
“Sya?”
Gadis cantik itu sudah siap dengan dua buah koper, dan dua tas jinjing. Tanpa polesan makeup apapun. “Aku mau pergi, tante jangan halangi Isyana,” ucapnya sambil menyeret kedua koper itu keluar dari rumah.
Raut wajah Mira berubah drastis menjadi lebih mengerikan, dia tersenyum sinis. “Kamu nggak akan pernah bisa lari kemana-mana, Sya...”
“K-kenapa?” ucapnya seraya menoleh cepat. Matanya terbeliak menyaksikan ekspresi yang tak pernah Isyana lihat selama belasan tahun hidup bersama tantenya itu. “T-tante j-jebak aku?” ucapnya, bergetar.
Mira mengangguk pelan. “Sebentar lagi polisi datang,” ucap Mira seraya tersenyum licik. “Itu hukuman buat kamu! Siapa yang menyuruh kamu buat membuntuti tante, hah?!” tambah Mira, seraya tertawa bengis.
“Bukan aku!” bantahnya.
Mira tersenyum penuh kebencian. Sepasang mata seram itu semakin tampak mengerikan saat terbeliak. “Kamu kan yang mengadu kepada Nevan?! Dasar anak tidak tahu diri, tante sudah merawat kamu dari kecil sampai sekarang kamu sukses! Tapi, apa balasannya? Kamu merusak segalanya!”
“Kalau begitu, itu juga sebuah hukuman untuk tante yang merusak rumah tangga orang lain,” ujar Isyana terbata-bata.
Plak!
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi kiri Isyana. “Kurang ajar!”
Kepala Isyana tertoleh ke samping, perih, panas, sakit hati bercampur jadi satu. Saat ingin membalas tamparan dari tantenya, sayangnya, polisi sudah datang membuka gerbang rumahnya.
“Siapa yang akan membela kamu lagi? Tidak ada!” ujar Mira sambil tertawa pelan.
“Tante juga akan mendapat balasannya setelah ini!” geram Isyana sambil dibawa paksa oleh beberapa petugas polisi.
Mira tertawa lantang. “Oh ya? Selamat menikmati kehidupan baru, Sya.”
Isyana hanya pasrah saat tubuhnya didorong paksa oleh petugas polisi. Aneh, padahal video itu sudah lenyap, dan gawainya juga hancur karena Nevan, tapi bagaimana bisa Mira bisa menyebarkan video itu ke awak media? Apakah ada yang dilupakan Isyana?
Di tempat berbeda, Nevan menatap nyalang pemandangan dari atas kantornya dari kaca. Kedua tangannya mengepal kencang, sudah ia prediksi sebentar lagi video itu akan tersebar luas. Beberapa hari ini, semua sosial media, internet, dan berita di televisi memberitakan skandal video syur seorang MUA terkenal. Semua heboh, tak ada satupun yang luput dari pemberitaan. Meskipun wajahnya tidak ada di dalam video itu tapi, Nevanlah yang merekamnya.
Nevan kecolongan, kecerobohan Isyana berakibat video itu tersebar luas. Video itu sudah dicadangkan di akun email-nya.
Terdengar suara pintu ruang kantor Nevan terbuka. “Kak, lo harus tanggung jawab!” desak Andreas tiba-tiba.
Nevan menoleh cepat, lalu mengedikkan bahunya. “Sudah telanjur,” Nevan lalu duduk di kursi kebesarannya. “Jangan ikut campur!” tambah Nevan.
Andreas memicingkan kedua matanya lalu berjalan ke arah meja Nevan. “Lo selalu gini, nama Briana udah hancur, karirnya juga, gue pikir lo bakal ngelakuin apapun untuk dia, tapi .... Lo malah diam disini!” ucap Andreas berapi-api sambil mencodongkan tubuhnya kepada Nevan.
Kedua sorot mata kakak beradik itu saling menyerang.“Take down semua video itu,” ucap Nevan datar.
Nevan tersenyum tipis. “Lo hubungi Reno, dia bisa beresin kekacauan ini.”
Andreas tertawa. “Reno sahabat lo! Lo yang mestinya—”
“Just do it!” potong Nevan.
Sebelum Andreas melangkah pergi, dia berkata. “You're such a jerk,” ucap Andreas datar. “Impian, dan karir cewek lo hancur dalam sedetik. Gara-gara ketololan lo, Kak!” imbuhnya, seraya pergi dari ruangan Nevan.
Nevan merasa tertohok oleh kata-kata Andreas. Biasanya dia mampu melawan tapi, sekarang dia sudah kehabisa kata-kata. Semua kata-kata yang keluar dari mulut Andreas memang benar. “I am a loser,” gumamnya lirih, sambil terkekeh pelan.
...----------------...
“Kenapa kakakmu nggak mau datang sendiri?” tanya Reno tersenyum tipis. Kini, Andreas sudah berada di dalam ruangannya.
Sungguh suatu kebetulan, perusahaan Reno bergerak dalam bidang teknologi dan informasi. Melakukan pemblokiran, peretasan bukanlah hal yang sulit dilakukan.
“Kak Reno pasti tahu tentang video itu, badjingan itu malah menyerahkan kesalahannya sama gue,” keluh Andreas.
Reno terkekeh. “Lo udah berani bicara kasar sama Nevan?”
Andreas tertawa. Tapi, saat itu juga tawanya luntur ketika teringat tentang Briana. “Briana pasti sedih banget Kak, gue bisa minta tolong take down semua video itu?” Andreas memohon.
Reno terdiam membisu. Sebenarnya dia sendiri pun bisa melakukannya. Tapi, Reno tak kuasa harus melihat wajah pujaan hatinya itu tersebar dimana-mana. “Lo tenang aja, karyawan gue bakal beresin itu semua.”
Andreas tersenyum senang. “Thanks, Kak!”
“Yas, apa Nevan tahu Briana sembunyi dimana?” tanya Reno.
Andreas menggeleng. “M-maksudnya?”
Reno tersenyum getir. “Lupakan, bilang aja ke Nevan kalau nggak usah khawatir. Tugasnya, cuma perlu membungkam semua media supaya diam.”
Andreas mengangguk mengerti. Beberapa saat kemudian dia keluar dari ruangan Reno. Reno masih bergeming di ruangannya, memikirkan dimana Briana dan keluarga besarnya pergi. Reno berjanji, bahwa malam itu dia akan menentukan tanggal pernikahannya dengan Briana. Namun saat Reno tiba, rumahnya tertutup rapat, gerbangnya juga dikunci rapat. Lampu rumahnya padam, nomor Briana dan kedua orang tuanya tidak aktif.
Saat itu juga Reno kelimpungan mencari-cari dimana Briana pergi. Tak ada satupun orang tahu kemana Briana dan keluarganya pergi.
“Bri, kamu dimana?”