My Lovely MUA

My Lovely MUA
88.



Tiga bulan kemudian, Nevan berusaha meninggalkan kenangan pahit dan buruknya di Jakarta. Rencananya sore itu dia akan mengajak Briana dan Sean pindah ke Los Angeles. Sementara Steven dan Aisha lebih memilih untuk tinggal di rumah lamanya.


“Kalian nggak usaha khawatir sama mamah papah, yang penting adalah kebahagiaan kalian. Kita sebagai orang tua selalu mendukung dan mendoakan kalian,” ujar Steven kepada Nevan dan Briaa, sebelum mereka bertolak ke bandara.


Briana merasa sedih karena meninggalkan orang tuanya berdua di Jakarta. Berapa kali dirinya memaksa, tapi Steven dan Aisha tetap pada pendiriannya. Mereka lebih nyaman untuk tinggal di rumahnya sendiri. Terlebih lagi saat hampir satu tahun tinggal di Los Angeles, membuat Aisha kepikiran dengan nasib rumahnya yang ada di Jakarta.


“Mamah pasti bakalan kangen banget sama cucu mama ini, sini sayang sama oma dulu, ya?” kata Aisha seraya mengambil Sean dari pangkuan Briana.


Bayi gendut itu terlihat antusias saat kedua tangan Aisha direntangkan pertanda akan menggendong Sean. Sementara Nevan sedikit gelisah menunggu, karena mamanya, Vivian dan Andreas sudah dalam perjalanan menuju ke rumah Aisha.


Saat Aisha berceloteh ria dengan cucu lelakinya, di depan teras rumahnya, dia mendengar pintu gerbangnya dibuka oleh seseorang. Betapa terkejutnya saat melihat siapa yang kini ada di depan matanya.


“Nak Reno?” Aisha membeku di tempat seraya masih menggendong Sean.


“Thaa... Tah..” celoteh Sean sambil mencakar wajah omanya.


Aisha tersentak kemudian sedikit tertawa memandangi Sean. “Lihat itu ada om, itu namanya Om Reno.”


“Thaaah...” ucap Sean dengan bahasa bayinya.


Reno sedikit canggung karena sudah lama dia tidak menginjakkan kakinya ke rumah Briana. Dia sadar jika perasaannya tidak akan pernah dibalas oleh Briana sampai kapanpun.


“Hai, ganteng... Maaf, sebenarnya saya nggak sendirian, Tante. Saya ngajak pasukan,” ujar Reno seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Karena saya mendengar kabar kalau Nevan dan Briana bakalan berangkat ke L.A sore nanti, saya sudah janjian sama Mario, Eric, Caca, dan Syeila ke rumah.”


Aisha melongokkan kepalanya ke arah gerbang, tapi tidak ada siapapun dari nama-nama itu yang sudah disebutkan oleh Reno. Aisha tersenyum lega kemudian mengajak Reno masuk untuk menemui Nevan dan Briana.


“Lihat ini siapa yang datang, Reno...”


Reno tersenyum kaku lalu mengangguk pelan di hadapan Briana dan Nevan. “Gue kesini mau minta maaf sama kalian berdua,” ucapnya gugup.


Nevan dan Briana masih belum sedikit mencerna kata-kata dari Reno. Tapi, setelah beberapa detik Nevan menyahut. “Its Ok, itu udah berlalu. Persahabatan kita jangan sampai terputus, Ren.”


Aisha dan Briana saling bertukar pandang, sedetik kemudian tersenyum haru. Nevan dan Reno saling berpelukan mengucap permintaan maafnya masing-masing.


“Pelukan nggak ngajak-ngajak!” sahut seseorang dari ambang pintu rumah Briana.


Mario, Eric, Caca dan Syeila sudah memasang wajah antusias sejak tadi. Perut Caca sudah bulat pertanda sebentar lagi dia akan melahirkan. Sementara Syeila masih tetap mempertahankan predikatnya sebagai jomlo abadi.


“Gue kangen banget sama kalian!” Briana bangkit berdiri kemudian memeluk Caca dan Syeila.


Syeila terkekeh. “Jangan ditekan, kasihan dedek bayinya kegencet di dalam perut.”


Briana tersenyum sambil menangis. “Maafin gue ya Ca, gue ngilang tanpa kabar. Nggak bisa hadir di nikahan lo sama Kak Eric. Padahal gue udah janji bakal jadi bridesmaid lo sama Syeila.”


Caca menangis seraya mengapit wajah Briana yang sedikit terlihat tembam itu. “Jangan nangis, gue tahu kondisi lo. Kita berdua sempat cari-cari lo, An, putus asa tahu nggak!”


Syeila mengangguk pelan. “Lo lupa, apapun keadaan lo kita berdua bakalan selalu ada, An. Jangan pernah lupain itu.”


“Kita juga sedih Van, lo harus pergi lagi ke L.A. kenapa nggak disini aja sih?” ujar Mario menghapus air mata yang jatuh di bundarnya.


Nevan terkekeh. “Kita berdua sekalian mau honeymoon, sekalian Briana mau kerja di sana.”


Ketiga sahabatnya itu tercengang. Sama halnya dengan kedua sahabat Briana, yang tak kalah kaget dengan penuturan Nevan. Dia pikir Briana akan memperbaiki karirnya yang sempat hancur di Jakarta dengan bantuan dari Nevan. Namun, sepertinya Nevan sudah memiliki rencana yang lain, dengan mengajak Briana pindah ke L.A.


“Kamu mau kerja apa di Amerika?” tanya Caca seraya mengelus perutnya yang sudah meruncing.


Briana menggeleng. “Tenang aja, yang pasti halal kok.”


Aisha menyahut sambil menggendong Sean berjalan ke atas menuju ke kamarnya. “Kalian lupa Briana adalah seorang MUA yang dicintai para klien-kliennya?” ucapnya seraya melangkah pergi menaiki tangga.


Caca dan Syeila berpikir sebentar. “Ah! Kamu mau jadi MUA disana?” ucap mereka kompak.


Briana tak menjawab, hanya memicingkan kedua matanya. Lalu sedikit melirik ke Nevan. Dia sendiri belum tahu pekerjaan apa yang akan dia kerjakan di Los Angeles. Nevan juga tidak pernah memberitahu detailnya.


Saat mereka tengah asyik bercengkrama, sekali lagi suara ribut-ribut terdengar dari halaman depan rumah Briana. Briana sangat yakin jika yang datang adalah mertua bersama kedua saudara iparnya. Siapa lagi kalau bukan Andreas dan Vivian.


“Wah sudah ramai ya ternyata?” timpal Vivian masuk lalu menyalami semua yang sudah ada di dalam rumah Briana.


Termasuk Andreas dan Mecca tersenyum ramah pada sahabat-sahabta dari Nevan dan Briana. Mata Mecca mengedar ke seluruh penjuru sudut rumah Briana. Sedetik kemudian dia menghela napas dalam-dalam karena yang dicarinya tidak ada.


“Mama kenapa?” tanya Andreas berbisik di dekat telinga mamanya.


Mecca mencebik. “Mama kangen Sean, dimana ya dia?”


Vivian tertawa kencang. “Sudah jelas sama Tante Aisha, ya kan, Bri?”


Briana tersenyum geli. “Iya, di atas sama mamah, Ma. Briana antar ke atas ya,”


Mecca mengangguk setuju. Lalu kedua wanita berbeda generasi itu berjalan keatas naik ke lantai dua. Sementara Briana dan Mecca sedang naik ke lantai dua. Tamu-tamu Nevan, termasuk sahabat-sahabat Nevan masih mengobrol tentang pengalaman-pengalamannya saat di sekolah maupun di lingkungan kerja.


Tanpa disadari, Syeila sedang curi-curi pandang ke Andreas yang terlihat tampan saat memainkan gawainya tepat di depannya.


Caca berdehem. “Andreas...” panggil Caca.


Andreas mendongak dingin menatap Caca. Meskipun mereka dulunya satu kelas, tapi mereka tidak begitu akrab dibanding dengan Briana yang memang bersahabat dengan Andreas.


“Ya?” jawab Andreas singkat.


Caca melirik Syeila yang tengah salah tingkah. “Syeila mau ngajakin ngobrol nih, tapi dia nggak berani.”


Syeila menoleh cepat sambil melotot. Jika tidak hamil, mungkin detik itu juga Caca akan dilempar keluar oleh Syeila. Sungguh, wajah Syeila sekarang memerah bak kepiting rebus. Sementara Caca tertawa terpingkal-pingkal sampai dia lupa dia sedang hamil. Hingga saat itu dia merasakan suatu gelombang yang mengantam perutnya.


“S-sakit... Shhhh, perut gue!”