My Lovely MUA

My Lovely MUA
80.



Briana tersenyum kecut lalu mendorong tubuh Nevan sampai hampir menabrak lemari es. “Kamu nggak pernah berubah.”


Nevan maju satu langkah lalu duduk di kursi. “Aku mau ngomong sama kamu, penting. Duduk sini,” tangan Nevan menepuk-nepuk kursi sebelahnya yang kosong dan mengkode Briana supaya duduk di sebelahnya.


Briana sadar jika duduk berdekatan dengan Nevan akan mempersulit konsentrasinya, dari pada seperti itu dia menarik kursi di depan Nevan lalu duduk berhadapan dengan Nevan. Kedua tangan Briana dilipat, bibirnya mengerucut tajam.


“Ada apa?”


Nevan mengulurkan gawainya kepada Briana. “Kamu baca sendiri.”


Masih dengan ekspresi tidak ramah, Briana dengan terpaksa meraih gawai Nevan. Kedua bola matanya hampir meloncat keluar saat melihat sesuatu di dalamnya. “V-video yang dulu, bukannya dia bilang sudah menghapusnya? Kenapa bisa...” Briana mecengkeram gawai Nevan dengan kencang. Sungguh dia sangat bodoh hingga tidak tahu berita penting semacam ini.


“Itu berarti...”


Nevan menarik napas dalam-dalam. “Kamu nggak usah khawatir, semua sudah diatasi. Kamu bisa memilih, tinggal disini atau pulang ke Indonesia.”


Dada Briana terasa di hantam batu berton-ton, dia tak sanggup menerima jika karir yang dibangun oleh Aisha dan dirinya akan hancur sekejap gara-gara skandal videonya itu. Apakah marah bisa mengembalikan semuanya? Andai bisa diputar waktu kembali ke masa lalu, dulu Briana tidak akan sudi menerima cinta dari Nevan. Tapi, semua itu sudah terlambat.


Briana menangis menyesali perbuatan bodohnya di masa lalu, satu lagi dia juga bodoh sudah mau dihamili oleh Nevan. “Apa mamah sama papah tahu soal ini?” ucap Briana dengan bibir bergetar menahan tangis.


Nevan mengangguk pelan. Dia lalu bangkit memutari meja makan, dan mengusap pucuk kepala Briana. “Sorry,” ucap Nevan sangat merasa berdosa dan bersalah.


“Jahat! Semua jahat! Dan kamu Nevan kamu bener-bener nggak pantes jadi ayahnya Sean!” sentak Briana dengan mendorong tubuh Nevan lagi.


“Aku minta maaf, Briana,” Nevan lagi-lagi mendekatkan dirinya ke tubuh Briana yang masih menangis di kursi. Nevan membungkuk merengkuh pinggang Briana, membuat ia bisa menempelkan keningnya di perut perempuan terkasihnya. “Maaf,” bisiknya disertai bulir air mata yang lolos di sudut matanya. Salah satu bukti penyesalan terbesarnya selama ini terhadap Briana.


Briana meremat lengan kekar Nevan, hendak menghentaknya. Ingin sekali mulutnya bersumpah serapah terhadap lelaki brengsek yang telah menghancurkan hidupnya ini. Tapi, bibirnya sangat berat untuk berucap. Bahkan, jari-jemarinya juga ikut bergemetar hebat. “Jangan begini, Van.”


Nevan menggeleng, tidak kuasa melepas dekapannya seolah dia baru saja menemukan nyawanya yang sesungguhnya. “Aku benar-benar menyesal, aku minta maaf,” ulangnya lirih. “Aku kangen banget sama kamu, aku...”


Tidak ada kalimat balasan yang keluar dari bibir Briana, yang ia lakukan hanyalah menatap pucuk kepala Nevan yang masih bertahan menciumi perutnya itu. Hal-hal yang ia dambakan ketika dirinya dulu masih mengandung Sean, yang tak pernah ia dapatkan selama ini. Hanya, memandangi sebuah foto dirinya ketika bersama Nevan saat masih duduk di bangku sekolah. Cuma itu yang tersisa untuk melebur kerinduannya terhadap lelaki itu.


“I love you, Briana,” Nevan berucap dengan seluruh perasaan yang ia tahan-tahan selama ini. Dengan seluruh kerinduan selama sembilan bulan ini.


Briana hanya diam membisu, dia berkedip sekali dan membiarkan sebulir air matanya jatuh mengenai telapak tangan Nevan yang masih memeluk pinggang Briana. “Aku harus balik ke kamar, Sean haus,” balasan Briana sungguh bertolak belakang dari apa yang telah Nevan ungkapkan panjang lebar.


Dengan sisa tenaganya, Briana mendorong bahu Nevan menjauh. Biasanya Nevan akan marah, memaki, dan memaksa Briana untuk menuruti semua ucapannya. Namun, lelaki itu telah dilingkupi raut sendu saat Briana melangkah pergi meninggalkanya sendirian.


Kesedihan tampak nyata di raut wajah Nevan. Wajar saja bila Briana sangat kecewa pada Nevan. Dia tak ingin memaksa Briana lagi seperti dulu. Mungkin Briana berpikir Nevan telah jahat tidak bisa melindunginya, ketahuilah Nevan sudah berusaha keras melindunginya dengan seluruh jiwa raganya. Membungkam awak media, merelakan nyawanya hanya untuk menangkap badjingan yang telah tega menyebar video pribadinya ke seluruh penjuru negeri.


Tak terasa Nevan tertidur sambil menangis di kursi dekat meja makan. Hingga fajar menyingsing, Steven tengah menemukan tubuh Nevan menggigil karena kedinginan di bawah kursi. Steven sangat terkejut, lalu lagi-lagi pria paruh baya itu memapah Nevan kembali ke dalam kamarnya. Lelaki itu lalu cepat menyalakan alat penghangat ruangan, sebelum tubuh Nevan membeku karena kedinginan.


“Aku dengar kalian tadi sedang berdebat, yang penting kamu sudah menjelaskan garis besarnya.”


Nevan meringkuk di dalam selimut, sambil mendengarkan celotehan Steven. “Aku cuma ingin dia bahagia,” katanya sembari memejamkan mata kembali.


Steven menghela napas berat. Sejauh ini Nevan sudah begitu banyak berkorban untuk Briana dan keluarganya. Steven juga membuang jauh sikapnya yang keras kepala untuk kebahagiaan Briana saja. Harusnya Briana menerima dengan lapang dada kenyataan yang sudah terjadi. Harusnya puterinya itu berterima kasih kepada Nevan. Steven kemudian bangkit berdiri dan keluar dari kamar.


Saat keluar dari kamar Nevan, Briana tiba-tiba berdiri mematung menatap Steven. Lihatlah, tak ada raut bahagia terpancar dari wajah Briana. Matanya sembab, kantong matanya seperti panda berwarna gelap.


“Harusnya kamu berterimakasih sama dia, bukan malah marah-marah,” ucap Steven seraya duduk di ruang keluarga. “Semalam dia ketiduran di bawah lantai, padahal kamu tahu disini sangat dingin.”


Briana menggigit bibir bawahnya, ia tak tahu jika Nevan nekat sampai tertidur di lantai seperti itu. Malam setelah dia berdebat dengan Nevan, dia menangis dalam diam sambil menyusuii Sean. Dia juga menatap raut wajah Aisha, betapa pedih dan hancurnya ketika ibunya itu kehilangan pekerjaannya dalam sekejap. Ini semua gara-gara kecerobohannya di masa lampau, yang ia lakukan semata hanya sebatas nafssu semata. Apapun yang terjadi kemarin sudah tidak bisa disesali.


“T-tapi mamah sama papah juga bohongin Briana, apa itu pantas dilakukan?”


Steven menggeleng. “Cepat minta maaf sama dia, dia juga yang membayar semua biaya perkuliahan mu di sini.”


“A-pa?!” tanya Briana setelah menguasai diri dari kekagetannya.


Steven menopang kedua tangannya di dagu. “Hari itu dia berjanji akan bertanggung jawab penuh sama keluarga kita. Rumah ini, biaya kuliahmu, kecuali biaya hidup sehari-hari itu berasal dari uang tabungan papah sama mamah. Dan juga, dia berkata tentang skandalmu itu, Nevan juga berjanji akan menanggung semua dosa-dosanya itu sendirian dan akan membereskannya. Itulah mengapa dia telat datang kesini,” jelas Steven panjang lebar.


Tubuh Briana bergetar saat mengetahui fakta yang keluar dari mulut Steven. Bola matanya sudah merebak, siap meloloskan tangis. Tapi, sebelum tangis itu pecah, dia segera berjalan membuka pintu kamar Nevan perlahan. Dilihatnya Nevan sedang meringkuk di bawah selimut karena kedinginan. Briana memutuskan untuk berjalan sedikit mengendap-ngendap takut Nevan terbangun.


“I would like to marry you.”