
“B-bukannya itu buat Tante Mecca? Trus aku lihat terakhir dibawa Isyana, jangan bohong, Van?” selidik Briana.
Nevan tersenyum kecil, lalu menyodorkan paperbag itu kepada Briana. “Buka,” titah Nevan.
“Nggak mau? Sini aku kasih Isyana kal—”
Briana segera menarik paperbag itu, lalu membukanya dengan hati-hati. Isinya, lima lipstik, dan satu lagi yang menarik perhatiannya, sebuah kotak kecil berbentuk persegi, membuat Briana tersenyum kegirangan.
“Lipstik ini semua buat aku?”
Nevan memejamkan matanya, karena sangat gemas. “Bukan, punya Isyana.”
“Ya buat kamulah!”
“Ya habisnya...”
“Udahlah, kamu buka satunya.”
Briana mengerjap-ngerjap, sebelum membuka kotak kecil itu. Dia mengelus punggung tangan Nevan lembut. “Thanks, my world.”
“Hm..”
“Aku sengaja mau bikin kejutan, tapi, si jalangg itu malah ganggu,” ucap Nevan, sedikit kesal.
Briana mengangguk mengerti. Dia langsung mengamati benda itu, perlahan-lahan ia menarik tali pita yangi dipasang disana. Briana memekik. “Oh my God! It's a diamond!”
Nevan menepuk keningnya. “Bisa kan nggak usah keras-keras.”
“Nggak bisa sayang, aku seneng banget ini!” Briana berkaca-kaca. Sejak bertahun-tahun lalu Briana sangat menginginkan ini, dari Nevan.
Nevan berdehem. “Makan dulu.”
Briana terperanjat, saat begitu banyak makanan tiba di mejanya kini. Itu terlalu banyak, mana mungkin perut Briana muat jika harus memakan semua ini?
“Sayang, kalau nggak habis boleh dibungkus bawa pulang nggak?”
Nevan mendadak pusing. “Up to you,” jawab Nevan singkat.
...----------------...
Cincin berlian itu berkilauan di jari manis Briana, rasanya bagai mimpi saat Nevan melamarnya dua hari yang lalu. Briana mendadak galau, benarkah Nevan seserius itu? Lalu bagaimana dengan Reno? Tapi, bukannya dirinya memutuskan untuk tidak menikah dengan siapapun?
“Jadi, lo dikasih cincin itu sama Kak Nevan?” ujar Caca. Sudah berbulan-bulan lamanya Briana merindukan sahabatnya itu. Sahabatnya itu terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantornya. Sebagai seorang eksekutif muda, Caca harus menunjukkan performa sempurna untuk perusahaannya. Ya, beginilah wanita jika sudah sibuk dengan segala urusan pekerjaan, akan jarang bertemu dengan sahabatnya.
Briana sedikit menulan ludahnya. “Eh, Ca, lo pas pacaran sama Kak Eric ngapain aja?” ucap, Briana polos.
Gluk! Hampir saja Caca menuntahkan isi minumnya ke dalam gelasnya lagi. “Pertanyaan lo, ngawur!”
“Biasa aja kali, kan jaman sekarang udah biasa hal-hal kayak gitu,” ucap Briana, tanpa dosa.
“Gue masih jaga keperawanan gue, nggak kayak...”
Briana cepat menjawab. “Kayak gue kan?”
Tentu saja, Briana sudah merelakan mahkotanya itu hilang sejak dia duduk di bangku kelas satu SMA, sedangkan Nevan duduk di kelas dua. Sangat miris sekali, batin Caca.
“Gue nggak ngomong,” timpalnya.
Briana mengaduk-aduk cepat es kopinya, tatapannya nanar ke arah luar. “Ca, gue nggak ada niat married sama siapapun.”
Caca terhenyak. “Kenapa? Trus apa dong maksud lo nerima cincin itu?”
Briana menggeleng. “Gue terlalu seneng, sampai gue lupa sama janji gue sendiri.”
“Lo terlalu rakus, Kak Reno lo terima, Kak Nevan juga. Gue doain lo segera minggat ke LA,” ucap Caca.
“Sebelum itu, gue udah siap-siap bikin paspor.”
Caca mendelik tajam. “Lo nggak becanda?”
Briana menggeleng. “Serius.”
Caca menggeleng-geleng tak mengerti dengan pola pikir sahabatnya itu. “Segitu traumanya lo sama dia?” sebelumnya, Caca memilih menahan kata-kata itu. Namun, ia sudah tidak tahan lagi. “Lo mau jadi perawan tua?”
Briana tertawa. “Maybe,” jawabnya, singkat.
“Awas aja ntar lo nyesel bilang gitu,”
Caca mengernyit. “Lo capek, tapi masih ngasih harapan ke Kak Nevan? Sakit lo!”
Briana lagi-lagi tertohok oleh perkataan Caca. Benar juga, tapi hatinya yang mendorongnya untuk dekat terus dengan Nevan.
“Nggak bisa jawab kan, lo?” Caca tersenyum miring.
Briana bergeming sambil menyeruput minumannya.
“Jangan lupa, beberapa bulan lagi gue married. Gue nggak pengen lo jadi MUA gue!” imbuh Caca.
Briana mengernyit. “Kenapa?”
“Lo harus jadi bridesmaid gue seutuhnya!”
...----------------...
Menikah? Menikah tak ada di kamus besar kepala Briana selama ini. Mendengar sahabatnya akan menikah saja membuat kepala Briana pusing. Briana mendadak lupa, bahwa dirinya akan menikah dengan Reno, bukan Nevan. Dan masalah itu yang membuatnya ingin segera melarikan diri ke LA.
“Kak Briana serius belum punya pacar?” tanya salah satu kliennya hari ini. Ya, begitulah kalimat-kalimat itu selalu terlontar dari mulut para kliennya. Memang mengapa kalau tidak punya pacar? Apa hidupnya akan berakhir?
Briana berdehem. “Belum, Kak.”
Dusta! Lalu, bagaimana nasib Nevan?
“Oh kirain, soalnya jari manis kakak ada cincinnya,” imbuh klien itu lagi.
Briana hanya tersenyum getir. Terbesit dalam pikirannya, untuk mengembalikan cincin berlian itu kepada pemiliknya.
Setelah seharian penuh merias dua pengantin, Briana merebahkan diri di ranjangnya. “What an exhausted day!”
Entah mengapa beberapa minggu ini, Briana gampang menjadi gampang capek. Satu lagi, nafsu makannya begitu buas. Bagaimana tidak, seharian ini dia sudah makan 5x, belum dihitung makan malamnya.
Dan, malam itu dia mendadak lapar lagi. Langkah kakinya kemudian membawanya ke arah dapur. Disana sudah sepi, Aisha pasti sudah bercengkrama dengan papahnya di kamar.
Briana mencoba membuka isi lemari es, ah matanya berbinar-binar saat ada kue yang dia inginkan beberapa hari ini. “Nah, ini dia!”
Segera saja Briana menyantap kue itu sampai habis tak tersisa. Memang, perutnya itu seperti karet, lentur. Briana menautkan kedua tanganya ke dagu. Perasaan apa ini? Mengapa perasaannya sangat tidak enak? Harusnya dia senang saat menghabiskan kue itu. Tapi, mengapa perasaannya jadi sedih? Saat Briana menggeser gelas minumnya, sendok makannya jatuh ke bawah. Otomatis membuat suara gaduh di dapur.
“Ngapain, Na?”
Briana menengadah, lalu meringis sakit saat kepalanya membentur pinggi mejanya. “Ishh! Mamah, ngagetin!”
Aisha tertawa pelan. “K-kamu makan kue sebanyak ini?!”
Aisha terheran-heran melihat putrinya yang anti sekali dengan makanan manis, malam ini anaknya itu menghabiskan seluruh kue itu sendirian? “Cacingan kamu ya?”
Aisha lalu mengambil piring bekas kue yang dimakan, Briana untuk dibawa ke tempat cuci piring. Lalu, menengok kembali ke arah Briana, betapa terkejutnya lagi saat Briana memakan cemilan kacang yang ada di meja makan.
“Na? K-kamu kayak orang lagi ngidam, rakus banget!” celetuk Aisha, sembari mencuci piring bekas Briana. Ya, Aisha hanya sembarang bicara. Tapi, yang diajak bicara justru tertohok.
Briana secepatnya menggeleng. Tidak mungkin, dirinya sedang berbadan dua? Haruskah dia merelakan karirnya yang sudah meroket ini? Jika memang, dirinya berbadan dua, Briana bertekad akan kabur ke LA sendirian. Menikah? No, dia tidak akan mengubah keputusannya sedikitpun.
“Ngelamunin apa? Daritadi aneh ih, kenapa sih,” cecar Aisha, dia sedikit menangkap perbedaan dalam diri Briana.
Mata Briana melirik kanan dan kekiri, entahlah mengapa perasaan hatinya sangat tidak enak seperti ini. “Mah, bisa nggak sih batalin aja pertunangan atau lamaran itu? Jujur, Briana nggak tertarik buat married sama siapapun!”
Aisha menggebrak meja makan dengan cukup keras! Brak!
“Lalu kamu mau jadi perawan tua, gitu? Itu Caca sebentar lagi married, kamu jangan mau kalah dong sama temen-temen kamu?!” sentak Aisha. Aisha sangat hilang kesabaran menghadapi putri semata wayangnya ini.
“Kamu mau cari yang kayak gimana? Nyari yang brengsek kayak Nevan, hah?!”
Hati Briana sedikit nyeri, saat Aisha menyebut Nevan dengan kata brengsek. Sungguh, hatinya bertambah pilu dan ingin menangis saat itu juga. Matanya sudah berkaca-kaca, bulir-bulir air mata mengalir di pipi.
“Lihat! Kamu masih menangisi laki-laki brengsek itu?” cecar Aisha terus dan terus seperti itu.
Setiap dirinya berbincang dengan Aisha, selalu berakhir dengan pertengkaran. Tak pernah Aisha mau mengerti posisi Briana, yang selalu memendam luka akibat kesalahannya di masa lalu bersama Nevan.
“Kurang apa Reno? Dia bisa memberikan apapun untuk kamu, jangan pikir hanya Nevan yang bisa!” maki Aisha seraya melenggang pergi meninggalkan Briana tergugu sendiri di ruang makan.
Airmatanya mengalir deras, merasakan sakit hati yang mendalam. Biasanya Briana tak serapuh ini, dirinya bahkan tidak peduli saat Nevan dimaki oleh Steven atau Aisha. Tapi, mengapa hatinya jadi sesensitif ini? Kepala Briana mendadak pusing, dia lalu memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Namun, sebelum dia kembali, Briana mendengar sesuatu terjatuh di dalam kamarnya. Perlahan-lahan Briana menarik handle pintu, mengintip sedikit, tapi, tangannya tiba-tiba tertarik sesuatu di dalam sana.
Mata Briana terbeliak saat menyadari sudah ada seseorang berdiri di hadapannya kini. “K-kamu, sudah gila?!”