
Aisha tersenyum terpaksa. “Setelah melahirkan baru boleh pegang handphone!” ucapnya sembari menggelengkan kepalanya.
Briana memicingkan kedua matanya. “Apa yang kalian sembunyikan dari Briana?”
Aisha terdiam, lebih baik dia segera memesan taksi online dari pada berdebat kusir dengan puterinya. Tak sadar, tangan Briana merebut gawai dari tangan Aisha.
“Ada apa disini? Kenapa Briana nggak boleh memegang ponsel sama sekali, mamah dan papah cuma memberikan aku ponsel butut ini!” ucapnya sembari mengeluarkan gawai butut itu dari saku celana hamilnya. Gawai itu hanya bisa untuk bertukar pesan singkat menggunakan pulsa reguler biasa, serta bertelpon dengan Steven, Aisha, dan teman-temannya di akademi. Briana juga sangat dibatasi menggunakan internet. Semua akun media sosialnya juga lenyap tak bisa diakses sama sekali.
Aisha membeku. “Taksinya sebentar lagi datang, mana handphone mamah,” ucapnya datar.
“Apa mamah diam-diam bertukar informasi sama...”
“Sudah cari saja disana, mamah tidak menyembunyikan apa-apa dari kamu.”
Briana mencebikkan mulutnya. Percuma saja berdebat selama hampir sembilan bulan ini dengan Aisha, Steven pun juga sama tidak pernah menjelaskan apapun padanya.
Selang beberapa menit taksi yang dipesan Aisha datang. Butuh waktu lima menit saja untuk sampai di rumah sakit di pusat kota Los Angeles. Sesampainya di ugd, Briana segera dibawa keruangan khusus persalinan. Sebelum Briana masuk ke ruangan persalinan, Briana segera menoleh saat ada orang yang meneriakinya.
“Katie?!”
Katie segera melangkah cepat menghampiri Briana. “Kau akan melahirkan?”
Briana mengangguk. “Sepertinya, aku mengeluarkan cairan bening saat buang air kecil tadi.”
Katie menelisik ekspresi Briana yang sama sekali tidak merasa kesakitan. Wajahnya nampak biasa-biasa saja bagi ibu hamil yang akan melahirkan. “T-tapi mengapa kau tidak merasa kesakitan sama sekali?”
“Briana tidak mengalami kontraksi, Kat,” timpal Aisha dari kejauhan. Dia berjalan bersama Steven yang raut wajahnya nampak gelisah.
Katie mengangguk sambil memegang dagunya. “Jadi kau baik-baik saja, bukan?” tanya Katie, khawatir.
Briana mengangguk lalu tersenyum. “Aku baik-baik saja, dokter Miguel sedang bertugas ke luar kota, besok pagi dia baru sampai di rumah sakit. Aku harus menginap di rumah sakit dulu.”
“Katakan padaku jika kau membutuhkan sesuatu, Briana,” ucap Katie, tulus sembari memeluk Briana. Katie sedikit terkekeh karena dia merasa kesulitan memeluk sahabatnya, karena terhalang perut buncit Briana.
“Na, perutmu nggak mulas atau bagaimana?” tanya Steven khawatir.
Briana menggeleng. “Nggak, Pah. Ayo semua ikut masuk saja.”
Mereka semua masuk menemani Briana yang berada di ruang khusus sebelum proses persalinan. Selama di ruangan itu, Briana gelisah dan merasa sedih. Harusnya, di saat seperti ini ada Nevan yang menemaninya. Dia lalu melirik ke bilik sebelah, nampak pasangan suami isteri juga tengah menunggu kelahiran anaknya. Suaminya dengan telaten menemani setiap proses isterinya sebelum melahirkan. Oh Tuhan, dada Briana terasa sesak sekali. Tak terasa air mata jatuh dari sudut matanya.
“Briana kau baik-baik saja?” tanya Katie mengerutkan dahinya.
Briana tersenyum getir. “Aku baik-baik saja.”
Steven dan Aisha terlihat gusar, sesekali melihat gawainya. Selang beberapa menit, Steven keluar ruangan. “Papah mau kemana?”
Aisha meneguk ludahnya. “Mau cari angin segar.”
“Briana, sebelum melakukan persalinan apa kau mau ber-selfie denganku?”
“Mengapa kau selalu mengajakku untuk ber-selfie?”
Katie terkekeh. “Kau tahu, kau sangat cantik saat sedang hamil besar seperti ini. Benar bukan, Bu?” Katie mengedipkan matanya ke arah Aisha, yang sedang menggigit bibir bawahnya.
Aisha mengangguk pelan. “Ya, betul.”
Briana terasa sedikit aneh dengan tingkah Katie beberapa bulan ini. Sering sekali Katie tak melewatkan berfoto bersamanya pada saat di akademi atau pada saat melewatkan waktu bersama di luar. Sebenarnya itu adalah hal normal tapi, setiap hari Katie selalu ingin mengabadikan momennya saat bersama Briana. Kecuali, Briana telah pulang ke rumahnya.
Katie mengarahkan kamera depannya tepat di wajah cantik Briana yang tampak chubby itu. “Lihat, kulitmu sangat bersih! Aku yakin calon anakmu pasti seorang laki-laki.”
Briana terkekeh. Dari mana Katie bisa mempercayai hal-hal seperti itu, padahal dia bukan orang Indonesia. Selama hamil, Briana tak ingin mengetahui jenis kelamin calon anaknya. Ia ingin semua itu menjadi sebuah kejutan.
...----------------...
Nevan nampak gelisah sekali, tidurnya tidak nyenyak. Hari hampir berganti, tapi sejak dua jam yang lalu dirinya tidak bisa memejamkan kedua matanya. Kedua netra berwarna cokelat itu menatap ke layar benda pipihnya tanpa berkedip sama sekali. Kemudian dia beranjak dari ranjangnya. Beberapa bulan ini, Nevan mengalami insomnia hebat.
“I couldn't even go there,” ucap Nevan frustasi seraya meninju dinding kamarnya.
Keesokan paginya, Nevan sudah bersiap berangkat menuju ke kantornya. Sebelum ia pergi, langkahnya terhenti oleh suara Mecca.
“Nevan?”
Nevan dengan tampang lesunya menoleh cepat. “Aku sedang buru-buru, Ma,” sahutnya, ogah-ogahan.
Nevan melengos, sembari menggeleng. “Nggak perlu, aku bisa mengatasi masalahku sendiri.”
“Pasti dia sedang membutuhkanmu saat hamil, atau jangan-jangan dia sudah melahirkan, Van,” suara Mecca mendadak bergetar. Tangisnya pecah seraya memeluk Nevan.
“Pergi, cari dia!”
Nevan membeku sambil mengepalkan kedua tangannya. “Belum saatnya Nevan pergi.”
Mecca menarik lengan Nevan dengan sorot mata tajam. “Sebenarnya apa yang sedang kamu tunggu?! Beberapa bulan lalu kamu juga ngomong begitu, kamu sangat mirip dengan papa mu. Tidak punya perasaan!”
“Ya anggap saja aku begitu,” timpal Nevan lalu berbalik badan, berjalan keluar rumahnya.
“Astaga, anak itu!” Mecca mengelus dadanya. “Sabar.” sambungnya.
Nevan membanting pintu mobilnya dengan satu kali hentakan. Sial, dia tidak bisa berdiam diri begini saja, tugasnya di sini belum selesai. Nevan lalu merogoh gawainya kemudian menghubungi seseorang.
“Ric, lo sibuk?”
”...”
“Jam dua belas siang gue tunggu di kantor,” ucap Nevan seraya menutup sambungan telponnya.
Setelah menyelesaikan berkas-berkas untuk persidangan besok, Nevan meregangkan otot punggungnya ke sandaran kursi. Lamunannya berakhir saat mendengar suara ketukan pintu dari luar.
“Masuk!”
Pintu terbuka perlahan, Eric dengan gaya cool-nya berjalan menghampiri meja kerja Nevan. “Just tell me what you want!”
Nevan mengulum senyum tipis. “Besok pagi lo harus terbang ke L.A.”
“Lo becanda?! Gila lo,” Eric mengacak rambut frustasi. “Mendadak banget!” sambungnya.
Nevan bangkit berdiri. “Gue bakal biayain operasional lo, tenang aja.”
Eric menggeleng pelan. “Bukan masalah itu, tapi ngapain gue kesana? Nggak ada kerjaan banget, sialan!”
“Gue punya misi, tolong bawa dia pulang.”
Alis Eric terangkat satu. “Siapa?”
“Keluarga Briana,” jawab Nevan, datar.
Eric mengusap dagunya pelan. “Ngapain harus gue? Kenapa nggak lo sendiri yang bawa pulang mereka, lagian Briana mana mungkin mau kembali ke Indonesia setelah skandal yang lo buat itu?”
Nevan menggeram menatap tajam Eric. “Lo pikir gue disini santai-santai gitu? Gue disini masih menunggu putusan hakim buat ketiga keparatt itu.”
“Lagian Briana juga nggak tahu skandal ini.”
“Kok bisa?” Eric makin penasaran dengan permainan sahabatnya ini.
“Gue nyuruh orang tuanya buat sita handphonenya,” ucap Nevan, datar.
“Gue nggak mau ke L.A, lo tahu sendiri gue udah punya bini. Nggak jelas banget,” timpal Eric sambil menggeleng cepat.
Nevan berdehem. “Lo belum sempat honeymoon kan?”
“Belum.”
Nevan menyeringai. “Urus kantor cabang yang ada di L.A, sembari kalian honeymoon. Gue yakin Caca kangen banget sama sahabatnya.”
“Ya sih, tapi...”
“Gue kasih waktu satu bulan, setelah pekerjaan gue beres. Gue kesana,” potong Nevan, dingin.
“Van, bukannya gue nggak mau. Tapi, ini urusan lo!” Eric bangkit berdiri, sebelum pergi dia berkata. “Lo harus menyelesaikan apa yang lo mulai, sorry, gue nggak bisa kali ini.”
Eric tak ingin membuat masalah dengan Nevan, biarlah Nevan sendiri yang menyelesaikan masalahnya. Dia tidak mau kena damprat jika pekerjaannya tidak beres. Apalagi membujuk Briana, lebih baik dia menghindar.
Nevan memejamkan mata sejenak, lalu memandang jendela kaca ruang kantornya. “Baiklah, gue bakal pergi.”