
Nevan sedikit bernapas lega saat Vivian telah membantunya keluar dari masalah runyam menyangkut dengan pihak hotel. Kini, mereka berdua tengah menikmati minumannya di sebuah cafe di daerah Bekasi.
“Thanks, Kak, gue pikir lo nggak akan bantuin gue.”
Vivian tersenyum kecut. “Untung aja gue kenal sama pemiliknya, dan beruntungnya gue pas lagi di Bekasi,” Vivian menyeruput minumannya, lalu menghela napas dalam. “Lagian lo kenapa sih pukul temen lo sendiri?”
Nevan memandang ke arah luar. “Reno udah gue anggap sebagai sodara, malah nusuk gue dari belakang. Badjingan emang!” serunya kemudian menatap ke arah Vivian.
Vivian yang ditatap mata elang Nevan lalu memutar bola matanya. “Gara-gara Briana? Lo tahu kan kalo mama setuju lo sama Isyana nglanjutin pernikahan kalian yang batal itu?”
Nevan menggeleng cepat. “Denger ya Kak, gue nggak bakal mau sampai kapanpun married sama orang yang nggak pernah gue suka!”
“Kayak lo sama suami lo!” sindirnya, seraya melirik Vivian yang wajahnya sudah merah padam.
Vivian melayangkan tatapan sinis kepada Nevan. “Doni cinta kok sama gue!” katanya seraya meraih benda pipihnya, lalu menunjukkan sesuatu ke arah Nevan. “Gue program bayi tabung, doain semua lancar ya, dek?” ucapnya sambil kedua bola matanya mulai berkaca-kaca. Vivian selalu membantu Nevan dalam keadaan apapun, dia sangat menyayangi Andreas dan Nevan. Biarpun kedua orangtuanya selalu sibuk dengan bisnisnya. Namun, Vivian selalu ada saat kedua adiknya terpuruk membutuhkan bantuannya.
Vivian mempunyai cerita sendiri dibalik kesedihannya, setelah menikah bertahun-tahun dirinya belum dikaruniai momongan.
Nevan menatap miris. “Bilang aja kalau Doni nyakitin lo, gue bakal bunuhh dia detik itu juga!” ancam Nevan.
Vivian tersenyum simpul. “Percaya sama Kakak, oh ya udah dulu ya. Gue mau nyamperin Doni sama kliennya dulu,” ucapnya seraya mengusap lengan adiknya itu lembut.
Nevan mengangguk. “Hati-hati, Kak!”
Selepas kepergian Vivian, mata Nevan tak berhenti menatap punggung ramping kakaknya itu dengan mata penuh kesedihan. Nevan tidak ingin mencampuri urusan keluarga kakaknya dengan suaminya. Cukuplah saja memikirkan masalah dirinya dengan Briana yang sangat memusingkan.
Nevan lalu mengetik sebuah pesan untuk Briana.
Nevan
Aku cuma pengen bilang kalau silahkan kamu memilih jalanmu sendiri. Aku nggak akan menghalangi. I will always support you :)
Sibuk nggak?
Tak ada jawaban, namun sudah terkirim. Nevan terbeliak saat pesannya sudah dibaca oleh Briana. Diapun menunggu dengan harap akan ada pesan baik untuk dirinya.
Briana
Jahat!
Nevan
I know :)
Briana
Minta maaf ke Kak Reno! Dia nggak salah apa-apa :'(
Nevan mendengus kesal saat Briana mengetikkan nama Reno. Apalagi dia harus meminta maaf, tak sudi, batinnya.
Nevan
Gue nggak sudi. Bisa nggak sih lo nggak deket2 dia?
Briana
WE ARE ENGAGED!
Mata Nevan terbelalak tak percaya saat Briana berani menyebutkan bahwa Reno adalah tunangannya. Tangannya terkepal. Lalu, membanting benda pipih itu ke meja dengan kasar. “Keparat!”
Lalu dengan cepat dia menelpon Briana.
“Lo nantang gue?!” tanya Nevan dengan tangan terkepal emosi.
Briana tertawa kecil di seberang sana. “Lo mau jalanin hubungan tapi orang tua kita nggak merestui?” ucapnya lirih dengan nada parau.
Nevan menjambak rambutnya frustasi. “Jam berapa pulang?”
“Jawab gue!” sentak Nevan lagi.
“Bukan urusan lo!” jawab Briana tegas. Lalu terputus.
...----------------...
Keesokan harinya, Briana off sehari. Badannya pegal-pegal setelah seharian mengurus insiden perkelahian antar Reno dan Nevan. Hari itu juga Reno diperbolehkan pulang, namun dia pulang dijemput oleh sang supir pribadi. Briana sedikit bernapas lega.
“Na?” panggil Aisha dari arah dapur.
Briana sedang asyik membaca buku novelnya di ruang tamu. “Ada apa?" lalu melangkah menuju ke dapur. “Masak segini banyak lagi, buat siapa?”
Aisha tersenyum. “Buat calon mantu mamah yang lagi sakit,” Aisha melirik Briana yang berdiri di sampingnya dengan ekor matanya. “Jangan pergi, anterin ini ke rumahnya.”
Briana menggeleng pelan. “Idih, mamah aja yang nganter!” Briana melenggang pergi kembali ke ruang tamu untuk membaca novelnya kembali.
Aisha mendengus kesal, mencuci tangannya sampai bersih lalu menyusul Briana di ruang tamu. “Kasihan dia luka-luka gitu,” suara Aisha sedikit agak dikencangkan supaya Steven dengar.
Briana lagi-lagi menggeleng dengan cepat. “Hari ini Briana mau istirahat, capek.”
“Siapa yang luka-luka?” sahut Steven dari pintu luar. Dia sudah berdiri disana.
Briana menatap gugup Steven yang seolah mengintimidasinya. “Siapa?”
“Reno pah, kemarin dipukuli sama Nevan,” ujar Aisha tanpa beban.
Mata Steven sontak membelalak, lalu beralih menatap Briana dengan marah. Steven lalu mendengus kasar. “Kita harus segera menjadwalkan pernikahan Briana dan Reno, Mah,” ujarnya seraya berlalu menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Briana melotot tajam mengawasi bayang-bayang Steven di atas sana. Kepalanya menunduk ke bawah, lalu mengepal sempurna. Briana tidak ingin menikah dulu, dia ingin meraih cita-citanya untuk bersekolah lagi di Amerika tepatnya di, Los Angeles.
“Kamu tahu kan, papahmu nggak pernah becanda?” kata Aisha, seraya bangkit berdiri menuju ke dapur.
Sebelum itu, dia berkata lagi. “Antarkan makanan ini, jangan menolak apapun!” titahnya.
Briana meremas ujung kaosnya, menahan kesakitannya sekali lagi.
...----------------...
“Terimakasih, Bri sudah repot-repot datang kesini, sampaikan juga buat Tante Aisha,” ucap Reno tulus sambil meringis menahan lukanya.
Briana menatap Reno miris. “I-iya, Kak. Cepat sembuh ya,” ucapnya.
Mereka berdua lalu terdiam sejenak, Briana tersenyum simpul. Dibalas dengan senyuman Reno yang khas.
“K-kak, aku boleh nggak bilang sesuatu?”
Reno mengangguk lemah. “Boleh.”
Briana menggigit bibir bawahnya dan meremas ujung kemejanya dengan kencang. Takut salah bicara, dan takut menyakiti perasaan Reno yang selama sudah baik kepadanya.
“Aku, pengen rencana pernikahan kita....”
Reno menatap kedalam kedua bola mata Briana yang berkaca-kaca. “Terusin nggak papa,”
Briana menggeleng. “Pernikahan kita dibatalkan...”
Reno menahan napasnya dalam-dalam. “I really didn't want to cancel it ” Reno menggeleng cepat.
Briana mendadak membeku, dia tidak ingin menyakiti hati Reno sedikitpun dengan tetap melangsungkan pernikahannya ini. “Tapi, Kak aku nggak mau nyakitin siapapun disini.”
Alis Reno terangkat satu. “Siapapun? Maksud kamu?”
“Apa itu Nevan?”