana. Gadis itu masih meragu, dia masih trauma atas perlakuan Nevan kepadanya.
Briana sejenak menundukkan kepalanya, dia merutuki dirinya sendiri. Mengapa dirinya bisa sedikit melunak dengan perkataan Nevan barusan. Saat itu juga, Nevan menangkup wajah mungil Briana dan mengecup bibir merah muda itu dengan lembut.
Mata Briana terbeliak, dan membulat sempurna. Nevan kemudian mendorong tengkuk Briana agar semakin memperdalam ciumannya dengan gadis itu. Nevan mengulum senyum tipis, karena Briana bahkan tak menolak pagutan itu. Kemudian, Nevan memegangi kedua sisi wajah Briana dan menyesap bibir Briana dengan kencang. Bibir manis yang dia sangat rindukan beberapa tahun ini.
“Argh, stop,” Briana meringis saat bibirnya terasa kebas gara-gara ulah Nevan. Tubuhnya sedikit meremang dan melangkah mundur menjauh dari serangan Nevan sebelum bertambah jauh.
“Ma-mana koperku?” ucapnya gugup sambil tertunduk malu. Bisa dibayangkan saat ini, wajah Briana bak kepiting rebus. Merah padam karena sangat malu.
Nevan kemudian melangkah maju dan terkekeh, “Satu ciuman lagi baru gue ambilin.”
Mata Briana melotot tajam saat Nevan mendekat lagi kearahnya. Tanpa babibu, Nevan meraih pinggang ramping itu dan memeluknya erat. Kepala Nevan bersembunyi di curuk leher Briana dan Briana sangat merasakan hembusan nafas Nevan yang menyentuh pori-pori kulitnya.
“Gue kangen banget, di sana cuma lo yang ngisi otak gue,” ucap Nevan parau.
Hati Briana berdesir, benarkah yang dikatakan pria ini barusan? “Bohong!”
Nevan tersenyum simpul. “Gue nggak pernah bohong.”
“Ka-kalo kangen, harusnya hubungin kan bisa?” ujar Briana, gagap. Gagap karena terlalu gugup.
Nevan melerai pelukannya, lalu menatap wajah Briana secara intens. Briana menunduk menatap lantai berwarna abu-abu tersebut, itu lebih baik daripada menatap mata Nevan. “Bukannya lo yang ngusir gue waktu itu supaya pergi dari hidup lo?”