
Flashback on
Malam itu, setelah Nevan sadar akan pengaruh obat perang*ang dan juga alkohol, perasaanya tidak tenang. Sebelum dia memutuskan pulang ke apartementnya, dia mampir kerumah Isyana. Beruntungnya, Nevan melihat gadis itu baru saja memasuki kediamannya dengan mobilnya. Tak mau menunggu lama, tengah malam itu juga Nevan masuk lewat ijin satpam rumah Isyana.
Wajah Isyana nampak berseri-seri, saat tangan kanannya meraih handle pintu rumahnya, tiba-tiba sebuah tangan kekar mencekalnya. Matanya terbeliak lalu menoleh cepat. Betapa terkejutnya Isyana saat melihat raut wajah Nevan seperti sangat murka.
“N-Nevan bukannya kamu... ”
Nevan sedikit memilintir tangan kanan Isyana sedikit keras. “Apa? Lo pikir gue bodoh, mana handphone lo!” sentak Nevan dengan mata menajam.
Isyana merintih kesakitan saat tangannya dipelintir paksa oleh Nevan. “Mau apa? A-aku nggak ngapa-ngapain kok,” kilahnya.
Nevan lalu menarik paksa tas jinjing Isyana sampai talinya terputus. Semua isi di dalam tasnya otomatis menghambur keluar beserta handphone Isyana. Langsung saja Nevan meraih benda pipih tersebut, tanpa ijin dari empunya. “Buka!” sentak Nevan hingga matanya terlihat menggelap akibat amarah.
Tangan Isyana bergetar saat menerima benda pipihnya itu dari Nevan. Masih tetap dalam pandangan menggelap, Nevan mengawasi Isyana membuka kunci layarnya yang sudah menyala. Sontak Nevan mengambil paksa tanpa peduli pada Isyana. Saat itu juga, Isyana meneguk salivanya.
Mata Nevan tak berhenti menatap lurus layar ponsel Isyana di genggamannya. Jari-jemarinya bergerak mencari-cari sesuatu yang ia inginkan sedari tadi. Sedetik kemudian alis Nevan terangkat satu.
Nevan mengulurkan ponselnya pada Isyana. “Biar apa lo gini?!” tanya Nevan, suaranya datar tapi pandangan matanya sangat tajam menyorot mata Isyana hingga dia seperti sedang dilingkupi hawa dingin.
Saat tangan Isyana mulai ingin mengambilnya, Nevan menarik ponsel itu lagi. Membuat Isyana satu langkah lebih dekat dari Nevan. “Hapus atau gue hancurin ponsel lo?!” tanya Nevan, dingin.
Bibir Isyana bergetar menahan tangis. “H-hapus, dihapus aja,” ucapnya, kaku sambil menggerak-gerakkan tangannya yang gemetaran. Tangan yang bergemetar itu otomatis terulur meminta ponselnya kembali.
Nevan tersenyum miring, tangan kanannya diangkat ke atas sambil memegang benda pipih milik Isyana. Ponsel keluaran terbaru itu di jatuhkan ke bawah hingga menimbulkan bunyi nyaring. Tak sampai disitu, setelah benda pipih itu mendarat di bawah lantai, kedua kaki Nevan dengan santai menginjak-injak benda itu sampai hancur berserakan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. “Lo lihat kan? Udah gue hapus, gue rusak sekalian.”
Isyana hanya bengong saat benda pipihnya itu hancur lebur di bawah sana. Sedangkan Nevan terus saja menatap tajam kepada Isyana tanpa berkedip sekalipun. Total mengintimidasi Isyana hingga tubuhnya gemetaran dan tangis itu pecah perlahan-lahan. Salah besar jika Isyana harus berurusan dengan iblis di depannya ini. Dia pikir, Nevan tak akan mengingat perkataannya secepat itu.
“M-maaf gue nggak akan berbuat bodoh lagi, maaf,” ucapnya Isyana, dengan nada bergetar. Ditambah dengan tubuhnya juga gemetaran.
Setelah puas menghancurkan benda pipih Isyana dengan kedua kakinya. Nevan berkata. “Maaf? Lo pikir gue bakal maafin lo dengan semudah itu, bitchh!” geram Nevan sambil mengepalkan kedua tangannya dan otomatis meninju dinding di belakang Isyana.
Isyana sekali lagi menelan ludahnya dalam-dalam dalam tangisnya. Gadis itu sungguh tidak kuat untuk berdiri, kedua lututnya bergetar menahan ketakutan. Keringat dingin bercucuran keluar dari pori-pori tubuhnya. “M-maaf, Van,” ucap Isyana, lirih. Entah Nevan mendengar atau tidak yang jelas suaranya sangat lirih karena ketakutan.
Nevan lalu meraih dagu Isyana untuk memandangnya tanpa menunduk lagi. “Lo dengar gue, sekali lo bikin Briana hancur, detik itu juga gue buat semua keluarga lo hancur! Ngerti?!” bentak Nevan, hingga sekali membuat Isyana terjingkat karena terkejut.
Isyana mengangguk pelan. “N-ngerti,” sahutnya cepat sambil menangis.
Nevan membuang wajah Isyana ke samping, lalu seperti biasa menyugar rambutnya ke atas. “Oh ya, lo sengaja ya jebak gue? Gue berharap lo ulangi sekali lagi, saat itu juga kehancuran keluarga lo akan datang berlipat ganda.”
“I swear i'm going to do it!” bentak Nevan, sekali lagi tepat di telinga Isyana.
Sedetik itu juga, tubuh Isyana melorot ke bawah lantai saking tidak kuat menahan tubuhnya yang semakin gemetaran. Saat itu juga pintu rumah Isyana dibuka lebar oleh Mira.
“Ada apa sih tengah malam ribut-ribut?” tanya Mira sambil mengucek-ngucek matanya. Nyawa Mira masih belum terkumpul seratus persen. Malam itu dia memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu untuk menunggu keponakannya pulang. Setelah berhasil tertidur selama satu jam lebih, Mira akhirnya terbangun karena mendengar suara ribut-ribut di luar rumahnya.
Matanya otomatis membelalak saat melihat sesuatu yang hancur di bawah lantai. Kemudian, pandangannya berganti kepada gadis yang terisak di bawah pintu rumah.
“K-kamu kenapa, Sya!” tanya Mira, lalu berjongkok memeluk erat tubuh Isyana. Isyana masih menangis tersedu-sedu dan badannya sangat dingin, jantungnya juga berdegup kencang.
“N-nevan apa yang...”
Nevan hanya tersenyum tipis. “Saya permisi,” potong Nevan, cepat tanpa berlama-lama.
“Tunggu!” buru-buru Mira bangkit berdiri, dan mengejar Nevan yang melangkah cepat meninggalkan rumah Isyana.
Nevan berhenti, lalu menoleh cepat. “Mencintai? Anda masih sempat berbicara tentang omong kosong,” Nevan tertawa pelan. Lalu berjalan satu langkah lebih dekat ke arah Mira. Mata Nevan mendadak menggeram murka saat Mira hanya memakai kimono tipis, menunjukkan dadanya yang sedikit menyembul. “Sekali jalangg tetap jalangg,” bisiknya di telinga Mira.
Mata Mira terbeliak kaget. “M-maksudmu?” tanya, Mira tak mengerti.
“Pantas saja suami Kak Vivian tak sanggup melepas mantan kekasihnya ini. You are such a bitchh!” ejek Nevan sambil tertawa pelan.
Tangan Mira mengepal. Sial! Nevan sudah tahu kebusukan dan kelicikannya, batin Mira. Dia harus berbuat sesuatu sebelum Vivian dan keluarganya mengetahuinya.
“Dasar badjingan!” Mira mengumpat, sambil melotot tajam.
“Ya memang aku badjingan, tunggu saja hukumanmu, bitchh! Permisi,” ucap Nevan, seraya melenggang pergi.
Mira menggigiti bibir bawahnya, saat dia hendak berbalik, Isyana sudah berdiri di belakangnya. Memandangi Mira dengan pandangan getir. “Tante, jahat!” isak Isyana lalu berlari masuk ke dalam rumah.
Mira segera mengejar keponakannya itu sebelum masalah nya bertambah runyam. “Isyana tunggu, tante bisa jelaskan semua!” ucap Mira sambil menarik tangan Isyana agar berhenti sejenak.
Isyana berbalik, dia sudah bercucuran air mata. “Aku pikir tante sama Om Doni cuma rekan kerja biasa. Ternyata, tante bohongin Kak Vivian ya!”
Mira menggeleng. “B-bukan begit—”
“Tante nggak usah menjelaskan apapun,” potongnya cepat.
Isyana berlari kecil ke lantai dua menuju kedalam kamarnya. Menangis sambil meratapi nasib percintaannya yang tidak pernah berjalan mulus. Sementara Mira terpaku sambil mengeluarkan benda pipih dari saku kimononya.
“Besok kita harus bertemu, sayang,” ucap Mira sambil menggigiti ujung kukunya.
'...'
“Di tempat biasa?” jawabnya, datar.
'...'
“Adik iparmu mulai melangkah jauh, aku ingin kamu segera menyelesaikan semua dan kita pergi dari sini.”
'...'
“Baiklah!” ucap Mira, kesal.
Mira mengepalkan tangannya. “Nevan Xaquil, kamu akan menerima batunya!”
...----------------...
Mira bertemu dengan lelaki tampan di sebuah hotel yang terletak di pusat kota. Lelaki itu tanpa canggung segera memeluk mesra tubuh Mira dan mengajaknya berjalan menaiki lift. Sesampainya, di sebuah kamar hotel, mereka saling melepaskan rindunya sejenak sambil berciumann dengan liarr.
Kedua tangan lelaki tampan itu menjelajah tubuh Mira tanpa terlewat satu incipun. Mira dan lelaki tampan itu kini berada di dalam lautan asmara yang panas dan menggelora. Sampai mereka mengeluarkan lahar panas mereka bersama-sama tanpa tersisa sedikitpun.
“Nikmatt sekali, sayang,” gumam Mira merintihh, sambil tidur diatas dada lelaki tampan itu.
Lelaki itu menyeringai puas. “Aku sudah menerima file-nya, dan kita akan memencet bom nya sesuai keinginanmu, Mira.”
Mira tersenyum tipis. “Apakah Doni Mahendra ini sudah tidak tahan akan menikahiku?” Mira tertawa pelan.
Doni tersenyum tipis. “Yes, of course!”