My Lovely MUA

My Lovely MUA
45.



“Lo berhubungan sama dia lagi, hah?” Nevan lagi-lagi masih belum move-on dengan masa lalunya.


Briana menepuk keningnya, kali ini dia harus lebih pintar daripada Nevan. “Bentar deh, kamu masih aja dendam sama dia? Kamu lucu banget sih, aku nggak mau bahas masa lalu. Masa depanku masih panjang, permisi.”


Nevan mendengus. “Ntar lo jadi terkenal gimana?” Nevan menghempaskan punggungnya di dinding. “Ketakutan gue dari dulu, lo terkenal dan lo bakal buang gue.”


Briana batal menarik handle pintu kamar hotel Nevan, dia terlalu lelah berdebat dengan masalah yang sama dengan Nevan. Bukankah itu sudah masa lalu, apakah Nevan ini kaum bersumbu pendek sehingga hanya memikirkan kepentingan dirinya saja? Briana tertawa sedikit. “Oh, jadi itu masalahnya dulu, takut ditinggal. Trus menghalalkan berbagai cara biar impianku hancur gitu aja?”


“Kita ngobrolnya, nanti aja ya, aku beneran lagi ditungguin sama mamah, papah. Aku nggak mau mereka curiga,” tutur Briana panjang kali lebar.


Nevan berdehem. Kemudian membuka pintu untuk Briana. “Jangan lupa kita bisa ketemu lagi hari ini.”


Briana menaikkan alis satu. “Maksudnya?” Briana sudah berada di balik pintu kamar. Sedangkan Nevan, di dalam.


“Loh, Na? Kamu ternyata udah disini?”


Suara Aisha sontak membuat mata Briana melotot tajam. Kemudian, buru-buru dia menutup pintu kamar Nevan dengan cepat. Nevan meringis, saat Briana menutup pintu dengan paksa. “Sialan!” umpat Nevan menegang memegangi hidungnya.


Disatu sisi, Briana nampak gugup saat melihat sosok Aisha yang ternyata juga naik ke lantai lima. “Mamah, ngapain kesini?”


Aisha melihat-lihat kamar dimana Briana keluar tadi. “Justru mamah yang nanya, ngapain kamu keluar dari kamar itu?” Aisha mengedikkan dagu ke arah pintu kamar Nevan.


“Ah itu, Briana salah kamar, iya, salah kamar,” kilahnya, tepat sasaran.


Aisha tak mau ambil pusing lalu bergegas menuju kamar yang letaknya sedikit di pojok. Ternyata, seluruh kamar satu deret itu sudah di sewa oleh keluarga pengantin, dan Briana tak sadar akan hal itu.


“Halo, Carlita,” sapa Aisha, ramah.


Aisha buru-buru meletakkan peralatan tempurnya ke meja berukuran besar. Sedangkan, Briana ikut mengekori Aisha. Menyalami ibu pengantin, dan calon pengantinnya.


“Iya, Tante,” sahut gadis cantik itu.


Briana menyalami calon pengantin. “Ini, anak saya namanya Briana Micella, yang bakal makeup-in kamu ya, Carlita.”


Briana melotot kepada Aisha. “Kok aku sih, Mah? Bukannya aku mulainya bulan depan?” protes Briana tepat ditelinga Aisha.


Aisha mencubit perut Briana sedikit. “Udah deh, nurut mamah!”


Briana tersenyum canggung, lalu mulai mempersiapkan peralatan tempurnya. Anehnya, Carlita sang calon pengantin tidak protes sama sekali saat melihat kenyataan Brianalah yang me-makeup dirinya. Bukan, Aisha.


“Kak Briana, udah punya pacar belum?” celetuk Carlita, tiba-tiba.


Briana lalu bertukar pandang dengan Aisha yang tengah bersiap merias orangtua pengantin. “Be-belum,” jawabnya, singkat.


Carlita mengerling. “Mau nggak aku kenalin sama sepupu aku, Kak?"


Briana mengerjap. “Eh kenapa tiba-tiba, nih?”


“Carlita, nggak boleh gitu,” potong seseorang disana. Wanita paruh baya yang masih cantik itu, adalah mama Carlita.


“Nggak papa, Jeng, Briana udah mau married kok sebentar lagi,” potong Aisha tak mau kalah.


Briana meneguk ludahnya, tetap lanjut mengeksekusi Carlita dengan senyuman canggung. “Kak, sepupuku ganteng, kaya raya, jomlo, gagal nikah,” tawar Carlita berbisik di telinganya.


Briana sontak menegang, memandang ke arah Aisha yang sibuk berbincang dengan mama Carlita. Kaya raya? Ya jelas kaya raya, dua lantai hotel ini telah di-booking penuh oleh keluarga besarnya. Tema pernikahannya nanti outdoor mewah di lantai atas hotel sore ini.


“Kok bisa gagal nikah?” tanya Briana sambil meratakan foundation di wajah mulus Carlita. Briana dengan telaten, membuat wajah tanpa pori-pori itu sangat mulus jika di pandang.


Carlita tertawa. “Gagal move-on sih,” ucap Carlita sambil melirik ke arah Briana yang nampak tidak curiga.


Briana hanya ber-oh ria, tanpa tahu maksud dan tujuan Carlita sangat semangat menjodoh-jodohkan dirinya dengan sepupunya itu. Melihat sepupu Carlita saja sebelumnya tidak tahu.


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam, makeup Carlita sudah mendekati kata sempurna. Briana menyemprotkan setting spray agar make-up Carlita menempel dan lebih tahan lama. Memang, untuk me-makeup seorang pengantin, Briana harus lebih ekstra bekerja keras karena ini adalah momen sakral sang calon pengantin.


Carlita bersorak senang. “Kak Briana hebat ih, aku jadi cantik banget, ntar calon suamiku pangling gimana?”


Carlita memanggut-manggut. Sebelum Briana berlalu, mengambil gaun yang sudah dipersiapkan, Carlita mencekal tangan Briana. “Kak, tunggu.”


Briana menoleh cepat. Melihat Carlita nampak sangat antusias. “Iya, ada apa?”


Carlita tersenyum. “Sepupuku, udah dateng, ntar aku kenalin ya?”


“Hah, ng-nggak usah, Kak, Kak Carlita fokus aja sama acara hari ini, ya,” sahut Briana. Dia kemudian pergi, memanggil designer yang disewa khusus untuk membuat kebaya Carlita.


Raut wajah Carlita sedikit kecewa, tapi tak apalah. Toh, nanti dia akan bertemu dengan sepupunya di pesta.


...----------------...


Disatu sisi, Briana sudah selesai menyelesaikan tugasnya. Hair-do selesai, make-up pengantin juga selesai. Nabilla, sedari tadi melihat gerak-gerik Briana yang menghindar dari Carlita. Sudah terbaca oleh Nabilla sejak tadi. “Lo ngehindar dari Carlita?” tanya Nabilla berbisik di telinga Briana.


Briana melirik kanan kiri, berusaha mengecilkan suaranya. Lalu mengangguk. “Iya, kenapa sih tiap orang yang gue makeup-in selalu nanyain 'udah punya pacar belum' gitu terus!” keluh Briana, kesal.


Nabilla tertawa. “Lagian lo sih cantik-cantik jomlo,”


“Idih, ya biarin gue bahagia kok.”


“Eh, lo nggak tahu ya kalo Si Nyonya mau ngadain acara?” potong Nabilla.


Briana mengernyit. “Acara apaan?”


“Ntar lo bakal tahu sendiri, dah ya gue mau beberes.”


Briana menghela nafas panjang, sesaat kemudian Carlita menatap Briana dalam. Setelah sesi pemotretan dan pengambilan video, Carlita menghampiri Briana yang duduk sambil makan cemilan.


“Kak, bisa ikut aku sebentar nggak?”


Briana mendadak gugup, pasti Carlita sedang berusaha untuk modus. Briana juga harus bekerja secara profesional, dan akhirnya mau diajak Carlita untuk keluar kamar hotel sebentar.


“Ada apa, Kak?”


“Tunggu ya, aku telfon dulu orangnya.”


Sejenak kemudian, Carlita sibuk dengan benda pipihnya. Setelah selesai, Carlita mengajak Briana berfoto selfie. “Beres!”


Mata Carlita berbinar saat ada seorang lelaki berjas abu mendekat ke arah mereka. Lelaki itu nampak sangat manly, berwajah tampan mirip bule.


“Nah itu dia sepupu aku, Kak!” Carlita mengerling, lalu mengangkat tangannya ke udara.


“Kak, Nevan!”


Briana hanya ber-oh ria saat mengetahui Nevanlah sepupu Carlita. Sudah bisa ditebak di luar kepala Briana. “Kak, aku ke dalem dulu ya. Rasanya nggak penting, deh.”


“Tunggu dong, Kak, dia ini cowok spesial pake telur,” timpal Carlita.


Briana menatap Nevan jengah, dia tidak ingin kehadirannya malah membuat gaduh orangtuanya kembali. “Spesial tapi bonyok gitu?” sindir Briana, sedikit.


Ya memang, bekas luka dihajar oleh Steven masih membekas di sudut bibir dan di pelipis Nevan. Tapi, tak apalah, toh Nevan masih tetap tampan seperti biasanya. “Sembarangan!” Nevan menatap jeli kearah Briana.


“Yaudah, Kak, aku mau masuk sebentar. Kalian yang rukun ya,” ucap Carlita seraya masuk ke dalam kamar hotel.


Briana menatap kearah Nevan dengan canggung, sementara Nevan nampak terlihat santai tak ada beban hidup sama sekali. “Jadi, kamu saudara sepupu Carlita?”


Nevan mengangguk. “Kenapa? Tampan?”


Briana berdecih, lalu berbalik arah melangkah ke dalam kamar hotel. “Briana?” panggil Nevan.


Briana menoleh cepat. “Iya?”


“Promise me, that you won't go away from me..”