
“K-kamu gila?” pekik Briana langsung menutup mulutnya cepat. Sambil tangan kanannya mengunci pintu sebelum orangtuanya mendengar.
“Kamu kok bisa kesini?” tanya Briana kembali, namun lelaki itu hanya tersenyum smirk sambil memandang wajah cantik Briana yang terlihat seksi dengan kacamatanya. Tapi, tunggu kacamatanya berembun, wajahnya juga sembab.
“Bentar, kamu nangis?” tanya Nevan berbisik-bisik.
Briana menggeleng, lalu melewati Nevan begitu saja ke arah balkon. Mata Briana mengawasi ke berbagai arah, bagaimana bisa Nevan bisa naik ke lantai dua ke kamarnya? Mengapa dia bisa terampil seperti itu, ingatannya langsung tertuju pada enam tahun yang lalu saat rumahnya dimasuki oleh orang asing.
Nevan melangkah menghampiri Briana ke arah balkon. Dia meraih kedua bahunya untuk menghadap kepadanya. “Bri?” panggil Nevan.
Briana tak berani memandang, lalu dengan segera ia menarik tangan Nevan agar masuk ke dalam kamarnya. Takut, jika Steven mendengarnya. Buru-buru dia juga menutup pintu balkon dan menutup kordennya.
Lalu, menghampiri Nevan yang sudah terlebih dahulu duduk di sofa kamar Briana. “Kamu ngapain malem-malem kesini?” bisik Briana lalu mengurut pelipis kepalanya yang pusing.
Nevan tertawa. “Nggak tahu, tiba-tiba kepikiran kamu.”
Briana menggeleng keras. “Lebih baik kamu cepat pergi, daripada ketahuan papah sama mamah.”
Nevan memandangi wajah Briana yang sedikit pucat, dia khawatir Briana sakit atau apalah. “Kamu sakit?”
“Udah, Van, please aku mau tidur kepalaku pusing banget rasanya.”
Nevan mendengus, dia seraya berdiri lalu mengusap kepala Briana lembut. “Jangan sakit,” satu kecupan mendarat di kening Briana. Dia sedikit memejamkan matanya, merasakan damai saat diperlakukan Nevan hangat seperti ini.
“Um, lewat pintu utama aja, aman kok!” pinta Briana sambil meraih handle pintu, dan mengintip keadaan luar. Beruntungnya, keadaan di luar lumayan aman. Briana mengkode agar Nevan keluar mengendap-endap. Sambil terus berlari kecil menuruni tangga, mata Briana tetap waspada, takut jika Steven terbangun dari tidurnya.
Nevan dan Briana lolos dari pintu utama, dengan cepat, Briana menarik tangan Nevan untuk segera keluar menuju gerbang.
“Berhenti disitu!” suara bariton menghentikan langkah Nevan dan Briana detik itu juga. “Briana?!” tanya Steven kembali lalu berjalan mendekat kearah Nevan dan Briana.
Briana segera menoleh cepat kepada Steven. Nevanpun, dengan raut wajah tenang, mencoba menghadapi kemarahan Steven kembali.
Plak! Satu tamparan kencang mendarat di pipi Nevan, hingga wajahnya menoleh ke samping. “Sudah saya bilang, jangan pernah macam-macam dengan putri saya!” geram Steven, rahangnya mengeras terlihat sangat jelas di wajahnya.
“Pah, ini salah Briana, Pah, jangan kasar sama Nevan la—”
Plak! Tak ingin kecolongan kembali, Steven menampar pipi Briana dengan raut wajah sangat kecewa. “Kamu juga! Kamu berkali-kali kecewain papah, sekarang kamu masuk!”
Briana menulan ludahnya, bulir-bulir airmata sudah terjatuh di pipinya. Bibirnya terkatup seolah disihir untuk tidak lagi membela Nevan.
“Papah akan segera melangsungkan acara pernikahanmu, secepatnya!”
Nevam tersentak mendengar perkataan Steven, hatinya terasa terbakar api amarah yang memuncak. Cuaca malam itu berubah menjadi panas, Nevan dan Steven saling melempar pandangan seperti ingin menerkam mangsa yang ada didepannya.
“Om, nggak bisa memaksa kehendak putri Om gitu aja,” ucap Nevan, tenang. Padahal dibawah sana tangannya sudah terkepal kuat. Menahan amarah yang sudah memuncak di ubun-ubunnya.
Steven terkekeh pelan. “Tahu apa kamu? Yang kamu tahu hanya menyakiti hati Briana, begitukan?”
“Aku sudah memilih jodoh yang tepat untuk putriku, jadi jangan pernah datang kembali kesini!” imbuh Steven.
Nevan tersenyum smirk. “Oh ya? Kita lihat saja Om, siapa yang akan kalah di permainan ini,” ancam Nevan, sambil menatap tajam ke arah Steven penuh amarah.
Briana masih menangis tersedu-sedu di antara pertengkaran Nevan dan papahnya. Tiba-tiba pandangannya mendadak kabur, semua gelap. Tubuh Briana ambruk ke tanah.
Brug! Tubuh ringkih itu ambruk, tak bisa menahan lagi sakit di kepalanya.
“Briana!” pekik Nevan.
Steven menepuk-nepuk pipi Briana, berharap putrinya segera siuman. Tapi nyatanya tidak.
...----------------...
Dua hari setelah Briana pingsan, Steven tak pernah berbicara sepatah katapun dirumah dengan Briana. Hatinya masih sakit, saat Nevan masih berhubungan dengan putrinya, Briana.
“Maag kamu kambuh, karena kecapekan. Wajarlah,” kata Aisha, sembari menyuapi Briana bubur.
Briana hanya mengangguk lemah. Benar juga, malam itu saat Briana pingsan, Steven segera membawa Briana ke rumah sakit. Untungnya, Briana hanya kelelahan, asam lambungnya naik hingga sampai pusing. Jadwal makan yang berantakan membuat sakitnya bertambah parah. Briana sudah takut jika dirinya hamil, tapi, untungnya tidak.
“Na? Mamah mau tanya sesuatu,” tanya Aisha.
“Um?”
“Kamu nggak bisa ya melupakan Nevan?” tanya Aisha to the point.
Briana menghela nafas panjang, lalu memposisikan tubuhnya berbaring ke ranjang. Lalu menarik selimutnya kembali. “Briana mau tidur lagi, Mah.”
Aisha tak berkutik lagi, dia hanya bisa mencebik. Lalu mengelus rambut Briana lembut. “Yaudah istirahat dulu.”
Sementara di tempat lain, Nevan nampak tak bisa berkonsentrasi penuh lantaran terus memikirkan keadaan Briana. Lelaki itu harusnya sudah berada di Singapura selama 3 hari, namun, Nevan menyerahkan semua pekerjaannya kepada asisten dan sekretarisnya. Sedetik kemudian, Nevan mengamati sebuah bingkai foto yang terpampang di meja kerjanya. Sudut bibirnya ia tarik sedikit. “She's my girl,” gumamnya.
Nevan sedikit tersentak saat pintu ruang kerjanya dibuka kasar oleh seseorang.
“Mohon maaf, Pak. Mbak-mbak ini memaksa masuk ke dalam,” ujar pegawai Nevan takut-takut.
Gadis itu berdiri berkecak pinggang menatap tajam ke arah Nevan. “Aku kan tunangannya, jadi bebas dong!”
Nevan berdehem, lalu menyuruh pegawainya keluar. Bergeming di atas kursi kekuasannya, Nevan sungguh tidak peduli, apa yang akan gadis itu lakukan kepadanya.
“Van?” panggil gadis itu sedikit centil, lalu melangkah ke arah meja kerjanya. Gadis itu mulai berani duduk di meja kerja Nevan, berhadapan dengan Nevan. Tak dipungkiri jika Isyana memiliki lekuk tubuh yang seksi, kaki jenjang, wajah cantiknya diatas rata-rata. Tapi, apapun itu kelebihan Isyana, Nevan tidak akan pernah peduli.
“Jangan cosplay jadi jalangg disini, pergi atau gue bakal seret lo keluar!” geram Nevan lalu bangkit dari kursinya.
Isyana tentu tidak ingin membiarkan Nevan pergi, tangannya ia cekal kuat. Lalu mengelus punggu tangan Nevan dengan sedikit gelitikan. Membuat Nevan meremang.
“Jangan kasar-kasar dong sayang, aku juga capek dikasarin terus,” desah Isyana sengaja menggoda Nevan. Kemudian dia berdiri, lalu menghampiri Nevan yang masih tak ingin melihat keberadaannya. “Aku tahu kamu lagi on, lihat aku kayak gini.”
Isyana dengan berani, mengelus dada bidang Nevan dengan lembut dengan gerakan tangan naik turun. Isyana kemudian mencuri ciuman di bibir Nevan, melumattnya dengan lembut. Nevan melotot tak percaya, lalu menghentak tubuh Isyana hingga tersungkur ke lantai.
“You crazy bitchh!” umpat Nevan berteriak di depan wajah Isyana secara langsung.
Isyana meringis, saat merasakan dengungan suara Nevan menyentuh gendang telinganya. Sangat keras, hingga membuat matanya berkaca-kaca.
“Pergi lo dari sini!” titah Nevan tak main-main dengan ancamannya.
“V-van kasih aku kesempatan, please!” rengek Isyana, sambil menangis tersedu-sedu. Gadis itu bahkan tidak jera memohon berkali-kali kepada Nevan. Pasti, akan ada cara lain, batin Isyana. “Katakan, aku harus gimana biar aku bisa menggantikan Briana?!” ucapnya, lagi seraya menghapus air matanya.
Nevan tersenyum smirk. “She can never be replaced.”
Isyana tertawa kecil. “Aku akan lakuin cara apapun supaya kalian berpisah!” ancamnya, dengan tersenyum sinis.
“Try it, and i will kill you!”